NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:137.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesedirian

Langkah kaki Senja menyusuri trotoar jalanan kota yang ramai dengan perasaan hampa yang teramat dalam. Suara bising kendaraan dan lalu lalang orang-orang yang berpapasan dengannya terasa bagaikan gemuruh samar yang tak berarti.

Di dalam kepalanya, suara bentakan Prasetya dan tuntutan dingin sang ibu terus bergaung secara berulang, merobek-robek sisa ketenangan yang sempat ia kumpulkan dari Kepulauan Maladewa.

Senja sengaja mematikan daya ponselnya. Ia memutuskan untuk melepaskan diri dari segala bentuk koneksi, bahkan dari Memei, asisten pribadinya yang setia yang biasanya selalu tahu kemana pun ia pergi.

Bagi Senja, Memei memang sosok yang sangat baik dan selalu mendampinginya dalam urusan pekerjaan maupun keseharian, kecuali saat Senja sudah melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah Alfa. Namun hari ini, rasa sesak yang menghimpit dada Senja terlalu besar untuk dibagikan kepada siapa pun.

Senja menghentikan sebuah taksi di tepi jalan raya, lalu menyebutkan sebuah alamat yang tak pernah diketahui oleh siapa pun, sebuah tempat rahasia yang hanya ia seorang yang tahu keberadaannya.

Sebuah sudut kota yang tenang di pinggiran perbukitan kecil, tempat sebuah taman tua yang jarang dikunjungi orang berada. Di sana, di bawah naungan pohon rindang yang menghadap ke hamparan pemandangan kota dari ketinggian, Senja menghabiskan waktunya berjam-jam.

Ia duduk membisu di atas bangku kayu yang rapuh, menopang dagunya seraya menatap garis cakrawala yang perlahan membiru gelap. Di tempat sepi itulah Senja menumpahkan seluruh air matanya sampai habis, membiarkan angin sore mengusap pipinya yang basah.

Sejak kecil, Senja memang sudah terlalu terbiasa menyelesaikan segala rasa sakit dan kepedihannya dalam kesendirian. Bagi seorang Senja, dunia ini terlalu bising untuk mendengar jerit hatinya, dan tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang benar-benar bisa menjadi tempatnya berbagi.

Sementara itu, suasana di kantor pusat Arghantara Group terasa begitu tegang dan mencekam.

Alfa berdiri di depan jendela kaca besar ruang kerjanya, menatap jalanan Jakarta yang mulai dipadati oleh lampu-lampu kendaraan malam. Sorot matanya memancarkan kegelisahan yang teramat sangat. Pria itu sudah memutari seluruh sudut kota sejak sore hari untuk mencari keberadaan istrinya.

Alfa sudah mendatangi ruangan Senja di kantor Anjasmara Group, namun tempat itu kosong. Ia juga menanyakan keberadaan Senja kepada Memei. Sang asisten pribadi bahkan tampak panik dan kebingungan karena Senja menyuruhnya pulang lebih awal setelah kunjungan singkat ke rumah orang tuanya siang tadi.

"Pak Alfa, Bu Senja tadi memang sempat ke rumah Pak Prasetya siang tadi. Tapi setelah itu beliau menyuruh saya kembali ke kantor lebih dulu dan bilang ada urusan pribadi" Terang Memei melalui sambungan telepon yang diingat Alfa dengan jelas.

Satu-satunya petunjuk yang dimiliki Alfa adalah bahwa Senja sempat mendatangi rumah orang tuanya. Namun ketika Alfa mencoba menghubungi ibu mertuanya, jawaban yang ia dapatkan hanyalah formalitas dingin bahwa Senja sudah pergi sejak siang.

Alfa bisa merasakan ada yang tidak beres. Sesuatu pasti telah terjadi di rumah Anjasmara hingga Senja menghilang tanpa kabar dan mematikan ponselnya.

Di atas meja kerja Alfa, layar ponsel pintarnya terus bergetar dan menyala berkali-kali. Nama 'Dila' tertera di layar pesan singkat yang masuk bertubi-tubi. Wanita itu menanyakan keberadaannya, mengkhawatirkan kondisinya, dan meminta Alfa untuk datang menjenguknya di tempat peristirahatan privat.

Bahkan sejak kembali dari perjalanan bulan madu di Maladewa, Alfa sama sekali belum menginjakkan kaki untuk mengunjungi Dila.

Namun malam ini, seluruh fokus dan isi pikiran Alfa seolah terkunci rapat hanya pada satu nama: Senja.

Pria tegap itu sama sekali mengabaikan puluhan pesan dari Dila. Rasa khawatir yang asing dan begitu mencekam merayapi seluruh dinding dadanya, mengalahkan kepeduliannya pada hal lain di dunia ini.

Gelisah tak tertahankan, Alfa akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Ia menolak untuk berdiam diri di kantor.

Pukul sembilan malam lewat, Alfa sudah berdiri di depan pintu utama rumah mereka. Pria itu menolak untuk masuk dan beristirahat di dalam. Ia terus berjalan mondar-mandir di atas pelataran semen yang dingin di bawah naungan lampu pilar yang remang.

Setelan jas kerjanya sudah ia lepas entah ke mana. Dasi hitamnya terkulai longgar di sekeliling lehernya, sementara dua kancing teratas kemeja putihnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan jakunnya yang sesekali naik turun menahan kecemasan. Setiap kali mendengar suara mesin kendaraan melintas di jalan depan rumah, Alfa refleks menoleh dengan cepat, berharap itu adalah kendaraan yang membawa istrinya pulang.

Waktu terus bergulir hingga menginjak pukul sepuluh malam lewat lima belas menit.

Sebuah mobil taksi berwarna biru perlahan mengurang kecepatan dan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka.

Dari dalam taksi, sosok wanita bergaun simpel melangkah keluar dengan gerakan pelan. Senja membakar bayaran taksi, lalu berbalik arah menuju pintu gerbang yang sedikit terbuka.

Melihat sosok ramping itu berjalan masuk, Alfa menghembuskan napas panjang yang begitu berat. Rasa lega yang luar biasa seketika menyapu bersih seluruh beban ketegangan yang menghimpit dadanya sejak sore tadi. Pria itu melangkah lebar menghampiri Senja yang tampak terkejut melihat keberadaannya.

"Mas? Kenapa kamu di luar?" Tanya Senja dengan raut wajah polos dan suara yang lirih.

Matanya mengamati penampilan Alfa yang tampak acak-acakan, dasi yang melonggar dan kemeja yang kusut.

"Apa kamu baru saja pulang kerja?"

Alfa menghentikan langkahnya tepat di hadapan Senja. Jarak mereka hanya terpaut satu langkah. Sorot mata Alfa menatap tajam ke arah wajah Senja, mendeteksi kelopak mata istrinya yang tampak sedikit sembap dan kemerahan walau sudah tertutupi oleh bedak tipis.

"Kamu dari mana saja, Senja?" Tanya Alfa dengan suara serak yang dalam, menahan letupan emosi dan kelelahan di dalam dirinya.

"Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi sama sekali? Kamu tahu berapa banyak orang yang mencarimu sejak sore?"

Senja tersentak pelan mendengar intonasi suara Alfa yang sarat akan kecemasan mendalam. Dengan gerakan lambat, Senja merogoh tas tangannya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang berlayar hitam pekat lalu menunjukkannya pada Alfa.

"Maafkan aku, Mas... ponselku mati habis baterai sejak siang tadi" Alih Senja beralasan dengan nada lembut yang dipaksakan setenang mungkin.

"Kamu pergi ke mana sampai malam begini?" Cecar Alfa lagi, tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari mata Senja.

Senja menelan salivanya dengan berat, mencoba menguasai degup jantungnya yang mendadak berpacu cepat.

"Aku... aku tadi pergi mengunjungi panti asuhan yang biasa aku kunjungi di luar kota, Mas. Aku lupa waktu karena mengobrol dengan anak-anak di sana, lalu ketiduran sebentar sampai malam."

Sebuah kebohongan yang manis meluncur begitu saja dari bibir Senja. Ia tidak mungkin mengatakan kenyataan pahit bahwa ia baru saja melarikan diri dari neraka rumah orang tuanya dan menangis seorang diri di taman perbukitan yang sepi.

Alfa tidak langsung merespon. Pria tegap itu hanya berdiri mematung di hadapan Senja, menatap lurus menembus manik mata hitam milik istrinya. Tatapan Alfa begitu dalam, dingin, dan penuh intrik, seolah-olah sedang menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba disembunyikan oleh wanita di hadapannya.

Mendapat tatapan seintens itu dari Alfa, Senja mendadak menjadi sangat gugup. Ia mengalihkan pandangannya ke samping, tak sanggup berlama-lama menyerap sorot mata tajam suaminya yang seolah bisa membaca seluruh isi hatinya. Senja meremas tali tasnya erat-erat, merutuki keterampilannya yang buruk dalam berpura-pura di hadapan pria secerdas Alfa.

Alfa memperhatikan reaksi canggung istrinya—mulai dari gerakan matanya yang menghindari kontak, remasan jemarinya pada tali tas, hingga napasnya yang sedikit tertahan.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Alfa membatin dengan rasa kepedihan yang mulai merayap pelan.

"Aku tahu kamu bohong, Senja... Sejak kapan kamu pandai bersikap tenang saat matamu yang sembap itu jelas-jelas menunjukkan bahwa kamu baru saja menangis? Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan dariku? Kenapa kamu selalu memilih untuk menanggung rasa sakit itu sendirian ketimbang membaginya denganku?"

Namun, daripada memaksakan kehendak dan mendesak Senja di tengah malam yang dingin ini, Alfa menghembuskan napas pelan. Pria itu mengulurkan tangannya, meraih jemari Senja yang dingin lalu menggenggamnya rapat dalam kehangatan telapak tangannya.

"Ayo masuk" Bisik Alfa pelan.

"Diluar dingin, dan kakimu belum sembuh sepenuhnya."

Senja hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam rumah oleh Alfa, membiarkan rahasia dan kebohongannya tetap tersimpan rapat di balik keheningan malam.

1
Fitra Sari
lnjut donk KK berapa hari ini ko ga up lageee🙏giliran udah ktmu go di gantung ..buat donk romantis senja sama Alfa 🙏🙏♥️
mb peppy
ko hari ini gak up ya
Agnezz
aku masih berpikir kenapa Senja mau mengorbankan diri dengan mendonorkan ginjalnya? 🤔🤔 demi Alfa lelaki yg dicintai atau merasa hopeless, merasa impiannya sudah hilang? 🤔🤔 Pengorbanan Senja akhirnya Alfa ikut2an berkorban, menyerahkan segala harta dan tahta, hidup sederhana dan sulit tujuannya adalah menemukan Senja.
Agnezz: berarti karena cinta Senja pada Alfa. kapan up lagi kak Shanti?
total 3 replies
Umfaiq
pa kabar Thor...ditunggu up nya
☆ 𝑺𝒐𝑳𝒆𝑫𝒂𝑫 ☆³ ⚫
blom up thor
Nadja 🎀
coba senja kerja bikin kue di toko, terus Alfa bikin lukis bareng atau bantu bikin kue roti dll bersama... nanti byk pembeli di sana semangat ya!
mery harwati
Penasaran dengan Arganthara orang tuanya Alfa & Ares, semoga sudah mati Arganthara & Prasetya 🤣
Devi Novita
zaman sekarang sudah jarang kisah cinta dan rasa cinta yg begitu dalam pada pasangannya lah kalau wanita2 sekarang bilang makan tu cinta emang cinta bisa beli skincare bisa beli perhiasan bisa buat perut kenyang😅 tp rasa cinta si Alfamart cocok dgn aku yg bersyukur dgn kata susah senang dijalani bersama doa dan ikhtiar GK akan mengkhianati hasil intinya selalu bersyukur maka segala sesuatunya dipermudah oleh Allah SWT, cemungut ya bang Alfa buat menjalani bahtera rumah tangga yg sesungguhnya doa ku bersamamu 🤭😁
Devi Novita
2 hari GK ketemu suami aja aku rindu banget GK tenang gelisah 🫣😂 lah ini 1 THN ya rindu sampai karatan lah 😁
nayla tsaqif
Udahan thorr,, bawangnya,,! Waktunya bahagia,, kerja jd pelukis aja alfa senja,, buka galeri 😩
Silvia
selamat berjuang Alfa dan senja semangat💪💪
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas aq
Fitra Sari
lanjut KK
Hanima
🥹🥹🥹🥹😭
Hanima
gerammm eikeee tau 🤭
Hanima
ke 2 nya bodxx..pakai bangetssss
Sastri Dalila
🥺🥺🥺🙄🙄
Sastri Dalila
🥺🥺🥺👍
Sastri Dalila
🥺🥺🥺
Umfaiq
badai telah berlalu... mudahkan segala urusan nya thorrr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!