Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 - Pergi Bersama
Hari ini adalah hari minggu, Sheyra memiliki janji untuk pergi makan bersama Alvaro dan Lyra. Sebenarnya mereka pergi makan bersama bukan tanpa alasan. Melainkan ini adalah bayaran yang didapat Sheyra saat membantu Alvaro menjaga Lyra ketika Alvaro sakit seminggu yang lalu. Saat itu Sheyra menolak ketika Alvaro akan membayarnya dengan uang. Hal itu dikarenakan Sheyra murni ingin membantu Alvaro dan tidak mengharapkan imbalan apapun.
Namun ternyata keputusan Sheyra itu membuat Alvaro merasa sedih. Cowok itu tetap ingin memberikan imbalan yang setimpal untuk Sheyra. Oleh karena itu agar Alvaro tidak merasa berutang budi kepadanya, Sheyra mengajukan permintaan agar Alvaro mentraktirnya makan sebagai gantinya. Alvaro menyanggupi permintaan tersebut. Lalu akhirnya mereka memutuskan untuk makan bersama hari ini. Dan tentu mereka tidak akan makan berdua saja, melainkan bersama Lyra juga.
Sheyra menatap dirinya di depan cermin. Ia memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hari ini ini memutuskan untuk memakai dress pink dengan motif bunga-bunga selutut. Baju itu membuat Sheyra terlihat lebih cantik dan terkesan feminim.
Setelah memastikan dirinya cocok dengan pakaian yang ia kenakan, Sheyra mengambil jepit rambut berbentuk love berwarna pink di lacinya. Ia meletakkan jepit rambut itu di atas telinganya sehingga membuat penampilan Sheyra menjadi lebih imut. Entah mengapa sejak tadi Sheyra merasa gugup dan berdebar karena bagaimana pun ini adalah pertama kalinya ia akan makan bersama dengan Alvaro.
Sheyra menyadari ponselnya berbunyi pertanda sebuah pesan masuk. Buru-buru Sheyra mengambil ponselnya dan membaca sebuah pesan untuknya. Pengirimnya adalah Alvaro.
‘Shey, gue udah di bawah.’
Sheyra membelalakkan matanya terkejut setelah membaca pesan tersebut. Sheyra segera berlari ke arah jendela kamarnya Ia membuka tirai jendelanya sedikit untuk melihat keberadaan Alvaro. Ia ingin memastikan apakah Alvaro benar-benar berada di depan rumahnya ataukah tidak. Sheyra memantau dari lantai dua kamarnya.
Sheyra menatap seolah tidak percaya ketika melihat sebuah pemandangan di depan matanya. Ternyata perkataan Alvaro benar, cowok itu memang ada di sana. Sebuah mobil berwarna hitam milik Alvaro terparkir di sana. Sheyra tidak menyangka bahwa Alvaro akan menjemputnya di depan rumah. Padahal kemarin Sheyra sudah bilang bahwa mereka akan bertemu di lokasi saja. Namun siapa sangka Alvaro justru memilih untuk menjemputnya daripada bertemu di lokasi.
Dengan segera Sheyra berlari keluar kamarnya. Ia tidak ingin membuat Alvaro menunggu lama. Langkah Sheyra berhenti ketika melihat Bundanya yang tengah sibuk di dapur. Sheyra menghampiri Bundanya dan mencium tangannya. “Bunda, Shey pergi dulu ya?” pamitnya.
“Oiya, hati-hati ya Nak.” jawab Bundanya yang kemudian dibalas anggukan oleh Sheyra.
Setelah selesai pamit, Sheyra meninggalkan Bundanya sendirian di dapur untuk melanjutkan aktivitas memasaknya. Sheyra menghela nafas lega. Syukurlah, Bundanya tidak melihat mobil yang terparkir di luar rumah. Kalau tahu, pasti Bundanya akan bertanya banyak hal dan menggodanya seperti beberapa hari yang lalu. Sheyra tidak akan bisa memberikan jawaban itu pertanyaaan-pertanyaan itu.
Sheyra sudah sampai di depan pagar rumahnya. Ia membuka pagar itu dan mendapati Alvaro yang sedang duduk di depan mobilnya. “Hai Al.” sapa Sheyra sembari melambaikan tangannya canggung.
***
Perhatian Alvaro sepenuhnya terfokus pada jalanan di depannya. Sebenarnya ia dan Sheyra sepakat untuk bertemu di sebuah restoran yang telah mereka janjikan. Namun entah mengapa Alvaro tiba-tiba berubah pikiran. Ia memutuskan untuk menjemput Sheyra di rumahnya mengingat rumah Sheyra dan restoran tersebut searah. Ia berpikir akan lebih baik jika mereka berangkat bersama.
Alvaro sangat hafal dengan arah jalan ke rumah Sheyra. Baginya, jalanan tersebut cukup mudah untuk ia ingat karena tidak banyak belokan. Cukup lurus dan belok dua kali saja.
“Papa, Kak Ei mana?”
Alvaro menoleh sekilas ke arah Lyra yang ada di sampingnya. Lyra terlihat begitu antusias karena akan bertemu dengan Sheyra. Alvaro tersenyum, “Sabar ya sayang. Bentar lagi kita ketemu Kak Shey.”
“Horeee!!” Lyra bersorak riang. Gadis itu tidak bisa menutupi rasa senangnya.
Alvaro tertawa kecil melihat tingkah lucu anaknya. Alvaro menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumah Sheyra. Ia mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Sheyra.
‘Shey, gue udah di bawah.’
Setelah itu Alvaro mengirimkan pesan tersebut. Tidak butuh waktu lama, pesan itu langsung dibaca Sheyra. Tidak ada jawaban. Mungkin gadis itu sedang sibuk bersiap. Alvaro kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Alvaro membuka pintu mobilnya. “Papa keluar sebentar ya.” kata Alvaro kepada Lyra yang sedang duduk anteng di tempatnya.
“Iya Papa!”
Alvaro keluar dari mobilnya. Ia berdiri sambil bersandar di mobil. Alvaro memperhatikan lingkungan sekitar rumah Sheyra. Saat ia mendongak ke atas, matanya menangkap sosok Sheyra yang tengah mengintip dari balik tirai kamarnya. Sheyra terlihat terkejut melihat kedatangan Alvaro.
Mata Sheyra dan Alvaro tanpa sengaja bertemu. Sheyra menggerakkan bibirnya seperti sedang mengatakan sesuatu yang tidak bisa Alvaro dengar karena jarak yang cukup jauh. Namun Alvaro bisa membaca gerakan bibir Sheyra. Gadis itu berkata, “Tunggu ya.”
Alvaro mengangguk paham. Beberapa detik kemudian Sheyra sudah menghilang dari jendela itu. Sepertinya Sheyra sudah turun ke bawah dan akan segera menemuinya.
“Papa.” panggil Lyra dari dalam mobil.
Alvaro menoleh. Sepertinya puterinya sudah tidak bisa bersabar lagi. Alvaro menunjukkan senyum manisnya kepada Lyra, “Bentar lagi Kak Shey keluar.”
Lyra membulatkan matanya, “Benar Papa??”
“Iya!” seru Alvaro sambil mengangguk.
“Hai.”
Mendengar kata sapaan tersebut membuat Alvaro dan Lyra secara bersamaan reflek menoleh ke arah sumber suara. Sheyra sedang berdiri di depan mereka sambil melambaikan tangannya. Suasana hening untuk beberapa saat.
Alvaro terdiam. Ia melihat ke arah Sheyra tanpa berkedip. Penampilan dari Sheyra yang selama ini tidak pernah Alvaro lihat. Gadis itu memakai dress bunga-bunga yang sangat cantik dengan jepitan rambut lucu di atas telinganya. Alvaro menyadari sesuatu, Sheyra terlihat begitu cantik. Sejak awal Sheyra memang sudah cantik. Namun sepertinya ia baru menyadari hal itu belakangan ini. Alvaro berpikir, sejak kapan ya dia jadi memperhatikan Sheyra sedetail ini? Alvaro tidak tahu sejak kapan tepatnya.
“Kak Ei!! Yeyy!” seru Lyra dari dalam mobil yang sontak saja membuyarkan lamunan Alvaro.
Alvaro terlihat gugup. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia harus bersikap seperti biasa. Ia tidak boleh bersikap aneh. Alvaro sedang mengatur gerak geriknya agar tidak terlihat gugup. Alvaro merasa dirinya aneh. Sebuah perasaan yang tidak ia pahami muncul dari dalam dirinya. Dan kini Alvaro tidak bisa mengontrol perasaan itu. Sebenarnya apa yang sedang ia rasakan? Alvaro tidak tahu tepatnya.
Sheyra berjalan menghampiri Lyra. Ia tersenyum manis kepada Lyra. “Halo cantik.” sapa Sheyra ramah.
Lyra berusaha melepaskan seatbelt yang terpasang di badannya. Lyra ingin segera memeluk Sheyra, Kakak kesayangannya.
“Lyra diam sebentar ya.” pinta Sheyra sambil membantu Lyra untuk melepaskan seatbelt. Setelah seatbelt terlepas, Lyra langsung memeluk Sheyra dengan erat.
“Aku senang ada Kak Ei.” kata Lyra sembari memeluk Sheyra dengan erat.
Sheyra tersenyum penuh haru. Ia mengelus puncak kepala Lyra dengan lembut. “Kakak juga.”
Alvaro yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua ikut tersenyum senang. Pertemuan yang benar-benar manis. Alvaro berdehem agar keberadaanya di notice oleh Sheyra dan Lyra.
“Lupa kalau ada Papa hehehe.” kata Lyra sambil tertawa.
“Hahahaha.” Sheyra tertawa mendengar perkataan Lyra.
“Sudah? Yuk kita berangkat.” ajak Alvaro yang kemudian dibalas anggukan oleh Sheyra dan Lyra secara bersamaan.
^^^Bersambung…^^^