Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01. Pindah kedesa
''Suasana yang ada di desa ini masih terasa begitu adem sekali.'' Devano menatap sang istri yang ada di sebelah dia.
''Memang tangan adem dan juga terasa begitu sunyi ketika untuk menenangkan pikiran.'' Zora berkata dengan wajah muram.
''Kamu Kenapa kok seperti tidak bersemangat seperti itu? apa Masih kepikiran dengan ibu!'' Devano juga bingung dengan sikap Zora.
''Selain memikirkan ibu yang semakin tua dan sakit dia yang semakin parah, Sebenarnya aku tidak suka pulang ke rumah di desa ini.'' Zora berkata apa adanya.
''Loh kok kamu ngomong begitu? kan jadi enak mengenang masa kecil serta kita bisa menikmati suasana yang berbeda.'' Devano berusaha untuk memberikan semangat.
Zora hanya diam saja tidak ada reaksi karena dia juga masih tidak tahu kenapa hati ini seolah begitu enggan untuk pulang ke rumah tua tersebut, sebab sejak umur dua puluh tahun, Zora sudah tinggal di kota ikut bersama dengan sepupu dari Bu Susi sehingga dia lebih betah tinggal di sana.
Bukan karena dia tidak ingin tinggal di desa itu lagi tapi karena ada sesuatu yang tidak dia sukai di dalam rumah tersebut, sejak dulu dia merasakan seperti ada bisikan dan Zora merasa Itu semua hanya halusinasi dia yang semakin parah sehingga bila tinggal kembali di rumah itu maka semua akan berulang lagi.
Dulu tempat dia bicarakan kepada Bu Susi tentang pendengaran yang dia rasakan tersebut, namun Bu Susi dengan tegas membantah bahwa itu semua hanya halusinasi karena Zora terlalu banyak bermain sehingga dia mengalami hal yang tidak biasa dan zona percaya kalau itu semua hanya halusinasi dia saja.
Ini sekarang dia malah harus kembali ke rumah tersebut sehingga Zora semakin yakin bahwa bisikan-bisikan itu akan kembali datang kepada dia, ada rasa takut yang begitu besar di dalam hati ini dan terkadang Zora juga tidak paham ini ketakutan karena masalah apa dan sampai sekarang masih belum terungkap juga.
''Itu tempat apa kok sepertinya sangat ramai sekali?'' Devano menatap sebuah bangunan yang terlihat begitu ramai.
''Lumbung padi, Mereka banyak menyimpan padi di sana ketika sedang panen.'' jawab Zora.
''Wah ini memang sangat seru dan aku akan bermain dengan mereka nanti.'' ujar Devano penuh antusias.
''Dia selalu saja bersemangat seperti itu.'' batin Zora di dalam hati.
Padahal dia saja sekarang terlihat begitu enggan dan tidak ingin berlama-lama di desa ini, andai saja Bu Susi mau untuk dia ajak ke kota maka sudah pasti Zora akan memboyong orang tua tersebut agar bisa berubah juga di rumah sakit yang bagus.
''Banyak rumah kosong tidak berpenghuni seperti itu ya.'' Devano sudah melihat sekitar lima rumah kosong yang tidak terawat.
''Ya, kamu jangan sampai masuk ke dalam rumah kosong seperti itu.'' pesan Zora.
''Emang tidak boleh ya? penasaran saja sih rumah sebesar itu tapi dibiarkan terlantar dan sama sekali tidak ada yang mengurus.'' Devano merasa sangat sayang.
''Itu rumah kita!'' Zora menunjuk sebuah rumah yang cukup besar dengan dua lantai.
''Eh kok memang agak seram begini ya rumah nya.'' batin Devano ketika mereka sudah memasuki halaman rumah yang terasa begitu senyap dan juga angker.
Pagar yang sudah mulai keropos karena termakan usia serta beberapa tembok juga di lilit dengan rumput-rumput sehingga menambah suasana menjadi begitu suram, bangunan ini terlihat begitu tua sekali dan kemungkinan memang sudah berusia puluhan tahun serta kurang terawat sehingga membuat manusia melihat menjadi memiliki ketakutan tersendiri di dalam hati.
''Non Zora udah datang.'' Mbak Paini menyambut Zora dan suami.
''Ibu gimana keadaan nya sekarang, Mbak?'' Zora sudah tidak sabar lagi.
''Masih seperti kemarin dan dia tetap saja tidak mau makan.'' jawab Mbak Paini.
''Kamu masuk saja duluan dan biar aku yang membawa barang-barang kita ke dalam rumah.'' ujar Devano kepada sang istri.
''Bawa masuk saja dulu, nanti biar di bantu sama Mbak Paini.'' ujar Zora.
Devano mengganggu dan segera membawa koper serta barang bawaan yang lain untuk masuk ke dalam rumah ini, sementara itu Zora sudah masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Bu Susi yang kata Mbak Paini menderita sakit tak kunjung sembuh setahun belakangan ini.
Pintu berderit kencang ketika Zora mendorong dan di atas ranjang sana terlihat wanita dengan rambut mulai memutih sedang terbaring dengan pandangan kosong, meski saat ini Zora sudah datang untuk menjenguk namun tetap saja sama sekali tidak ada respon dari Ibu Susi sehingga membuat Zora semakin merasa sedih saja.
''Ibu.'' Zora memegang tangan yang sudah mulai keriput dan terasa begitu dingin sekali.
''Ibu selalu saja begitu dan tidak pernah mau makan apa yang saya masak.'' Mbak Paini berusaha menjelaskan kepada anak majikan dia.
''Sekarang sudah ada aku di sini Jadi Ibu tolong makan ya.'' bujuk Zora sembari menahan air mata yang akan jatuh.
''Apa mau saya ambilkan dulu bubur yang sudah dingin tadi? biar Ibu bisa makan sama non Zora saja.'' tawar Mbak Paini.
Zora mengangguk karena dia yang akan menyuapi Ibu Susi agar wanita tua ini mau makan dan di dalam perut masih sedikit ada makanan, sebab Zora juga sudah mendengar kabar bahwa belakangan ini sama sekali tidak ada makanan yang masuk sehingga wajar saja bila tubuh Bu Susi hanya tinggal tulang berbalut kulit.
''Ibu.'' Zora berusaha mengalihkan pandangan Bu Susi dari atas karena mata wanita itu terus saja terbeliak.
''Kita pindah saja dari rumah ini dan kita berobat ke tempat yang bagus ya.'' bujuk Zora.
Sreeeeet.
Tangan yang semula tidak ada kekuatan dan lemah lunglai itu mendadak saja menjadi begitu kuat dan tegas, seolah Bu Susi memang sama sekali tidak ingin meninggalkan rumah ini sehingga ketika Zora mengajak dia pergi maka langsung timbul kemarahan di dalam diri wanita tua tersebut.
''Ya sudah kalau Ibu memang tidak mau maka aku yang akan pindah ke sini untuk merawat ibu.'' Zora akhirnya mengalah walau dalam hati dia masih bertekad untuk membujuk.
''Anu, Non. bubur yang tadi buat sudah basi jadi saya mau buat ulang dulu ya.'' Mbak Paini masuk ke dalam kamar untuk memberitahu.
''Biar aku saja yang buat, Mbak temani dulu Ibu.'' Zora segera bangkit.
Sebenarnya dia juga merasa lelah karena perjalanan yang cukup jauh dari kota, Namun karena keadaan Bu Susi yang seperti itu maka dia tidak memiliki pilihan lain dan memutuskan untuk memasak agar Bu Susi mau menelan makanan walau hanya sedikit saja.
Selamat malam besti, jumpa lagi di Karya Baru yang ini, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook.
Zora ,Devano ,kenapa lah ga cepat cepat pergi dari rumah yang jadi sarang iblis ?