FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Kenal Wanita Seperti Dia
"N-Nyonya Eleonora... Selamat siang." sapa Raina dengan sopan.
"Kamu sedang apa, Nak?" tanya Nyonya Eleonora seraya menunjuk sikat di tangan Raina.
"Karpet itu kan baru saja dibersihkan pakai vacuum cleaner profesional minggu lalu. Kenapa kamu menyikatnya manual pakai tangan begitu?" tanya Nyonya Eleonora penasaran.
Raina menundukkan kepalanya, menelan ludah dengan canggung. "Anu, Nyonya... Tuan Muda tadi pagi berpesan lewat interkom... Beliau bilang ada serat kain yang kurang bersih dan minta disikat ulang pakai pembersih khusus."
Nyonya Eleonora terbelalak. "Apa?! Noah yang minta?!"
Raina mengangguk pelan tanpa berani menatap mata Nyonya Eleonora. "Iya, Nyonya."
"Astaga..." Nyonya Eleonora mengelus dadanya, terkejut luar biasa. "Anak itu benar-benar sudah gila! Karpet seluas ini disikat pakai tangan?!"
Belum sempat Nyonya Eleonora meredakan kekagetannya, matanya tak sengaja melirik ke arah pintu perpustakaan kecil di sebelah ruang kerja. Pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan ratusan buku yang sebelumnya tertata rapi kini diturunkan ke lantai dan disusun ulang berdasarkan warna sampul.
"Raina, jangan bilang kalau buku-buku di dalam perpustakaan itu juga kamu yang memindahkannya?" tanya Nyonya Eleonora dengan suara meninggi, menunjuk ke dalam ruangan.
Raina makin menundukkan wajahnya, meremas jemarinya yang memerah. "Iya, Nyonya... Tuan Muda minta disusun ulang berdasarkan kode warna dan abjad..."
Nyonya Eleonora memegang lengan Raina, merasakan betapa dingin dan gemetarnya tubuh gadis itu. Rasa kasihan dan marah bercampur aduk di dalam dada sang nyonya rumah.
"Sudah! Stop! Jangan dilanjutkan lagi!" perintah Nyonya Eleonora tegas. "Simpan sikat itu sekarang juga, Raina. Kamu turun ke dapur, makan siang, lalu istirahat di paviliun!"
Raina panik, mengangkat kepalanya menatap Nyonya Eleonora dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Nyonya... kalau Tuan Muda pulang dan melihat tugas ini belum selesai, nanti beliau marah besar..." ucapnya terpotong oleh Nyonya Eleonora.
"Biar Mama yang hadapi Noah!" potong Nyonya Eleonora dengan nada suara tidak menerima bantahan.
"Kamu itu manusia, Raina, bukan mesin! Tugasmu mengurus kebersihan rumah secara wajar, bukan disiksa dengan perintah-perintah konyol yang tidak masuk akal begini! Ayo turun!" tegas Nonya Eleonora begitu kasihan melihat Raina.
"T-terima kasih, Nyonya..." desah Raina lirih. Dengan tangan gemetar, dia membereskan ember dan sikatnya, lalu melangkah turun ke lantai satu.
Nyonya Eleonora berdiri di tengah koridor lantai dua, menatap punggung Raina yang melangkah lemas dengan dada bergelombang oleh amarah. Wanita paruh baya itu menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Noah adalah pria yang dingin dan kaku, tetapi pria itu tidak pernah bersikap sekejam dan se-kekanak-kanakan ini pada pekerja mana pun selama puluhan tahun keluarga Rajendra memiliki pembantu.
'Kenapa Noah seolah sengaja mencari-cari alasan untuk menyiksa Raina?' batin Nyonya Eleonora bertanya-tanya, rasa curiga mulai bertunas di benaknya.
'Ada hubungan apa sebenarnya di antara mereka berdua?'
Pukul lima sore, mobil Mercedes-Benz hitam milik Noah memasuki pelataran mansion. Noah melangkah masuk ke dalam rumah dengan jas hitam terpasang rapi di tubuhnya. Wajahnya tetap dingin dan kaku seperti biasa.
Namun, ketika langkah kakinya baru saja melewati pintu utama menuju tangga, suara panggilan tegas sang mama menghentikan langkahnya.
"Noah. Sini sebentar." panggil sang mama dengan tegas.
Noah menoleh. Nyonya Eleonora duduk di sofa ruang tengah dengan tangan bersedekap dada, menatap putranya dengan pandangan menuntut yang sangat serius.
Noah menghela napas pelan, merapikan lengan jasnya, lalu melangkah mendekat.
"Ada apa, Ma? Noah baru saja pulang kantor, mau bersiap rapat online jam enam nanti." seru pria itu tanpa tahu permasalahan akibat kelakuannya sendiri.
"Duduk dulu," perintah Nyonya Eleonora dingin.
Noah menaikkan sebelah alisnya, lalu duduk di sofa tunggal di depan mamanya. "Ada masalah apa, Ma? Kelihatan serius sekali."
Nyonya Eleonora menatap lurus ke dalam mata elang putranya. "Kamu yang ada masalah apa, Noah?"
Noah mengerutkan dahi. "Maksud Mama?"
"Mama mau tanya," Nyonya Eleonora memajukan tubuhnya, menatap Noah dengan selidik yang tajam. "Kenapa kamu memberikan pekerjaan konyol dan tidak masuk akal pada Raina?!"
Raut wajah Noah mendadak membeku seketika. Sorot matanya berubah makin dingin, namun dia dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya.
"Pekerjaan konyol apa?" kilah Noah datar.
"Jangan berpura-pura tidak tahu!" tegur Nyonya Eleonora keras.
"Mama lihat sendiri siang tadi! Kamu suruh Raina menyikat karpet tebal lantai dua pakai tangan! Kamu suruh dia memindahkan ratusan buku perpustakaan sendirian! Baju-bajumu disuruh susun berdasarkan gradasi warna! Kamu ini kenapa, Noah?! Kamu mau menyiksa anak orang sampai pingsan?!" seru Nyonya Eleonora dengan nada sedikit meninggal karena kelakukan sang anak.
Noah terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Ma, aku cuma menuntut kerapian di lantai dua. Sebagai pembantu yang dibayar mahal di rumah ini, wajar kalau dia bekerja secara maksimal."
"Itu bukan bekerja maksimal, Noah! Itu penyiksaan!" bentak Nyonya Eleonora tak tahan lagi.
"Selama puluhan tahun Mama mengurus rumah ini, Mama tidak pernah melihatmu peduli pada hal-hal sepele seperti susunan gradasi baju atau warna sampul buku! Tapi kenapa begitu Raina yang bekerja, kamu mendadak jadi sangat cerewet dan menuntut hal-hal aneh?!" sahut Nyonya Eleonora dengan penasaran.
Noah mengepalkan tangannya di atas pangkuan, rahang tegasnya mengeras rapat. "Mama tidak usah ikut campur urusan pekerja di lantai dua. Aku yang memegang area itu."
Nyonya Eleonora menatap putranya dengan tatapan mata yang mendadak curiga luar biasa.
"Noah..." bisik Nyonya Eleonora pelan, matanya menyipit tajam. "Jawab jujur pertanyaan Mama. Apakah kamu... sebelumnya sudah pernah kenal dengan Raina?" tanya Mama Eleonora dengan menebak-nebak.
Deg!
Atmosfer di ruang tengah itu mendadak hening seketika. Kata-kata sang mama menghantam dada Noah bagaikan pukulan tak terlihat.
Noah menatap mamanya dengan pandangan membeku. Namun, rasa gengsi dan dendam yang pekat membuat Noah menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah paling kaku yang dia miliki.
"Tidak," jawab Noah bohong, suaranya dingin dan tanpa getaran. "Aku tidak pernah kenal dengan wanita seperti dia."
Nyonya Eleonora tidak langsung percaya. "Lalu kenapa kamu seolah dendam sekali padanya? Tatapan matamu saat melihat Raina, perintah-perintahmu yang menyiksa... itu bukan sifatmu yang biasa, Noah!"
"Aku cuma tidak suka ada orang yang bekerja setengah-setengah di rumahku, Ma," potong Noah tegas seraya berdiri dari sofa.
"Kalau Mama merasa kasihan padanya, Mama bisa memindahkannya ke dapur. Tapi selama dia bertugas di lantai dua, dia harus menuruti standarku. Permisi, aku mau ke kamar." pamitnya dengan cepat.
Noah berbalik dan melangkah lebar menuju tangga, meninggalkan mamanya yang menatap kepergiannya dengan raut wajah penuh keraguan dan kekhawatiran.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah