Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Memutus Jalur Keuangannya
"Semua bukti mengarah ke pria di dalam sana, Bu. Pemilik nama di selimut beludru itu."
Seroja meremas jemari Siti yang dingin. Di hadapan mereka, pintu ukir rumah joglo peninggalan Kakek Hadi berderit terbuka.
Informasi dari kuli pasar merangkai teka-teki itu. Seroja sengaja mengatur pertemuan ini di pendopo mendiang kakeknya saat sore. Ia menyuap penjaga rumah agar pintu terbuka selagi Hardiman sibuk di kantor dinas.
Siti melangkah ragu melewati ambang pintu kayu jati. Matanya menyapu ruang tamu. Aroma kayu tua dan kapur barus menguar di udara. Di sudut pendopo, seorang pria paruh baya bersafari abu-abu berdiri kaku. Tongkat kayunya dicengkeram erat.
Mata pria itu memerah menatap wajah Siti. Garis rahang dan sorot mata perempuan berkebaya lurik itu menyentak ingatannya pada sosok sang istri puluhan tahun silam.
"Dua puluh empat tahun saya mencari bayi perempuan yang hilang saat agresi militer." Suara Pak Brotojoyo bergetar. Ia melangkah maju pelan-pelan. "Saya kehilangan istri di pengungsian. Dan saya kehilangan kamu."
Siti mundur selangkah. Ia menoleh menatap Seroja. Seroja membalasnya dengan anggukan pelan.
"Ibu bawa barang yang Seroja minta?" bisik Seroja.
Siti mengangguk. Tangannya gemetar merogoh lipatan stagen di perut, mengeluarkan kalung perak bermotif melati yang sudah kusam.
"Almarhum Kakek Hadi menemukan kalung ini terselip di selimut saat menyelamatkan saya di Hutan Jati," ucap Siti. Ia menyodorkan kalung itu dengan tangan gemetar.
Tongkat Pak Brotojoyo jatuh menghantam lantai ubin. Ia melangkah cepat, meraih kalung itu. Jari-jarinya mengusap kelopak perak tersebut.
"Ini perak Kotagede," isak Pak Brotojoyo tertahan. Air mata menetes di pipinya yang berkerut. "Saya memesan kalung ini khusus untuk ibumu. Di baliknya ada inisial namamu."
Pak Brotojoyo membalik liontin itu. Huruf 'S' terukir rapi di sana.
Siti terkesiap. Pertahanannya runtuh. Pak Brotojoyo merengkuh putrinya, memeluknya erat. Isak tangis Siti pecah di dada pria itu, menumpahkan luka yang ia pendam sendirian.
"Maafkan Bapak," bisik Pak Brotojoyo di sela tangis. "Bapak biarkan kamu diusir laki-laki pengecut itu. Bapak biarkan tanganmu mencangkul tanah kapur. Mulai detik ini, tidak ada yang berani merendahkanmu lagi."
Seroja berdiri diam di sudut ruangan. Matanya berkaca-kaca menatap pelukan itu. Dada Kainara di dalam jiwanya ikut menghangat. Perjuangannya jungkir balik mengolah tanah kapur akhirnya membawa ibunya kembali pada akar keluarganya.
Tangis mereka mereda. Pak Brotojoyo menyeka air mata Siti dengan sapu tangan kain, lalu membimbing putrinya duduk di kursi jati. Ia menoleh menatap Seroja. Sorot matanya berubah tajam.
"Kamu Seroja," panggil Pak Brotojoyo, suaranya kembali berat. "Pak Subroto bercerita banyak soal akalmu mengelola kebun dan menghadapi preman. Kamu menjaga ibumu dengan sangat baik."
Seroja menundukkan kepala hormat. "Itu kewajiban saya, Kek."
Sudut bibir Pak Brotojoyo terangkat mendengarnya. Namun sedetik kemudian, ia menarik napas panjang. Rahangnya mengeras.
"Pabrik Bapak besar di Jakarta," ucap Pak Brotojoyo menatap Siti dan Seroja bergantian. "Uang Bapak cukup untuk menyewa puluhan pengacara, atau mengirim orang menghancurkan rumah dinas Hardiman malam ini juga. Bapak bisa meratakan kariernya."
Seroja menatap pria itu lekat.
"Tapi Kakek tak bisa bertindak gegabah," potong Seroja tenang. "Istri baru Hardiman itu putri menteri. Menyerang dia pakai kekerasan cuma memicu benturan dengan Jakarta. Kakek memegang nasib ribuan buruh di pabrik. Kakek tidak boleh mengambil langkah yang mengorbankan mereka."
Pak Brotojoyo tertegun.
"Kamu benar, Nduk," Pak Brotojoyo bersandar ke kursi. "Jika Bapak menyerang tanpa dasar kuat, menteri itu akan menekan pabrik pakai aparat. Kita butuh bukti pidana sah yang tidak bisa dibantah."
Siti menyeka sisa air matanya. "Hardiman pintar menutupi jejak, Pak. Waktu merebut surat tanah Kakek Hadi, dia memakai saksi palsu pamong desa."
"Surat tanah palsu belum kuat menyeret pejabat kementerian," ucap Seroja, melipat lengan di dada. "Kita butuh kasus yang lebih besar. Korupsi, atau pembunuhan."
Ruang tamu joglo itu mendadak hening. Pak Brotojoyo menegakkan punggung.
"Maksudmu kematian Pak Hadi?" tanyanya tajam.
Seroja mengangguk lambat. "Truk yang menabrak dokar Kakek Hadi bukan kecelakaan. Remnya disabotase. Saya menemukan buku catatan Kakek Hadi di hutan. Beliau sedang melacak proyek pupuk fiktif Hardiman. Hardiman menyingkirkannya sebelum bukti itu sampai ke tangan bupati."
Rahang Pak Brotojoyo mengeras. Tangannya mencengkeram erat sandaran kursi.
"Buku catatan itu ada di tanganmu?" tuntut Pak Brotojoyo.
"Bukunya aman," jawab Seroja. "Tapi sekadar angka tidak cukup. Sopir truk dinas itu melarikan diri dari desa minggu lalu. Supri yang membantunya bersembunyi. Kalau Kakek mengerahkan orang untuk melacak keberadaan sopir itu, Hardiman takkan bisa mengelak."
Pak Brotojoyo mengangguk pelan. "Bapak akan suruh orang melacaknya ke kota pelarian. Kalian berdua pindah ke pesanggrahan Bapak malam ini. Gubuk kapur itu sudah tidak aman."
Siti menggeleng pelan. "Kami tetap di sana, Pak. Kalau mendadak pindah, Hardiman pasti curiga dan memusnahkan sisa bukti di kantornya. Biarkan kami di gubuk sementara waktu. Kebun Seroja bisa jadi tameng."
Seroja mengangguk membenarkan keputusan ibunya.
"Beri Seroja waktu, Kek," tambah gadis itu. "Seroja akan memutus jalur keuangannya lewat sayuran di pasar. Saat keran uangnya mengering, Hardiman pasti kelabakan dan berbuat ceroboh. Ketika dia nekat menyerang kami, di saat itulah Kakek menjeratnya dari belakang."