NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANTANGAN DARI UNIT 1

Cahaya fajar yang pucat menyapu lapangan tengah Benteng Tembok Besi. Udara pagi itu terasa amat menusuk, membawa bau besi berkarat dan tanah basah yang membeku. Puluhan prajurit dari berbagai unit telah berkumpul di depan Papan Pengumuman Misi, mengantre untuk menerima pembagian sektor patroli harian dari perwira logistik.

Lin Yuan melangkah tenang di barisan paling depan Unit 9. Di sampingnya, Lu Chen berjalan dengan kedua tangan tersimpan santai di balik lipatan baju. Shi Tou menggepit perisai besi barunya yang tebal, sementara Ah Xiu berjalan anggun dengan busur tulang hitam bersandar di bahunya.

Kemunculan Unit 9 seketika menarik perhatian orang-orang di sekitar lapangan. Bisikan-bisikan kasar merebak cepat di antara kerumunan prajurit veteran.

"Itu mereka... Unit Sembilan yang selamat dari Hutan Bayangan Kematian," Bisik seorang prajurit berkumis tebal dari Unit 4.

"Kudengar bocah anyar di tengah itu yang mematahkan kepala Ratu Laba-Laba dengan tangan kosong," Tumpuk temannya dengan mata membelalak heran.

Shi Tou membusungkan dadanya bangga, menikmati tatapan takjub dari orang-orang yang biasanya memandang rendah mereka. Namun, kebanggaan itu tidak bertahan lama ketika sebuah bayangan tinggi melangkah memotong jalur berjalan mereka.

Langkah Lin Yuan terhenti.

Di hadapan mereka, enam prajurit bertubuh tegap berdiri menghadang. Berbeda dengan baju zirah kusam dan tambalan kain milik Unit 9, para prajurit ini mengenakan armor pelat perak yang mengilap, dipadu dengan mantel bulu serigala hitam di bahu mereka. Di dada zirah mereka, terukir angka '1' berwarna emas yang mencolok.

Pria di barisan paling depan bertubuh tinggi besar dengan wajah tampan yang dipenuhi keangkuhan. Sebuah pedang lebar bersepuh emas tergantung di punggungnya.

Zhang Bao. Pemimpin Unit 1, sekaligus putra keluarga bangsawan kelas tiga yang disegani di Ibukota.

"Wah, lihat siapa yang melangkah begitu percaya diri pagi ini," Ucap Zhang Bao dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan, diiringi tawa mengejek dari lima anak buah di belakangnya. "Para sampah buangan yang biasanya merangkak kembali dengan tubuh cacat, hari ini berjalan seolah-olah mereka pahlawan perang."

Lu Chen melangkah maju setengah jengkal, senyum tipis yang sarat cemoohan terukir di bibirnya. "Zhang Bao. Kurasa aromamu pagi ini lebih busuk dari biasanya. Apa kau lupa menggosok gigimu setelah menjilat sepatu para perwira tinggi kemarin?"

Mata Zhang Bao berkilat marah mendengar ejekan Lu Chen. "Jaga mulutmu, Lu Chen! Kau hanyalah mantan bangsawan terbuang yang keluarganya sudah habis dibantai di ibukota! Di Tembok Besi ini, kau tidak lebih dari seekor anjing pelacak!"

"Setidaknya dia anjing yang membunuh monster, bukan anjing rumah yang cuma tahu menggonggong di balik gerbang," Potong Shi Tou dengan raung suara yang berat, menghentakkan ujung perisainya ke tanah hingga berdentang keras.

Anak buah Zhang Bao langsung menarik setengah bilah pedang mereka dari sarungnya. Suasana di tengah lapangan seketika menegang hebat. Para prajurit lain yang mengantre otomatis mundur beberapa langkah, membentuk lingkaran besar untuk menyaksikan ketegangan dua kelompok tersebut.

"Cukup," Ucap Lin Yuan datar.

Lin Yuan melangkah melewati Lu Chen dan Shi Tou, berdiri tepat dua langkah di hadapan Zhang Bao. Pandangan mata Lin Yuan begitu tenang, sedingin angin utara yang bertiup di atas dinding benteng. Ketenangan itu anehnya membuat Zhang Bao merasa tidak nyaman di dalam dadanya.

"Kau menghalangi jalan kami, Pemimpin Unit Satu," Kata Lin Yuan tanpa nada emosi sedikit pun.

Zhang Bao menatap Lin Yuan dari atas ke bawah, mengamati baju kusam tanpa emblem klan murni milik pemuda di depannya. "Jadi kau bocah bernama Lin Yuan itu? Anak sampah yang katanya selamat karena keberuntungan semata?"

Zhang Bao melangkah mendekat, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Lin Yuan. "Perwira logistik baru saja memperbarui pembagian wilayah perburuan hari ini. Ngarai Gagak—sektor dengan populasi Serigala Duri terbanyak—seharusnya ditugaskan untuk Unit Satu. Tapi kudengar, namamu diajukan untuk ikut menyisir area yang sama."

"Lalu?" Tanya Lin Yuan singkat.

"Ngarai Gagak adalah wilayah berburu kelas berat," Ucap Zhang Bao seraya tersenyum dingin dan meremehkan. "Orang-orang seperti kalian hanya akan menjadi pengganggu dan menghabiskan stok Serigala Duri yang seharusnya menjadi mangsa Unit Satu. Aku tidak suka berbagi wilayah dengan pecundang."

"Kalau begitu, pergilah ke wilayah lain," Sahut Ah Xiu dari belakang dengan suara sedingin es, tangannya sudah memegang erat gagang busur tulangnya.

"Pergi?" Ucap Zhang Bao tertawa hambar, mengibaskan tangannya ke udara. "Unit Satu tidak pernah mengalah pada unit sampah! Karena kalian begitu percaya diri setelah membunuh seekor laba-laba cacat semalam, bagaimana kalau kita buat taruhan?"

"Taruhan apa?" Tanya Lu Chen memicingkan matanya.

"Perburuan di Ngarai Gagak dimulai dua jam lagi," Kata Zhang Bao seraya menunjuk ke arah celah pegunungan di utara. "Kita bertaruh jumlah dan kualitas Inti Monster Serigala Duri yang bisa kita kumpulkan sebelum matahari terbenam. Unit yang mengumpulkan nilai terendah harus menyerahkan seluruh jatah pasokan minyak spiritual dan batu energi bulanan mereka kepada pemenang!"

Bisik-bisik kaget langsung meluas di antara para prajurit yang menonton. Jatah minyak spiritual dan batu energi adalah urat nadi kehidupan setiap unit di perbatasan untuk merawat senjata dan memulihkan stamina. Menyerahkan jatah bulanan sama saja dengan menyerahkan leher mereka untuk disembelih pada misi berikutnya.

"Zhang Bao, kau sengaja memanfaatkan jumlah anggota!" Seru Shi Tou marah. "Unitmu berisi sepuluh orang dengan zirah lengkap! Kami cuma berempat!"

"Dunia tidak pernah peduli pada jumlah kalian, Si Bodoh!" Balas Zhang Bao penuh rasa superioritas. "Kalau takut, berlututlah sekarang di hadapanku dan lepaskan hak berburu kalian di Ngarai Gagak hari ini!"

Anak buah Unit 1 tertawa terbahak-bahak, menatap Unit 9 dengan pandangan merendahkan.

Lu Chen dan Ah Xiu menatap Lin Yuan, menunggu keputusan dari pemuda yang kini menjadi pilar mereka. Mereka tahu taruhan ini sangat tidak adil, namun mundur di hadapan seluruh prajurit benteng akan merusak reputasi yang baru saja mereka bangun dengan darah.

Lin Yuan menatap Zhang Bao tanpa berkedip. Di dalam dadanya, Kera Putih mendesah pelan, memancarkan gelombang kehangatan yang membuat darah di meridian Lin Yuan berdesir cepat.

"Aturan taruhanmu terlalu lunak," Ucap Lin Yuan datar, memotong tawa anak buah Zhang Bao seketika.

"Apa katamu?" Tanya Zhang Bao mengerutkan keningnya.

Lin Yuan melangkah satu jengkal lebih dekat, menatap lurus ke dalam pupil mata Zhang Bao.

"Jika Unit Sembilan kalah, kami tidak hanya menyerahkan jatah bulanan kami," Kata Lin Yuan dengan suara membumi namun berdaya ledak luar biasa. "Kami akan menyerahkan seluruh hasil buruan kami semalam, termasuk reputasi kami di benteng ini. Tapi jika Unit Satu kalah..."

Lin Yuan memperhias senyum tipis di sudut bibirnya—senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Zhang Bao berdiri.

"...kalian harus menyerahkan seluruh jatah minyak spiritual, batu energi, dan Pedang Lebar bersepuh emas di punggungmu itu kepada Unit Sembilan. Ditambah, kalian harus berlutut meminta maaf di lapangan ini pada seluruh unit buangan."

Seruan kaget menggema keras di seluruh lapangan! Para prajurit veteran bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Seorang tahanan baru berani mempertaruhkan segalanya dan menantang Pedang Pusaka milik putra bangsawan!

"Bocah lancang! Kau pikir kau siapa?!" Seru Zhang Bao dengan wajah merah padam menahan murka.

"Kau yang mengajak bertaruh," Balas Lin Yuan tenang seraya membalikkan badannya. "Terima syaratku, atau minggirlah dari jalan kami."

Zhang Bao mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Di hadapan ratusan pasang mata prajurit, ia tidak punya pilihan lain selain menerima tantangan gila ini demi menjaga nama besarnya.

"Baik!" Raung Zhang Bao dengan napas memburu. "Aku terima syarat gila ini! Sampai jumpa di Ngarai Gagak, Lin Yuan! Hari ini aku akan memastikan Unit Sembilan merangkak keluar dari ngarai tanpa membawa apa pun!"

Lin Yuan tidak menoleh lagi. Ia melangkah tenang memimpin Unit 9 menuju pintu gerbang utara, meninggalkan keriuhan lapangan yang meledak oleh antisipasi pertumpahan darah di Ngarai Gagak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!