Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Larangan Tegas Dari Adrian
Dengan mengumpulkan sisa keberanian yang ada, aku menatap lurus ke arah punggungnya yang tegap itu dan bertanya dengan suara yang berusaha tetap mantap: “Kenapa… kenapa aku tidak boleh datang ke sini lagi?”
Tangan Adrian yang baru saja terangkat hendak memegang gagang pintu mobil itu langsung berhenti di udara. Perlahan dia berbalik sepenuhnya, menatapku tajam, lalu melangkah mendekat sampai jarak di antara kami terasa begitu sempit, membuat udara di sekitar rasanya makin dingin dan berat. Meski jantungku berdebar kencang, aku tetap memaksakan diri menatap matanya tanpa memalingkan wajah
Aku perlahan mendongak, menatap lurus ke atas menuju wajahnya yang tinggi. Dan saat itu Adrian pun menunduk, matanya bertemu tepat dengan mataku — tatapannya tetap dingin, tajam, tak sedikit pun melunak, seolah ingin menembus ke dalam hatiku yang sedang berdebar kencang itu.
Suaranya terdengar rendah, tajam, dan penuh ancaman yang menusuk tulang: “Karena ini perintahku. Sudah menjadi kewajibanmu untuk mendengar setiap kata yang aku ucapkan. Sepertinya kau mulai lupa siapa dirimu dan posisimu di sini. Kau itu istriku — segala sesuatu yang aku perintahkan harus kau laksanakan tanpa bertanya. Jangan pernah berani membantahku, atau kau akan menanggung sendiri akibatnya.”
Setelah mengucapkannya, dia membuang pandangan seolah tak peduli lagi, lalu berbalik dan masuk ke dalam mobil dengan tenang.
Tak lama supir pribadi melangkah mendekat dan membukakan pintu mobil dengan sopan. Dari dalam, tatapan Adrian menyambar sekilas ke arahku — dingin, tajam, seolah memberi kode diam-diam agar aku tidak berlama-lama dan segera masuk ke dalam tanpa menunda lagi.
Aku terpaku di tempat, seluruh tubuhku terasa kaku membeku. Mataku terbelalak lebar, mulutku terasa kering mendengar kata-kata itu. Sesaat aku menunduk, menelan ludah yang terasa pahit, lalu melirik sekali lagi ke arah gedung rumah sakit yang berdiri di belakangku — hati ini menjerit ingin tetap tinggal, tapi rasa takut dan tekanan itu menekanku sampai tak berdaya. Dengan langkah yang terasa berat dan penuh keterpaksaan, aku melangkah mendekati pintu mobil dan masuk ke dalamnya, jari-jariku tanpa sadar meremas kuat-kuat kain gaunku sampai terasa kusut dan basah oleh keringat dingin di telapak tanganku.
Begitu mobil berhenti di depan rumah, aku langsung membuka pintu dan melangkah keluar. Tanpa menunggu siapa pun, aku mempercepat langkahku — wajahku terasa kaku, bercampur sedih, kecewa, dan amarah yang dipendam rapat di dada.
Di dalam ruang tamu, Yamal sudah berdiri menunggu tepat di depan pintu, selembar berkas rapi tergenggam di tangannya. Dia menunduk sopan saat melihatku lewat: “Selamat malam, Nyonya Zara.”
Tapi aku tak mengubah sedikit pun ekspresiku, tak melirik sekalipun ke arahnya. Aku hanya terus melaju, melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata pun, lalu menaiki tangga dengan langkah cepat. Begitu sampai di depan kamarku, aku mendorong pintu dan menutupnya kembali agak keras, mengeluarkan sedikit beban yang tertahan di hatiku.
Yamal berdiri terpaku sejenak, terlihat bingung — ini pertama kalinya dia melihat Zara bersikap begitu dingin dan tergesa. Tak lama kemudian Adrian masuk melangkah tenang, dan Yamal segera menyerahkan berkas itu ke tangannya: “Ini, Tuan, dokumen yang Tuan minta.” Setelah itu dia memberanikan diri bertanya pelan, “Tuan… ada apa dengan Nyonya Zara hari ini?”
Adrian hanya melirik sekilas ke arah tangga tempatku menghilang, suaranya tetap datar tanpa perasaan: “Biarkan saja dia. Pergilah urus pekerjaanmu.”
Yamal mengangguk mengerti, meski rasa penasaran masih tersisa, lalu menjawab sopan: “Baik, Tuan,” sebelum berbalik dan pergi meninggalkannya sendirian.
Begitu pintu tertutup rapat, aku langsung melemparkan tubuhku ke atas kasur dengan kasar, membenamkan wajah dalam-dalam ke tumpukan bantal yang lembut agar suaraku tak terdengar keluar. Kedua lenganku terentang lebar memeluk guling, jari-jariku mencengkeram kain sprei kuat-kuat seolah ingin melampiaskan semua rasa sesak di dada.
Air matanya mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi, membasahi kain bantal hingga terasa basah di pipi. Bahuku terguncang hebat mengikuti isakan tangis yang terpendam lama — campuran sedih, kecewa, marah, dan rasa tak berdaya yang menusuk sampai ke ulu hati. Aku membenamkan kepala makin dalam, membiarkan semua perasaan yang tertahan sejak tadi meluap begitu saja, tak peduli rambutku yang berantakan terurai di atas bantal, hanya ingin melupakan sejenak semua tatapan dingin dan kata-kata tajam yang baru saja kudengar.
Pagi harinya aku bergerak mengikuti rutinitas seperti biasa, tapi wajahku terasa kaku, murung dan mataku masih terlihat sembab sisa tangis semalam. Tanpa sadar tanganku bergerak memasukkan makanan ke dalam tiga kotak bekal — satu untuk Ibu, satu untuk Adikku, dan satu lagi rapi-ku susun khusus untuk Kak Fara. Baru saat meletakkannya di atas meja, ingatan itu menusuk tajam ke kepalaku: dia sudah melarangku menemui Fara. Jari-jariku berhenti melayang sejenak, hanya bisa membiarkan kotak itu tergeletak di situ, lalu melangkah keluar dengan hati makin terasa berat.
Belum sampai ke depan pintu, suara berat memecah keheningan — Adrian baru turun dari tangga, dan dia langsung memanggil supir dengan nada yang sengaja ditinggikan. Langkahku terhenti mendadak, tapi aku memalingkan wajah, tak sanggup menatapnya karena rasa kesal dan kecewa masih membara di dadaku.
“Hei, kau ke sini!”
Supir segera melangkah cepat mendekat, menunduk sopan: “Ada perintah apa, Tuan?”
Adrian bicara tegas, suaranya jelas menggema agar tak ada satu pun kata yang terlewat, sambil matanya menatap tajam ke arahku: “Dengar baik-baik. Kau harus mengawasi setiap langkah Nyonya Zara, ke mana pun dia pergi, dan langsung laporkan semuanya kepadaku. Mengerti?”
Mendengar kata-kata itu, darahku serasa berdesir panas. Tanpa sadar tanganku mengepal kuat dan meremas ujung bajuku sampai kusut, rahangku mengeras menahan emosi yang ingin meledak. Tanpa menjawab sepatah kata pun, aku melangkah cepat menuju mobil dan masuk ke dalamnya dengan gerakan yang terasa kasar, seolah ingin menjauh sejauh mungkin dari tatapan mengikat itu.
Sesampainya di rumah sakit, aku menyempatkan diri meletakkan kotak bekal yang kubawa rapi di atas meja samping tempat tidur. Ibu dan adikku kebetulan sedang tidak ada di ruangan itu, hanya ada aku dan Ayah yang masih terbaring tenang dalam keadaan koma.
Aku duduk pelan di sisi ranjang, menatap wajah Ayah yang tampak tenang, lalu pandanganku mulai melayang melamun — pikiran berputar lagi pada semua kejadian kemarin, larangan tajam Adrian, dan rasa khawatir yang tak kunjung hilang memikirkan Fara. Waktu terasa berlalu begitu saja tanpa kusadari, sampai aku tersentak sendiri saat menyadari jam di dinding: kalau berlama-lama lagi, aku pasti akan terlambat masuk sekolah.
Segera aku mengusap pelan sudut mataku, menghela napas pendek, lalu berdiri perlahan dan melangkah cepat keluar ruangan, bergegas menuju sekolah dengan hati yang masih terasa berat.