Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
GROAAAR.
Suara raungan golem itu membuat dinding gua bergetar hebat hingga menjatuhkan debu dari langit-langit batu.
Rizky melompat mundur tepat saat sebuah tinju kayu raksasa menghantam tanah tempatnya berdiri sedetik yang lalu.
BAM.
Batu pualam di lantai gua hancur berkeping-keping menciptakan kawah kecil akibat pukulan mengerikan dari monster tersebut.
"Tenagamu boleh juga monyet kayu, tapi gerakanmu terlalu lambat untuk bisa mengenai tubuhku," ejek Rizky sengaja memancing emosi lawannya.
Golem itu kembali mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan mengayunkannya secara bersamaan ke arah Rizky.
"Sistem, berikan aku rincian struktur anatomi monster kayu ini sekarang juga," perintah Rizky sambil berguling cepat ke arah kanan menghindari pukulan ganda itu.
TING.
[Memindai struktur Golem Akar Penjaga Suci.]
[Titik kelemahan fisik tidak ditemukan pada bagian luar pelindung anyaman kayu dan batunya.]
"Jawaban macam apa itu? Kau menyuruhku bertarung melawan batu tanpa kelemahan sama sekali?" protes Rizky berteriak keras di tengah gua.
[Saran Sistem: Inti kehidupan golem ini terletak di dalam rongga dadanya, hancurkan intinya maka makhluk ini akan mati.]
"Menghancurkan dada berlapis batu setebal setengah meter dengan tangan kosong manusia biasa? Kau pasti sedang bercanda," balas Rizky terus berlari menghindar dari kejaran monster itu.
WUSH.
Sebuah tendangan menyapu dari kaki batu monster itu melesat cepat dan hampir saja menghancurkan tulang kering Rizky.
Rizky refleks melompat ke udara dan melakukan salto belakang untuk mendarat dengan aman di dekat pinggiran kolam air jernih.
"Aku butuh sesuatu untuk menembus pertahanan kerasnya itu, racun bius dari botolku sama sekali tidak berguna melawan benda mati ini."
Rizky merogoh saku jaketnya dengan cepat dan mengeluarkan beberapa biji tanaman merambat berduri yang memang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga.
"Hei makhluk jelek, kemarilah kalau kau memang merasa bisa menangkapku," teriak Rizky melambaikan tangannya mengejek.
GROAAAR.
Golem itu langsung terpancing amarahnya dan berlari menerjang ke arah Rizky dengan langkah kaki berat yang menggetarkan seluruh isi ruangan gua.
BUM BUM BUM.
"Ayo lebih dekat lagi, sedikit lagi saja," gumam Rizky menanti dengan sangat tenang di pinggir kolam tanpa berniat lari.
Tepat saat golem itu berada dalam jarak tiga meter, Rizky melemparkan biji tanaman merambat itu tepat ke arah bawah kaki monster tersebut.
Rizky langsung menempelkan telapak tangannya ke lantai batu dan mengalirkan seluruh energi hijau dari dadanya ke arah biji-biji yang berserakan itu.
"Tumbuhlah yang besar dan ikat kaki monyet batu ini sekarang juga."
KRETEK KRETEK.
Biji-biji kecil itu merespons energi murni Rizky dan langsung meledak tumbuh menjadi tanaman merambat raksasa sebesar lengan orang dewasa.
Akar-akar berduri itu melilit dengan sangat kuat kedua kaki golem yang sedang berlari kencang tersebut.
TRANG.
Langkah golem itu terhenti mendadak secara paksa karena kakinya terkunci rapat ke lantai batu oleh tanaman merambat buatan Rizky.
Monster raksasa itu kehilangan keseimbangannya seketika dan jatuh tersungkur ke depan dengan sangat keras.
BRAAAK.
"Rasakan itu, kau pikir tubuh besarmu itu adalah sebuah kelebihan di tempat yang sempit seperti gua ini?" tawa Rizky melihat musuhnya mencium tanah.
Namun tawa puas Rizky tidak bertahan lama saat ia melihat golem itu dengan mudahnya merobek lilitan tanaman merambat raksasa itu menggunakan tangan kosongnya.
KRAK KRAK.
"Sialan, tenaganya benar-benar di luar nalar manusia, tanaman merambatku putus seperti benang jahit rapuh," rutuk Rizky mundur menjauh mencari jarak aman.
Golem itu kembali berdiri tegak dan menatap Rizky dengan mata merahnya yang kini semakin menyala terang menahan dendam.
Makhluk itu tiba-tiba mencabut sebuah stalaktit batu tajam berukuran besar dari langit-langit gua dan melemparkannya ke arah Rizky layaknya sebuah lembing.
SYUUT.
"Lemparan jarak jauh? Ini benar-benar curang namanya," teriak Rizky melompat menjatuhkan dirinya ke tanah untuk menghindar.
Batu tajam itu menancap sangat dalam di lantai gua, hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga kiri Rizky.
Rizky mengusap keringat dingin di dahinya dan mulai mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan akibat tekanan adrenalin.
"Aku tidak bisa terus-terusan menghindar seperti orang bodoh begini, staminaku pasti akan habis lebih dulu sebelum dia tumbang."
Rizky memutar otaknya dengan kecepatan maksimal, mengamati seluruh elemen yang ada di dalam ruangan gua tersebut mencari celah kemenangan.
Matanya tertuju pada lumut biru yang bercahaya menempel lebat di seluruh dinding gua, lalu beralih menatap air kolam yang sangat jernih di tengah.
"Sistem, lumut biru di dinding gua ini jenis tanaman apa sebenarnya? Apakah ada efek khusus yang bisa kumanfaatkan?" tanya Rizky cepat.
TING.
[Lumut Fosfor Kuno. Kondisi: Tumbuh subur berkat uap air suci kolam.]
[Efek: Menyerap mineral batu dan mengubahnya menjadi gas energi ringan, sifatnya sangat mudah terbakar jika dipadatkan dalam jumlah besar.]
Rizky tersenyum sangat lebar mendengar informasi emas yang baru saja diberikan oleh sistem liontinnya tersebut.
"Sangat mudah terbakar jika dipadatkan? Ini adalah bahan peledak alami yang sangat sempurna untuk situasi ini."
Rizky segera bangkit berdiri dan membersihkan debu dari pakaiannya dengan tatapan mata yang kembali tajam.
"Hei bung, kau suka melempar batu kan? Mari kita lihat apakah kau juga suka dengan pertunjukan kembang api buatanku," teriak Rizky memancing perhatian.
Rizky mulai berlari kencang mengelilingi tepian ruangan gua untuk memancing golem itu mengejarnya menjauh dari area kolam air di tengah.
Golem itu mengaum dan terus mengejar Rizky sambil menghancurkan setiap pilar batu stalagmit yang menghalangi jalan lurusnya.
Rizky sengaja menempelkan telapak tangannya ke dinding gua setiap kali ia berlari melewati gundukan lumut biru tersebut.