Mantan Suami, Lihatlah Aku Sekarang!

Mantan Suami, Lihatlah Aku Sekarang!

Akhir dari Sebuah Kepasrahan

"Tanda tangani ini, Clarissa. Jangan membuang-buang waktuku yang berharga hanya untuk drama tidak bermutumu ini."

Suara bariton yang dingin, berat, dan tanpa emosi itu memecah keheningan kamar VIP rumah sakit yang berbau obat menyengat. Clarissa menatap pria jangkung yang berdiri tegak di sisi ranjangnya. Arsenio, suaminya selama tiga tahun terakhir. Pria yang selalu ia puja dan ia layani dengan seluruh jiwa raganya, kini menatapnya dengan pandangan seolah Clarissa adalah tumpukan sampah yang mengotori sepatu mewahnya.

Di atas meja nakas, tergeletak selembar kertas putih bersih dengan tulisan tebal yang menusuk mata: "SURAT PERJANJIAN CERAI."

"Arsen... aku sedang mengandung anakmu. Usianya baru dua bulan," bisik Clarissa dengan suara parau yang nyaris habis. Air mata menetes deras di pipinya yang pucat, tirus, dan cekung akibat gerogotan ganas sel kanker stadium akhir yang baru diketahuinya kemarin. Dia berharap, setidaknya ada sedikit rasa kemanusiaan di hati suaminya demi darah daging mereka sendiri.

Namun, Arsenio justru mendengus sinis. Sebuah senyum meremehkan yang sangat kejam terukir di bibirnya yang tampan. "Anakku? Jangan membual dan mengarang cerita menjijikkan hanya untuk menarik empatiku, Clarissa. Semua orang di keluarga ini tahu kalau kamu adalah wanita mandul. Dokumen medis hasil pemeriksaan tiga tahun lalu tidak bisa berbohong."

Pria itu maju satu langkah, menekan auranya yang mengintimidasi. "Lagipula, Keysha sudah kembali dari luar negeri. Tempat ini... status ini... semuanya harus dikembalikan pada pemilik aslinya. Kamu hanyalah wanita pengganti kelas rendah yang beruntung karena wasiat mendiang Kakek."

Keysha. Nama itu bagai belati berkarat yang dihunjamkan ke jantung Clarissa lalu diputar dengan paksa tanpa ampun. Keysha adalah cinta pertama Arsenio yang pergi tiga tahun lalu. Demi Keysha, Arsenio rela mengabaikan Clarissa yang setiap malam menunggunya pulang dengan masakan yang mendingin. Demi Keysha, Arsenio tidak pernah menganggap Clarissa sebagai istri, melainkan hanya pajangan rumah yang tidak berharga.

"Jadi, pernikahan tiga tahun ini... semua pengorbananku selama ini... sama sekali tidak ada artinya bagimu?" tanya Clarissa, suaranya bergetar hebat menahan perih yang teramat sangat di dadanya.

"Tidak pernah, bahkan tidak sedetik pun." Kata-kata Arsenio begitu lugas, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. "Kamu hanya alat untuk memuaskan ego Kakek agar hak waris perusahaan jatuh ke tanganku. Sekarang Kakek sudah tiada, sandiwara bodoh ini selesai."

Clarissa memejamkan mata. Rasa sakit di dadanya menjalar ke seluruh tubuh, jauh lebih menyakitkan daripada sel kanker yang sedang merusak organ dalamnya secara perlahan. Dia akhirnya menyadari satu hal yang sangat terlambat: sekeras apa pun batu dicuci dengan air mata, ia tidak akan pernah berubah menjadi permata. Sama seperti hati Arsenio, sedalam apa pun Clarissa mencintainya, pria itu tetaplah monster berdarah dingin yang tidak punya hati nurani.

Dengan tangan yang gemetar hebat menahan rasa sakit fisik dan batin, Clarissa meraih pena di atas meja. Dia tahu, memohon atau menangis darah sekalipun hanya akan membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan dan murah di mata pria itu.

Sret. Sret.

Tanda tangan selesai dibuat dengan tarikan garis yang tegas, mengakhiri statusnya sebagai istri sah. Clarissa melemparkan kertas itu tepat ke dada Arsenio dengan sisa tenaganya yang terakhir. "Pergilah. Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di hadapanku. Aku mengutuk hari di mana aku jatuh cinta pada pria sepertimu."

Arsenio mengambil kertas itu dengan santai, merapikan jas mahalnya tanpa ekspresi bersalah sedikit pun, lalu berbalik pergi. Langkah sepatunya yang tegas terdengar menjauh di sepanjang koridor, meninggalkan Clarissa dalam kesunyian malam yang mencekam. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada ucapan maaf, hanya ada dinginnya dinding kamar rumah sakit.

Malam itu, badai petir melanda kota dengan sangat dahsyat. Di dalam kamar yang sunyi, detak jantung Clarissa mulai melemah seiring dengan hilangnya keinginan hidupnya. Monitor medis di sampingnya berbunyi nyaring secara tidak teratur, menandakan kondisi tubuhnya yang kritis. Di ambang kematiannya yang tragis dan sepi, Clarissa memeluk perutnya yang masih rata, meratapi nasib malang bayinya yang harus ikut mati sebelum sempat melihat indahnya dunia.

'Jika Tuhan memberikan aku kesempatan kedua untuk hidup... aku bersumpah tidak akan pernah menjadi wanita lemah yang mengemis cinta. Aku akan membuat mereka membayar setiap tetes air mata ini dengan darah...'

Pip... pip... piiiiiiiiiiiiiip...

Garis di monitor menjadi lurus. Napas terakhir Clarissa berembus dalam kesendirian yang memilukan. Jiwanya terlepas dari tubuh yang telah hancur itu.

"Hei, bangun! Dasar wanita malas tidak berguna! Jam berapa ini baru bangun? Cepat bangun dan siapkan sarapan serta kopi hangat untuk Tuan Muda! Jangan mentang-mentang Anda memakai marga Secilia di belakang nama Anda, Anda bisa bertingkah sombong seperti nyonya besar di rumah ini!"

Sebuah teriakan melengking berfrekuensi tinggi disertai siraman air es yang mendadak mengenai wajahnya membuat Clarissa tersentak hebat.

"Uhuk! Uhuk!" Clarissa terbatuk-batuk, matanya terbuka lebar dengan rasa terkejut yang luar biasa. Dia langsung terduduk di atas kasur, napasnya memburu kencang bagai orang yang hampir tenggelam. Jantungnya berdegup sangat keras di balik dadanya, seolah baru saja lolos dari kejaran maut yang mengerikan.

Tunggu... mati? Bukankah dia sudah menghembuskan napas terakhirnya di ranjang rumah sakit yang dingin?

Clarissa memandang ke sekeliling dengan bingung. Dia tidak melihat langit-langit kamar rumah sakit yang putih kusam, tidak ada bau antiseptik yang menyengat hidung, dan tidak ada monitor medis yang berisik. Alih-alih, dia saat ini sedang berada di sebuah kamar tidur yang sangat luas, mewah, dengan dekorasi megah klasik Eropa bergaya gothic modern yang dipenuhi barang-barang antik berharga fantastis.

Di depannya, berdiri seorang wanita paruh baya berseragam pelayan rapi, sedang memegang ember kosong dengan wajah berkacak pinggang. Tatapan mata pelayan itu penuh dengan rasa muak, kebencian, dan pandangan merendahkan yang sangat terang-terangan.

Clarissa tertegun membisu. Dia menurunkan pandangannya ke bawah, menatap kedua tangannya sendiri. Kulit tangan itu begitu halus, putih bersih bagaikan porselen mahal, dan sama sekali tidak ada bekas tusukan jarum infus atau kulit keriput kehitaman akibat penyakit kanker yang menggerogotinya.

Dengan kepanikan yang memuncak, Clarissa menyibak selimut sutra tebalnya dan berlari kencang menuju cermin besar berbingkai emas di sudut kamar. Detak jantungnya mendadak berhenti seketika saat melihat pantulan bayangan di dalam cermin tersebut.

Itu bukan wajahnya yang pucat, kurus, botak, dan sekarat akibat kemoterapi.

Di dalam cermin, berdirilah seorang gadis muda yang sangat cantik jelita dengan proporsi tubuh yang sempurna. Kulitnya seputih salju tanpa celah, rambutnya berwarna perak berkilau yang bergelombang indah sepinggang, dan sepasang mata safir biru yang jernih namun memancarkan aura dingin yang menusuk kalbu.

Clarissa terbelalak, otaknya langsung berputar cepat menyinkronkan ingatan-ingatan asing yang mendadak masuk ke kepalanya. "Rambut perak... mata safir... nama Secilia... Tuan Muda..." desisnya lirih dengan suara yang terdengar sangat merdu namun dingin.

Seketika, sebuah kesadaran besar menghantam kesadarannya bagai guntur. Ini adalah sosok Elena von Secilia! Karakter antagonis figuran dalam novel roman populer berjudul 'Cinta Sang CEO' yang sempat ia baca di ponselnya saat terbaring sakit di rumah sakit dulu. Di dalam alur novel tersebut, Elena adalah istri sah yang diabaikan, ditindas oleh suaminya yang kejam, dikhianati oleh para pelayannya sendiri, dan ditakdirkan mati mengenaskan di jalanan setelah dicoret dari silsilah keluarga besarnya.

Clarissa mencubit pipi kirinya dengan sangat keras menggunakan kuku-kukunya yang tajam. Rasa sakit yang nyata langsung menjalar. Ini bukan mimpi, ini bukan halusinasi menjelang kematian.

Sebuah senyuman dingin, tajam, dan mematikan perlahan terukir di bibir indahnya yang merah merekah. Rasa sedih, sesak, dan hancur akibat pengkhianatan Arsenio di kehidupan lalunya mendadak menguap tanpa bekas, digantikan oleh kobaran api amarah dan ambisi balas dendam yang membara hebat.

"Aku tidak mati... jiwaku bertransmigrasi ke dalam tubuh Elena," bisik Clarissa, suaranya kini terdengar penuh penekanan yang berwibawa.

Dia memutar tubuhnya dengan anggun, menatap tajam pelayan paruh baya yang tadi menyiramnya dengan air es tanpa rasa bersalah. Pelayan itu masih berdiri dengan angkuh dan menatapnya remeh, sama sekali tidak tahu bahwa jiwa di dalam tubuh wanita di depannya telah berganti menjadi sosok macan betina yang siap merobek mangsanya hidup-hidup.

"Baiklah, Elena," ucap Clarissa dalam hati, menatap pantulan dirinya di cermin untuk terakhir kali sebelum melangkah maju. "Karena aku berada di tubuhmu sekarang, mari kita robek skenario tragis ini bersama-sama. Siapa pun yang pernah berani menginjak-injak kita... akan kuhancurkan mereka sampai ke akarnya tanpa sisa. Termasuk suamimu yang dingin itu, dan mantan suamiku yang kejam!"

Terpopuler

Comments

aku

aku

jd cla masuk novel???

2026-09-04

1

lihat semua
Episodes
1 Akhir dari Sebuah Kepasrahan
2 Tamparan untuk Pelayan Kurang Ajar
3 Tatapan Pertama Tuan Muda Secilia
4 Langkah Awal di Atas Meja
5 Pertemuan di Balik Tirai Malam
6 Negosiasi Rahasia di Atas Meja Kafe
7 Guncangan di Pesta Bisnis
8 Bayangan Masa Lalu yang Mengguncang
9 Jerat Halus di Balik Layar
10 Kepanikan Sang Mantan
11 Retakan Pertama pada Topeng Kepolosan
12 Jebakan di Pesta Teh Sosialita
13 Runtuhnya Benteng Pasir Aris Group
14 Hitung Mundur Menuju Kehancuran
15 Penyesalan yang Terlambat
16 Jerat Baru untuk Sang Tuan Muda
17 Hancurnya Takhta Semu
18 Gugatan di Balik Dinding Pengadilan
19 Ketukan Palu Kebebasan
20 Penguasa Baru yang Sebenarnya
21 Tamparan Undangan Emas
22 Mahkota Sang Permaisuri
23 Sumpah di Atas Takhta Obsidian
24 Tantangan dari Seberang Wilayah
25 Badai Rel dan Sumbu di Perbatasan
26 Sambutan Dingin di Stasiun Pusat
27 Rencana di Balik Tirai Imperial
28 Runtuhnya Hak Veto Sang Penguasa Tua
29 Perangkap di Balik Tirai Adat
30 Runtuhnya Mahkamah Kuno
31 Takhta Baru di Pusat Moneter
32 Aturan Posesif di Atas Menara Utama
33 Taring Emas Di Samudra Finansial
34 Istana di Balik Kabut Puncak Bukit
35 Batas Suci
36 Jaringan Hitam di Distrik Barat
37 Ranjau Likuiditas di Samudra Saham
38 Kelahiran Sang Pewaris
39 Mahkota Emas Sang Penerus Takhta
40 Riak Baru di Balik Gemerlap Kemenangan
41 Tangisan Pertama di Atas Menara Finansial
42 Dominasi Tanpa Batas
43 Kepulangan Sang Penguasa Domestik
44 Riak di Sektor Maritim
45 Persekutuan Hitam di Dermaga Barat
46 Jebakan Bawah Tanah
47 Konsolidasi Sang Ratu Global
48 Badai Baru dari Benua Timur
49 Jerat Besi di Selat Perbatasan
50 Badai Baru dari Belahan Barat
51 Eksekusi di Pagi Hari
52 Guncangan di Pasar Trasatlantik
53 Konsolidasi di Pasar London
54 Sumbu Ketegangan dari Jauh
55 Eksekusi di Fajar Asia
56 Gempa Finansial di Sektor Pasifik
57 Badai Komoditas dari Selatan
58 Jerat Likuiditas di Benua Selatan
59 Kendali Atas Energi Dunia
60 Runtuhnya Dominasi Trans-Alpen
61 Bayang Bayang di Balik Dinding Kastel
62 Jerat Hukum di Ruang Sidang Agung
63 Jejak Terakhir Di Tempat Pengasingan
64 Benih Masa Depan
65 Penguasa Altar Pendidikan
66 Kata Pertama Sang Penerus
67 Tamparan di Ruang Komite
68 Retakan di Puncak Takhta
69 Eksekusi Tikus Korporasi
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Akhir dari Sebuah Kepasrahan
2
Tamparan untuk Pelayan Kurang Ajar
3
Tatapan Pertama Tuan Muda Secilia
4
Langkah Awal di Atas Meja
5
Pertemuan di Balik Tirai Malam
6
Negosiasi Rahasia di Atas Meja Kafe
7
Guncangan di Pesta Bisnis
8
Bayangan Masa Lalu yang Mengguncang
9
Jerat Halus di Balik Layar
10
Kepanikan Sang Mantan
11
Retakan Pertama pada Topeng Kepolosan
12
Jebakan di Pesta Teh Sosialita
13
Runtuhnya Benteng Pasir Aris Group
14
Hitung Mundur Menuju Kehancuran
15
Penyesalan yang Terlambat
16
Jerat Baru untuk Sang Tuan Muda
17
Hancurnya Takhta Semu
18
Gugatan di Balik Dinding Pengadilan
19
Ketukan Palu Kebebasan
20
Penguasa Baru yang Sebenarnya
21
Tamparan Undangan Emas
22
Mahkota Sang Permaisuri
23
Sumpah di Atas Takhta Obsidian
24
Tantangan dari Seberang Wilayah
25
Badai Rel dan Sumbu di Perbatasan
26
Sambutan Dingin di Stasiun Pusat
27
Rencana di Balik Tirai Imperial
28
Runtuhnya Hak Veto Sang Penguasa Tua
29
Perangkap di Balik Tirai Adat
30
Runtuhnya Mahkamah Kuno
31
Takhta Baru di Pusat Moneter
32
Aturan Posesif di Atas Menara Utama
33
Taring Emas Di Samudra Finansial
34
Istana di Balik Kabut Puncak Bukit
35
Batas Suci
36
Jaringan Hitam di Distrik Barat
37
Ranjau Likuiditas di Samudra Saham
38
Kelahiran Sang Pewaris
39
Mahkota Emas Sang Penerus Takhta
40
Riak Baru di Balik Gemerlap Kemenangan
41
Tangisan Pertama di Atas Menara Finansial
42
Dominasi Tanpa Batas
43
Kepulangan Sang Penguasa Domestik
44
Riak di Sektor Maritim
45
Persekutuan Hitam di Dermaga Barat
46
Jebakan Bawah Tanah
47
Konsolidasi Sang Ratu Global
48
Badai Baru dari Benua Timur
49
Jerat Besi di Selat Perbatasan
50
Badai Baru dari Belahan Barat
51
Eksekusi di Pagi Hari
52
Guncangan di Pasar Trasatlantik
53
Konsolidasi di Pasar London
54
Sumbu Ketegangan dari Jauh
55
Eksekusi di Fajar Asia
56
Gempa Finansial di Sektor Pasifik
57
Badai Komoditas dari Selatan
58
Jerat Likuiditas di Benua Selatan
59
Kendali Atas Energi Dunia
60
Runtuhnya Dominasi Trans-Alpen
61
Bayang Bayang di Balik Dinding Kastel
62
Jerat Hukum di Ruang Sidang Agung
63
Jejak Terakhir Di Tempat Pengasingan
64
Benih Masa Depan
65
Penguasa Altar Pendidikan
66
Kata Pertama Sang Penerus
67
Tamparan di Ruang Komite
68
Retakan di Puncak Takhta
69
Eksekusi Tikus Korporasi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!