🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 013: Tampan dan Sombong!
Qin Xiang melangkah keluar dari zona kedua dengan aura yang jauh lebih tenang namun padat, layaknya sebilah pedang yang baru saja diasah namun disembunyikan dalam sarung yang sederhana.
Di zona pertama, ia kembali bertemu dengan Qu Long yang sedang duduk bersila dengan wajah yang memerah hebat. Setelah mengamati sejenak fluktuasi energi yang keluar dari pori-pori kulit pemuda bulat itu, Qin Xiang mengangguk tipis; Qu Long rupanya telah berhasil menembus hambatan dan mencapai ranah Qi Fondasi Tahap 4.
“Qu Long,” suara Qin Xiang memecah konsentrasi rekannya. “Turunkanlah sedikit berat badanmu itu, atau kau akan benar-benar meledak saat mencoba menerobos tahap kelima nanti.”
Qin Xiang melontarkan kalimat itu dengan tatapan sinis yang datar, seolah ia sedang memberikan vonis medis bahwa domba gemuk di hadapannya ini dalam bahaya besar jika tidak segera melakukan diet ketat.
Ucapan ketus itu seketika membuat Qu Long tersedak air liurnya sendiri.
Wajahnya memerah karena malu, namun ia tidak berani membalas.
Di dalam hatinya, ia menggerutu: Jika lemak berlebih dianggap sebagai penyimpangan kultivasi, lantas berapa banyak murid berbadan gendut yang harus ditendang keluar dari sekte ini?
“Sudahlah, aku akan kembali ke asrama lebih dulu. Bagaimana denganmu?” tanya Qin Xiang, mengalihkan pembicaraan.
“Aku masih perlu menstabilkan pondasi kekuatanku di sini, Kakak Qin. Energi di sini terlalu sayang untuk dilewatkan,” jawab Qu Long dengan senyum yang dipaksakan.
Qin Xiang hanya memberikan anggukan singkat.
Setelah sedikit berbincang mengenai situasi sekte, ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari Aula Kultivasi.
Namun, baru saja kakinya menginjak halaman luar yang luas, sebuah suara familiar yang telah lama menghilang dari pendengarannya tiba-tiba membelah kebisingan.
“Qin Xiang!”
Langkahnya terhenti.
Ia memutar tubuhnya perlahan dan mendapati seorang gadis muda sedang berdiri menatapnya.
Untuk sesaat, tatapannya melembu, seolah sedang memanggil kembali memori masa kecil yang indah tentang kampung halaman yang jauh.
“Hu Xia.”
Tidak ada panggilan formal seperti "Senior" atau "Junior" di antara mereka.
Nama itu meluncur begitu saja, menandakan kedekatan yang tidak bisa diukur oleh hierarki sekte yang kaku.
“Siapa bocah kampung yang sok akrab ini, Saudari Hu?”
Sebuah suara penuh nada protes dan kecurigaan terdengar dari balik punggung Hu Xia.
Seorang pemuda tampan dengan jubah murid dalam yang mewah melangkah maju.
Ia adalah Fang Yu, salah satu sosok yang cukup berpengaruh di sekte dalam karena bakat dan penampilannya.
Rumor di sekte sering menjodoh-jodohkannya dengan Hu Xia, yang notabene adalah primadona sekte.
Namun saat ini, matanya yang tajam seperti ujung pedang segera memindai Qin Xiang dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Begitu ia menyadari bahwa Qin Xiang hanyalah seorang murid dengan ranah Qi Fondasi Tahap 1, sebuah kilatan jijik melintas di wajahnya.
Namun, Qin Xiang justru membalas tatapan itu dengan sikap acuh tak acuh yang ekstrem.
Pengabaian total ini membuat Fang Yu merasa seolah-olah martabatnya baru saja diinjak-injak di depan umum.
“Kau...!”
Fang Yu mengumpat rendah dengan gigi gemertak.
“Saudara Fang, Qin Xiang adalah teman masa kecilku,” potong Hu Xia dengan nada dingin. Ada ketidakpuasan yang jelas terpancar dari wajahnya saat ia menatap Fang Yu. “Tolong, jangan menyebutnya seperti itu lagi di hadapanku.”
Fang Yu tersentak mendengarnya.
Harga dirinya terasa hancur berkeping-keping saat melihat Hu Xia membela pemuda yang ia anggap "sampah" itu.
Ketika ia hendak membuka mulut untuk mendebat, seorang rekannya, Yu Long, segera menarik lengannya dan berbisik pelan.
“Saudara Fang, kendalikan dirimu. Banyak murid yang sedang memperhatikan kita. Semakin kau bicara, semakin kau terlihat memalukan,” bisik Yu Long dengan penuh peringatan.
“Tsk!”
Fang Yu mendengus penuh kebencian.
"Ayo pergi!"
Dengan langkah gusar, ia segera meninggalkan area tersebut diikuti oleh Yu Long, meninggalkan aura dingin yang masih tertinggal di udara.
Hu Xia menghela napas panjang dan kembali menatap Qin Xiang dengan binar mata yang campur aduk.
“Qin Xiang, maafkan dia. Jangan masukkan perkataannya ke dalam hati.”
Qin Xiang hanya mengangguk tenang, menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak terpengaruh oleh drama kekanak-kanakan tersebut.
“Saudari Hu, apakah ini teman kecil yang selalu kau ceritakan itu?”
Tiba-tiba sebuah suara ceria memecah suasana canggung.
Sosok gadis kecil yang lincah bernama Lin Fu muncul dari samping Hu Xia.
Sebagai sahabat dekat di sekte dalam, telinga Lin Fu sudah hampir tuli karena terus-menerus mendengar Hu Xia bercerita tentang seorang pemuda bernama Qin Xiang.
Saat ini kedua matanya yang bulat menatap Qin Xiang dengan rasa ingin tahu yang besar.
“Iya, Saudari Lin. Ini Qin Xiang,” ucap Hu Xia sembari memperkenalkan mereka berdua.
“Senang bertemu denganmu, Saudari Senior.”
Qin Xiang menyunggingkan senyum tipis dan menangkupkan tinjunya dalam salam formal.
“Oh?”
Lin Fu tertegun sejenak.
Ia tidak menyangka pemuda ini akan bersikap sesopan itu.
Sebuah senyum bahagia yang berlebihan memenuhi wajahnya yang mungil.
Ia mengibas-ngibaskan tangannya dengan canggung, tampak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan pujian luar biasa.
“Huhu, bagus, bagus! Kau sangat tahu tata krama!”
Lin Fu mencoba berakting layaknya senior yang berwibawa, namun tubuhnya yang mungil justru membuatnya terlihat menggemaskan.
Biasanya, murid sekte lain lebih memilih menghindarinya karena kepribadiannya yang unik, sehingga sapaan tulus dari Qin Xiang terasa sangat spesial baginya.
Qin Xiang terdiam sejenak.
Pandangannya mengamati tingkah aneh Lin Fu sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada Hu Xia.
Namun, saat itu juga, ia menyadari Hu Xia sedang menatapnya dengan kening berkerut.
Gadis itu seolah sedang mencoba menembus kabut yang menutupi aura Qin Xiang.
“Qin Xiang, kau... Qi Fondasi Tahap 1?” tanya Hu Xia dengan suara yang hampir tak terdengar karena keterkejutan.
Seingatnya, sebulan yang lalu Qin Xiang masih tertatih-tatih di ranah Pemurnian Qi bawah. Kemajuan ini terlalu mengerikan untuk dinalar.
Sebelum Qin Xiang sempat memberikan penjelasan, Lin Fu segera menyela dengan nada protektif, seolah-olah ia sudah menjadi kakak angkat Qin Xiang.
“Saudari, kau tidak perlu merasa kecewa. Meskipun Saudara Junior ini sedikit lambat dalam kultivasi dibandingkan usia kita, ingatlah bahwa setiap orang memiliki nasib dan kesulitannya masing-masing dalam mengejar Dao!” tandasnya dengan wajah serius.
“Bukan, Lin Fu... kau salah paham...”
Hu Xia hendak menjelaskan bahwa maksud sebenarnya bukan karena Qin Xiang lambat, melainkan karena ia terlalu cepat. Sayangnya ia menyadari bahwa kerumunan murid di sekitar mereka mulai berbisik-bisik dan menatap dengan penuh selidik.
Qin Xiang yang menyadari atmosfer mulai menjadi tidak kondusif, memilih untuk segera mengakhiri pertemuan tersebut.
“Hu Xia, kita akan bicara lagi saat ada kesempatan yang lebih tenang. Aku akan menjelaskan semuanya nanti.”
Hu Xia hanya bisa terpaku saat Qin Xiang menangkupkan tangan sekali lagi sebagai tanda pamit, lalu dengan cepat menghilang di tengah lautan murid yang berlalu-lalang di pelataran Aula Kultivasi.
“Qin Xiang...” gumam Hu Xia pelan.
Tatapan matanya dipenuhi oleh rasa rindu, heran, dan sedikit kekhawatiran.
Ia merasakan bahwa pemuda yang berdiri di depannya tadi bukan lagi Qin Xiang yang lemah yang selalu ia lindungi.
Bersambung!