Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Pukulan dan Rasa Penasaran
Kayvara baru saja hendak membuka cup boba yang diberikan Damien ketika ponsel di dalam tasnya berdering nyaring. Ia merogoh benda pipih itu, melirik layarnya sebentar, lalu menggeser tombol hijau dengan helaan napas gusar.
"Ya? Gue lagi di luar... Apa? Oke, oke, gue ke sana sekarang," gumam Kayvara ke arah ponsel. Ia berbalik menatap Damien dengan raut kecewa. "Dam, temen gue minta ketemu mendadak. Gue jalan dulu ya. Makasih bobanya."
Damien hanya mengangguk pendek. "Hati-hati."
Setelah langkah kaki Kayvara menghilang di balik pintu besi, suasana sasana mendadak hening. Clyrine yang sejak tadi terdiam berdiri di dekat ring, sengaja menyeruput boba miliknya lewat sedotan plastik hingga pipinya sedikit mengembung. Es dingin bercampur gula aren terasa menyegarkan di tenggorokannya yang kering.
Namun, baru saja ia menikmati seruputan ketiganya, sebuah tangan berurat tegas dengan jari-jari panjang terjulur secara tiba-tiba.
Sret.
Damien mengambil cup boba itu tepat dari genggaman jemari Clyrine.
Clyrine tertegun, matanya membelalak kaget. "Eh? Kak Damien, itu punya gue!"
"Cukup," sahut Damien datar tanpa ada beban. Tatapannya menatap cup di tangannya, lalu beralih ke wajah Clyrine. "Nggak baik minum manis banyak-banyak sebelum latihan. Nanti perut lo kram pas mukul sandsack."
Belum sempat Clyrine memprotes lebih jauh, pemandangan berikutnya sukses membuat seluruh kata-kata gadis 16 tahun itu tertahan di tenggorokan.
Tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa canggung sedikit pun, Damien menempelkan bibirnya ke sedotan plastik berwarna hitam yang baru saja dipakai oleh Clyrine. Pria itu menyedot minuman tersebut dalam sekali tegukan panjang.
Clyrine membeku total. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Otaknya bekerja keras memproses apa yang baru saja terjadi—Kak Damien baru saja minum dari sedotan bekas gue?!
Hanya dalam beberapa detik, isi es boba di dalam cup transparan itu terkuras habis. Suara sedotan berderit nyaring menandakan tak ada lagi cairan tersisa di dalamnya.
Damien meregangkan lehernya pelan, lalu meremas cup plastik yang sudah kosong itu hingga terlipat hancur dan melemparnya tepat masuk ke dalam tong sampah di sudut ruangan.
Cemplung.
"Rasa gula aren ternyata lumayan," gumam Damien santai seraya menyapu bibirnya dengan punggung tangan, sama sekali tidak menyadari gejolak aneh di dalam dada gadis di sebelahnya.
Ia lalu berbalik, menatap Clyrine yang masih berdiri mematung dengan bibir sedikit terbuka.
"Kenapa bengong?" tegur Damien, menaikkan sebelah alisnya. "Ayo ganti baju. Waktu latihan lo cuma satu jam sebelum hari mulai gelap."
Clyrine menunjuk seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya—rok lipat yang pendek dan kemeja putih bersaku logo Rexanswood Academy.
"Baju apa, Kak? Kan gue baru banget pulang dari sekolah," protes Clyrine seraya menatap penampilannya sendiri. "Masa gue latihan tinju pakai rok begini? Yang ada sobek semua nanti."
Damien melirik seragam Clyrine sekilas, lalu berjalan ke arah ruang penyimpanan peralatan di sebelah ring. Ia merogoh sebuah loker, menarik keluar satu set pakaian olahraga polos—kaos katun longgar berwarna hitam dan celana training bertali—yang masih terbungkus plastik bersih.
"Gue selalu punya stok baju latihan bersih di sini," kata Damien seraya melemparkan tumpukan pakaian itu ke arah Clyrine. Dengan refleks cepat, Clyrine menangkapnya tepat di dada.
"Itu ukuran paling kecil yang ada. Harusnya cukup di badan lo," lanjut Damien datar seraya menunjuk sebuah pintu kayu di sudut ruangan. "Ruang ganti di sebelah sana. Gue kasih waktu tiga menit. Lebih dari itu, potong waktu latihan."
Clyrine memutar bola matanya, tetapi tak bisa menyembunyikan senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Ia memeluk baju latihan pemberian Damien erat-erat.
"Iya, iya! Tiga menit, bawel banget," sungut Clyrine sengaja berbalik cepat dan melangkah menuju ruang ganti, meninggalkan Damien yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya Alaric itu.
Tiga menit kemudian, Clyrine keluar dari ruang ganti. Kaos hitam longgar milik Damien tampak agak kebesaran di tubuhnya yang ramping, menjuntai hampir menyentuh paha, sementara celana training-nya harus ia ikat kencang agar tidak melorot. Meski begitu, pakaian itu jauh lebih nyaman daripada seragam sekolahnya.
Damien sudah menunggu di samping ring tinju. Ia memegang sepasang handwrap—kain pembalut tangan berwarna hitam.
"Sini tangan lo," perintah Damien singkat.
Clyrine mendekat dan menyodorkan tangan kanannya. Damien mulai melilitkan kain tebal itu dengan sigap dan presisi, membungkus pergelangan tangan, telapak, hingga sela-sela jari Clyrine agar tidak cedera saat memukul. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Clyrine kembali bisa menghirup aroma khas maskulin dari tubuh Damien.
Clyrine memperhatikan jemari tegap Damien yang membalut tangannya. Rasa penasaran yang sejak tadi mengganjal di dadanya mendadak tak bisa ditahan lagi.
"Kak," panggil Clyrine pelan, memecah keheningan.
"Hm?" gumam Damien tanpa menghentikan gerakannya.
"Cewek yang tadi... Kak Kayvara, dia siapa sih sebenarnya?" tanya Clyrine, berusaha membuat nada suaranya terdengar seolah-olah hanya bertanya santai. "Kok dia bisa masuk-keluar sasana ini santai banget? Katanya tempat ini privat."
Damien terdiam sejenak. Ia menyelesaikan lilitan terakhir di tangan kanan Clyrine lalu mengikat perekatnya dengan ketat, sebelum meminta tangan kiri gadis itu.
"Kayvara itu anggota di sini. Kakaknya teman baik gue di klub menembak," jawab Damien datar. "Kenapa? Lo terganggu sama dia?"
"Nggak terganggu, cuma..." Clyrine menggigit bibir bawahnya, menatap wajah Damien dari jarak dekat. "...dia kelihatannya dekat banget sama Kakak. Sampai-sampai dengan enaknya bilang mau minta es boba punya Kakak."
Damien mendongak, netra gelapnya terkunci tepat pada mata oranye-tembaga milik Clyrine. Ada kilat geli yang amat tipis melintas di sudut matanya. "Dia memang sering ke sini kalau lagi nggak ada jadwal latihan. Tapi cuma sebatas kenalan dan sesama anggota."
"Beneran cuma kenalan?" selidik Clyrine lagi, menyipitkan matanya. "Nggak ada hubungan khusus?"
"Clyrine," tegur Damien dengan suara berat yang menuntut fokus. Ia menepuk pelan tangan kiri Clyrine yang baru selesai dibalut. "Lo ke sini mau latihan bertarung buat ngelindungi diri lo dari Claire, atau mau wawancara gosip?"
Pipi Clyrine mendadak terasa hangat. Ia cepat-cheap menarik tangannya kembali dan membuang muka, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Ya... ya mau latihan lah! Kan cuma nanya sekilas!"
"Yaudah, fokus," pangkas Damien seraya mengambil sepasang focus mitts—bantalan target pemukul—dan memasangnya di kedua tangannya. Ia melangkah mundur dua tindak. "Pasang kuda-kuda lo. Angkat kedua tangan di depan dagu."
Clyrine menghembuskan napas panjang, mencoba mengusir gejolak aneh di dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya yang sudah terbalut rapi, mengambil posisi berdiri sejajar, dan memasang tatapan tajam.
"Inget, Clyrine," ujar Damien tegas, menaikkan satu bantalan target ke udara. "Pukulan yang bagus itu bukan cuma asal pakai tenaga otot, tapi datang dari tumpuan kaki dan putaran pinggang. Pukul target gue. Sekarang!"
Brak!
Pukulan pertama Clyrine mendarat kencang di bantalan tangan Damien, memecah kesunyian sasana sore itu.