Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4.Persaingan di Papan Tulis
Suasana kelas XI-2 siang itu terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Pelajaran Matematika sedang berlangsung, dan Bu Guru yang mengajar memiliki kebiasaan unik: sesekali menuliskan soal-soal yang cukup menantang di papan tulis, lalu meminta siapa saja yang merasa mampu untuk maju dan mengerjakannya di depan. Hal ini bukan sekadar untuk melatih keberanian siswa, melainkan juga untuk menguji sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang baru saja dijelaskan.
Soal yang tertulis di papan tulis itu tampak rumit. Deretan angka dan simbol aljabar tersusun rapi, cukup untuk membuat sebagian besar siswa saling berpandangan sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Namun di barisan tengah, tepatnya di bangku yang berdekatan, sepasang siswa justru menatap papan tulis dengan sorot mata yang sama tajamnya, seakan ada percikan api kecil yang melintas di antara pandangan mereka.
Anisa melirik sekilas ke arah Kenzo. Di dalam hatinya, ia mengakui soal itu memang memerlukan ketelitian dan logika yang baik. Namun ia juga merasa mampu menyelesaikannya. Lebih dari itu, ada dorongan kuat dalam dirinya—ia tak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki yang selalu bersikap seakan dialah yang paling hebat di segala hal. Terutama setelah pertengkaran kemarin dan kata "benci" yang saling meluncur dari bibir mereka, kini ada semacam tantangan diam-diam yang tersisa di udara. Siapa yang lebih unggul? Siapa yang lebih pintar? Anisa ingin membuktikan bahwa ia sama hebatnya, bahkan mungkin lebih baik darinya.
Belum sempat Anisa melangkahkan kakinya ke lorong meja, ia melihat sosok Kenzo sudah bangkit berdiri. Dengan langkah tenang dan tegap, lelaki itu berjalan menuju papan tulis. Diiringi pandangan seluruh teman sekelas, Kenzo mengambil kapur tulis, lalu tanpa ragu sedikit pun mulai menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya. Setiap garis dan angka yang ia tulis tampak rapi, tersusun teratur, seakan mencerminkan sifatnya yang tertib dan teratur.
Anisa mengeratkan genggamannya pada ujung meja. Sesaat ia merasa sebaiknya diam saja. Namun pikiran itu hanya berlangsung sekejap. "Mengapa aku harus takut padanya?" batinnya memberontak. "Aku juga paham materinya. Aku juga bisa menyelesaikannya." Dengan tekad yang mengeras, Anisa pun berdiri dan melangkah mendekat ke papan tulis, berhenti tepat di sisi lainnya, hanya berjarak sekitar dua jengkal dari bahu Kenzo.
Suara kapur yang beradu dengan papan tulis seketika terhenti. Kenzo menoleh perlahan, menatap Anisa dengan tatapan yang menyiratkan pertanyaan sekaligus tantangan. "Kamu mau ikut mengerjakan?" tanyanya dengan nada rendah yang hanya bisa didengar berdua saja. "Jangan sampai salah langkah dan malu di depan semua orang."
Anisa menatap balik tanpa menyurutkan pandangannya. "Khawatir saja kalau aku yang benar dan kamu yang salah, nanti kamulah yang merasa malu," balasnya singkat namun penuh keyakinan. "Ayo kita lihat saja, siapa yang jawabannya benar."
Tanpa menunggu jawaban Kenzo, Anisa pun mengambil sepotong kapur dan mulai menuliskan penyelesaiannya di ruang kosong yang tersedia, berjejer sejajar dengan tulisan Kenzo. Kini papan tulis itu terbagi menjadi dua bagian: sebelah kanan milik Kenzo, sebelah kiri milik Anisa. Dua cara berpikir, dua gaya penulisan, namun sama-sama berusaha menuju satu jawaban yang sama.
Suasana di dalam kelas menjadi hening seketika. Semua siswa menatap ke depan, menonton dua orang yang sejak awal selalu berselisih kini berdiri berdekatan, bersaing secara terbuka di hadapan guru dan teman-teman sekelas. Tak ada suara bisik-bisik, tak ada suara tawa. Yang terdengar hanyalah bunyi kapur yang sesekali beradu dengan papan tulis—krek... krek... berirama, seakan mengiringi persaingan yang sedang memanas di antara keduanya.
Kenzo menulis dengan cepat, rapi, dan penuh keyakinan. Setiap langkah yang ia ambil tampak sudah terhitung matang sebelumnya. Di sampingnya, Anisa menulis dengan lebih teliti, perlahan namun pasti, memastikan tidak ada satu pun angka yang tertukar atau rumus yang terbalik. Sesekali pandangan mereka tanpa sengaja saling bertemu, dan saat itulah terlihat jelas—tak ada yang mau mengalah. Di mata Kenzo terisi tekad untuk menang. Di mata Anisa pun tersimpan keinginan yang sama kuatnya.
Ketika akhirnya keduanya meletakkan kapur secara hampir bersamaan, papan tulis telah terisi penuh dengan dua penyelesaian yang berbeda jalur namun mengarah ke satu angka yang sama persis di baris paling bawah.
Bu Guru berjalan maju mendekati papan tulis, memeriksa dengan saksama setiap langkah yang dituliskan oleh Kenzo maupun Anisa. Sesekali beliau mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Ruangan masih senyap, seisi kelas seakan menahan napas menunggu keputusan.
"Keduanya benar," ujar Bu Guru akhirnya memecah keheningan. "Jawaban akhirnya sama, dan cara penyelesaiannya pun sama-sama logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagus sekali."
Tepuk tangan pelan terdengar dari beberapa teman sekelas. Kenzo menatap tulisan Anisa sejenak, lalu menoleh perlahan ke arahnya. Di matanya tak lagi tampak tatapan merendahkan seperti biasanya. Ada pengakuan kecil yang sulit dijelaskan, seakan ia baru menyadari bahwa gadis yang selalu ia anggap menyebalkan ini ternyata benar-benar memiliki kemampuan yang setara bahkan tak kalah darinya. Namun rasa gengsinya masih menahan bibirnya untuk tersenyum atau sekadar mengucapkan kata bagus.
"Beruntung jawabanmu benar," ucap Kenzo pelan, begitu pelan hingga hanya Anisa yang bisa mendengarnya. Namun kali ini nada suaranya tak setajam biasanya. Ada nada lain yang menyertainya, yang belum pernah didengar Anisa sebelumnya. "Tapi jangan berpikir aku akan kalah darimu. Lain kali aku pasti akan lebih dulu menemukan jawabannya."
Anisa menatapnya lekat-lekat sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh percaya diri. "Silakan saja. Aku tunggu pembuktiannya. Karena aku pun tak akan membiarkanmu menang begitu saja."
Mereka berdua pun berjalan kembali menuju bangku masing-masing berdampingan, seiring langkah namun dengan perasaan yang tak sepenuhnya sama seperti sebelumnya. Persaingan di depan papan tulis hari itu berakhir seri. Namun bagi Anisa maupun Kenzo, ada hal lain yang justru baru saja dimulai—saling mengakui kemampuan satu sama lain, meskipun di permukaan masih tertutup rasa persaingan dan keengganan untuk mengalah. Dan di dalam hati mereka masing-masing kini tumbuh satu hal yang sama: tantangan untuk terus menjadi yang terbaik, terutama di hadapan satu sama lain.
BERSAMBUNG....