NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kriteria Calon

Aku terus memikirkan apa yang dulu Ustadz Alam janjikan kepadaku.

Hampir satu bulan sudah beliau tidak memberiku kabar sama sekali.

Awalnya aku mencoba berpikir positif. Mungkin beliau sedang sibuk. Mungkin ada sesuatu yang harus diselesaikan. Atau mungkin... beliau memang membutuhkan waktu.

Tapi semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi kepalaku.

Apakah aku terlalu berharap?

Apakah aku sedang menunggu sesuatu yang sebenarnya bukan milikku?

Atau jangan-jangan, selama ini hanya aku yang menganggap janji itu begitu berarti?

Aku sudah berusaha mengalihkan pikiranku dengan berbagai aktivitas di pondok. Mengajar, memeriksa santri, membantu ustadzaat, bahkan sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang sebenarnya bisa kutunda.

Namun, tetap saja ada saat-saat tertentu ketika pikiranku kembali kepadanya.

Seperti sekarang.

Aku baru saja menemani beberapa santri piket. Setelah semua selesai, tidak ada lagi kegiatan yang harus kukerjakan. Aku pun kembali ke kamar dan merebahkan tubuh di atas kasur.

Kamar cukup tenang. Hanya terdengar suara beberapa santriwati dari kejauhan.

Mataku menatap langit-langit kamar.

Dan tanpa kusadari, pikiranku kembali pada satu nama.

Ustadz Alam.

Aku mengembuskan napas panjang.

"Haruskah aku seperti ini terus?"

Aku membalikkan badan, mencoba memejamkan mata. Tapi bukannya tertidur, pikiranku justru semakin ramai.

Tiba-tiba suara seseorang membuatku tersentak.

"Aisy, ngalamunin apa?"

Aku menoleh.

Kak Aisyah sudah berdiri di dekat pintu. Aku memanggilnya Kak Aisyah karena usianya hanya terpaut satu tahun dariku, tetapi tetap saja aku lebih nyaman memanggilnya kak.

Aku segera duduk.

"Darimana, Kak? Dua hari nggak kelihatan."

"Dari Pakde Syaiful. Umiku ada di sana," jawabnya sambil duduk di tepi tempat tidur.

Aku mengernyit.

"Uminya Kakak?"

"Iya."

Kak Aisyah menghela napas pelan.

"Umi mau berobat katanya. Semoga beliau baik-baik saja. Sebelumnya Umi pernah sakit kanker. Semoga nggak kambuh lagi."

Aku terdiam sejenak.

"Amiiin," jawabku tulus.

Semoga saja benar-benar tidak kambuh.

Aku tahu bagaimana rasanya menunggu kabar tentang orang yang sedang sakit. Ada rasa cemas yang sulit dijelaskan, bahkan ketika kita berusaha untuk tetap tenang.

Kak Aisyah menatapku beberapa saat. Tatapannya seolah sedang membaca sesuatu dari wajahku.

"Kamu kayaknya lagi ada masalah, Aisy."

Aku tersenyum kecil, berusaha menghindari tatapannya.

"Masalah apa, Kak?"

"Jangan pura-pura."

Aku terkekeh pelan.

"Aku nggak pura-pura."

"Kamu dari tadi melamun. Biasanya kalau lagi nggak ada kegiatan, kamu malah cari kerjaan. Sekarang malah rebahan sambil bengong."

Aku terdiam.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat pertahananku sedikit runtuh. Tapi tetap saja, aku tidak ingin ada orang yang tahu. Setidaknya, untuk sekarang hanya Nada yang mengetahui semuanya.

Aku menarik napas pelan, lalu tiba-tiba terlintas sebuah ide untuk mengalihkan pembicaraan.

"Kak Aisyah..."

"Hm?"

"Kakak punya kriteria calon idaman, kah?"

Kak Aisyah yang semula duduk santai langsung menoleh kepadaku. Alisnya terangkat, lalu bibirnya perlahan membentuk senyum.

"Lho, kok tiba-tiba nanya begitu?"

Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat biasa saja.

"Ya... penasaran aja."

"Benar cuma penasaran?"

Aku mengangguk cepat.

"Iya."

Kak Aisyah tertawa kecil.

"Biasanya orang yang tiba-tiba bertanya begini justru sedang punya seseorang dalam pikirannya."

Aku langsung membuang pandangan ke arah lain.

"Nggak kok."

"Yakin?"

"Yakin."

"Kalau begitu, kenapa pipimu merah?"

Spontan aku menyentuh pipiku.

"Mana ada!"

Kak Aisyah kembali tertawa. Aku semakin salah tingkah.

"Sudah, jawab saja pertanyaanku," kataku, mencoba mengembalikan arah pembicaraan.

Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.

"Kalau kriteria khusus sih nggak terlalu banyak."

"Apa saja?"

"Yang paling penting agamanya baik. Bukan cuma pandai bicara soal agama, tapi juga terlihat dari sikapnya."

Aku mengangguk pelan.

"Terus?"

"Akhlaknya baik, bertanggung jawab, bisa menghargai perempuan, dan yang paling penting..." Ia berhenti sejenak.

"Apa?"

"Bisa jadi tempat pulang."

Aku terdiam.

Entah kenapa, kalimat terakhir itu terasa begitu dalam.

Tempat pulang.

Bukankah pada akhirnya setiap perempuan menginginkan seseorang yang membuatnya merasa aman? Seseorang yang tidak hanya datang ketika semuanya mudah, tetapi tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit.

Aku menelan ludah.

"Kalau soal pekerjaan?"

"Nggak harus pekerjaan tertentu. Yang penting dia punya tanggung jawab dan mau berusaha."

"Kalau orangnya pendiam?"

"Bagus."

"Kalau nggak romantis?"

Kak Aisyah tertawa.

"Romantis itu bonus. Yang penting jangan bikin hati capek."

Aku ikut tersenyum.

"Kalau sudah suka sama seseorang, tapi orangnya belum memberi kepastian?"

Senyum Kak Aisyah perlahan menghilang. Ia menatapku lebih serius.

"Nah..."

Aku langsung sadar bahwa pertanyaanku mulai terlalu jauh.

"Aku cuma nanya, Kak."

"Iya, aku tahu."

Tatapannya seolah mengatakan bahwa ia tahu ada sesuatu di balik pertanyaanku.

"Kalau memang belum ada kepastian," lanjutnya pelan, "jangan terlalu jauh menaruh harapan."

Aku terdiam.

"Kalau memang dia serius, insyaallah dia akan mencari jalan untuk datang dengan cara yang baik. Tapi kalau kita terus menunggu tanpa tahu ujungnya..." Ia menghela napas. "Yang capek biasanya hati kita sendiri."

Aku menundukkan kepala.

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah mengapa, rasanya seperti sedang berbicara tepat kepada hatiku.

Mungkin memang aku harus belajar melepaskan sesuatu yang belum tentu menjadi milikku.

Namun, bukankah Ustadz Alam pernah berjanji?

Dan justru janji itulah yang membuatku masih bertahan sampai hari ini.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!