Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. Garis Api dan Tangan yang Membasahi Tanah
..."Kami tidak memadamkan api dengan air, kami memadamkannya dengan garis, dengan tanah basah, dan dengan keberanian untuk tidak lari."...
Hari ke 41 di Desa Majia datang dengan bau yang tidak biasa sejak fajar, bukan bau asap dapur atau bau sayur yang direbus, melainkan bau kering dan tajam yang menusuk hidung seperti kayu yang dipanaskan terlalu lama, bau yang membuat tenggorokan terasa serak meskipun belum bicara sepatah kata pun, dan ketika Jing yue keluar dari balai dan menatap ke arah barat ke arah hutan yang selama ini menjadi tempat mereka menebang bambu, dia melihat garis tipis berwarna abu-abu di langit yang tidak bergerak seperti awan, melainkan menggantung dan terus melebar sedikit demi sedikit.
"Api," gumam Lei Feng yang baru saja naik dari sungai dengan dua ember di tangan, dan satu kata itu cukup untuk membuat seluruh desa yang tadinya sibuk menyiram rak sayur langsung membeku, karena semua orang tahu bahwa setelah banjir, setelah hama, setelah sumur kering, maka musuh terakhir yang paling tidak bisa diajak berunding adalah api, api yang tidak peduli apakah rumah itu baru dibangun atau sudah tua, api yang tidak peduli apakah di dalamnya ada anak atau orang tua.
Selama dua minggu terakhir kemarau memang sudah mencapai puncaknya, tanah retak semakin dalam, daun-daun di hutan menguning dan jatuh lalu menumpuk di tanah menjadi karpet yang sangat mudah terbakar, dan angin bertiup dari barat setiap sore dengan kencang, membawa debu dan membawa panas yang membuat kulit terasa seperti disentuh bara.
Tetua Pertama berlari keluar dengan tongkatnya dan berteriak agar semua orang berkumpul di lapangan di bawah balai, dan dalam waktu kurang dari satu teh, seratus orang sudah berdiri dengan wajah yang kering dan mata yang waspada, menunggu perintah, menunggu arahan, menunggu seseorang mengatakan apa yang harus dilakukan.
Jing yue naik ke atas tangga balai agar bisa melihat lebih jauh, dan dari sana dia bisa melihat dengan jelas bahwa api sudah mulai menjilat ujung hutan, belum besar, belum menjadi dinding merah, tapi sudah ada lidah-lidah kecil yang bergerak cepat di antara semak, dan dia tahu bahwa kalau dibiarkan sampai siang maka angin akan mendorongnya langsung ke desa.
"Kita tidak punya air banyak," katanya dengan suara yang keras agar sampai ke semua orang, "kita tidak punya pasukan pemadam, tapi kita punya tangan, kita punya bambu, kita punya tanah, dan kita punya waktu sampai matahari benar-benar naik."
Rencananya sederhana dan gila pada saat yang sama, yaitu membuat garis, bukan garis di atas kertas, melainkan garis di tanah, garis sepanjang setengah li yang memisahkan hutan dari desa, garis yang digali sedalam satu lutut dan selebar dua langkah, lalu dibasahi, lalu ditutup dengan bambu basah agar api tidak bisa melompati.
Masalahnya adalah mereka hanya punya sedikit air, air dari saluran bambu yang baru saja mereka buat dengan susah payah, dan kalau semua air dipakai untuk memadamkan api maka rak sayur akan mati dan orang akan haus lagi.
Jing yue lalu membagi orang menjadi empat kelompok, kelompok pertama dipimpin oleh Paman Chen untuk menggali, menggunakan cangkul, sekop, bahkan papan yang diasah, menggali tanah secepat mungkin dari ujung selatan sampai ujung utara.
Kelompok kedua dipimpin oleh Bai Ling dan para ibu untuk mengangkut air, bukan dengan ember besar, tapi dengan gayung dan tempayan kecil, mengambil air dari saluran dan menyiramkan ke garis yang sudah digali agar tanahnya basah dan tidak mudah terbakar.
Kelompok ketiga dipimpin oleh Lei Feng untuk menebang bambu hijau yang masih segar, karena bambu kering akan terbakar, dan bambu hijau bisa menahan panas lebih lama, lalu merendamnya di sungai sebelum dipasang di atas garis.
Kelompok keempat adalah anak-anak dan orang tua, tugas mereka bukan bekerja berat, tapi menjadi mata, menjadi penjaga, duduk di atas rumah panggung dengan kain basah di wajah dan memantau ke mana arah angin dan ke mana arah api bergerak.
Pekerjaan dimulai seketika, tanpa sarapan, tanpa istirahat, karena setiap menit adalah menit yang bisa membuat api semakin dekat.
Tanah keras seperti batu, cangkul memantul dan membuat tangan melepuh, tapi tidak ada yang berhenti, karena di kejauhan mereka bisa mendengar suara "krek krek" dari ranting yang terbakar dan suara burung yang terbang panik ke segala arah.
Di jam kedua, matahari naik dan panasnya luar biasa, keringat menetes ke mata dan membuat pedih, tapi orang terus menggali, dan anak-anak berlari bolak-balik membawa air, menumpahkannya ke tanah, lalu berlari lagi.
Di jam ketiga, garis pertama sepanjang seratus langkah selesai, dan bambu basah mulai dipasang di atasnya, diikat dengan tali agar tidak jatuh, dan ketika selesai, garis itu terlihat seperti parit kecil yang penuh lumpur dan ditutup atap bambu.
Jing yue berjalan di sepanjang garis itu, memeriksa setiap sambungan, menekan tanah dengan kakinya untuk memastikan tidak ada celah, dan dia berkata bahwa ini bukan untuk menghentikan api selamanya, ini hanya untuk memperlambat, agar ketika api sampai di sini dia sudah kehabisan bahan bakar.
Di jam keempat, asap semakin dekat, dan sekarang mereka bisa melihat titik-titik merah di antara pohon, dan angin mulai membawa abu kecil yang jatuh di rambut dan di bahu.
Beberapa orang mulai panik dan berkata bahwa mereka harus lari, harus meninggalkan desa, tapi Jing yue berdiri di depan garis itu dan berkata bahwa mereka sudah membangun rumah ini dengan tangan, dan mereka tidak akan lari sebelum mencoba mempertahankan.
Dia lalu memerintahkan agar setiap rumah menyiapkan ember, kain basah, dan tangga, dan kalau ada percikan yang melompati garis maka mereka harus langsung memadamkannya sebelum menjadi besar.
Di jam kelima, api sampai di tepi hutan, sekitar dua ratus langkah dari garis, dan panasnya bisa dirasakan di wajah, dan suara gemuruhnya seperti ombak yang jatuh ke batu.
Warga berdiri di belakang garis itu dengan ember di tangan, dengan wajah yang tegang, dan anak-anak di atas rumah berteriak memberi tahu ke mana arah angin berbelok.
Api menyentuh garis pertama, dan untuk beberapa detik yang panjang tidak terjadi apa-apa, karena tanah basah mengeluarkan uap dan bambu basah mendesis, dan api berputar-putar mencari jalan lain.
Tapi ada satu titik di mana angin terlalu kencang dan membawa percikan melompati garis, jatuh di atas atap rumah paling ujung, dan dalam sekejap atap itu mulai berasap.
Teriakan terdengar, dan sepuluh orang langsung berlari dengan ember, memanjat tangga, dan menyiram dengan air sampai asap itu mati, dan tangan mereka melepuh karena memegang bambu yang panas tapi tidak ada yang mengeluh.
Jam keenam sampai kedelapan adalah jam paling panjang dalam hidup mereka, karena api terus mencoba, terus mendorong, dan mereka terus menyiram, terus menambal garis yang mulai kering, terus membawa air dari saluran yang debitnya semakin kecil.
Di tengah kekacauan itu, Jing yue melihat seorang anak kecil terjebak di rumah yang atapnya mulai terbakar, dan tanpa berpikir dia berlari masuk, menerobos asap, menggendong anak itu keluar, dan punggungnya terkena percikan api yang membuat jubahnya bolong.
Ketika dia keluar, seluruh desa bersorak, dan anak itu menangis di pelukannya sambil memanggil "Kak Jing yue".
Di jam kesembilan, angin tiba-tiba berubah arah, berputar ke selatan, dan itu membuat api menjauh sedikit dari garis, dan itu adalah kesempatan yang mereka tunggu.
Jing yue memerintahkan agar semua orang menyiram lebih banyak ke garis itu, membuat tanah menjadi lumpur, dan menebang beberapa pohon kecil di depan garis agar tidak ada bahan bakar lagi.
Perlahan-lahan, api mulai kehabisan tenaga, lidahnya semakin kecil, dan di sore hari, ketika matahari mulai turun, api akhirnya padam dengan sendirinya di depan garis, meninggalkan tanah hitam dan bau hangus yang menyengat.
Tidak ada yang berteriak kemenangan, tidak ada yang menangis, yang ada hanya kelelahan yang luar biasa, orang-orang duduk di tanah dengan ember di samping, dengan tangan yang gemetar dan wajah yang penuh jelaga.
Jing yue berjalan di sepanjang garis itu, memeriksa sekali lagi, dan dia melihat bahwa garis itu penuh retakan, penuh bekas terbakar, tapi tidak ada satu rumah pun yang ikut terbakar.
Malam itu tidak ada perayaan, hanya ada nasi dan sup yang dimasak bersama di balai, dan semua orang makan dengan tangan yang masih kotor karena mereka terlalu lelah untuk mencuci.
Paman Chen berkata bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat orang melawan api bukan dengan air banyak, tapi dengan tanah dan bambu, dan itu membuat dia bangga.
Jing yue duduk di sudut, mengobati lukanya sendiri dengan daun, dan dia menulis di bukunya bahwa hari ini mereka belajar bahwa api tidak bisa dilawan dengan kekuatan, tapi dengan persiapan, dengan garis, dengan tanah basah.
Dia juga menulis bahwa dia takut, sangat takut ketika masuk ke dalam rumah yang terbakar, tapi dia juga tahu bahwa kalau dia tidak masuk maka dia tidak akan bisa tidur lagi.
Di hari kedua puluh satu setelah kebakaran, mereka memperbaiki garis itu, memperlebarnya, dan menanam rumput hijau di atasnya agar tidak ada lagi bahan bakar kering.
Anak-anak diberi tugas baru, yaitu menjadi "penjaga api", mereka berjalan di sepanjang garis setiap sore dengan ranting basah, memadamkan percikan kecil sebelum menjadi besar.
Di akhir bulan, kabupaten mengirim surat yang mengatakan bahwa cara ini akan diajarkan ke desa lain, dan Jing yue hanya mengangguk dan berkata bahwa dia berharap tidak ada desa lain yang harus memakai cara ini.
Malam di hari ke 41, Jing yue duduk di atas atap balai, menatap ke arah hutan yang kini hitam, dan menatap ke arah desa yang masih berdiri dengan lampu-lampu kecil di setiap rumah.
Dia menulis bahwa hari ini mereka selamat bukan karena beruntung, tapi karena mereka tidak lari, karena mereka memilih menggali ketika orang lain memilih lari.
Dia juga menulis bahwa dia lelah, tapi dia bahagia, karena rumah panggung itu masih berdiri, karena rak sayur masih hijau, karena anak itu masih hidup.
Sebelum tidur, dia menyentuh bekas luka di punggungnya, tersenyum kecil, dan berbisik bahwa besok dia harus mengajari cara membuat pos jaga di hutan agar api bisa diketahui lebih awal.
Dan ketika dia memejamkan mata, dia mendengar suara angin yang tidak lagi membawa bau asap, melainkan bau tanah basah, bau bambu, dan bau hidup yang baru saja mereka pertahankan dengan tangan mereka sendiri.