NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Angan di Atas Pohon Dahyangguk dan Pertemuan Dua Jiwa

Malam kian larut di dalam paviliun tamu benteng Jinyowon. Hawa dingin khas pegunungan merayap masuk melalui celah pintu kayu yang sedikit terbuka. Di dalam kamar yang temaram, Han Seol duduk bersandar pada pilar ranjang, mendengarkan Jin So Hwa yang sedang bercerita dengan nada suara yang lirih. Gadis itu menatap kosong ke arah langit-langit, mengenang masa-masa sepi saat ia masih terisolasi dari dunia luar.

"Selama tiga tahun dikurung di ruangan pengap itu, aku selalu memimpikan hal yang sama, Han Seol," ucap Jin So Hwa, sebuah senyuman getir terukir di bibir cantiknya.

"Di dalam benakku, aku selalu membayangkan diriku sedang duduk sendirian di atas dahan sebuah pohon yang teramat sangat besar. Di atas sana, angin berembus bebas, dan aku bisa melihat seluruh dunia tanpa perlu merasa takut dikejar oleh siapa pun."

Mendengar penuturan tersebut, Han Seol tersentak hebat. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Angan-angan tentang duduk di atas pohon besar adalah harapan terbesar Seol Ah di masa lalu yang belum sempat tersampaikan hingga akhir hayatnya.

Bahkan, Han Seol semakin dibuat kaget dan terpaku saat Jin So Hwa melanjutkan kalimatnya dengan tatapan menerawang. "Anehnya, aku tahu dengan sangat pasti di mana letak pohon besar itu berada. Pohon itu tumbuh kokoh di wilayah Dahyangguk."

Dahyangguk. Tempat masa kecil Seol Ah dan lokasi pohon kenangan mereka berdua.

Meski demikian, tidak seperti sebelum-sebelumnya di mana Han Seol langsung merasa kesal dan menuduh So Hwa sedang mencuri memori masa lalu, kali ini reaksi sang Penyihir Agung berbeda total. Han Seol justru didera rasa bingung yang teramat sangat melanda batinnya. Akalnya dipaksa berputar keras.

“Bagaimana mungkin?” pikir Han Seol sembari menatap lekat-lekat ke arah So Hwa.

Malam ini, gadis itu sama sekali tidak membawa atau memegang batu giok biru Yin yang biasanya bertindak sebagai jembatan spiritual penghubung ingatan. Namun, perkataan, angan-angan, hingga detail lokasi yang diucapkan oleh Jin So Hwa bisa keluar secara konstan dan sama persis dengan sosok Seol Ah.

Namun, belum sempat Han Seol menginterogasi So Hwa lebih dalam mengenai fenomena janggal tersebut, perhatiannya mendadak teralih. Hawa sihir gichul milik Han Seol mendeteksi ada riak energi asing yang mencoba menyelinap masuk menembus pelataran dalam Jinyowon. So Hwa yang memiliki penglihatan spiritual juga merasakan hal yang sama.

Dengan gerakan senyap, Han Seol melompat keluar jendela paviliun, diikuti oleh So Hwa.

Mereka bergerak cepat menyisir bayang-bayang koridor, hingga akhirnya Han Seol berhasil menyergap sesosok pria berjubah pelarian di dekat tembok pembatas ruang tahanan. Begitu pedang Han Seol terhunus beberapa senti di depan leher penyusup itu, ia terkejut.

Pria itu adalah Baek Seo Jun.

"Han Seol, tahan pedangmu. Aku datang ke sini bukan untuk memusuhi Jinyowon," bisik Baek Seo Jun dengan napas tertahan, matanya menatap Han Seol penuh permohonan.

"Soi sedang disekap dan disiksa di dalam ruang tahanan bawah tanah oleh Nyonya Jin. Nyawanya terancam. Aku mohon, bantulah aku dengan cara mengalihkan perhatian Jin Hwa Young agar fokusnya terpecah dari ruang bawah tanah."

Han Seol menatap Seo Jun sejenak, menimbang risiko. Mengingat informasi penting dari Master Lee mengenai Hwajo yang juga harus ia selidiki malam ini, Han Seol akhirnya mengangguk setuju. Rencana instan pun segera disusun.

Sementara itu, di dalam ruang eksekusi bawah tanah yang pengap, Jin Hwa Young berdiri dengan raut wajah kejam. Ia baru saja hendak mengangkat cambuk sihirnya kembali untuk memaksa Soi agar memberitahukan tentang letak keberadaan cacing darah saat ini.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan keras di pintu besi menghentikan gerakan tangannya. Seorang pengawal wanita masuk dengan tergesa-gesa.

"Nyonya, mohon maaf mengganggu. Di atas... Penyihir Agung Han Seol tiba-tiba datang ke aula utama dan bersikeras ingin bertemu dengan Anda saat ini juga. Beliau mengatakan ada urusan mendesak terkait pernikahan."

Jin Hwa Young mendengus dongkol. Ia terpaksa menghentikan aksinya malam itu, meletakkan cambuknya, dan melangkah pergi keluar menuju aula atas. Padahal, semua drama pertemuan mendadak itu sengaja dilakukan oleh Han Seol agar Baek Seo Jun bisa bebas bergerak melaksanakan rencana penyelamatan Soi tanpa gangguan pimpinan tertinggi Jinyowon.

Di aula utama, Jin Hwa Young menyambut Han Seol dengan ketus. "Ada apa lagi, Han Seol? Ini sudah lewat tengah malam."

Han Seol menatap ibu mertuanya datar. "Nyonya Jin, berhubung aku sudah resmi menjadi menantumu dan bagian dari perlindungan Jinyowon, aku meminta agar diperbolehkan masuk ke dalam ruang pusaka sakral malam ini. Aku perlu memastikan sistem pertahanan artefak di dalam sana tetap aman."

Jin Hwa Young sempat curiga, namun mengingat ancaman kerajaan dan posisi Han Seol sebagai pelindung mutlak, ia akhirnya mengalah. Dengan pengawalan ketat, Han Seol diantar melangkah masuk menembus pintu baja tebal ruang pusaka terdalam Jinyowon.

Di dalam ruangan yang dipenuhi cermin dan kotak pembeku sihir itu, pandangan Han Seol akhirnya diperlihatkan langsung pada sebuah artefak kuno yang diletakkan di atas altar giok. Artefak bernama Hwajo yang disinggung oleh Master Lee siang tadi. Kabar baiknya, artefak yang memiliki wujud fisik menyerupai sebutir telur burung raksasa berwarna merah membara itu kondisinya masih terjaga dan terisolasi dengan teramat baik di atas dudukannya.

Meski demikian, Jin Hwa Young yang berdiri di sampingnya memberikan penjelasan yang teramat serius dengan wajah tegang. "Jangan sekali-kali berpikir untuk menyentuhnya, Han Seol. Jika telur Hwajo ini sampai dibawa keluar melewati batas benteng Jinyowon, maka seluruh fondasi sihir pelindung tempat ini akan hancur lebur seketika. Belum lagi... jika segelnya pecah hingga Hwajo menetas dan burung api itu terbang bebas di udara, seluruh penjuru dunia akan dilanda bencana kekeringan yang hebat layaknya terbakar api neraka."

Han Seol mengamati telur merah itu dengan saksama, mengunci setiap detail energinya ke dalam ingatan, sebelum akhirnya mengangguk paham.

Bersamaan dengan berlangsungnya pengalihan perhatian di ruang pusaka tersebut, Baek Seo Jun berhasil menjebol jeruji besi tahanan bawah tanah. Dengan cepat, ia memotong rantai pembelenggu dan membopong tubuh Soi yang sudah lemas dan babak belur keluar melalui jalur pelarian air, membawa gadis itu melesat kabur menuju tempat paling aman yang ia ketahui: ruang medis rahasia Cheon Gi Won.

****

Sesampainya di Cheon Gi Won, setelah memberikan ramuan herbal untuk menstabilkan kondisi fisik Soi yang pingsan, Baek Seo Jun duduk di samping tempat tidur dengan napas terengah-engah. Di dalam ruangan itu, asisten pribadi Do Hyun, Yoo Ha Jin, melangkah masuk setelah memastikan situasi di luar aman.

Ha Jin mendekati Seo Jun dengan raut wajah yang dipenuhi keterkejutan luar biasa. "Seo Jun... saat aku memeriksa ruang interogasi luar Jinyowon sebelum kau datang, aku tidak sengaja menguping perdebatan sisa antara Nona Soi dan Jin Hwa Young sebelum penyiksaan dimulai. Aku mendengarkan sebuah fakta baru yang teramat gila mengenai identitas Jin So Hwa."

Baek Seo Jun mendongak tajam. "Fakta apa, Ha Jin?"

"Nona Soi memeras Nyonya Jin dengan membawa nama Seol Ah dari Desa Sari. Dan tebak apa jawaban Jin Hwa Young? Beliau berteriak bahwa ia tidak peduli, karena ia tahu persis bahwa Jin So Hwa yang bersamanya selama tiga tahun ini memanglah wadah raga yang jiwanya telah dikuasai seutuhnya oleh sukma Nara sang pembunuh bayangan yang melompat ke danau!" jelas Ha Jin dengan suara berbisik namun sarat akan keterkejutan.

Mendengar rentetan kalimat tersebut, Baek Seo Jun yang awalnya sempat mengira dan menduga bahwa sosok Jin So Hwa yang ia kenal di rumah Han Seol adalah sosok penipu alias Jin So Hwa palsu, seketika tertegun dengan mata membelalak lebar. Seluruh potongan teka-teki di kepalanya mendadak jatuh di tempat yang tepat.

Ia akhirnya tahu sebuah kebenaran yang teramat sakral bahwa Jin So Hwa yang sekarang berdiri di samping Han Seol... secara fisik benar-benar merupakan Jin So Hwa yang asli keturunan murni keluarga Jin.

Namun, perbedaan besarnya adalah wajah dan raganya telah bermutasi karena jiwanya telah digantikan sepenuhnya oleh jiwa Nara—gadis pelayan yang tak lain merupakan teman wanita masa kecil sekaligus cinta pertama Baek Seo Jun sendiri saat mereka berdua masih tumbuh bersama di masa remaja dahulu.

Kesadaran itu membuat dada Seo Jun bergemuruh hebat, menyadari bahwa takdir lama kini tengah bersiap meledakkan bom waktu di antara mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!