NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasihan Dengan Yang Sakit

“Aku mendapat beasiswa penuh, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Inggris.”

Kevin menatap Haselyn dengan kagum yang tak bisa ia sembunyikan. “Berarti kamu pintar.” Nada suaranya terdengar tulus. “Nggak semua orang bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri.”

Haselyn mengambil baju Kevin yang tergantung di samping pintu, lalu membantunya mengenakan pakaian dengan gerakan hati-hati agar tidak mengenai luka-lukanya.

“Kalau ukuran pintarnya dinilai dari beasiswa,” ucap Haselyn sambil merapikan kerah baju Kevin, “berarti ya, aku memang pintar.” Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Kevin melihat Haselyn tersenyum dengan bangga pada dirinya sendiri.

Haselyn membantu Kevin kembali ke ranjang dengan hati-hati. Setelah memastikan pria itu berbaring dengan nyaman, ia merapikan selimut yang menutupi tubuh Kevin. “Mau makan buah?” tanyanya singkat.

“Boleh.” Jawaban itu membuat Haselyn mengambil apel dari meja kecil di samping ranjang. Ia mulai mengupasnya perlahan, sementara Kevin diam-diam memperhatikan setiap gerakannya.

Senyum tipis terukir di wajah Kevin. “Menurutku, kamu gadis yang hebat.”

Haselyn tidak menanggapi. Tangannya tetap sibuk mengiris apel menjadi potongan-potongan kecil. “Di usia semuda ini, kamu sudah bisa membangun usaha sendiri. Bahkan banyak orang yang lebih tua darimu belum tentu mampu melakukannya tanpa bantuan siapa pun.” Kevin berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. “Kamu juga tetap berprestasi sampai mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.”

Tatapannya penuh kekaguman.“Aku benar-benar kagum sama kamu, Haselyn.”

Haselyn mengangkat wajahnya dan menatap Kevin dengan mata menyipit. “Iya, aku memang hebat,” balasnya dingin. “Nggak kayak kamu yang bajingan.”

Kevin hanya tersenyum tipis. Anehnya, ia sama sekali tidak tersinggung. Justru ia merasa ucapan itu pantas ia terima. Bukankah memang dialah orang yang telah menghancurkan masa depan Haselyn?

“Aku malah bersyukur bisa masuk rumah sakit.” Haselyn menghentikan gerakannya sesaat.

Kevin menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Karena dengan keadaanku yang seperti ini, setidaknya kamu nggak mengusirku seperti biasanya.” Ada ketulusan dalam suara Kevin yang membuat hati Haselyn sempat terusik. Untuk sesaat, tatapan mata pria itu terasa begitu rapuh hingga hampir meluluhkan benteng yang selama ini ia bangun.

Namun Haselyn segera mengalihkan pandangannya. “Aku pulang dulu,” ucapnya pelan sambil meletakkan piring berisi potongan apel di atas meja samping ranjang. “Aku harus mengecek toko dan ganti pakaian.” Ia berbalik dan melangkah menuju pintu.

“Apa kamu akan kembali?” Suara Kevin menghentikan langkahnya tepat ketika tangannya meraih gagang pintu.

Haselyn terdiam beberapa detik. “Bisa jadi.” Jawaban itu terdengar datar, tetapi tidak lagi sekeras penolakannya selama ini.

Tanpa menoleh, Haselyn membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Kevin yang menatap pintu itu dengan secercah harapan yang perlahan tumbuh di dadanya.

*

*

*

Melihat kondisi Kevin yang belum juga membaik dan tidak ada seorang pun yang bisa menjaganya, Haselyn akhirnya memutuskan untuk merawat Kevin selama pria itu menjalani perawatan di rumah sakit.

“Ini hanya bentuk kepedulian sesama manusia.” Kalimat itu terus ia ulang dalam hati, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya tidak memiliki makna lain.

Haselyn pulang ke tokonya terlebih dahulu. Ia mengumpulkan para karyawan, lalu memberi tahu bahwa dirinya tidak akan datang selama tiga hari karena ada urusan keluarga. Semua pekerjaan telah ia atur sebaik mungkin agar operasional toko tetap berjalan tanpa kehadirannya.

Setelah itu, ia pulang ke rumah. Haselyn langsung menuju dapur dan memasak bubur hangat. Ia teringat bagaimana Kevin beberapa kali meringis saat mencoba makan. Luka di bagian perut akibat pukulan warga membuatnya kesulitan menelan makanan yang terlalu keras.

Bubur itu dimasaknya perlahan hingga teksturnya benar-benar lembut. Selesai memasak, Haselyn membersihkan diri, berganti pakaian, lalu memasukkan bubur ke dalam termos makanan. Ia juga menyiapkan rantang berisi makanan untuk dirinya sendiri sebelum kembali berangkat ke rumah sakit.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa lebih sunyi dari biasanya. Sesampainya di depan ruang rawat, Haselyn menarik napas pelan, lalu mendorong pintu.

‘Ceklek.’Pintu terbuka perlahan.

Kevin yang sejak tadi menatap langit-langit ruangan langsung menoleh. Begitu melihat sosok Haselyn berdiri di ambang pintu sambil membawa termos dan rantang makanan, wajahnya seketika berubah cerah. “Kamu datang.”

Senyumnya merekah tanpa bisa disembunyikan, seolah kehadiran Haselyn adalah obat yang jauh lebih ampuh daripada semua obat yang diberikan rumah sakit.

Haselyn berjalan menghampiri ranjang Kevin, lalu meletakkan termos dan rantang makanan di atas meja kecil di samping tempat tidur. “Tadi aku sudah ketemu dokter,” ucapnya sambil membuka tutup termos. “Katanya besok pagi kamu sudah boleh pulang.”

Kevin menatap Haselyn tanpa berkedip, seolah kabar itu bukan hal pertama yang menarik perhatiannya. Yang jauh lebih penting baginya adalah fakta bahwa Haselyn benar-benar kembali.

“Nih, makan bubur dulu,” kata Haselyn sambil menuangkan bubur hangat ke dalam mangkuk. “Biar lebih gampang dimakan. Kamu masih susah kan kalau makan makanan yang teksturnya agak keras?”

Tanpa banyak bicara, Haselyn menyendok bubur itu dan menyuapkannya ke mulut Kevin. Kevin menerima suapan tersebut dengan senyum kecil. “Terima kasih.”

Haselyn mendengus pelan. “Kalau tangan kamu nggak diperban, ogah banget aku nyuapin kamu.” Tatapannya melirik kedua tangan Kevin yang masih diperban. Tangan kirinya memang jauh lebih parah, sementara tangan kanannya masih bisa digerakkan meski terbatas.

Kevin ikut menoleh ke arah tangannya, lalu tersenyum tipis. “Aku malah senang tanganku sakit begini.”

Haselyn langsung mengernyit. “Kenapa?”

“Karena kamu jadi perhatian sama aku.” Senyum Kevin melebar, membuat wajahnya terlihat jauh lebih hidup dibanding kemarin.

Haselyn memutar bola mata dengan ekspresi jengah. “Ih, geli buanget.” Di tengah kondisi seperti itu, pria itu masih sempat-sempatnya menggombal.

Haselyn langsung menyodorkan mangkuk bubur ke tangan kanan Kevin. “Nih, makan sendiri.” Ucapnya dengan ketus

Kevin menatap mangkuk itu, lalu mengangkat wajahnya dengan ekspresi memelas. “Haselyn…”

“Apa lagi?”

“Tangan kananku masih sakit.”

“Masih bisa dipakai buat pegang mangkuk.”

“Tapi nggak seenak kalau disuapin.” Haselyn menghela napas panjang, benar-benar kehabisan kata-kata.

“Dasar banyak maunya.” Meski menggerutu, pada akhirnya ia kembali mengambil mangkuk itu dan menyendokkan bubur ke mulut Kevin, sementara Kevin tersenyum puas seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Ah… sebenarnya aku mau makan sendiri,” ujar Kevin dengan nada polos. Ia melirik kedua tangannya yang masih dibalut perban, lalu menatap Haselyn dengan wajah memelas. “Tapi tanganku begini.”

Haselyn mengikuti arah pandang Kevin, lalu mendengus pelan. “Huh, nyebelin banget.”

Meski bibirnya menggerutu, tangannya tetap mengambil mangkuk bubur itu. Ia kembali menyendok bubur dan menyuapkannya ke mulut Kevin dengan gerakan yang lebih hati-hati.

Kevin menerima suapan itu sambil tersenyum tipis. Entah kenapa, bubur yang terasa hambar sejak kemarin kini terasa jauh lebih nikmat.

Haselyn menangkap senyum itu dari sudut matanya. “Jangan senyum-senyum sendiri.”

“Aku cuma senang.”

“Senang apanya?”

“Karena kamu masih peduli sama aku.”

Tangan Haselyn berhenti sesaat. Ia segera mengalihkan pandangan, lalu kembali menyuapkan bubur dengan wajah datar. “Jangan salah paham. Aku cuma kasihan sama orang sakit.”

Kevin tidak membantah. Ia hanya menatap Haselyn dengan senyum kecil yang sulit disembunyikan. Baginya, rasa kasihan itu sudah lebih dari cukup untuk memberinya harapan.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!