"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB, 6. Siapa Perempuan Itu?
Pintu ruang praktik terbuka perlahan.
Anna melangkah keluar dengan langkah yang terasa lebih berat dibanding saat ia masuk. Matanya masih sembap, sementara napasnya belum benar-benar kembali teratur. Kata-kata dokter itu masih menggema di dalam kepalanya, seperti gema yang tak kunjung menemukan ujung.
"Anna, setelah saya mendengar ceritamu dan melakukan evaluasi hari ini, saya melihat bahwa kamu mengalami gangguan depresi disertai gangguan kecemasan. Riwayat tekanan dan pengalaman yang kamu alami sejak kecil kemungkinan berperan dalam kondisi ini. Mengenai GERD yang kamu ceritakan, stres dan kecemasan dapat memperburuk gejalanya, jadi penanganannya perlu berjalan bersamaan."
Anna terkekeh kecil. "Depresi? Gangguan kecemasan?"
Ponselnya bergetar pelan.
Sebuah pesan dari Irene muncul di layar.
From Irene;
{ Na, maaf banget ya. Aku harus pulang duluan. Ibuku tiba-tiba datang ke apartemen tanpa ngabarin. Aku udah izin sama resepsionis kalau kamu keluar sendiri. Nanti kita ketemu lagi ya. Hati-hati pulangnya ❤️}
Anna tersenyum tipis.
Jarinya bergerak pelan.
From Anna;
{ Iya, Ren. Makasih ya. Hati-hati}
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Begitu pintu utama rumah sakit terbuka, hiruk-pikuk Jakarta langsung menyambutnya tanpa belas kasih.
Suara klakson saling bersahutan. Langkah kaki orang-orang berpacu di trotoar. Petugas keamanan meniup peluit, suara ambulans melintas membelah jalan.
Semuanya terdengar begitu keras-- terlalu keras.
"Gangguan depresi ... disertai gangguan kecemasan."
Kalimat itu kembali bergema seperti kaset rusak yang tak kunjung berhenti berputar.
Di tangan kanannya, sebuah kantong plastik putih berisi beberapa kotak obat bergoyang pelan mengikuti langkahnya. Resep dari dr. Rania terasa lebih berat daripada seharusnya, seolah bukan hanya obat yang di bawanya, melainkan juga kenyataan yang belum sanggup diterima.
Anna berdecak pelan.
"Depresi?" gumamnya lirih. "Mana mungkin."
Ia menggeleng berkali-kali, seolah gerakan sederhana itu mampu menghapus seluruh ucapan sang psikiater.
"Aku cuma capek." Gumamnya.
Ia melangkah pelan.
"Aku cuma kurang tidur."
Ia melangkah lagi.
"Aku cuma kebanyakan mikir. Bukan depresi!"
Semakin ia menyangkal, semakin dadanya terasa sesak.
Tatapannya kemudian jatuh pada sebuah tong sampah besar berwarna hijau yang berdiri di dekat taman rumah sakit.
Anna berhenti.
Ia menatap kantong plastik itu dengan sorot penuh permusuhan.
"Aku baik-baik aja."
Tanpa berpikir panjang, tangannya terangkat.
Pluk!
Kantong plastik itu melayang berbentuk lengkungan kecil sebelum mendarat dengan sempurna di dalam tong sampah.
Anna mengembuskan napas panjang. "Kamu baik-baik saja Anna. Kamu gak depresi, kamu cuma ingin di dengar."
Ia menepuk kedua telapak tangannya seperti baru saja menyelesaikan pekerjaan beres.
Dengan dagu terangkat, Anna berbalik dan mulai melangkah meninggalkan rumah sakit. Wajahnya bahkan terlihat sedikit lega.
Namun beberapa langkah kemudian, Anna kembali lagi menuju tong sampah barusan. Ia celingukan dan ketika menurutnya aman tanpa ada orang yang melihat ia gegas meraih kembali kantong plastik tersebut dan langsung memasukkannya ke dalam tas selempangnya.
Saat itu juga, ponselnya bergetar. Anna merogohnya dan menatap layar ponsel. Nama Sherly tertera disana.
...🌼🌼🌼...
Ojek online itu berhenti tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Utara.
Di lantai dasar berdiri sebuah kafe yang sedang ramai di kunjungi anak-anak muda. Aroma kopi dan roti yang baru di panggang memenuhi udara.
Begitu memasuki kafe, seorang pelayan langsung mengenali Anna.
"Mbak Anna? Bu Sherly lagi di belakang, sebentar saya panggil ya."
Anna mengangguk pelan.
Tak sampai semenit kemudian, Sherly muncul tergesa-gesa.
"Na!"
Tanpa banyak bicara, Sherly langsung menggandeng tangan sahabatnya.
"Ayo ke belakang."
Mereka melewati dapur kecil, gudang penyimpanan, hingga tiba di taman mungil tempat para karyawan biasa beristirahat.
Beberapa kursi berjajar di bawah pohon Kamboja. Suasananya jauh lebih tenang dibanding area depan.
Sherly duduk lebih dulu. Lalu di ikuti Anna yang sesekali celingukan memandangi taman mungil itu lalu pada akhirnya pandangannya jatuh pada Sherly.
"Kamu mau cerita apa?" tanya Anna pada akhirnya.
Namun beberapa detik, bahunya mulai bergetar.
Anna menatapnya bingung. "Sherly, kamu kenapa?"
Sherly menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tangisan itu pecah begitu saja.
"Aku capek, Na..." isaknya.
Anna refleks mengusap pelan punggung sahabatnya. "Ada apa?"
Sherly menggeleng berkali-kali. "Dean..."
Nama laki-laki yang dia cintai keluar begitu saja.
"Dia bilang..." Sherly menarik napas panjang. "...dia bilang belum siapa nikahin aku. Padahal umurku sudah masuk tiga puluh tahun....ibuku sudah beberapa kali menanyakan kapan aku dan Dean menikah, kamu tahu sendiri kan...aku sama dia udah pacaran enam tahun lamanya, Na. Tapi... Tapi kenapa dia belum juga siap buat nikahin aku?"
Air mata gadis berambut cruly itu menganak di kedua pipinya.
"Dia bilang belum mapan...dia bilang dia kalau cinta dan pernikahan itu berbeda..." isaknya.
Anna memeluk sahabatnya, menepuk punggung pelan wanita itu.
"Padahal aku gak minta pesta mewah, aku cuma minta kepastian dari dia... padahal kita udah bersama enam tahun. Tapi kenapa dia mengatakan...kalau belum siapa hidup bersama dalam naungan pernikahan..."
Anna terdiam sembari menepuk punggung pelan Sherly. Andai...andai Sherly tahu apa itu pernikahan. Tidak selamanya pernikahan itu tentang cinta, tentang hidup bersama. Tapi kehidupan setelah pernikahan itulah awal sebuah arti hidup.
Sherly melepaskan dirinya dari pelukan Anna. Perlahan ia menghapus air matanya dengan ujung jemari lentiknya.
"Maaf ya, Na."
Anna menggeleng kecil. "Nggak apa-apa. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat cerita."
Drtt..drtt...drtt...
Ponsel Anna bergetar menandakan kalau ada notifikasi pesan. Ia merogoh tasnya perlahan dan menatap layar ponselnya.
Sherly tak sengaja melihat pesan masuk itu.
Dari Jeevan, suami sahabatnya itu mengirim pesan kalau Jeevan saat ini sedang keluar. Ada pekerjaan mendadak yang harus ia selesaikan, bertemu klien dengan Abimanyu... sahabat sekaligus kepala bagian di timnya.
"Mas Jeevan ya?" tanya Sherly.
Anna mengangguk. "Iya."
"Ya sudah, kalau begitu aku anter kamu ke depan." Ucap Sherly seraya beranjak bangkit dari duduknya.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama kafe.
Matahari sudah semakin tinggi, jarum jam di pergelangan tangan Sherly menunjuk pukul dua siang.
Jalanan Jakarta terlihat sedikit lenggang meskipun di akhir pekan.
Sherly masih mengomel pelan tentang Dean sambil sesekali menghela napas panjang. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, keningnya berkerut menatap ke arah trotoar jalan.
"Na," panggilnya seraya menepuk lengan Anna pelan.
Anna menoleh ke arah Sherly. "Hm?"
Sherly mengangkat telunjuknya ke arah sebrang jalan. "Itu..."
Anna mengikuti arah pandang sahabatnya, sedangkan Sherly memicingkan matanya.
"Bukannya itu suami kamu, Na?"
Anna berdiri mematung seraya menatap pria tinggi dengan kemeja panjang yang sangat di kenalnya. Jeevan tampak berjalan bersisian dengan seorang perempuan yang usianya mungkin seumuran dengannya. Wanita itu mengenakan blouse berwarna pink dengan rok span selutut berwarna abu-abu muda. Rambutnya pendek, cantik dengan kacamata tipisnya yang menghiasi wajahnya yang terlihat semakin imut.
"Siapa perempuan itu, Na? Kamu kenal?" tanya Sherly seraya menoleh ke arah Anna yang masih menatap ke arah suaminya.
"Bukankah Mas Jeevan bilang kalau dia ada pekerjaan mendadak untuk bertemu klien, dan Mas Jeevan juga bilang kalau dia berangkat bersama Mas Abi? Lalu kenapa sekarang Mas Jeevan berjalan dengan seorang wanita?" batin Anna.
Dan saat itulah, ketika Jeevan dan wanita cantik itu hendak menyeberang. Matanya tak sengaja menangkap sosok istrinya yang tengah menatap ke arahnya.
Sherly kembali menoleh ke arah Anna. "Kamu kenapa sama cewek itu, Na?"
...🌼🌼🌼...
Kenapa Mas Jeevan bohong? Kira-kira siapa perempuan cantik itu?
Temukan jawabannya di bab selanjutnya ☺️
Jangan lupa like, vote, komen, subscribe dan jangan lupa follow ya☺️
...BERSAMBUNG...