NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana di ruang tamu itu kini terasa begitu hangat, jauh berbeda dari bayangan Puja sebelumnya.

Setelah ketegangan sesaat akibat sindiran Umi Mina, kini senyuman dan rasa syukur mendominasi ruangan sederhana tersebut.

Puja membantu ayahnya duduk dengan nyaman di sofa, lalu membuka bungkusan nasi goreng yang masih mengepulkan aroma sedap.

Di sela-sela momen itu, Puja menatap sang ayah dengan binar mata yang bersemangat.

"Abi, tahu tidak? Sekarang aku sudah kuliah," ucap Puja dengan nada bangga, tersenyum lebar ke arah ayahnya.

Jeffry yang duduk di sampingnya turut tersenyum, membiarkan istrinya menikmati momen berharga ini.

Abi Ahmad menatap putrinya dengan pandangan penuh rasa haru dan penyesalan yang mendalam.

"Alhamdulillah, Nduk... Syukurlah," ucap Abi pelan. Beliau meraih tangan Puja, mengusapnya lembut.

"Maafkan Abi ya, Nak. Maaf jika kemarin Abi sempat menentang mimpimu dan tidak menyetujui kamu mengambil beasiswa ke Yogyakarta."

Puja menggeleng perlahan, menghilangkan sisa-sisa ganjalan di hatinya.

"Tidak apa-apa, Abi. Sudahlah, jangan diingan lagi. Mungkin ini memang sudah takdir aku, bisa kuliah di sini dan tetap dekat dengan keluarga serta Mas Jeffry."

Mendengar ucapan tulus putrinya, Abi Ahmad tersenyum lega.

Pria paruh baya itu lalu teringat sesuatu. Ia menoleh sekilas ke arah menantunya, lalu kembali menatap Puja.

"Oh iya, Abi.. bagaimana dengan sawah yang dulu diberikan oleh Kyai Ali sebagai amanah?" tanya Abi menyebut ayah Jeffry. "

Alhamdulillah, berkat pengelolaan yang baik, sawahnya sudah panen kemarin."

"Alhamdulillah..." balas Puja bersyukur.

Abi Ahmad kemudian menoleh ke arah istrinya yang masih berdiri agak jauh dengan wajah masam.

"Umi... Umi, tolong ambilkan karung kecil hasil beras panen kita di belakang. Bawakan untuk Puja dan suaminya ya," perintah Abi dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.

Umi Mina sempat mendengus pelan, tampak enggan, namun karena melihat tatapan serius dari suaminya, ia akhirnya melangkah menuju bagian belakang rumah dengan gerutuan tertahan.

Puja langsung merasa tidak enak. Ia menoleh ke arah ayahnya.

"Abi, tidak usah repot-repot..."

Abi Ahmad menggeleng pelan, lalu menepuk punggung tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Ini tidak repot-repot, anakku. Ini hak kamu, dan sudah sepantasnya orang tua membawakan sedikit hasil bumi untuk anak dan menantunya."

Jeffry yang sejak tadi menyimak ikut tersenyum dan mengangguk santai.

"Terima kasih banyak, Abi. Kami terima dengan senang hati," ucap Jeffry sopan, mencairkan kecanggungan yang sempat dibuat oleh Umi Mina.

Tidak lama kemudian, Umi Mina kembali dengan membawa sekarung kecil beras hasil panen dan meletakkannya di dekat pintu dengan agak kasar.

Meski begitu, Puja tidak lagi memasukannya ke dalam hati.

Hari itu, keputusannya untuk melangkah pulang memberikan kedamaian yang jauh lebih besar daripada luka masa lalu.

Waktu berjalan begitu cepat. Obrolan hangat mengenang masa lalu ditemani teh hangat dan sisa-sisa gelak tawa membuat malam semakin larut.

Tanpa terasa, jarum pendek jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul sembilan malam.

Jeffry melirik jam tangannya, lalu menoleh pelan ke arah istrinya, memberikan gestur bahwa sudah waktunya mereka pamit mengingat besok pagi Puja harus kembali berkuliah. Puja mengangguk paham.

Sebelum berdiri dari sofa, Puja merogoh tasnya atas instruksi bisik-bisik dari suaminya sesaat sebelum masuk ke rumah tadi.

Jeffry sempat menyelipkan sebuah amplop agak tebal ke dalam tas Puja untuk diberikan kepada sang ayah.

Puja berjalan mendekati Abi Ahmad, lalu merengkuh tangan ayahnya dan menyelipkan amplop tersebut dengan lembut.

"Abi, ini ada sedikit rezeki dari Mas Jeffry," bisik Puja penuh takzim.

"Nanti buat Abi beli sate ayam atau bakso kesukaan Abi, ya."

Abi Ahmad tertegun, menatap amplop di tangannya lalu beralih menatap menantunya dengan pandangan sarat akan rasa terima kasih yang teramat dalam.

"Duh, Nduk... tidak usah repot-repot begini. Kalian sudah datang berkunjung saja Abi sudah senang sekali," tolak Abi halus.

Puja menggeleng kepala, tersenyum jahil menirukan gaya tegas suaminya tadi.

"Pokoknya harus Abi terima! Nggak boleh nolak."

Melihat ketulusan anak dan menantunya, Abi Ahmad hanya bisa pasrah sambil tersenyum lebar, matanya kembali berkaca-kaca karena terharu.

Setelah berpamitan dan bersalaman dengan takzim, Puja dan Jeffry berjalan berdampingan keluar rumah menuju mobil yang terparkir di halaman.

Umi Mina berdiri di dekat teras dengan lipatan tangan di dada, wajahnya masih tampak masam meski tidak lagi melontarkan sindiran pedas.

Sebelum pintu mobil ditutup, Puja menurunkan kaca jendela sejenak.

Dengan senyum jail yang sengaja ia pasang, ia melambaikan tangan ke arah luar.

"Assalamualaikum, Abi... dan Umi yang galak!" seru Puja setengah berbisik namun cukup jelas terdengar.

Seketika tawa kecil lolos dari bibir Puja, sementara Jeffry yang berada di kursi pengemudi hanya bisa menggelengkan kepala maklum melihat tingkah usil istrinya yang mulai kembali ceria.

Di teras, Abi Ahmad menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli melihat tingkah lucu putrinya, sementara Umi Mina mendengus kesal di tempatnya.

Jeffry melajukan mobil perlahan meninggalkan halaman rumah, membelah malam yang tenang.

Di dalam kabin yang hangat, Puja menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya, merasa beban berat di hatinya telah benar-benar terangkat, menyisakan ketenangan dan kebahagiaan yang utuh di sisi pria yang paling ia cintai.

Perjalanan pulang dari desa berjalan lancar di bawah temaram lampu jalan.

Setibanya di rumah mereka yang nyaman, Puja dan Jeffry bergantian membersihkan diri untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas dan melakukan perjalanan jauh.

Puja yang selesai mandi lebih dulu segera bergegas ke dapur.

Ia menyiapkan nasi goreng bungkus yang tadi mereka beli di perjalanan pulang ke atas piring saji untuk mengganjal perut yang kembali keroncongan.

Tidak lama kemudian, Jeffry keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya, mengenakan pakaian santai rumah. Ia menghampiri meja makan tempat Puja sudah duduk manis menunggu.

"Ayo, Mas, kita makan dulu. Biar nggak terlalu malam," ajak Puja ramah sambil menyendok makanan ke piring.

Jeffry tersenyum, lalu menarik kursi di sebelah istrinya dan menganggukkan kepala.

"Boleh, perut Mas juga sudah mulai keroncongan."

Pria itu melirik dua piring di hadapan mereka, lalu mengernyitkan dahi keheranan saat melihat bumbu dan potongan daging di dalam piringnya.

Ia mendongak menatap Puja dengan tatapan penuh selidik.

"Dek... ini nasi goreng apa, ya?" tanya Jeffry ragu-ragu.

Puja menjawab dengan santai tanpa rasa curiga. "Punya Mas itu nasi goreng kambing. Kalau aku, nasi goreng ikan asin."

Mendengar jawaban itu, bola mata Jeffry melebar sempurna. Tenggorokannya mendadak terasa kering.

"K-kambing, Dek?" tanyanya memastikan dengan nada sedikit bergetar.

"Iya, Mas. Tadi pas mampir, kelihatannya paling enak yang kambing, makanya aku pesenin itu buat Mas. Kenapa? Mas alergi daging kambing?" tanya Puja heran melihat reaksi suaminya.

Jeffry sebenarnya menggelengkan kepala pelan—ia memang tidak memiliki riwayat alergi medis terhadap daging kambing. Namun, ada satu "senjata rahasia" biologis dalam tubuhnya yang langsung aktif dan menagih haknya setiap kali ia mengonsumsi daging kambing: tekanan darahnya yang langsung melonjak naik dan memicu rasa pusing hebat atau pegal-pegal khas kolesterol.

Mengingat efek samping itu, Jeffry menelan ludah rapat-rapat.

Ia tahu jika ia protes, istrinya pasti akan merasa bersalah karena sudah membelikannya dengan penuh perhatian.

"Nggak... Mas nggak alergi kok," jawab Jeffry cepat, berusaha tersenyum semanis mungkin meski dalam hati ia sudah pasrah membayangkan akibatnya besok pagi.

Pria itu buru-buru mengambil sendok, berniat mengalihkan situasi sebelum Puja curiga lebih jauh.

"Ayo, kita lanjutkan makan malamnya, setelah itu kita langsung istirahat ya, Dek. Besok jadwal kuliahmu pagi."

Setelah menyelesaikan makan malam yang ditutup dengan obrolan ringan, Puja dan Jeffry beranjak naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat.

Suasana kamar terasa begitu tenang, diterangi cahaya lampu tidur yang kekuningan.

Puja merebahkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah suaminya dengan senyuman lembut.

"Selamat malam, Mas," ucapnya tulus.

Jeffry membalas tatapan itu dengan senyuman tipis, meski ada gelagat gelisah di matanya.

"Iya, Dek... selamat malam."

Jeffry berbaring di sebelah Puja, namun matanya menatap langit-langit kamar dengan napas yang mulai tak beraturan.

Di balik selimut, ia menyadari "senjata" biologisnya sudah merespons efek daging kambing yang ia makan tadi malam—mengeras dan berdiri tegak dengan begitu menuntut.

Efek samping itu datang jauh lebih cepat dari biasanya, membuatnya merasa tersiksa karena hasratnya bergolak hebat.

Namun, di sisi lain, Jeffry memandang wajah istrinya yang tampak kelelahan setelah seharian beraktivitas dan melewati perjalanan emosional yang panjang.

Ia merasa tidak tega untuk langsung menuntut haknya sebagai suami.

Karena tidak kuasa menahan gejolak di tubuhnya sekaligus rasa serba salah, Jeffry akhirnya perlahan bangkit dari tempat tidurnya, berniat mengambil air wudhu untuk meredakan diri.

Puja yang melihat suaminya tiba-tiba bangun di tengah malam langsung terkesiap.

Ia ikut terbangun dan mendudukkan dirinya. "Mas... mau ke mana?" tanya Puja cemas.

Jeffry menghentikan langkahnya, berbalik menatap Puja dengan wajah yang menyiratkan dilema besar.

"Dek... sebenarnya..."

Hati Puja langsung mencelos. Kekhawatiran buruk melanda benaknya.

"Ada apa, Mas? Mas marah sama aku? Mas menyesal menikah sama aku?" tanyanya dengan suara bergetar, mengira nasi goreng kambing tadi atau sikapnya hari ini telah membuat suaminya murka.

Jeffry buru-buru menggeleng kuat, mendekati ranjang dan meraih tangan istrinya.

"Astaghfirullah, bukan begitu, Dek. Bukan karena kamu marah atau apa... Ini masalah lain."

"Masalah apa?" kejar Puja, masih cemas.

Jeffry menghela napas panjang, menatap manik mata istrinya lekat-lekat dengan kejujuran yang tersisa.

"Dek, ingat nasi goreng kambing yang kita makan tadi?"

Puja menganggukkan kepalanya ke arah suaminya.

"Setiap kali Mas makan daging kambing, efeknya selalu membuat tubuh Mas bereaksi keras. Dan sekarang... senjata Mas sudah bereaksi, menuntut haknya sebagai seorang suami."

Wajah Puja seketika merona merah padam hingga menjalar ke telinganya. Ia menunduk malu, memahami arah pembicaraan suaminya.

Jeffry melanjutkan dengan nada suara yang terdengar serak, menyembunyikan rasa tersiksanya.

"Mas tersiksa, Dek... mempunyai istri yang begitu cantik dan sah di sisi Mas, tapi Mas belum pernah menyentuhmu sepenuhnya untuk memberikan hakmu yang sebenarnya. Mas berusaha menahannya karena tidak mau memaksamu, tapi malam ini... rasanya sudah di luar batas kemampuan Mas."

Pria itu menatap Puja penuh harap namun sarat akan kelembutan, memberikan ruang penuh bagi istrinya.

"Apakah kamu sudah siap, Dek... kalau malam ini Mas meminta hak Mas sebagai suamimu?"

Mendengar kejujuran dan ketulusan Jeffry yang selama ini teramat sabar menjaganya, keraguan di hati Puja perlahan menguap.

Ia sadar, sebagai seorang istri, sudah menjadi kewajiban dan baktinya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada lelaki yang telah membimbing dan mencintainya dengan tulus ini.

Puja mengangkat wajahnya, menatap Jeffry dengan mata yang berbinar lembut, lalu menganggukkan kepalanya perlahan.

"Aku siap, Mas..." bisik Puja malu-malu namun mantap.

Mendengar jawaban itu, ketegangan di wajah Jeffry melebur seketika, digantikan oleh kelegaan dan debaran cinta yang teramat dalam sebelum ia merengkuh istrinya dalam kehangatan malam itu.

Jeffry mendekatkan dirinya, memandang Puja dengan tatapan yang penuh akan rasa syukur dan kasih sayang yang mendalam.

Sebelum melangkah lebih jauh, ia membelai rambut Puja dengan sangat lembut, lalu membimbing istrinya untuk berdoa bersama agar momen penyatuan mereka diberkahi dan menjadi ibadah yang mendatangkan ketenangan bagi rumah tangga mereka.

Dengan suara yang rendah dan penuh kekhusyukan, Jeffry melafalkan doa.

Puja mengamininya dengan suara bergetar, merasakan getaran ketulusan dari setiap kata yang diucapkan suaminya.

Setelah doa selesai, Jeffry memadamkan lampu utama, menyisakan keremangan cahaya dari lampu tidur yang menciptakan suasana hangat.

Di sana, dalam lindungan restu dan ikatan pernikahan yang sah, mereka berdua akhirnya melebur dalam satu ikatan batin dan fisik yang sempurna.

Malam itu menjadi saksi bisu dari pengabdian Puja dan kasih sayang Jeffry, mengukir lembaran baru dalam perjalanan rumah tangga mereka yang kini telah benar-benar utuh sebagai suami istri.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!