Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 25
Suara kokok ayam hutan memekik nyaring di kejauhan, burung-burung bernyanyi merdu pada pucuk ranting yang bergoyang tertiup angin penghujan. Gerimis baru saja reda menyisakan aroma basah yang segar berbaur dengan hangatnya kilau mentari pagi.
Pada gubuk reyot, seorang pria masih meringkuk dalam sarungnya, tak menyadari pagi telah tiba. Mendengkur bak mesin gergaji kayu telah termakan usia. Dengan ujung kaki berbalut sepatu boot karet, Broto menggoyang kan badan lelaki itu yang seketika langsung terperanjat dari tidurnya.
“Tangi. Anne karo sinyo Hans wes ngopi karo udud neng omah, koe ijek mlungker neng kene,” seru Broto. (Bangun. Anne dan sinyo Hans sudah ngopi sama rokokan di rumah, kamu masih meringkuk di sini)
“Hah!” Rusli terbelalak, tatapannya menyapu sekitar, tangan terdapat bekas iler menggaruk tengkuk yang tak gatal. “Kok wes isuk?”
“Njalukmu opo? Selawase wengi?” balas Broto masih berdiri bercakung di depan pria berkulit mengkilap itu. (Minta kamu apa? Selamanya malam?)
Rusli terpaku, masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, sudut matanya sedikit menyipit saat mulut memblenya menguap lebar.
“Bocah goblok. Musim penghujan bukannya tidur dengan istri di rumah, malah milih di pinggiran sawah,” imbuh Broto, tangannya merogoh kretek tersimpan di saku celana. “Dibayar piro kowe karo wong londo kae, hah!” (Dibayar berapa kamu sama orang londo itu, hah!)
Rusli tersentak kecil, menunduk sambil membenarkan sarung yang membungkus badannya.
“Dibayar berapa kamu selama ini sama wong londo itu?!” ulang Broto, tatapannya terlempar jauh pada hamparan padi yang masih dipenuhi tetesan embun.
“N-ndak di bayar Pakde, ha-anya ….” terbata-bata Rusli menjawab.
“Hanya dijanjikan jadi ulu-ulu banyu kalau rencana kejahatannya pada genduk Anne berhasil?” potong Broto tepat sasaran. (ulu-ulu banyu \= juru pengairan)
Suami Rodiyah itu tak berani menjawab, hanya tertunduk seraya beranjak dari gubuk reyot.
“Balik kono. Kurang kerjaan tidur di sawah, istri dirumah dibiarkan jadi penghangat orang,” lanjut Broto.
Ia kemudian loncat ke area persawahan, berjalan santai pada galengan yang ditumbuhi gulma dan rumput liar, meninggalkan Rusli yang masih kebingungan mencerna ucapan si Jagabaya.
Di tempat yang berbeda, cangkir kopi telah kosong dari isinya, beberapa potong pala pendhem tersisa kulit juga toples bening yang tinggal berisi lima keping biskuit kayu manis, tersusun berantakan di meja kayu beralas taplak renda.
Anne duduk sambil bertopang kaki, tangannya menggenggam koran baru selesai di baca, di hadapannya Dasim memberikan laporan sambil mengunyah pala pendhem tersisa satu potong talas ungu.
“Dua mingguan lagi lah, Nduk, sebagian padi itu siap di panen, itu yang tak terlalu terdampak, kalau yang terdampak saat ini mulai menghijau, bulirnya juga mulai terisi. Panen kali ini bisa dipastikan ndak serentak sepertinya,” kata pria telah mendampingi Anne sejak bayi merah.
“Jelaslah, Kang. Padi-padi itu mau kembali tumbuh dan berisi saja sudah keberuntungan buat kita,” sahut Anne seraya melipat koran di tangan.
“Tetap waspada, Kang, masa seperti ini rentan serangan wereng dan tikus. Kemarin, juragan dari desa Sri Basuki mengabarkan, pertanian mereka mulai mendapat serangan walang sangit. Suruh petani melapor jika ada perubahan sedikit saja pada batang padi dan mulai kurangi intensitas pengairan, perhatikan juga rombongan keong sawah,” imbuhnya sekaligus memberi titah.
“Baik, Nduk.” Dasim menyahut sambil mengambil cangkir kopi sisa sepertiga, meneguknya hingga tandas sebelum kembali melanjutkan pembicaraan. “Tapi, Nduk. Kang Dasim sedikit khawatir dengan hasil panen tahun ini. Bagaimana jika tak mencapai target dan—”
“Dan aku kehilangan semua tanah warisan ini?” potong Anne, bibir merah alami nya melengkung samar, tangan lentik dengan cekatan menggelung rambut sedari tadi dibiarkan tergerai. “Kang Dasim, ‘kan sudah membersamai ku sedari bayi, mosok ndak paham dengan cara kerjaku. Aku tak kan mungkin berani sesumbar jika tak punya tameng, terlebih kekacauan ini bukan sepenuhnya keinginan tanah kita, tapi ulah orang-orang yang belum selesai dengan ambisi masa lalunya.”
“Jadi benar, Nduk, Argono itu anak Kartijo dengan Marni?” tanya Dasim dengan raut penasaran.
Anne mengedikkan bahu, satu tangan meraih kretek tergeletak di atas meja. “Entahlah, nenek tua juga tak yakin itu anak Kartijo atau si kusir tua. Keduanya sama-sama menjadi penikmat, persis saat dengan Amina, beruntung saja bocah ingusan itu tak sakit seperti Damar.”
“Tapi opo mungkin, to Nduk? Kasman itu sudah tak punya batang waktu Marni menjadi gundiknya Kartijo, wes dipotong habis sama tuan dokter,” ujar Dasim, ia turut mengambil satu batang kretek, lalu menyulutnya.
“Mungkin ae, Kang. Aku sudah menghubungi paman, katanya dia hanya memotong batangnya, sedang saluran benih nya masih dibiarkan berfungsi,” balas Anne, selama di kota ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin, mencari informasi lengkap termasuk keabsahan pernikahan sang ibu dan Petter Van Beek.
Dasim menggeleng samar, tangan menjepit batang rokok di ketukkan pada meja kaca. “Pantes ae kelakuane jek koyo wedus berok, jebul jek iso kaceren.” (Pantas saja kelakuannya masih kaya kambing, ternyata masih bisa kegatelan. Kaceren→merajuk pada nafsu birahi🙏)
Anne terbahak kecil, menghisap dalam kretek tinggal setengah, lalu mengepulkan asapnya ke udara. “Namanya juga laki-laki, Kang, mana bisa menahan hal satu itu.”
“Alah, kakang mu iki yo lanang, Nduk. Tapi—”
“Tapi podo ae, masih demen grayah-grayah, ra angon wayah,” sergah Wulan seraya ikut duduk di teras depan. (Tapi sama saja, masih demen meraba-raba, tanpa tau waktu)
“Ya beda to, Cah Ayu. Aku ndak asal wedokan, hanya kamu seorang, la lek Kasman … wedus diwedaki patut’o, yo di tumpaki,” sanggah Dasim sambil menjawil dagu sigar jambe sang istri. (merajuk pada asal menuruti hawa nafsu)
Wulan mencebik kecil, mata sendunya berpindah pada Anne. “Genduk ayu, siang nanti mau dimasakkan apa? Mbak Wulan selesai kakang mu sarapan mau ke pasar, beli beberapa keperluan dapur. Biar sekalian belanjanya kalau ada yang pengen, Nduk ayu makan?”
“Opo ae, Mbak, tapi kalau tidak merepotkan, malam nanti aku pengen makan soto lamongan seperti yang Mbak Wulan bikin kapan hari itu,” sahut Anne, tak mau membuat Wulan kebingungan, sebab istri Dasim kalau sudah bertanya perihal menu masakan artinya sudah kehabisan ide untuk menu harian mereka.
“Kok kita sehati, kang Dasim dari kemarin, yo puengennnn makan soto, tapi mbak mu males katanya suruh bikinkan,” timpal Dasim, senyum cerah merekah di wajah sedari muda terkenal hitam manis, penuh pesona.
“Halah, milu-milu ae,” sungut Wulan, dengan ringan mengeplak lengan sang suami, lalu beranjak dari duduk, membereskan bekas cangkir kopi serta piring kosong. “Ayo bantu nangkep ayam nya, gek dipotong sekalian biar dibersihin bocah-bocah, ben langsung diolah, jadi pas sore wes empuk.”
“Beresono bekakas kotor ini dulu, Cah Ayu, aku tak melanjutkan obrolanku dengan genduk Anne,” sahut Dasim.
Wulan mendengus, tak menjawab ucapan sang suami, langsung berjalan menuju dapur setelah meletakkan cangkir dan piring kotor ke atas nampan
Melihat kemesraan yang ditunjukkan dua orang sudah mengurusnya sedar kecil, sudut bibir Anne terangkat tipis, dalam hati mengucap syukur masih dikelilingi orang-orang berhati baik, bekerja secara tulus, tak pernah memperhitungkan perihal upahan sebab tanpa mereka meminta ia sudah menyiapkan dalam bentuk investasi masa tua yang bisa diambil tiap bulannya, juga jaminan pendidikan untuk putri semata wayang mereka—Rani.
“Jadi benar, Nduk, noni Ma—”
“Kita bicarakan nanti lagi, Kang. Itu orangnya datang,” potong Anne, menatap lurus mobil kodok tua memasuki pelataran rumahnya. “Tolong siapkan kuda, aku ingin mengajaknya berkuda hari ini.”
Tak lagi menjawab, Dasim memilih langsung beranjak dari tempatnya, enggan menyapa Maria yang baru turun dari mobil, buru-buru ia berjalan menuju kandang kuda di halaman belakang.
“Anne, kau kemana saja? Aku merindukanmu ….”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria