NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4.NADIRA DEMAM & PERHATIAN ABIYASA

Keheningan pagi di penthouse pecah oleh suara dentang nyaring piring pecah dari arah dapur.

​Abiyasa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk putih tersangkut di leher dan kemeja kerja yang belum dikancingkan sempurna, langsung menghentikan langkahnya.

Dahinya berkerut tajam. Dengan langkah lebar dan sigap, ia menghampiri area dapur bersih.

​Di sana, Nadira sedang berlutut di atas lantai marmer, mencoba memunguti pecahan piring porselen putih yang berserakan. Wajah gadis itu tampak pucat pasi, matanya sayu, dan napasnya terdengar sedikit memburu.

​"Jangan disentuh!" bentak Abiyasa refleks, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

​Nadira terkejut hingga tangannya terhenti di udara. "M-Mas Abi... Maaf, saya nggak sengaja. Tangan saya mendadak lemes banget pas megang piring—"

​Sebelum Nadira menyelesaikan kalimatnya, Abiyasa sudah berlutut di sampingnya. Pria itu meraih kedua pergelangan tangan Nadira, menjaganya agar tidak menyentuh pecahan kaca yang tajam. Saat jemari Abiyasa bersentuhan dengan kulit lengan Nadira, rasa panas yang menyengat langsung menyengat telapak tangannya.

​"Tubuhmu panas sekali," ujar Abiyasa, raut wajahnya yang biasa tenang mendadak berubah tegang. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Nadira. Panasnya tidak main-main.

"Kamu demam tinggi, Nadira."

​"Enggak kok, cuma agak pusing aja gara-gara tadi malam kemalaman..." kelit Nadira pelan. Ia mencoba berdiri, namun kakinya mendadak gemetar hebat. Tubuhnya limbung ke depan.

​Dengan refleks yang sangat cepat, lengan kekar Abiyasa melingkar di pinggang Nadira, menahan tubuh mungil itu sebelum menyentuh lantai. Tanpa berpikir panjang, Abiyasa menyusupkan tangan satunya di bawah lipatan lutut Nadira dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam bopongannya (bridal style).

​"Mas Abi! Turunin, saya bisa jalan sendiri!" protes Nadira kaget, wajahnya yang semula pucat mendadak merona merah karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat.

​"Diam," perintah Abiyasa dingin dan tak bantah.

​Ia membawa Nadira kembali ke dalam kamarnya, membaringkan tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati di atas ranjang king size yang empuk, lalu menarik selimut tebal sampai ke dada Nadira.

​Abiyasa berdiri di samping tempat tidur, menatap gadis SMA itu dengan pandangan menilai yang dipenuhi kecemasan tersembunyi. "Hari ini kamu tidak usah sekolah."

​"Enggak bisa, Mas Abi!" Nadira langsung mencoba duduk kembali meski kepalanya terasa berputar hebat. "Hari ini ada ulangan harian Sejarah sama pengumpulan tugas kalkulus. Kalau saya bolos, Pak Jaka galak banget, bisa-bisa nilai saya dikasih nol!"

​"Saya bilang tidak, ya tidak," tegas Abiyasa, melipat kedua tangannya di dada. "Kesehatanmu jauh lebih penting daripada nilai ulangan Sejarah."

​"Tapi Mas Abi sendiri yang bilang kalau nilai saya nggak boleh turun!" balas Nadira pantang menyerah, matanya yang berkaca-kaca menatap suaminya lantang. "Saya nggak mau dianggap beban atau anak bodoh di rumah ini!"

​Abiyasa menghela napas panjang. Pria itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Sungguh, menghadapi ribuan buruh yang melakukan demonstrasi di luar kantornya jauh lebih mudah daripada membujuk satu gadis SMA yang keras kepala ini.

​Abiyasa merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan langsung menekan sebuah nomor.

​"Hendra," ucap Abiyasa saat panggilan terhubung. "Kosongkan seluruh jadwal saya pagi ini sampai jam satu siang. Batalkan rapat dengan tim investor Korea, penjadwalan ulang minggu depan."

​Di ujung telepon, Hendra terdengar sangat terkejut. "Tapi Pak Abiyasa, rapat dengan investor Korea itu sudah dijadwalkan sejak dua bulan lalu—"

​"Lakukan saja, Hendra. Saya ada urusan darurat yang tidak bisa ditinggalkan," potong Abiyasa singkat lalu mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban.

​Mata Nadira membelalak lebar melihat kejadian itu. "Mas Abi... membatalkan rapat penting demi saya?"

​Abiyasa menaruh ponselnya di atas meja nakas, lalu berjalan menuju lemari kecil di sudut kamar untuk mengambil kotak obat. "Jangan percaya diri dulu. Saya membatalkan rapat karena tidak mau dituduh menelantarkan anak orang kalau terjadi apa-apa padamu di rumah ini."

​"Gengsi banget," gumam Nadira seraya mengerucutkan bibirnya, lalu menenggelamkan separuh wajahnya di balik selimut.

​Abiyasa tidak membalas. Ia duduk di tepi ranjang, meremas kain kompres yang sudah dibasahi air hangat, lalu menempelkannya perlahan di dahi Nadira. Gerakannya begitu cermat dan lembut, sangat bertolak belakang dengan sosok CEO kejam yang ditakuti di dunia bisnis.

​"Tidur," bisik Abiyasa. "Soal sekolahmu, saya yang akan mengurusnya."

​"Gimana caranya? Mas Abi mau telepon wali kelas saya?" tanya Nadira panik. "Nanti mereka curiga!"

​"Saya punya ratusan cara untuk menyelesaikannya tanpa membocorkan identitas kita. Sekarang tutup matamu."

​Nadira menatap wajah Abiyasa yang berjarak sangat dekat darinya. Di bawah sorotan cahaya matahari pagi yang menerobos jendela, garis wajah tegas suaminya tampak begitu menawan. Kehangatan yang menjalar dari tangan Abiyasa saat merapikan selimutnya membuat rasa nyeri di kepalanya perlahan mereda. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan serba cepat ini, Nadira merasa sangat dilindungi.

​Dengan perlahan, mata Nadira yang berat akhirnya terpejam, terbawa oleh efek demam dan kenyamanan yang tak pernah ia sangka akan didapatkannya dari sang CEO dingin.

​Sementara itu, di SMA Garuda Mulia, suasana kelas 12 IPA 2 tampak riuh. Bel masuk sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, namun Nadira belum juga menampakkan batang hidungnya.

​Sheila gelisah di kursinya. Ia menatap bangku kosong di sampingnya dengan cemas. "Duh, Nadira ke mana sih? Dichat nggak masuk, ditelepon nggak aktif. Mana hari ini Pak Jaka galak banget lagi," batin Sheila.

​Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Pak Jaka, guru Sejarah yang terkenal killer, masuk dengan wajah serius. Di belakangnya, melangkah Raka dengan memegang seperangkat lembar soal ulangan.

​"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Jaka tegas. "Sebelum kita mulai ulangan, Bapak mau menyampaikan surat izin dari teman kalian, Nadira Kirana."

​Sheila langsung menegakkan duduknya. "Maaf Pak, Nadira sakit apa ya?"

​Pak Jaka melirik sebuah surat berstempel resmi dari salah satu rumah sakit swasta paling mahal di Jakarta. "Di surat dokter ini tertulis Nadira mengalami demam tinggi dan harus istirahat total selama dua hari. Surat ini diantar langsung oleh staf khusus dari Mahendra Foundation pagi-pagi sekali."

​"Mahendra Foundation?" gumam Raka, dahinya berkerut penuh rasa ingin tahu. "Kenapa bukan orang tuanya yang mengantar, Pak?"

​"Pihak yayasan mengatakan bahwa keluarga Nadira adalah salah satu penerima bantuan binaan khusus dari Mahendra Group, jadi mereka membantu pengurusan administrasi kesehatannya," jelas Pak Jaka singkat tanpa curiga. "Sudah, jangan banyak tanya. Raka, bagikan kertas ulangannya sekarang."

​Raka berjalan membagikan kertas soal dengan pikiran yang tidak tenang. Mahendra Group? Kenapa perusahaan raksasa itu sampai mengurus surat izin sakit seorang Nadira? Ada sesuatu yang tidak beres, pikir Raka cemas. Rasa penasarannya makin menjadi-jadi.

​Siang harinya, sekitar pukul satu, Nadira perlahan membuka matanya. Rasa berat di kepalanya sudah jauh berkurang, meski tubuhnya masih terasa agak lemas.

​Suhu ruangan terasa pas. Saat ia menoleh ke samping, ia terkejut melihat Abiyasa duduk di kursi kerja lipat yang dipindahkan ke samping ranjangnya. Pria itu masih mengenakan kemeja putihnya yang lengan panjangnya digulung hingga siku, sibuk mengetik sesuatu di laptop yang memangku di paha. Di meja nakas, terdapat mangkuk bekas bubur yang sudah kosong dan beberapa papan obat.

​"Sudah bangun?" suara Abiyasa memecah keheningan tanpa memindahkan tatapannya dari layar laptop.

​"Mas Abi... belum berangkat ke kantor?" tanya Nadira dengan suara yang masih agak parau.

​Abiyasa menutup laptopnya dengan suara klik halus, lalu meletakkannya di meja. Ia memajukan tubuhnya dan menempelkan punggung tangannya kembali ke dahi Nadira.

​"Panasmu sudah turun," ucap Abiyasa, ada helaan napas lega yang sangat tipis keluar dari bibirnya. "Bagaimana rasanya? Masih pusing?"

​"Sudah mendingan banget, Mas. Makasih ya... udah ngompresin dan nungguin saya," ujar Nadira tulus, matanya menatap Abiyasa dengan binar kehangatan.

​Abiyasa berdeham, mendadak merasa canggung dipandang seperti itu. Pria itu berdiri dan merapikan kemejanya. "Saya cuma menjalankan kewajiban. Karena kamu sudah sehat, saya akan ke kantor sekarang. Ada dokumen penting yang harus saya tanda tangani."

​"Mas Abi belum makan siang, kan?" panggil Nadira saat Abiyasa hendak membalikkan badan.

​Abiyasa menghentikan langkahnya. "Nanti saya makan di kantor."

​"Tunggu sebentar," Nadira menyibak selimutnya dan turun dari ranjang.

​"Nadira, kamu baru sembuh!" tegur Abiyasa keras.

​"Saya cuma lemas dikit, Mas, bukan lumpuh," balas Nadira terkekeh pelan. Ia berjalan mendahului Abiyasa menuju dapur. "Sebagai rasa terima kasih karena Mas Abi udah rela bolos kerja demi ngurusin saya, saya mau buatkan sesuatu yang simpel."

​Abiyasa menyusul ke dapur dan bersedekah dada di dekat konter, memperhatikan gerak-gerik gadis itu. "Kamu mau masak apa? Di kulkas cuma ada bahan-bahan impor yang mungkin tidak tahu cara mengolahnya."

​"Sombong banget!" cibir Nadira. Ia membuka kulkas besar itu, mengambil telur, daun bawang, margarin, dan sebotol kecap manis lokal yang sengaja ia beli waktu belanja bersama Pak Maman kemarin. "Cuma Nasi Goreng Telur Kecap ala Nadira Kirana. Makanan rakyat, tapi rasanya jauh lebih enak daripada makanan hotel bintang lima Mas Abi itu."

​Abiyasa menaikkan sebelah alisnya. "Nasi goreng kecap? Terlalu banyak karbohidrat dan minyak. Tidak sehat."

​"Coba dulu nanti baru protes!" sahut Nadira riang.

​Melihat keriangan kecil Nadira yang kembali memancar, Abiyasa memutuskan untuk diam dan memperhatikan. Ada pemandangan aneh namun hangat yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya: seorang gadis dengan piyama kebesaran bergerak lincah di dapurnya yang biasanya sepi dan mati, meracik bumbu sederhana dengan aroma tumisan bawang yang mendadak memenuhi seluruh penthouse.

​Sepuluh menit kemudian, piring porselen berisi nasi goreng hangat berwarna kecokelatan dengan telur mata sapi di atasnya tersaji di depan Abiyasa.

​"Silakan dicoba, Bos Besar," ujar Nadira seraya menyodorkan sendok.

​Abiyasa menatap piring itu ragu-ragu. Sebagai seorang CEO, pola makannya sangat dijaga oleh ahli gizi pribadi. Namun melihat mata bulat Nadira yang menatapnya penuh harap, Abiyasa tak tega untuk menolak. Pria itu menyuap sendok pertamanya.

​Rasa gurih margarin, manisnya kecap, dan aroma renyah dari bawang merah goreng meledak di lidahnya. Sederhana, namun terasa sangat rumit di saat yang bersamaan—rasa hangat sebuah 'rumah' yang tak pernah Abiyasa dapatkan dari jajaran menu makanan mewah yang biasa ia santap.

​Abiyasa mengunyahnya perlahan, menyembunyikan rasa takjubnya.

​"Gimana? Enak, kan?" tanya Nadira antusias, menopang dagunya dengan kedua tangan di depan meja.

​Abiyasa menelan makanannya, lalu memasang wajah datar terbaiknya. "Biasa saja. Masih terlalu banyak kecap."

​Namun, tangan pria itu tidak berhenti. Ia menyuap sendok kedua, ketiga, hingga dalam hitungan menit, piring tersebut bersih tanpa sisa.

​Nadira tertawa geli melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan suaminya. "Katanya biasa aja, tapi dimakan sampai licin gitu piringnya!"

​Abiyasa meletakkan sendoknya, merapikan mulutnya dengan tisu sambil berdeham canggung. "Saya cuma lapar karena belum sarapan. Jangan besar kepala."

​"Iya deh, percaya," goda Nadira dengan kerlingan mata nakal.

​Abiyasa berdiri, mengambil tas kerjanya yang berada di kursi sofa. Namun sebelum melangkah pergi, ia berbalik menatap Nadira. Tatapannya hangat dan dipenuhi kelembutan yang tak mampu lagi ia tutupi sepenuhnya.

​"Istirahatlah lagi. Jangan melakukan pekerjaan berat," kata Abiyasa pelan. Tangannya terangkat, mengusap puncak kepala Nadira dengan lembut—sebuah sentuhan spontan yang membuat jantung keduanya berdesir hebat. "Saya pulang cepat sore ini."

​Tanpa menunggu respon Nadira yang membeku karena perlakuan manis itu, Abiyasa berbalik cepat dan melangkah keluar dari penthouse, meninggalkan Nadira yang berdiri terpaku dengan pipi yang memerah bukan lagi karena demam, melainkan karena getaran cinta yang perlahan mulai menyusup ke dalam hatinya.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!