NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 31 : Masa Lalu

Theo dan kawan-kawan dipandu Silas menuju sebuah rumah.

"Aneh, Lady Maria adalah seorang yang sangat rajin. Nggak mungkin ini, masa teras depannya kaya kapal pecah ini." Silas masuk ke teras rumah Lady Maria, lalu ia melihat pintu yang telah terbuka.

Jendela pecah, dan ada jejak darah di lantai.

"Lady Maria!" Lucy berteriak melihat Lady Maria telah bersimbah darah.

"Uhuk... Dia... Joseph sudah memulainya."

"Sudah Lady, yang penting Anada selamat!" Lucy mengambil sebotol obat dari tas nya.

Namun, Lady Maria menghalau tangan Lucy, "Jangan tolong aku. Uhuk... Dia... Tolong Gabriel."

"Tapi, Lady gimana?" Ucap Lucy khawatir.

"Waktuku... tidak lama lagi. Tolong... Dia hendak melakukan kudeta."

"Lady!" Lucy memeluk Lady Maria, ia merasa sedih dengan kematian sang Lady.

"Udah nggak ada waktu!" Theo menarik Lucy dengan kasar. .

"Xiangran! Kita berangkat ke ibukota dengan kecepatan penuh!"

Hup!

Theo dan Silas segera lompat ke kereta.

Whuuush

Kereta bergerak melaju kencang, lebih kencang dari angin.

"Gila!" Theo dan Silas merasa sangat pusing. Mereka bahkan sudah tidak dapet melihat daratan, hanya kilatan kecil dari benda yang langsung ditinggalkan.

"Kita sudah sampai!" Xiangran langsung memperlambat kereta kudanya.

"Pergi ke Night Blossom Tavern!'

Silas langsung mengarahkan Xiangran menuju penginapan yang ia tahu.

'Aneh, kenapa para penduduk kota melihat ke arah kami?' Theo mendapati para penduduk melihat keretanya dengan tatapan menyeramkan, bahkan di ujung kegelapan kota Theo dapat melihat pandangan aneh menuju kereta mereka.

Silas dan Lucy segera memesan kamar, mereka memesan dua kamar yang terhubung.

"Ok, aku sama Lucy akan tidur di kamar yang ini. Nanti, kamu sama Xiangran dan Linlin ya." Theo membagi kamar, tapi ide itu langsung ditolak Silas.

"Tidak, Lucy bersama anak-anak. Aku bareng kamu."

"Ok."

Theo pergi ke bawah bersama Silas dan Lucy.

"Hei lihat! Bukankah itu..." Bisikan-bisikan memenuhi tavern.

"Hei kawan!" Theo mendekati seorang pria.

"Pelayan! Bisa ambilkan bir untuk orang ini?"

Theo menyerahkan koin emas ke pelayan, lalu ia memberikan bir itu kepada orang di depannya.

"Haha! Kau tahu cara dunia bekerja kawan."

"Ok, aku mau nanya. Apakah ada hal yang aneh belakangan ini? Misalnya kaya kuil yang meresahkan." bisik Theo kepada pemuda itu.

"Hmm... Kuil ya? Rasanya nggak ada sih. Malah adanya mereka lebih sering melakukan pembersihan. Huh." Pria itu terlihat berbicara dengan sedikit penekanan.

"Oiya, ngomong-ngomong tato di pundakmu itu apa?" tanya Theo melihat tato simbol bulan sabit terbalik berwarna hitam pekat.

"Haha, ini? Ini hanyalah tato simbol organisasi yang didirikan Saint Joseph."

"Apa? Joseph? Maksudmu..." Theo membulatkan matanya.

"Ya, bulan hitam." Mata pria itu tiba-tiba kosong, mulutnya membiru dan tangannya meraih saku.

"Apa?!" Theo berteriak, dan tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan sebuah botol.

"Demi sang Bulan Hitam."

Gle—

Kratak!

Belum sempat meminum ramuan, Silas memutar leher pemuda itu.

Setelah secara tidak sengaja membunuh pria itu, Silas duduk dengan wajah tegang.

"Aku... Aku pembunuh?!" Silas terlihat terpukul, ia terus bergumam sendiri tentang dirinya yang membunuh, sambil mencengkeram rambutnya acak-acakan.

"Hei! Apa yang kau masalahkan? Kamu tuh baru aja nyelamatin orang. Dia memang pantas mati!" Theo berusaha menenangkan Silas, tapi usahanya gagal.

"Tidak! Tidak, aku telah membunuh! Aku telah melanggar sumpahku. Kau! Kau tidak akan mengerti!"

Brak!

Silas menggebrak meja, "Tapi kamu baru nyelamatin orang. Memang gitu cara kerja dunia ini!" Theo menyanggah ucapan Silas.

"Kau! Kau tidak akan mengerti! Kau! Kau pecundang!"

Tap! Tap! Tap!

Silas langsung berlari keluar dari tavern, meninggalkan Theo dan Lucy di bar tavern.

"Lucy! Aku ke dia dulu ya, kamu di sini dulu. Jangan lupa, anak anak ada di atas."

"Ok, kamu kejar dia sekarang."

Theo berlari keluar, langkahnya gontai, tapi ia berusaha.

"Silas! Silas!'' Theo berlari kemanapun ia merasa Silas ada, tapi nihil.

Sejauh mata memandang, Theo tidak dapat menemukan keberadaan Silas.

"Hei!" Theo sekilas melihat siluet Silas, tapi ia segera kehilangannya.

"Sial! Lebih baik aku kembali."

Ketika Theo kembali, ia mendapati Lucy telah menghilang.

"Lucy?" Theo segera berlari ke kamar, aman.

"Hei! Lucy!"

Theo berteriak di tavern, mencari sosok Lucy yang tidak dapat ia temukan.

seorang pelayan mendekati Theo, lalu ia berkata.

"Mmm... Tuan, nona yang tadi... Diculik."

"Apa? Diculik?!'' Theo membulatkan matanya lebar.

"Yah begitulah, dia dibawa menuju Salon terdekat. Lebih tepatnya, 'Night Heaven saloon' ya kalo nggak salah itu."

"Dimana itu?" Theo langsung menatap orang itu dengan penuh harapan.

"Mmm... Tuan nanti keluar, belok ke kiri dan lurus terus sampai ketemu patung kuda. Nanti di situ, tuan belok kanan masuk ke gang sempit," ucap pelayan itu sambil memeragakan alur kepada Theo.

"Baiklah, makasih banyak ya." Theo meninggalkan sekeping emas di meja, lalu ia segera berlari menuju arah yang diberitahukan.

Di sisi lain, Lucy sedang terduduk lemas. Kedua tangan, kaki dan mulutnya diikat dengan tali rami yang kasar.

"Mmph!"

'Theo! Silas! Jangan ke sini!'

Dalam hati Lucy, dirinya sadar bahwa akan sangat berbahaya jika Theo ataupun Silas datang.

"Sial!" Theo kesal, dirinya tidak dapat menemukan jejak Lucy.

"Lucy!" Theo melihat di sudut gang ada sesuatu yang ia kenal.

Lucy terduduk lemas, pakaiannya telah terkoyak.

'Theo? Nggak, jangan ke sini! Di sini ada—'

Buk!

Orang dengan luka besar di wajah memukul pingsan Lucy.

"Hahaha, dasar Angel's Orchid." Orang itu mengelus dagu Lucy, lalu tangannya merobek bajunya.

"Amph!" Lucy berteriak meronta-ronta, tapi seluruh tubuhnya diikat sehingga ia tidak bisa melawan.

"Lucy! Itu pasti Lucy!" Theo berlari mendekati Lucy.

Theo semakin mendekati Lucy, sampai akhirnya ia sadar ada seorang pria kekar dengan luka besar di wajahnya.

"Hei, tuan muda. Ada urusan apa kau di sini? Ouh, apakah tuan mau membeli budakku? Murah, hanya 25 keping emas." Pria itu menjilati gigi emasnya, matanya kosong dan tatapannya terlihat sangat bernafsu.

Tatapan Theo tajam menghadap Lucy yang sudah setengah telanjang. Tangannya mengepal erat, nafasnya mulai menderu dan wajahnya mulai memerah.

"Hei bukankah itu Angel's Orchid? Itu kan? Courtesan paling laku yang menghilang tiga tahun lalu?" Berbagai bisikan muncul di sela Theo berlari ke arah Lucy.

"Lihat! Bukankah itu pemuda yang bersama courtesan itu di kereta? Betapa kasihannya dia menggunakan barang bekas."

"Hush! Jangan berkata begitu, kasihan pemuda itu. Lagian... Siapa sih yang mau pake barang gitu?"

Deg!

Perkataan mereka membuat Lucy menangis.

'Theo... Pergi! hiks... Jangan lihat aku... Aku... Kotor.'

Betapa di hatinya terdapat luka yang terbuka lebar. Sebuah luka, yang disebabkan oleh masa lalunya.

"Lepaskan dia, atau—"

Meskipun Theo mendengar berbagai gosip, baginya Lucy adalah sosok yang penting.

'Persetan dengan masa lalu, dia udah rela keluar ordo demi aku. Sekarang, giliranku.'

"Atau apa? Hah?" Pria bergigi emas itu langsung melepas semua kain yang masih tersisa di tubuh Lucy.

Muka Theo memerah, kali ini dia tidak dapat menahan amarahnya.

"Beraninya kau!"

...****************...

End Ch. 31 : Masa Lalu

Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favorit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!