DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Amarah
Langkah Kakashi yang maju terhenti seketika.
Di seberang ruangan, Shizuka jatuh berlutut, tangan kirinya menekan kuat di sisi leher tempat ujung pedang itu menyayat. Darah segar merembes deras di antara jari-jarinya, membasahi pakaian gelap yang sudah penuh noda merah. Tubuhnya yang tegap tadi perlahan terkulai ke samping, bahunya merosot, dan kakinya yang berusaha menahan beban tubuhnya akhirnya terlemas sepenuhnya.
"Shizuka!" teriak Kakashi, suaranya pecah, hancur oleh ketakutan yang mengerikan.
Ia mencoba berlari ke arahnya, namun tiga orang pembunuh di hadapannya langsung mengunci jalan, menghunus pedang mereka melintang, tidak memberi celah sedikit pun.
"Minggir! Sialan kalian, minggir!" Kakashi membentak, menangkis pedang yang menghantamnya tanpa ampun, namun tubuhnya terdorong mundur selangkah demi selangkah. Matanya tak lepas dari sosok yang terbaring di lantai itu.
Shizuka terbaring diam di atas lantai batu yang dingin. Napasnya terdengar berat, tersengal-sengal, setiap tarikan napas membawa suara basah yang menakutkan. Wajahnya yang tadi masih tegas kini pucat pasi, bibirnya bergetar, matanya yang indah perlahan mulai memudar cahayanya.
"Shizuka..." Aoi merangkak mendekat, tangisnya pecah sejadi-jadinya, tak peduli pedang-pedang tajam di sekelilingnya. "Kakak Shizuka! Kakak, jangan tinggalkan aku!"
Shizuka berusaha tersenyum, namun senyum itu terasa berat dan menyakitkan. Tangannya yang gemetar berusaha meraih keponakannya, namun terhenti di udara, lalu jatuh kembali ke lantai tanpa kekuatan.
"Aoi..." suaranya begitu pelan, hampir tak terdengar di tengah hening yang mencekam. "Maafkan... Kakak... tidak bisa... menemanimu..."
"Jangan bicara begitu! Tolong, ada yang bisa kita lakukan!" Aoi memeluk tubuh sepupunya, menekan kedua tangannya di luka leher itu, berusaha menghentikan darah yang terus mengalir deras. "Tolong... Kakashi, bantu dia! Kumohon!"
Kakashi mengertakkan gigi hingga rahangnya terasa sakit. Ia berusaha menerobos lagi, namun tiga lawan di hadapannya menyerang makin ganas, seakan menikmati keputusasaannya. Salah satu dari mereka tertawa pelan, suara yang dingin dan kejam.
"Sudah berakhir," ucapnya datar. "Dia kehilangan terlalu banyak darah. Tak ada yang bisa menyelamatkannya."
Kakashi menatap ke arah Garo yang berdiri tenang di sudut ruangan, tersenyum puas. Lalu pandangannya kembali jatuh ke Shizuka. Napas gadis itu semakin pelan, semakin lemah, hingga akhirnya tarikan napas terakhir itu terhenti. Tangannya yang memegang tangan Aoi perlahan terkulai. Matanya tetap terbuka, menatap ke arah keponakannya, namun cahayanya sudah padam.
"Kakak Shizuka..." Aoi memanggil pelan, berharap ada jawaban. Namun keheningan adalah satu-satunya balasan yang ia dapatkan. Ia menggeleng lemah, air mata menetes membasahi wajah sepupunya yang sudah dingin. "Bangunlah... Kumohon..."
Tidak ada jawaban. Shizuka pergi.
Di ruangan itu, waktu seakan berhenti berputar. Hanya suara isak tangis Aoi yang memecah keheningan, dan suara napas berat Kakashi yang mulai berubah — bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih gelap sedang bangkit dari dalam dadanya.
Darah Shizuka menggenang di lantai batu, perlahan menyebar, memantulkan cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip. Kakashi menatapnya, lalu menatap wajah-wajah enam pembunuh itu — wajah-wajah tanpa perasaan, wajah-wajah yang tidak peduli bahwa mereka baru saja merenggut nyawa seseorang yang penuh kasih sayang, seseorang yang hanya ingin melindungi keluarganya.
Bunuh.
Suara itu terdengar samar di telinganya, bukan dari siapa pun di ruangan itu — seakan berbisik dari balik kegelapan di sudut pikirannya.
Bunuh mereka semua.
Kakashi mengerjap, mencoba menepis suara itu. Namun suara itu kembali, lebih jelas, lebih mendesak.
Mereka membunuhnya. Mereka membunuh Tuan Kenzaburo. Mereka membunuh Shizuka. Balas dendam. Bunuh.
Ia mengepal tangannya erat-erat, kuku menancap ke telapak tangan hingga terasa perih. Ia teringat pesan kakek tua itu — jangan biarkan kebencian menguasaimu. Namun saat ini, melihat tubuh Shizuka yang terbaring kaku, melihat Aoi yang menangis di atas jenazah sepupunya, melihat Garo yang tersenyum kemenangan... rasanya mustahil untuk tidak membiarkan kebencian itu masuk.
Mengapa kau menahan diri? bisik suara itu lagi, kini terdengar tepat di telinganya, seakan berasal dari pedang di tangannya sendiri. Mereka tidak akan memberi ampun padamu. Mereka tidak memberi ampun padanya. Bunuh. Bunuh. Bunuh.
Kakashi mengangkat pedang hitam itu perlahan. Gagang yang tadinya terasa hangat kini terasa dingin, membekukan, seakan menyeduh panas dari tubuhnya sendiri. Ukiran wajah iblis di gagangnya tampak berubah — seakan tersenyum, seakan hidup.
"Kakashi..." Aoi menoleh, melihat perubahan pada wajah pemuda itu. Tatapannya bukan lagi tatapan orang yang ingin melindungi. Itu tatapan yang menakutkan, kosong, penuh api yang membakar segalanya. "Jangan... Kakashi, tolong..."
Namun Kakashi tidak mendengar. Dunia di sekelilingnya mulai memudar — Aoi, Shizuka, Garo, dinding ruangan ini... semuanya menjadi kabur. Yang tersisa hanyalah amarah yang membara, panas dan meluap-luap, menuntut pemenuhan.
"Kalian..." suaranya rendah, berat, bergema seakan bukan berasal dari kerongkongannya sendiri. "Kalian membunuhnya."
Enam pembunuh itu saling bertukar pandang. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu. Ia tidak lagi terlihat terdesak. Ia tidak lagi terlihat lemah. Namun perubahan itu justru membuat mereka merasa tidak nyaman.
"Dia sudah gila," bisik salah satu dari mereka. "Serang sekarang."
Tiga orang maju serentak, pedang mereka menghantam ke arah Kakashi. Namun kali ini, Kakashi tidak menangkis dengan berhati-hati. Ia tidak mundur. Ia melangkah maju tepat ke arah mereka.
Bunuh.
Pedang pertama menyambar bahunya — ia tidak mengelak. Ia membiarkan ujungnya menyayat kulitnya, menahan rasa sakit itu, dan dengan satu ayunan pedang hitamnya, ia membelokkan senjata lawan dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Pria itu terhuyung mundur, terkejut oleh tenaga yang tiba-tiba meluap dari pemuda yang tadi hampir kalah.
"Siapa kau..." gumamnya, namun belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kakashi sudah berada di hadapannya.
Bunuh.
Ayunan kedua tidak menahan. Pedang hitam itu berkilauan gelap, membelah udara dengan suara mendesing yang mengerikan. Pria itu berusaha menangkis, namun pedangnya terpental dari genggamannya, dan ujung pedang Kakashi berhenti tepat di depan dadanya — tidak menusuk, namun tekanan yang ditimbulkan membuat pria itu mundur gemetar.
Kenapa berhenti? bisik suara itu mendesak. Lakukan. Bunuh dia.
Kakashi terhenti, napasnya memburu. Ia bisa melakukannya. Ia bisa mengakhiri nyawa pria itu dalam sekejap. Tangannya gemetar, terbelah antara naluri untuk melindungi dan dorongan untuk menghancurkan.
"Jangan..." suara lembut terdengar di telinganya — suara Shizuka, seakan terngiang kembali dari kenangan. Lindungi Aoi. Bukan balas dendam.
Ia menarik pedangnya perlahan, membiarkan pria itu mundur. Namun keraguannya membuat lawan-lawannya berani. Tiga orang lainnya ikut menyerang, memanfaatkan momen itu.
"Kakashi!" Aoi berteriak.
Ia mengelak dari serangan pertama, menangkis yang kedua, namun yang ketiga menghantam bahunya dengan keras. Kakashi terhuyung mundur, darah menetes dari luka di bahunya. Rasa sakit itu justru menyalakan kembali api amarah yang sempat meredup.
Dia lemah. Dia menahan diri. Jangan biarkan rasa kasihan menghancurkanmu. Bunuh mereka semua.
Pedang di tangannya terasa semakin berat, semakin dingin, seakan menarik kesadaran ke dalam kegelapan yang dalam. Setiap kali ia melihat wajah Shizuka yang terbaring diam, dorongan itu semakin kuat — tak tertahankan, tak bisa ditolak.
"Mereka semua..." gumamnya, matanya menatap enam sosok itu satu per satu. "Mereka yang melakukannya. Mereka yang menyakiti Tuan Kenzaburo. Mereka yang menyakiti Shizuka."
Lalu balaslah. Hancurkan mereka.
Ia melangkah maju lagi, kali ini lebih cepat, lebih ganas. Setiap ayunan pedangnya membawa angin yang tajam, memaksa lawan-lawannya mundur satu per satu. Ia tidak lagi bertahan. Ia menyerang — tanpa henti, tanpa ampun, tanpa mempedulikan luka yang mungkin ia terima.
"Gila... dia benar-benar gila!" seru salah satu pembunuh, mundur terdesak.
Namun Kakashi tidak mendengar. Di kepalanya hanya ada satu suara, berulang-ulang, semakin keras, semakin mendesak.
Bunuh. Bunuh. Bunuh.
Ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya mengalir ke lengan, ke kakinya, ke setiap inci tubuhnya. Namun kekuatan itu terasa asing — bukan miliknya, sesuatu yang dipinjam dari kegelapan yang dalam. Setiap kali ia mengayunkan pedang itu, ada bagian dari dirinya yang ikut tergerogoti, perlahan, tak terlihat.
Di sudut ruangan, Garo Takemaki menyaksikan semua itu dengan tatapan yang mulai berubah — dari kepuasan menjadi keraguan, lalu menjadi ketakutan. Ia melihat cara Kakashi bergerak, mata yang tampak kosong namun menyala dengan api yang tidak wajar, dan ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
"Ini bukan sekadar kemarahan..." gumamnya pelan. "Dia sedang berubah."
Aoi masih memeluk tubuh sepupunya, namun pandangannya tak lepas dari Kakashi. Ia melihat perubahan itu — pemuda yang lembut dan pendiam yang selama ini ia kenal kini berdiri di ambang kegelapan yang tak bisa kembali.
"Kakashi, tolong dengarkan aku!" serunya, suaranya parau. "Ini bukan keinginan Kakak Shizuka! Dia tidak ingin kau menjadi seperti ini!"
Kakashi berhenti sejenak. Kata-kata itu menembus kabut amarah yang menyelimuti pikirannya. Ia menoleh perlahan ke arah gadis itu, ke arah tubuh Shizuka yang terbaring di sampingnya.
Jangan dengarkan dia, bisik suara itu tajam. Dia tidak mengerti. Hanya kau yang bisa membalas kematian mereka. Hancurkan mereka.
Namun bayangan wajah Shizuka muncul di benaknya — bukan wajah yang tertidur kekal di lantai itu, melainkan wajah yang tersenyum, yang berkata lindungi Aoi, yang berkata jangan biarkan dirimu menjadi seperti mereka.
Tangan Kakashi gemetar hebat. Pedang hitam itu terasa seakan menariknya ke bawah, ke dalam kegelapan yang tak berdasar. Ia merasakan dua kekuatan yang saling tarik-menarik di dadanya — satu ingin menghancurkan segalanya, satu lagi ingin tetap berdiri sebagai pelindung.
"Aku..." suaranya pecah, ia memegang kepalanya dengan tangan kiri, berusaha melawan bisikan yang semakin keras itu. "Aku tidak ingin... menjadi seperti mereka."
Sudah terlambat, bisik suara itu, dingin dan pasti. Kau sudah memegang pedang ini. Kau sudah berniat membunuh. Kegelapan sudah masuk ke dalam dirimu.
Enam pembunuh itu melihat keraguannya dan segera mengambil kesempatan. Mereka menyerang serentak dari segala arah, pedang-pedang mereka berkilauan tajam.
"Kakashi!" Aoi berteriak.
Kakashi mengangkat kepalanya. Di detik itu, ia melihat bukan enam musuh yang ingin membunuhnya — ia melihat wajah-wajah yang sama dengan yang membunuh tuannya, yang merenggut Shizuka dari dunia ini. Amarah kembali meluap, namun kali ini ada sesuatu yang lain di sampingnya — kesadaran bahwa jika ia menyerah pada kegelapan ini, maka pengorbanan Shizuka akan sia-sia. Bahwa ia akan kehilangan dirinya sendiri.
Ia mengayunkan pedangnya, bukan dengan amarah buta, melainkan dengan keputusan yang menyakitkan namun teguh.
"Pergilah..." bisiknya kepada Aoi, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tajam. "Lindungi dirimu."
Ia melangkah maju, menahan serangan keenam-enam orang itu sendirian, membiarkan Aoi menyelinap menjauh, mencari tempat persembunyian. Setiap langkahnya terasa berat, setiap ayunan pedangnya menyakitkan — baik secara fisik maupun batin — karena ia tahu, di setiap detik pertarungan ini, ia sedang berperang bukan hanya melawan musuh di depannya, melawan kegelapan yang sedang tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Pedang hitam itu berdesir di tangannya, seakan protes karena tidak digunakan untuk membunuh sepenuhnya. Namun Kakashi tidak melepaskannya. Ia mencengkeramnya erat, berusaha mengendalikan kekuatan yang sedang mencoba menguasainya.
"Aku tidak akan menjadi alat pembunuh..." ucapnya pelan,