NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Bab 6: Jejak di Bawah Hujan Petang

Udara di dalam ruang penyimpanan yang sempit itu perlahan terasa kembali normal, meskipun detak jantung Keisha masih belum sepenuhnya tenang. Sentuhan ibu jari Rangga di pipinya tadi masih menyisakan sensasi hangat yang membekas, membuat gadis itu buru-buru memundurkan langkahnya demi menjaga jarak aman. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menundukkan pandangan ke lantai untuk menghindari tatapan intens dari manik mata kelam sang ketua geng.

"Terima kasih, Kak," cicit Keisha pelan, nyaris tak terdengar di antara deru napas mereka berdua. "Kalau... kalau bukan karena Kakak, tadi aku pasti sudah tertangkap oleh mereka."

Rangga menurunkan tangannya yang tadi sempat terulur. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, menatap lurus ke arah gadis di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sisa-sisa ketegangan yang masih mengalir di rahang tegasnya, namun sorot matanya melembut ketika melihat betapa rapuhnya Keisha saat ini.

"Gua udah bilang dari awal, Keisha," balas Rangga dengan nada suara rendah yang bariton. "Begitu lo lihat apa yang ada di parkiran kemarin lusa, nama lo otomatis masuk dalam daftar target Viper. Mereka tahu kalau lo adalah kelemahan potensial buat gua. Jadi, mulai sekarang, jangan pernah berjalan sendirian di area sekolah ini, terutama di tempat-tempat sepi kayak koridor sayap timur."

Keisha menggigit bibir bawahnya. Rasa takut itu memang masih mencengkeram hatinya, tetapi ada rasa bersalah yang ikut menyusup ke dalam dadanya. Gara-gara kecerobohannya sekilas melihat transaksi misterius itu, kini nyawanya terancam dan ia harus menyeret seorang Rangga ke dalam masalah yang lebih rumit.

"Tapi... sampai kapan aku harus bersembunyi atau dijaga terus seperti ini, Kak?" tanya Keisha dengan suara bergetar, menatap langsung ke mata Rangga. "Aku cuma siswi biasa. Aku pengen hidup tenang, belajar dengan benar, lulus, lalu kuliah tanpa harus dikejar-kejar geng motor."

Rangga terdiam sejenak. Mendengar kejujuran dan keputusasaan dalam suara gadis itu, ada suatu tarikan tak kasat mata yang membuat hatinya berdesir. Di dunia luar sana, tidak ada satu pun orang yang berani mempertanyakan keputusannya atau berbicara sejujur itu di hadapannya. Semua orang tunduk, memuji, atau justru ketakutan setengah mati. Tapi Keisha... gadis dengan kacamata berbingkai tipis ini justru menuntut ketenangan hidup yang telah dirusak oleh kehadirannya sendiri.

"Lo mau hidup tenang?" tanya Rangga pelan, melangkah selangkah lebih dekat, membuat Keisha kembali menahan napas. "Selama lo ada di SMA Nusantara dan selama Viper masih mengincar celah buat jatungin Black Raven, ketenangan itu barang mewah, Keisha. Tapi satu hal yang pasti..." Rangga menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat manik mata Keisha. "...gua nggak akan biarkan satu helai pun rambut lo terluka selama gua ada di sisi lo."

Kata-kata itu meluncur begitu tulus, begitu mutlak, hingga membuat pertahanan emosional Keisha nyaris runtuh seketika. Jantungnya kembali berkhianat, berdetak liar di luar kendali. Di tengah dunia yang kejam dan penuh ancaman premanisme sekolah, kalimat dari seorang ketua geng motor berandal justru menjadi benteng pertahanan paling aman yang pernah ia rasakan.

"Sekarang keluar lewat tangga darurat belakang," titah Rangga setelah beberapa saat terdiam, mengubah kembali nada bicaranya menjadi tegas. "Satria dan Bara sudah nunggu di gerbang luar buat pastikan keadaan aman. Gua antar lo sampai kelas."

"Tapi, Kak—"

"Jangan membantah, Keisha," potong Rangga cepat. "Jalan."

Sisa jam pelajaran hari itu berjalan dalam ketegangan yang luar biasa bagi Keisha. Meskipun tidak ada lagi gangguan langsung dari anggota Viper, bayang-bayang pria bertubuh tegap di lorong perpustakaan tadi masih menghantui pikirannya. Beruntung, hingga bel kepulangan berbunyi nyaring, tidak ada insiden susulan yang terjadi.

Sintia, yang tidak tahu apa-apa mengenai kejadian menegangkan di ruang penyimpanan arsip, terus-menerus mengajak Keisha mengobrol sepanjang perjalanan keluar kelas menuju gerbang depan.

"Keish, lu beneran nggak apa-apa kan? Muka lu dari tadi pucet banget kayak orang habis lihat hantu," tanya Sintia cemas sambil merapikan tali ranselnya. "Atau lu masih kepikiran gosip anak-anak kelas sebelah yang ngomongin lu?"

Keisha memaksakan seulas senyum tipis untuk menenangkan sahabatnya itu. "Nggak apa-apa kok, Sin. Cuma kecapekan aja kurang tidur semalam. Tenang aja, aku baik-baik saja."

"Beneran ya? Kalau ada apa-apa cerita ke aku, jangan dipendam sendiri," pesan Sintia sebelum akhirnya mereka berpisah di simpang jalan arah halte bus kota, karena Sintia harus pulang menggunakan angkutan umum yang berbeda jalur.

Keisha melanjutkan langkahnya seorang diri menuju titik yang sudah disepakati di dekat taman kota. Langit di atas sana mendadak berubah gelap gulita, dipenuhi gumpalan awan hitam pekat yang berarak cepat. Bau petrikor dan uap air mulai tercium kuat di udara, menandakan badai besar siap menerjang kota sore ini.

Tepat saat ia tiba di dekat pagar taman, sebuah motor sport hitam besar sudah terparkir rapi di tepi trotoar. Rangga duduk di atas joknya dengan mengenakan jaket kulit hitam kesayangannya. Begitu melihat sosok gadis berkacamata mendekat, pria itu langsung menyalakan mesin motor, lalu melepas helm cadangannya dan menyodorkannya kepada Keisha.

"Cepat naik," kata Rangga ketika Keisha sudah berdiri di hadapannya. "Sebelum badai di atas kepala kita benar-benar tumpah."

Keisha tidak banyak bicara lagi. Ia tahu betul jika ia menolak, pria itu akan terus memaksa. Dengan sigap ia menerima helm tersebut, mengenakannya, lalu naik ke boncengan belakang. Baru saja ia memegang besi pengaman di bawah jok, tetesan air hujan yang besar dan dingin tiba-tiba jatuh menimpa aspal dengan derasnya.

Bum! Suara gemuruh petir menggelegar di langit, disusul oleh hujan lebat yang tumpah seketika dalam hitungan detik, mengubah jalanan kota menjadi basah kuyup.

"Pegang jaket gue erat-erat!" berteriak Rangga di tengah deru suara hujan dan angin kencang.

Tanpa sempat berpikir dua kali karena rasa dingin yang menusuk tulang, Keisha reflek melingkarkan kedua tangannya memeluk erat pinggang bidang Rangga, merapatkan tubuhnya ke punggung pria itu agar terlindung dari terpaan air hujan yang deras.

Rangga sedikit terkesiap merasakan dekapan erat tersebut, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia langsung menarik gas motornya dalam-dalam, melesat membelah jalanan kota yang basah dan berkabut, membawa gadis itu pergi menjauh dari segala ancaman menuju ke tempat yang aman di tengah badai yang mengamuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!