Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana di Balik Kabut Puncak Bukit
Waktu bergerak dengan keanggunan yang melambat seiring dengan perubahan musim yang mulai menyelimuti wilayah Secilia City. Ketika usia kehamilannya resmi menginjak bulan ketiga, gejolak perubahan fisik mulai dirasakan secara nyata oleh Elena. Rasa mual di pagi hari yang datang secara mendadak serta perubahan suasana hati yang tidak menentu sesekali menguras energi fisik dari tubuh anggunnya. Namun, di balik dinding kaca menara Obsidian Tower, tidak ada satu pun orang luar atau rekan bisnis yang diizinkan untuk melihat sisi rapuh dari sang permaisuri finansial negara. Di mata dunia luar, Elena tetaplah sosok wanita berdarah dingin yang memegang sakelar hidup dan mati seluruh perputaran uang nasional.
Namun, bagi Duke Xavier, setiap perubahan kecil yang terjadi pada kondisi fisik Elena adalah prioritas tertinggi yang mengalahkan seluruh urusan rapat bersama dewan direksi bursa efek pusat. Bagi pria penguasa bayangan itu, kelangsungan hidup dan kebahagiaan istri serta calon anaknya adalah hukum mutlak yang berada di atas segalanya.
Pagi itu, Elena duduk bersandar di sofa kulit ruang kerja pribadinya dengan wajah yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. Di atas meja marmer di hadapannya, secangkir teh jahe hangat dengan paduan madu organik pekat mengepulkan uap tipis yang aromanya memenuhi seisi ruangan. Elena memijat pelipisnya perlahan dengan jemari lentiknya, mencoba mengusir rasa pening yang melanda kepalanya sejak subuh tadi. Meskipun tubuhnya sedang merasa tidak nyaman, tangan kirinya masih memegang tablet kerja, bersiap memeriksa laporan audit mingguan dari pelabuhan distrik barat yang baru saja ia menangkan dari tangan Mr. Sterling kemarin sore.
"Tutup tablet kerja itu sekarang juga, Elena. Itu adalah perintah langsung dariku, bukan sebuah negosiasi bisnis."
Suara bariton yang sangat berat, dalam, dan dipenuhi oleh penekanan sifat posesif yang mutlak mendadak terdengar dari arah pintu masuk utama ruangan. Duke Xavier melangkah masuk dengan pembawaan seorang penguasa sejati yang tak tertandingi. Pria jangkung itu mengenakan kemeja rajut kustom berwarna abu-abu gelap yang bagian lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan kesan santai namun tetap memancarkan aura dominasi yang sangat pekat dan mengintimidasi udara sekitar.
Sebelum Elena sempat membalas kalimat tersebut, Xavier sudah berada di depannya dengan derap langkah kaki yang tegap. Dengan gerakan yang sangat lembut namun sama sekali tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun, pria itu merebut tablet kerja dari genggaman tangan Elena lalu meletakkannya jauh di ujung meja marmer. Xavier mengambil posisi duduk di samping Elena, lalu dengan gerakan yang sangat posesif melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping istrinya. Pria itu menarik lembut tubuh Elena agar bersandar penuh pada dada bidangnya yang hangat, memberikan rasa aman tak terbatas. Tangan kanannya yang besar perlahan turun menangkup perut bawah Elena dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang melindungi barang paling berharga dan rapuh di seluruh alam semesta.
"Aku sudah katakan kepadamu ratusan kali, Elena. Selama masa trimester pertama ini, fokus utama hidupmu hanyalah menjaga kesehatan fisikmu dan calon pewaris takhta kita," bisik Xavier dengan nada suara yang perlahan melembut tepat di dekat telinga Elena. Dia menundukkan kepalanya sejenak untuk mengecup lembut permukaan kulit leher Elena yang halus, membuat wanita berambut perak itu sedikit berdesir rileks di dalam dekapannya. "Urusan spekulan maritim barat dan pengalihan hak veto pelabuhan sudah diselesaikan sepenuhnya oleh tim analis keuangan kita subuh tadi. Kamu tidak perlu mengotori matamu dengan deretan angka-angka bodoh itu hari ini."
Elena mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan kepala indahnya dengan nyaman di ceruk leher Xavier yang maskulin, menghirup aroma parfum kayu cedar pekat yang selalu menenangkan jiwanya. Rasa mual yang sempat menyiksanya sejak pagi perlahan-lahan mereda akibat kehangatan dekapan suaminya. "Xavier, jika kamu terus memanjakanku dan mengurungku dengan aturan posesifmu seperti ini, aku takut aku akan melupakan bagaimana cara memegang kendali di ruang rapat bursa efek nanti."
Xavier terkekeh rendah, sebuah suara tawa bariton yang begitu hangat dan sarat akan kasih sayang yang teramat mendalam. Pria itu mengepalkan tangan hangatnya pada jemari lentik Elena, mengusap pelan cincin pernikahan berlian hitam berbentuk mahkota kecil di jari manis wanita itu. "Kamu tidak perlu bersusah payah memegang kendali di ruang rapat lagi, Permaisuriku. Akulah yang akan menjadi pedang dan perisaimu di luar sana. Hari ini, aku memiliki sebuah kejutan khusus untuk kenyamanan masa kehamilanmu. Ikutlah denganku sekarang."
Tanpa menunggu jawaban atau bantahan dari Elena, Xavier perlahan bangkit berdiri lalu dengan gerakan posesif yang mutlak langsung mengangkat tubuh ramping Elena ke dalam gendongan bridal-style yang sangat kokoh. Elena reflex melingkarkan kedua lengan halusnya di leher jenjang Xavier, menyembunyikan wajah cantiknya yang mulai merona di balik dada bidang sang suami dengan seulas senyuman manis yang tulus.
Dua puluh menit kemudian, iring-iringan kendaraan mobil Rolls-Royce hitam mewah milik keluarga besar Obsidian berhenti dengan derit ban yang halus tepat di depan sebuah gerbang besi tempa raksasa berlapis emas murni yang terletak di puncak bukit terisolasi distrik selatan. Tempat ini adalah kawasan paling eksklusif, tenang, dan sepenuhnya terputus dari segala jenis kebisingan pusat kota, diselimuti oleh kabut musim gugur yang tipis serta pemandangan hutan pohon pinus yang sangat asri dan menenangkan.
Begitu pintu mobil dibuka oleh belasan pengawal elite berjas hitam, Elena tertegun menatap pemandangan megah di hadapannya. Sebuah istana baru bergaya neoklasik Eropa berdiri kokoh dengan pilar-pilar marmer putih setinggi belasan meter. Air mancur kristal raksasa di halaman depan memancarkan air jernih yang berirama tenang, menciptakan atmosfer kemewahan yang tak tertandingi oleh bangunan mana pun di kota ini.
"Ini... Kastel Emerald Rose, Xavier?" tanya Elena dengan binar mata safir birunya yang dipenuhi oleh rasa terkejut yang luar biasa. Dari pengetahuannya tentang alur novel asli, tempat ini adalah properti pribadi paling rahasia dan paling bernilai fantastis milik keluarga Obsidian yang lokasinya bahkan tidak pernah tercatat di dalam peta agraria publik.
"Mulai hari ini, tempat ini adalah rumah dan istana barumu, Elena," ucap Xavier sembari menurunkan Elena dengan sangat hati-hati, lalu menuntunnya melangkah masuk ke dalam aula utama kastel yang dilapisi oleh karpet beludru sutra tebal selembut awan. "Aku tahu udara di pusat kota terlalu bising, kotor, dan penuh dengan intrik spekulan yang mengganggu masa kehamilanmu. Di tempat ini, seluruh sistem keamanan telah dikunci rapat oleh tiga lapis perimeter pasukan elite bersenjata Obsidian. Tidak akan ada satu pun media, pengusaha asing, atau sisa-sisa pengganggu dari masa lalumu yang bisa mengendus keberadaanmu di atas bukit selatan ini."
Xavier memutar tubuh Elena agar menghadap penuh ke arahnya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata safir biru istrinya dengan intensitas cinta yang sangat dalam, kokoh, dan tak akan pernah bisa digoyahkan oleh apa pun seumur hidupnya. "Di dalam istana ini, kamu bisa beristirahat dengan tenang, menikmati keindahan alam, dan membiarkan aku merawat serta memanjakanmu hingga hari kelahiran anak kita tiba nanti. Seluruh dunia luar yang kejam itu... biarkan aku yang menjaganya agar tidak pernah bisa mengusik seujung kuku pun dari ketenangan hidupmu."
Air mata kebahagiaan yang sangat tulus perlahan menetes membasahi pipi cantik Elena. Jiwa Clarissa di dalam dirinya yang dulu mati dalam penderitaan dan kesendirian yang sepi di ranjang rumah sakit yang dingin, kini akhirnya telah mendapatkan surga kedamaian yang paling sempurna dari Tuhan. Dia tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan atau pengabaian; dia telah resmi menjelma menjadi seorang ratu mutlak yang bertahta di dalam istana cinta milik pria paling berkuasa di seluruh negara. Elena tersenyum sangat manis, membiarkan tubuhnya kembali tenggelam dalam dekapan hangat dan posesif dari Duke Obsidian, mengunci masa depan dinasti baru mereka di atas puncak tertinggi takhta kebahagiaan sejati yang abadi.
emak bpknya sibuk jd pnguasa,hsilnya nnti psti buat anknya....😁😁😁
udh d bkin bngkrut,d asingkan,skrng udh saatnya pndh alam....
cape deh sm klkuan orng2 idiot ky mreka...udh klah,msih ngeyel....mngkn abs ni mreka bkln jd gembel slamanya...😫😫😫
krna pst bnyk orng iri dn ingn mnjtuhkn....
Slmt dtng d dnia baby boy....n slmt jd orngtua jg buat klian brdua....😘😘😘
mstinya mkir,ni mlah mkin stupid aja..
d kira bs mnghncurkn sng mntan,mlah dia sndri yg hncur.....tnggu aja hkumn yg pnts buat mnusia gila ky dia.....
mstinya mreka bljar biar lbh pntr,lah ni mlah mkin oon aja...ya kali pnguasa ky mreka ga tau apa2....cckk...🙄🙄🙄
cckk...skit jiwa....
tp ya nmanya jg cnta,pst yg trbaik buat sng ratu...
yg awalnya angkuh,akhrnya kalah jg...
jgn rmehkn wnita,krna msti lihat spa d belakangnya.....
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄