NovelToon NovelToon
Dekat Namun Jauh

Dekat Namun Jauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

​"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."

​Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.

​Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI ANTARA BAYANG-BAYANG DAN BENTENG YANG RETAK

Pagi di Istana Mahendra dibuka oleh keheningan yang tak biasa. Meskipun matahari mulai merayap naik menembus tirai-tirai kaca setinggi empat meter di ruang makan utama, suasana di meja makan berkapasitas dua belas orang itu terasa begitu kaku dan menekan. Aroma pancake hangat, telur orak-arik, dan sangrai biji kopi Arabika yang menyeruak di udara tak sanggup mencairkan dinginnya atmosfer di antara para penghuninya.

Kael Mahendra duduk di kepala meja, dengan koran bisnis digital terbuka di depannya. Di sebelah kanannya, Clara menyesap teh krisan dengan gerakan amat perlahan, matanya sesekali melirik anak-anaknya yang duduk berjejer.

Ethan sibuk memeriksa dokumen di tabletnya sembari mengunyah sarapannya secara efisien. Leo dan Nora makan dalam diam, sebuah pemandangan langka mengingat biasanya Leo selalu menjadi pembuat kebisingan pagi hari. Sementara itu, Raka duduk dua kursi terpisah dari Zavier, sama sekali tidak menoleh atau sekadar menganggap keberadaan adik bungsunya itu ada.

Zavier mengaduk serealnya tanpa minat. Ia bisa merasakan tatapan penuh arti dari sang Mami, namun yang paling mengganggunya adalah dinding tak kasat mata yang kini berdiri tebal antara dirinya dan Raka.

"Zavier," suara Kael memecah denting halus sendok dan garpu.

Zavier menghentikan gerakannya, mendongak menatap sang Papi. "Ya, Papi?"

Kael meletakkan tablet korannya ke atas meja, menatap si bungsu dengan binar kebanggaan yang tak pernah ditutup-tutupinya. "Papi sudah mengatur jadwal dengan Sekretaris utama Mahendra Group. Sabtu ini kamu ikut Papi ke kantor pusat. Ada beberapa project briefing untuk direksi muda yang ingin Papi perlihatkan padamu."

Tangan Raka yang sedang memegang pisau roti sempat berhenti seketika. Namun, pria itu dengan cepat menguasai diri, melanjutkan olesan mentaganya tanpa bersuara sepatah kata pun.

Clara meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi klak kecil yang tegas. "Papi... Zavier masih kelas sebelas. Sabtu ini dia ada jadwal kelompok belajar dan kegiatan sekolah. Bisakah acara kantor disimpan dulu?"

"Ini bukan sekadar acara kantor, Clara," balas Kael dingin namun tenang. "Ini tentang pembentukan intuisi sejak dini. Ethan dan Raka dulu juga Papi kenalkan pada seluk-beluk bisnis sejak usia muda. Zavier punya bakat alami, dan Papi tidak ingin bakat itu terbuang sia-sia hanya untuk urusan sekolah yang sepele."

"Urusan sekolah sepele?" bisik Zavier pelan, cukup keras untuk terdengar di meja makan yang sunyi itu.

Kael menyipitkan matanya. "Apa kamu katakan, Zavier?"

Zavier menegakkan posisi duduknya, menatap lurus pada pria paruh baya yang paling disegani di klan Mahendra itu. Di sudut matanya, ia melihat Raka tersenyum miring—sebuah senyuman sinis yang memotong ulu hatinya.

"Zavier belum ingin fokus ke urusan direksi, Papi," ujar Zavier dengan nada berat dan tertahan, mencoba menjaga intonasinya agar tidak terkesan membangkang. "Abang Ethan dan Bang Raka sudah mengurus Mahendra Group dengan sangat baik. Tempat Zavier belum di sana."

Atmosfer meja makan mendadak membeku. Leo menahan napasnya, sementara Nora meletakkan garpunya pelan-pelan. Jarang sekali ada anak Mahendra yang berani menolak secara langsung penawaran atau perintah Kael di depan meja makan.

Kael menatap Zavier intens selama beberapa detik. Bukannya marah, Kael justru terkekeh tipis, sebuah kekehan yang terasa mengintimidasi. "Rendah hati adalah sifat yang bagus, Zavier. Tapi menolak potensi diri sendiri adalah bentuk ketakutan. Papi tahu apa yang terbaik untuk masa depanmu dan untuk keluarga ini."

Kael berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu menepuk bahu Zavier pelan sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan. "Sabtu jam sembilan pagi. Jangan terlambat."

Setelah langkah kaki Kael menghilang menuju garasi, Raka menyapu mulutnya dengan serbet kain, lalu berdiri dari kursinya. Ia menatap Zavier dengan pandangan yang sulit diartikan, perpaduan antara kasihan dan sinisme yang tajam.

"Selamat bersenang-senang di kantor pusat, 'Calon Direktur Muda'," bisik Raka saat melintas di belakang kursi Zavier, cukup pelan hingga hanya Zavier yang mendengarnya.

👈👉

Satu jam kemudian, di parkiran SMA Garuda Bangsa.

Zavier melangkah keluar dari mobil jemputan dengan tas yang disampirkan di satu bahu. Pikirannya benar-benar kacau. Tekanan di rumah, tatapan dingin dari Raka, dan ekspektasi Papi Kael terasa bagaikan rantai tebal yang mengikat lehernya rapat-rapat.

Ia berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai, membiarkan kebisingan murid-murid lain membentur kesadarannya tanpa benar-benar ia pedulikan. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok yang berdiri di dekat loker lorong utama.

Nayla.

Gadis itu sedang merapikan beberapa buku di dalam lokernya, mengenakan seragam yang rapi tanpa cela. Rambut cokelat keemasannya terikat kain pita halus, memancarkan keanggunan yang selalu berhasil menyita seluruh perhatian Zavier dari dunia sekitar.

Seolah memiliki keterikatan batin, Nayla memutar tubuhnya dan mata mereka berdua bertabrakan di udara. Nayla menyadari ada raut lelah dan beban yang amat berat di wajah Zavier pagi ini dengan raut yang jauh lebih gelap dibanding hari-hari biasanya.

Nayla menutup pintu lokernya pelan, melangkah mendekat menuju lorong yang agak sepi di dekat tangga darurat. Zavier membuntutinya tanpa ragu, seolah kaki mereka sudah paham ke mana harus mencari perlindungan.

Begitu mereka berdiri di balik bayang-bayang tangga darurat yang terlindung dari lalu lalang murid lain, Nayla menatap Zavier penuh kekhawatiran.

"Zav... kamu tidak apa-apa?" tanya Nayla lembut, suaranya bagaikan oase di tengah gurun pikiran Zavier yang gersang. "Wajahmu kelihatan lelah sekali. Ada masalah di rumah?"

Zavier bersandar pada dinding semen yang dingin, menatap gadis di hadapannya. Ia meraup wajahnya dengan satu tangan, mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban.

"Rumah makin terasa seperti panggung eksekusi, Nay," bisik Zavier jujur. Di depan Nayla, ia tak pernah sanggup memakai topeng pangeran Mahendra yang sempurna. "Papi makin menekan. Dan Bang Raka... dia mulai membenciku."

Nayla membelalakkan matanya pelan, menyemaikan rasa simpati yang mendalam. Ia paham betul bagaimana rasanya terjebak di antara ekspektasi orang tua dan hubungan saudara yang merenggang. Di rumah keluarga Alveric pun, persaingan dingin antara kakak-kakaknya kerap kali memakan korban rasa cemas.

"Bang Raka membencimu?" bisik Nayla prihatin.

"Papi memujiku di depan Ayahmu waktu rapat kemarin," kata Zavier dengan nada menyindir dirinya sendiri. "Papi bilang aku punya intuisi yang lebih tajam dibanding abang-abangku. Padahal Bang Raka yang mengorbankan seluruh waktunya untuk perusahaan. Sekarang... Bang Raka menganggapku saingan yang licik."

Nayla melangkah satu tapak lebih dekat. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya, menyentuh pergelangan tangan Zavier yang dingin. Sentuhan mungil itu serta-merta menyalurkan rasa hangat yang menyentuh dasar hati Zavier.

"Itu bukan salahmu, Zavier," tegas Nayla pelan namun penuh keyakinan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata kelam Zavier. "Kamu tidak pernah meminta pujian itu, kan? Jangan biarkan rasa bersalah memakan dirimu sendiri."

"Tapi Papi menuntutku ikut ke kantor pusat Sabtu ini, Nay," sahut Zavier, menatap jemari Nayla yang melingkari pergelangan tangannya. "Makin aku melangkah masuk ke dunia mereka, makin jauh aku terseret dari apa yang aku mau. Dan makin tebal tembok yang memisahkan kita."

Nayla meremas pergelangan tangan Zavier sedikit lebih erat, memberikan dorongan kekuatan yang sangat dibutuhkan pria itu.

"Kalau Papi Kael ingin kamu ikut Sabtu ini, datanglah," ujar Nayla lembut. "Tunjukkan pada mereka siapa Zavier yang sebenarnya, bukan Zavier bayangan Papi Kael. Dan soal tembok di antara kita..." Nayla tersenyum tipis, sebuah senyuman indah yang membuat dada Zavier berdesir hebat. "...bukankah kamu sendiri yang berjanji di ruang seni kemarin? Kita tidak akan melepas genggaman ini, apa pun yang terjadi."

Zavier menatap gadis di hadapannya dengan tatapan takjub. Di tengah badai tekanan keluarga dan keretakan internal klan Mahendra, keberadaan Nayla adalah satu-satunya alasan yang membuat Zavier tetap merasa memiliki pijakan yang utuh.

Zavier membalikkan telapak tangannya, balik menggenggam jemari mungil Nayla di balik bayang-bayang tangga darurat itu. "Terima kasih, Nayla. Hanya kamu yang bisa membuat kepalaku tetap dingin."

Di luar sana, bel tanda masuk jam pelajaran pertama berbunyi nyaring. Namun di dalam keremangan sudut sekolah itu, dua tangan dari klan yang berlawanan tetap bertautan erat dengan sebuah rahasia kecil yang menjadi benteng pertahanan mereka melawan dunia luar yang kian rumit.

Bel sekolah baru saja mengakhiri jam pelajaran terakhir, namun pikiran Nayla sama sekali tak tertuju pada tumpukan buku di atas mejanya. Rasa hangat dari genggaman tangan Zavier di balik tangga darurat pagi tadi masih membekas jelas di jemarinya, memberikan kekuatan kecil yang amat ia butuhkan untuk menghadapi kenyataan sore ini. Saat ia melangkah keluar dari gerbang sekolah, bukan Pak Mamat dan sedan hitam biasa yang menyambutnya, melainkan sebuah limusin van mewah milik keluarga besar Alveric.

Di dalam kabin penumpang berinterior kulit krim dan aksen kayu walnut yang elegan, atmosfer terasa padat dan formal. Alexander Lauren Alveric duduk di kursi utama, mengamati beberapa grafik saham di layar lipatnya. Di sampingnya, Eleanor Alveric sang Bunda yang tampak anggun dengan gaun pastel, sementara dua kakak laki-laki Nayla, Adrian Kenzie Alveric dan Julian Tristan Alveric, duduk berhadapan.

"Duduklah, Nayla," suara Alexander mengalun tenang namun memancarkan wibawa yang tak dapat dibantah begitu pintu mobil otomatis tertutup rapat. "Sore ini kita ada jamuan privat di kediaman utama klan Alveric bersama kakek dan para tetua."

Nayla merapikan rok seragamnya, lalu duduk di sebelah Julian. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Jamuan klan besar Alveric bukanlah sekadar acara makan malam keluarga biasa, melainkan arena unjuk pamer pencapaian, reputasi, dan loyalitas terhadap garis keturunan.

"Bagaimana evaluasi ujian semestermu, Nayla?" tanya Adrian dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet kerja. Sebagai putra sulung yang diproyeksikan menjadi penerus takhta Alveric, Adrian selalu menerapkan standar kesempurnaan yang sama ketatnya dengan sang Ayah pada adik-adiknya. "Aku sudah meninjau nilai analisis mediamu. Ada penurunan dua poin di bab hukum bisnis."

Nayla membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. "Nayla sudah memperbaiki catatan dan esainya, Mas Adrian. Minggu ini nilainya akan disesuaikan lagi oleh guru pengajar."

"Pastikan tidak ada penurunan lagi," sela Alexander tegas, mematikan layar gawai pribadinya. "Keluarga Alveric dibangun di atas fondasi ketelitian mutlak. Satu kesalahan kecil di tingkat dasar bisa menurunkan kepercayaan para investor pada nama besar kita, terutama saat konsorsium dengan Mahendra Group mulai berjalan penuh."

Julian, yang duduk di samping Nayla, menyandarkan punggungnya santai sembari menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme halus. "Jangan terlalu keras pada Nayla, Ayah, Mas Adrian. Dia baru kelas sebelas, belum waktunya disiksa dengan simulasi audit korporat seperti yang Mas Adrian lakukan padaku dulu."

"Ini bukan soal menyiksa, Julian," pangkas Adrian datar, matanya menatap sang adik kedua dengan tajam. "Ini soal kesiapan. Kalau kamu dulu lebih disiplin sejak SMA, kamu tidak perlu kewalahan memegang ekspansi divisi hukum Alveric di Eropa sekarang."

Eleanor mengusap lengan suaminya lembut, mencoba meredakan ketegangan yang biasa muncul di antara anak-anak laki-lakinya. "Sudahlah, Alexander. Ini hari khusus berkumpul dengan klan besar. Jangan membawa atmosfer ruang rapat ke kediaman utama."

"Justru di kediaman utama standar itu dipertaruhkan, Eleanor," balas Alexander tenang, meski nadanya sedikit melunak pada sang istri. Ia lalu menatap Nayla kembali. "Nayla, Kakekmu akan hadir sore ini. Beliau ingin mendengar langsung bagaimana perkembangan interaksimu dengan Zavier Mahendra di sekolah."

Nayla menahan napasnya seketika. Nama Zavier yang disebut di tengah-tengah keluarga besarnya selalu menghadirkan sensasi menyengat yang campur aduk, antara rasa cemas, takut rahasia mereka terbongkar, dan dorongan untuk melindungi pria yang dicintainya itu.

"Zavier... dia siswa yang sangat berdisiplin, Ayah," jawab Nayla sehati-hati mungkin, mengatur intonasi suaranya agar tetap stabil. "Di kelas, kami saling menjaga profesionalitas sebagai sesama perwakilan keluarga."

"Bagus," timpal Adrian singkat. "Kael Mahendra sangat membanggakan Zavier akhir-akhir ini. Tapi ingat, Nayla... dekat bukan berarti sejajar. Alveric tidak pernah berada di bawah naungan siapa pun, termasuk Mahendra. Jangan biarkan perasaan personal atau simpati kekanak-kanakan memengaruhi penilaianmu terhadap arah aliansi ini."

Julian melirik adiknya dari sudut mata, menangkap remasan jemari Nayla di atas pangkuannya yang bergetar tipis. Julian tahu betul betapa beratnya memikul beban nama Alveric. Berbeda dengan Adrian yang secara sukarela meleburkan seluruh hidupnya menjadi cetakan sempurna sang Ayah, Julian kerap merasa kasihan pada Nayla yang harus tumbuh di dalam kurungan aturan yang kaku.

"Mas Adrian bicara seolah-olah Nayla ini pion catur," gumam Julian pelan, mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil yang melewati gerbang besi raksasa kediaman utama Alveric.

"Kita semua adalah bagian dari papan catur ini, Julian," sahut Alexander dingin sebelum mobil berhenti sempurna di depan tangga pualam yang megah. "Dan tugas seorang Alveric adalah memastikan kita selalu menjadi pihak yang memegang kendali permainan."

Nayla melangkah keluar dari mobil, menyusuri pelataran kediaman utama yang megah dan dipenuhi oleh para kerabat klan Alveric yang berbusana formal. Di balik riuk pikuk pujian, tawa sopan, dan anggukan kepala para kerabat senior yang menyambut mereka, Nayla merasa makin terasing. Kata-kata Adrian dan Ayahnya terus bergaung di kepalanya, sebuah peringatan keras bahwa di mata klan Alveric, tidak ada tempat untuk perasaan murni, dan setiap jengkal langkah yang ia ambil bersama Zavier akan selalu diawasi oleh mata-mata yang tak pernah tidur.

1
MULIANA 💦
lama-lama bosan juga nora. gak ada yang bahas kejadian lucu yang mungkin salah satu dari kalian alami
MULIANA 💦
saking dinginnya. bahkan mungkin dia gak ada ekspresi ya 🤭
Three Flowers
padahal lagi seru-serunya membahas tentang nasib mereka di keluarga masing-masing, eh keputus lagi komunikasi nya
Three Flowers
Zavier juga mencintai dalam diam kah?
Three Flowers
Nayla apakah jatuh cinta sama Zavier?
Three Flowers
berarti duduknya bersebelahan ya?
Mingyu gf😘
penasaran banget ada apa dengan nayla dan zaviet
Mingyu gf😘
apa mereka punya kenangan masa lalu yang membuat mereka pura pura tidak saling mengenal
Mingyu gf😘
waoww banyak juga anaknya
Mingyu gf😘
wahh krenn, dia bisa di katakan ahli It kan
Mingyu gf😘
waoww, apakah kehidupan orang kaya memang se menyeramkan itu
Sarifah_Aini97: entahlah kak
total 1 replies
Xlyzy
didikan nya berarti tidak ada yang gagal ya semua anak nyaemiliki karakteristik nya masingasing
Xlyzy
mirip banget Ethan sama bapak e ya sama sama tegas dan dingin
Filan
anggota keluarganya banyak-banyak ya...
Sarifah_Aini97: banyak anaknya
total 1 replies
Filan
ada perasaan apa nih.
Three Flowers
apakah mereka saling tertarik? tapi kelihatannya kedua keluarga bersaing ketat, inikah yang membuat mereka terasa jauh?
Three Flowers: ga sabar pingin lihat romansa mereka
total 2 replies
Three Flowers
karena peran seorang ibu adalah pemberi kesejukan bagi keluarganya
Miu.Nuha
mami tersenyum penuh arti itu tandany mami tahu akan perasaanmu tuh /Chuckle/ ugh! kek bunda maya ke Naru, hihi...
Sarifah_Aini97: Iya yah kak, kok bisa samaaan ya
total 1 replies
Lasa Hardianti
Jadi penasaran sebenarnya hubungan Zavier sma Nayla tuh apasih, apa mereka saling memiliki perasaan yah?😌
Sarifah_Aini97: Halo Kak Lasa! Rasa penasarannya dapet banget nih! 😌 Di antara rasa peduli, persahabatan, dan tekanan klan, perasaan mereka memang terikat sangat dalam. Yuk lanjut ikuti bab-bab berikutnya buat lihat perkembangan hubungan mereka! 🤗
total 1 replies
Miu.Nuha
aku suka yg dingin2 baik tapi
kekny zavier ini tipe aku 🤭
Sarifah_Aini97: bisalah gantiin Nayla 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!