NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Dua Pria Yang Tidak Mau Mengalah

Rania menatap darah yang menetes dari tangan Daffa ke lantai putih rumahnya.

"Daffa, kau terluka. Apa yang terjadi?" tanyanya panik.

Daffa tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertuju kepada Brian yang berdiri di samping Rania.

Kemudian ia mengangkat tangannya yang masih berlumuran darah.

"Kau..." ucap Daffa dingin.

Rania mengerutkan kening.

Daffa melangkah mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Brian. "Lepaskan Rania."

Brian tetap diam. Ia bahkan tidak terlihat terganggu dengan perintah tersebut.

Daffa mengepalkan tangannya. Darah kembali merembes dari sela-sela jarinya.

Rania semakin panik.

"Berhenti, kumohon." Rania menatap Daffa, kemudian beralih kepada Brian. "Jangan membuat masalah."

Namun Daffa kembali melangkah. "Brian, lepaskan dia." Suaranya semakin tegas. "Rania adalah calon istriku."

Rania menghela napas panjang. "Daffa, kau salah paham." Ia segera menjelaskan. "Brian sekarang adalah pasienku."

Sudut bibir Brian terangkat tipis. "Dan Rania adalah mantan istriku."

Brian menatap Daffa dengan tenang. "Aku tidak akan membiarkan mantan istriku diambil orang lain."

Seketika ekspresi Daffa berubah.

Srett!

Daffa mencengkeram kerah kemeja Brian dan menariknya mendekat.

Darah dari tangannya langsung mengotori kemeja putih Brian.

Rania membelalak. "Daffa!"

Brian masih tenang, tatapannya justru turun menatap tangan Daffa yang mencengkeram kerahnya.

Ketika Daffa hampir melayangkan tinjunya.

"Cukup!" Pekikan Rania membuat keduanya terdiam.

Rania segera berdiri di antara mereka.

"Aku mohon, berhenti!" Napasnya terdengar berat. "Aku lelah. Aku ingin segera beristirahat malam ini. Aku masih punya banyak pekerjaan."

Tatapan Rania berpindah dari Daffa kepada Brian. "Aku mohon, jangan menambah masalah dalam hidupku."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Brian kemudian meraih tangan Daffa yang masih mencengkeram kerahnya. "Lepass."

Namun Daffa tidak langsung menurut. Tatapan kedua pria itu bertemu.

Dingin. Tajam.

Tidak ada satu pun yang berniat mengalah.

"Daffa." Suara Rania kembali terdengar. "Aku akan mengobati lukamu."

Rania menarik lengan Daffa. "Ayo."

Daffa akhirnya melepaskan Brian secara kasar, hingga tubuh Brian terdorong sedikit ke belakang, kaki kiri Brian kembali menahan berat tubuhnya.

"Ah..." Wajah Brian meringis.

Rania spontan menoleh. Namun ia hanya terdiam sesaat sebelum berbalik mengambil kotak obat dari laci meja.

Sementara itu, Daffa sudah duduk di sofa.

Tatapannya masih mengunci Brian yang kini bersandar di sisi pintu.

Brian tidak berniat pergi. Ia justru melipat kedua tangannya di depan dada. Sengaja menunjukkan bahwa dirinya masih berada di sana.

Daffa menangkap tatapan itu.

Begitu pula Brian yang mampu membaca ekspresi angkuh di wajah sahabat lamanya tersebut.

Namun Brian tidak peduli.

Beberapa saat kemudian, Rania mulai membersihkan luka di tangan Daffa.

"Jangan lukai dirimu lagi," ucap Rania lirih.

Daffa hanya diam.

Rania membalut luka di telapak tangannya setelah memberikan pertolongan pertama.

Setelah selesai Rania berdiri. "Tunggu di sini. Aku masih punya urusan lain."

Daffa langsung menatapnya. "Urusan dengan dia?" Tatapannya beralih kepada Brian.

Rania mengangguk. "Aku harus membantu Brian membersihkan diri."

"Apa?" Daffa langsung berdiri.

Rania terkejut ketika Daffa tiba-tiba menekan kedua bahunya.

"Kau tunggu di sini," ucap Daffa.

Daffa menunjuk Brian. "Aku yang akan mengurus pria itu."

Brian memutar matanya, namun ia merasa menang karena dirinya sudah menjadi pusat perhatian malam ini.

Dan Daffa jelas tidak tahan melihat sikap santai Brian tersebut. Ia melangkah mendekati Brian.

"Daffa." Suara Rania menghentikan langkahnya. "Aku mohon hati-hati saat membawanya."

Daffa menoleh.

"Cedera pergelangan kakinya bisa semakin parah jika terus menopang berat tubuhnya."

Rania menunjuk kaki kiri Brian. "Aku sudah melakukan pijat refleksi tadi. Jadi, aku tidak ingin hasilnya sia-sia."

Tatapan Rania menjadi serius. "Perlakukan Brian seperti pasien."

Brian langsung tersenyum tipis. "Kau dengar itu?" Ia menepuk bahu Daffa dua kali. "Pasien."

Daffa mengembuskan napas kasar dan membuang wajahnya.

Namun sebelum ia sempat membawa Brian pergi, suara Brian terdengar. "Menarik."

Daffa menoleh.

Brian menatapnya dengan sorot mata tajam. "Aku penasaran..." ucap Brian perlahan. "Kenapa sahabatku sendiri menghancurkan hidupku ketika aku sedang berada dalam kondisi paling rapuh saat itu?"

Daffa terdiam.

Brian melanjutkan. "Saat aku mengalami kecelakaan dan terbaring di rumah sakit..."

Tatapan Brian mengeras. "Kau membawa Rania pergi."

Daffa tidak menjawab.

Brian melangkah sedikit mendekat. "Aku juga tahu siapa yang mengurus surat perceraian antara aku dan Rania."

Ia menatap Daffa lekat-lekat. "Kau, bukan?"

Daffa akhirnya tersenyum tipis. "Ya." Tatapannya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Itu aku."

Brian mengangkat dagunya. "Kenapa?"

Daffa menyeringai tipis.

"Kau akan menanggung akibat dari ulahmu itu." Ucap Brian.

Daffa justru terkekeh kecil. "Aku menantikannya, Brian."

Keduanya kembali saling menatap. Aura permusuhan semakin terasa memenuhi ruangan.

Rania memejamkan mata sejenak. Kepalanya kembali terasa berat.

"Jika kalian masih beradu mulut, maka aku akan—"

"Baik." Daffa memotong ucapan Rania. "Aku akan memperlakukan pasienmu dengan baik."

Daffa menghampiri Brian. Tangannya kemudian merangkul bahu Brian. "Ayo."

Brian melirik lengan Daffa yang berada di bahunya. Namun kali ini ia tidak menolak. Keduanya berjalan perlahan menuju kamar di lantai satu.

Rania hanya bisa menatap punggung mereka. Dua pria keras kepala. Dua ego yang sama-sama tinggi.

Dan entah mengapa...

Rania merasa malam ini akan menjadi jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan.

Klik! Pintu ruangan tertutup.

Rania menghela napas panjang. Ia menatap pintu tersebut beberapa detik.

Namun sebelum sempat bergerak—

Klik! Pintu utama rumah kembali terbuka.

Rania menoleh.

Langkah seseorang terdengar memasuki rumah.

Seorang wanita berdiri di ambang pintu. Rambut panjangnya terurai. Tatapan cokelatnya langsung bertemu dengan mata Rania.

Rania membeku. "Mona..."

Wanita itu tersenyum tipis.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!