Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang enggan usai. Kamar tidur Clara yang luas kini terasa bagaikan ruang isolasi yang menyiksa. Berita pertunangan Kenzo dan Eleanor telah menyebar luas di media bisnis internasional, dipajang manis di sampul majalah dengan narasi "Pernikahan Megah Dua Dinasti Eropa dan Amerika".
Setiap kali Clara memandangi foto Kenzo yang tersenyum dingin di samping wanita pirang itu, rasa sakit di dadanya berlanjut menjadi amarah yang membakar habis akal sehatnya.
Pria itu telah mengacaukan hidupnya. Pria itu telah menghancurkan masa mudanya, menjauhkan semua orang darinya, menanamkan benih cinta beracun di hatinya, dan kini... meninggalkannya bagai barang bekas yang tak bernilai.
"Aku bukan mainanmu, Kenzo,"
bisik Clara parau di depan cermin, matanya sembap dan merah.
"Jika kau bisa berpaling begitu mudah, maka aku juga bisa."
Malam itu, Clara menanggalkan gaun-gaun polosnya. Ia memilih sebuah mini dress ketat berwarna hitam tanpa lengan, gaun yang selama ini sangat dilarang keras oleh Kenzo. Ia memoles wajah pucatnya dengan riasan tebal, memoles bibirnya dengan warna merah darah yang berani.
Saat Clara berjalan menunju pintu depan, Kevin langsung menghadangnya di lorong dengan raut wajah yang sangat tegang.
"Miss Clara... Anda tidak bisa keluar dengan pakaian seperti ini,"
tegur Kevin keras, matanya panik menatap gaun yang mengekspos bahu dan paha Clara.
Clara menatap Kevin dengan binar mata yang dipenuhi keputusasaan dan provokasi murni. "Kenapa? Tuanmu sedang sibuk dengan tunangan barunya di London, kan? Dia tidak peduli lagi padaku, Kevin. Antarkan aku ke Coco Bongo club sekarang, atau aku akan pergi sendiri dengan taksi."
"Miss, ini berbahaya"
"Antarkan aku, Kevin!"
bentak Clara, suaranya melengking pecah. Air mata kemarahan menetes di pipinya.
"Ini perintah! Bukankah kau bertugas mengawalku?"
Melihat kondisi psikologis Clara yang hancur dan lepas kendali, Kevin akhirnya terpaksa menyerah. SUV hitam meluncur menembus jalanan malam menuju Coco Bongo, sebuah high-end nightclub paling eksklusif di kawasan Mexico yang sering menjadi sarang bagi anak-anak pengusaha dan selebriti papan atas.
Dentuman musik bercampur dengan pendaran sinar laser ungu dan merah memenuhi area VIP club. Aroma alkohol mahal dan parfum premium menyeruak di udara.
Clara duduk di salah satu sofa booth terbaik, memesan botol demi botol cocktail dan vodka. Alkohol dingin itu membakar tenggorokannya, namun rasa terbakar itu jauh lebih rasional daripada rasa sakit di dadanya.
Dari balik dinding kaca temaram, Kevin berdiri berjaga dengan posisi sangat siaga, jarinya tak berhenti meremas ponsel di saku jasnya, ia tahu betul kamera CCTV rahasia di area VIP club ini terhubung langsung dengan Kenzo di London.
Setelah tegukan kelima, rasa pusing mulai menguasai kepala Clara. Rasa percaya diri yang liar merayapi jiwanya. Ia berdiri, melangkah mendekati area bar utama.
Rambut panjangnya yang terurai bergerak seirama dengan lekuk tubuhnya. Kecantikan Clara yang melankolis dan menggoda langsung menyedot perhatian beberapa pria berkelas yang sedang berkumpul di sudut bar.
Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja desainer terbuka di bagian dada, anak seorang pengusaha properti ternama langsung melangkah menghampiri Clara.
"Sendirian, Beauty?"
sapa pria itu seraya tersenyum menawan, matanya menelusuri tubuh Clara tanpa malu-malu.
Pria itu memesankan satu gelas champagne mahal dan menggesernya ke hadapan Clara.
Clara menatap pria itu. Wajah pria itu tampan, jauh lebih ramah daripada Kenzo. Namun di dalam hatinya, tidak ada desir apa pun. Clara hanya ingin satu hal, pembalasan.
Clara melontarkan senyuman manis yang memikat, sebuah senyuman palsu yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Terima kasih, siapa namamu?"
"Erick,"
jawab pria itu, matanya makin berbinar melihat respon Clara.
Erick melangkah makin dekat, memberanikan diri mendaratkan tangan kanannya di pinggang mulus Clara yang terbuka. Clara tidak menolak. Ia justru membiarkan jemari pria asing itu mengelus pinggangnya, seraya melirik secara sengaja ke arah salah satu sudut atas ruangan, tepat di mana lensa kamera pengawas terpasang.
Lihat ini, Kenzo, batin Clara berteriak histeris di dalam hatinya. Lihat bagaimana pria lain menyentuhku saat kau bersenang-senang dengan Eleanor di London!
Erick semakin berani. Pria itu mendekatkan wajahnya ke leher Clara, berbisik menggoda seraya menyingkirkan helai rambut Clara. Clara menyandarkan kepalanya di bahu Erick, tertawa pelan oleh pengaruh alkohol, membiarkan jemari Erick merayap naik ke bahunya.
Di sudut temaram, Kevin berdiri mematung. Jemarinya mencengkeram ponsel erat-erat, bersiap menerima panggilan murka atau perintah pembantaian yang biasanya langsung meledak dalam hitungan detik dari London. Levin tahu betul tabiat Tuan Mudanya, menyentuh satu helai rambut Clara saja sudah cukup untuk membuat Kenzo meremukkan nyawa seseorang.
Satu menit berlalu.
Dua menit... lima menit...
Ponsel di tangan Kevin tetap dingin dan membisu. Tidak ada panggilan masuk. Tidak ada pesan kilat. Tidak ada perintah eksekusi. Bahkan indikator pengawasan rahasia dari jaringan London tidak menunjukkan pergerakan apa pun.
Kenzo benar-benar diam. Pria itu mengabaikannya secara mutlak, seolah tindakan Clara dengan pria asing ini sama sekali tak bernilai di matanya.
Melihat tidak ada ancaman atau pengawal yang menerjang, Erick tersenyum makin percaya diri. Ia memiringkan wajahnya, mencoba mendaratkan ciuman di bibir Clara.
DEG.
Saat wajah Erick tinggal berjarak beberapa senti dari bibirnya, benteng perlawanan Clara mendadak runtuh sepenuhnya. Rasa mual yang teramat hebat menghantam dadanya. Bukan mual karena alkohol, melainkan mual oleh kenyataan pahit bahwa aksi nekatnya sama sekali tidak mampu mengusik keheningan Kenzo.
Kenzo tidak peduli lagi. Pria itu benar-benar telah melepaskannya.
"Jangan..."
dorong Clara tiba-tiba, menahan dada Erick dengan kedua tangannya yang gemetar hebat.
"Hei, ada apa, Beauty?"
tanya Erick bingung, jemarinya masih mencoba menahan pinggang Clara.
"Jangan sentuh aku!"
bentak Clara, suaranya melengking pecah di tengah dentuman musik club.
Clara merenggut tubuhnya mundur, melepaskan cengkeraman Erick hingga gelas champagne di atas meja tersenggol dan pecah menghantam lantai. Dengan napas memburu dan mata yang membasah oleh air mata kekalahan, Clara berbalik dan berlari kencang menerobos kerumunan pengunjung club menuju pintu keluar.
"Miss Clara!"
Kevin buru-buru melangkah cepat menyusulnya, memblokir langkah Erick yang sempat ingin mengejar.
Di luar club, udara malam yang dingin menghantam wajah Clara. Gadis itu merosot berlutut di samping mobil SUV hitam dan menangis sejadi-jadinya di tepi jalan sepi.
Rencana pembalasannya gagal total. Ia telah merendahkan dirinya sendiri, menyerahkan tubuhnya untuk disentuh pria asing, hanya demi mendapatkan setitik perhatian atau cemburu dari sang predator, namun yang ia dapatkan hanyalah keheningan dingin yang membunuh jiwanya.
Kevin melangkah mendekat, perlahan menyelimutkan jas tebalnya ke bahu Clara yang terbuka. Pria itu menatap Clara dengan pandangan serba salah dan iba yang mendalam.
"Kenapa dia diam, Kevin...?"
bisik Clara parau di balik isak tangisnya yang memilukan.
"Kenapa dia tidak menyuruhmu memukul pria itu...? Kenapa dia membiarkanku...?"
Kevin menghela napas panjang, menatap jalanan malam yang kelam sebelum menjawab pelan, "Saya tidak tahu, Miss Clara. Tuan Kenzo... benar-benar telah menutup saluran komando harian dari London sejak berita pertunangan itu dirilis."
Kata-kata Kevin bagai sembilu yang mengunci takdirnya. Clara memejamkan mata rapat-rapat, merasai dadanya yang hancur berkeping-keping. Pria yang dulu mengurungnya dalam obsesi gila kini telah membuangnya ke dalam kegelapan tanpa batas yang kini membakar batinnya sendirian di tengah malam.