Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Gerbang perunggu kuno itu terangkat perlahan dengan debuman berat yang menggetarkan lantai batu.
Di hadapan Ren dan regu pelopor, terbentang sebuah koridor raksasa yang dikenal sebagai Aula Ilusi Tebasan. Panjangnya membentang lebih dari seratus lima puluh meter, dengan lebar sekitar dua puluh meter. Seluruh lantainya tersusun dari ubin kristal transparan yang begitu bening, menampakkan jurang kehampaan pekat tanpa dasar di bawahnya yang memancarkan pendar ungu redup bagai kabut beracun.
Ancaman paling mengerikan justru terpancar dari dinding-dinding aula tersebut.
Kedua sisi dinding koridor dilapisi cermin obsidian hitam setinggi sepuluh meter. Permukaan cermin itu tidak memantulkan bayangan secara wajar; sosok manusia yang terpantul di dalamnya bergerak dengan keterlambatan hampir satu detik penuh dari gerakan aslinya di dunia nyata. Siapa pun yang menatap cermin itu terlalu lama akan merasakan disorientasi tajam yang menusuk langsung ke pusat saraf kepala.
Di belakang mereka, di luar gerbang perunggu, Julius von Ravensburg duduk santai di atas punggung kuda perang berzirah perak. Tangannya terlipat rapi di depan dada, sementara bibirnya menyunggingkan senyuman dingin. Di sekelilingnya, puluhan ksatria elit berdiri membentuk barikade rapat, menghunus tombak mereka untuk memastikan regu jelata di depan tidak memiliki celah untuk mundur.
"Maju dan bersihkan jalurnya, Prajurit Ren," perintah Kapten Valerie dari belakang barisan ksatria, suaranya terdengar datar dan dingin. "Tandai seluruh jebakan tersembunyi hingga ke gerbang keluar di ujung seberang."
Vargas melangkah maju ke samping Ren. Tameng baja beratnya terangkat di depan dada, matanya menyipit waspada menatap pantulan cermin obsidian yang ganjil.
"Ren... udara di lorong ini terasa sangat aneh," bisik pria tua itu dengan napas berat. "Kulit lenganku meremang. Rasanya seperti ada ratusan kawat setipis rambut yang melayang tanpa suara di dalam ruangan ini."
"Ini bilah distorsi ruang, Paman," sahut Ren pelan sambil menengadah menatap bola perunggu raksasa di langit-langit kubah. "Serangan tak kasat mata yang bergerak mengikuti irama denyut cahaya bola perunggu di atas kita."
Ren menarik napas dalam-dalam, menenangkan denyut nadinya yang memburu, lalu melangkahkan kaki kanannya ke atas ubin kristal pertama.
Lantai kristal itu berderit lirih di bawah beban tubuhnya, namun tetap stabil.
Ren melangkah lagi. Satu langkah, dua langkah. Jalur di awal aula tampak tenang tanpa hambatan.
Namun, saat ia menginjak ubin kristal ketiga di jalur tengah—
Udara di hadapannya bergetar tanpa kilatan sihir atau peringatan suara.
Sebuah garis pemotong tak kasat mata menyayat tubuh Ren dari puncak kepala hingga ke pangkal paha dalam sekejap mata. Tidak ada waktu untuk menghindar atau mengangkat belati. Dalam pecahan detik yang membekukan, pandangannya terbelah menjadi dua, darah segar memercik ke permukaan cermin hitam, dan rasa dingin yang luar biasa merenggut seluruh kesadarannya ke dalam kegelapan mutlak.
Dunia berputar kembali dengan dengungan tajam di dalam gendang telinganya.
Ren tersentak mundur, berdiri tegak tepat di ambang pintu masuk gerbang perunggu sebelum langkah pertamanya diayunkan.
Sisa rasa sakit dari tubuh yang terbelah dua masih membakar di sepanjang tulang punggungnya, membuat otot-otot di sekujur tubuhnya menegang kaku. Pupil matanya melebar saat indra persepsinya menangkap partikel debu yang melayang di udara lorong.
Ubin ketiga di jalur tengah adalah titik pemicu bilah vertikal pertama.
"Ren?" Vargas yang berdiri di sampingnya menoleh dengan heran melihat pemuda itu tiba-tiba menahan langkahnya dan menarik napas tersengal. "Ada apa? Kau melihat sesuatu?"
"Ubin ketiga di tengah adalah jebakan pemenggal mutlak," bisik Ren cepat dengan suara dingin yang terkontrol, menyembunyikan getaran di ujung jemarinya. "Jalur aman berbelok ke arah ubin kristal gelap di sisi kiri, tepat pada sudut serong."
Ren mengubah arah langkahnya, menginjak ubin kristal gelap di sebelah kiri. Lantai tetap tenang. Aman.
Vargas yang membawa tamengnya, Shizuka yang memeluk tas perbekalan medis, dan Riku yang menggenggam busur panahnya melangkah tepat di atas jejak kaki Ren tanpa menyimpang satu tapak pun.
Namun, aula sepanjang seratus lima puluh meter itu merupakan panggung pembantaian yang dirancang secara sistematis dengan puluhan mekanisme tersembunyi yang saling terkait.
Saat mereka mencapai jarak tiga puluh meter, Ren merasakan perubahan medan gravitasi yang mendadak. Udara bergetar hebat ketika salah satu ubin kuning bergeser satu milimeter. Ren segera menarik kerah zirah Vargas tepat sebelum pilar gravitasi terbalik meledak ke arah langit-langit berduri.
Di titik lima puluh meter, mereka harus berhenti total selama dua tarikan napas penuh saat bilah horizontal setinggi leher menyapu udara kosong di atas kepala mereka dengan desingan tajam yang memotong beberapa helai rambut Ren.
Setiap kali terjadi kesalahan sekecil apa pun—entah karena getaran langkah yang memicu resonansi cermin obsidian atau pergeseran sudut tumit yang meleset setengah tapak—Ren harus merasakan kembali bagaimana bilah tak kasat mata itu merobek dagingnya atau memenggal lehernya sebelum waktu ditarik mundur tiga puluh detik ke belakang.
Setiap kematian singkat itu meninggalkan beban berat pada kesadaran jiwanya. Rasa panas menusuk merayapi bagian belakang kepalanya, sementara lelehan darah segar mulai mengalir tipis dari lubang hidungnya.
"Ren... hidungmu berdarah..." bisik Shizuka cemas dari belakang punggungnya, tangannya bersiap merapalkan mantra penyembuh.
"Jangan gunakan sihir di dalam aula ini, Kak Shizuka," potong Ren dengan nada memerintah yang tegas. "Fluktuasi mana sekecil apa pun akan mengacaukan frekuensi bilah spasial dalam radius sepuluh langkah di sekitar kita. Tahan seluruh aliran mana kalian sekarang."
Shizuka segera menahan energinya, mengangguk patuh dengan wajah pias.
Ren menyeka darah dari bibirnya dengan punggung sarung tangan kulit. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah sisa koridor yang membentang di hadapan mereka.
Di dalam kepalanya, seluruh peta maut Aula Ilusi Tebasan kini telah terangkai utuh. Garis pemotong, titik letupan gravitasi, dan ritme kedipan bola perunggu di langit-langit telah terekam sempurna melalui memori puluhan kematian beruntun.
"Dengarkan aba-abaku baik-baik," ucap Ren kepada ketiga rekannya. "Mulai dari titik ini, kita bergerak mengikuti denyut cahaya perunggu di atas."
Ren menghitung ritme dalam benaknya dengan ketelitian mutlak. Satu... dua... pergeseran bayangan cermin terjadi... sekarang!
"Lompat dua langkah serong ke kanan!" teriak Ren.
Ren melompat, mendarat mulus di atas ubin kristal biru. Di belakangnya, Vargas melompat dengan tameng terangkat rapat, disusul oleh kelincahan langkah Shizuka dan Riku.
Tepat saat tumit Riku meninggalkan ubin sebelumnya, sebuah bilah spasial horizontal melesat menyapu udara kosong di tempat mereka berdiri setengah detik yang lalu. Desingan tajamnya membelah udara dengan suara mengoyak yang membuat dada mereka bergetar.
"Tiga langkah maju! Berhenti total selama dua detik!"
Mereka berempat melangkah serentak lalu membeku bagaikan patung batu di atas lantai kristal.
Sebuah pusaran gravitasi hitam meletup di atas ubin persis di depan ujung sepatu bot Ren, menyedot partikel debu ke dalam kehampaan dimensi sebelum lenyap kembali tanpa jejak.
"Maju serong kiri! Berlari lima langkah cepat!"
Ren memimpin kelompoknya melintasi labirin bilah tak kasat mata dengan presisi tinggi. Setiap manuver belokan dan jeda berhenti dieksekusi dengan ketepatan yang menakjubkan. Bagi siapa pun yang melihat dari kejauhan, mereka tampak meluncur mulus di atas hamparan duri beracun tanpa pernah tergores sedikit pun.
Di luar gerbang perunggu, senyuman angkuh di wajah Julius von Ravensburg perlahan-lahan luntur total.
Mata biru sang tuan muda bangsawan melebar saat melihat keempat prajurit jelata itu melesat melintasi zona pembantaian, menaklukkan rintangan paling mematikan di Lantai 14 seolah-olah mereka telah hafal seluruh tata letak lorong.
"Bagaimana mungkin...?" bisik Kapten Valerie dengan rahang mengeras dan mata terbelalak tak percaya. "Aula itu belum pernah berhasil ditembus oleh ekspedisi mana pun tanpa mengorbankan puluhan prajurit pengintai! Bagaimana mungkin seorang prajurit jelata rendahan mengetahui setiap koordinat aman tanpa memicu satu pun jebakan spasial?"
Di samping barisan pengawal Ravensburg, Elise yang menyaksikan pemandangan itu dari balik formasi ksatria Althea merasakan dadanya berdegup kencang.
Mata perak sang putri suci menangkap pendar gelap tak kasat mata yang menyelimuti bahu dan punggung Ren. Ia tahu betul arti di balik ketepatan langkah itu: Ren tidak sedang bertaruh pada keberuntungan. Pemuda itu telah menyeberangi jembatan maut puluhan kali di dalam benaknya, menanggung rasa sakit dari setiap tebasan bilah demi menemukan satu-satunya jalur keselamatan bagi rekan-rekannya.
Sementara itu, Julius meremas tali kekang kudanya begitu keras hingga sarung tangan kulit berlapis peraknya berderit tajam.
Raut wajah sang bangsawan berubah gelap menahan amarah. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai merayapi benaknya.
Baginya, seorang prajurit jelata yang memiliki kemampuan melampaui perhitungan para perwira tinggi adalah ancaman fatal bagi kendali kekuasaannya. Jika Ren berhasil keluar hidup-hidup dari aula ini dan memimpin regunya menuju Lantai 15, reputasi Julius sebagai komandan ekspedisi akan hancur di hadapan seluruh senat kekaisaran.
"Anak jelata itu... dia adalah anomali berbahaya yang tidak boleh dibiarkan bernapas lebih lama," bisik Julius dengan nada dingin yang sarat niat membunuh.
Julius menoleh perlahan ke arah Penyihir Gunter yang berdiri siaga di samping kudanya dengan tongkat sihir berujung batu rubi merah.
"Gunter," bisik Julius dingin tanpa belas kasihan. "Arahkan proyektil pengacau mana ke ubin kristal di bawah kaki mereka sekarang juga. Ledakkan seluruh resonansi jebakan di aula itu sekaligus."