"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 // MBKCM
Keheningan yang mencekam kembali merayap di antara rak-rak pakaian mewah Butik Elegance. Ardan masih terpaku menatap Kiana, namun realitas segera menampar kesadarannya. Dania yang menyadari arah pandang calon tunangannya mulai mengernyitkan dahi curiga, ikut menoleh ke arah pintu belakang karyawan.
"Kak Ardan? Kamu lihat apa sih?" tanya Dania, matanya menyipit mencoba membaca situasi.
Ardan tersentak. Dia langsung memutuskan kontak mata sepihak dari Kiana, mengalihkan wajahnya kembali datar seolah tidak terjadi apa-apa. Ardan tidak bisa melihat Kiana lebih lama lagi karena takut Dania curiga dan akan menyelidiki gadis itu, yang justru bisa membahayakan posisi Kiana sendiri.
Dengan berat hati dan perasaan yang berkecamuk tak karuan, Ardan melangkah pergi begitu saja. "Tidak ada apa-apa. Ayo aku antar pulang, setelah ini aku harus kembali ke kantor," ujarnya dingin, menuntun Dania keluar dari butik tanpa menoleh lagi ke belakang. Dania mengangguk mempererat rangkulan tangan nya di lengan kekar Ardan.
Sementara itu, Kiana hanya bisa meremas kain lap di tangannya dengan erat. Dada gadis itu naik-turun menahan sesak. Kepergian Ardan yang begitu acuh seolah mempertegas batasan di antara mereka. Pria itu adalah penguasa yang berada di puncak dunia, sedangkan dirinya hanyalah kesalahan malam yang harus dilupakan.
Dengan sekuat tenaga dan sisa-sisa energi yang dia miliki, Kiana memaksakan diri menyelesaikan shift kerjanya hari itu. Setiap menit terasa bagai siksaan karena rasa mual yang sesekali kembali menyerang, namun dia terus bertahan demi profesionalitas.
Begitu jam dinding menunjukkan pukul empat sore dan shiftnya resmi selesai, Kiana langsung melangkah ke ruang ganti untuk mengganti seragamnya dengan kaos kasual. Saat dia keluar dari ruang ganti, Saskia sudah berdiri di sana dengan melipat kedua tangan di dada. Tatapan mata Saskia sangat tegas, tidak menerima penolakan lagi dari Kiana.
"Hari ini, tidak ada alasan lagi, Kia. Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk check-up kehamilan," ujar Saskia tanpa basa-basi, langsung menarik pergelangan tangan Kiana.
Kiana mencoba menahan langkahnya. "Sas, tapi aku.."
"Sudah dua minggu sejak kamu tes mandiri di kosan, Kiana! Dan lihat dirimu sekarang, berat badanmu sudah turun banyak sampai pipimu tirus begitu!" potong Saskia dengan nada mengomeli namun sarat akan rasa khawatir yang mendalam. "Ini bahaya untuk kesehatanmu dan janin di dalam perutmu. Kita harus konsultasi ke dokter spesialis kandungan sekarang juga. Titik!"
Melihat keseriusan dan kasih sayang di mata sahabatnya, Kiana akhirnya pasrah. Dia membiarkan Saskia menuntunnya membelah jalanan kota menuju Rumah Sakit Cahaya Medika, salah satu rumah sakit yang cukup terkenal di pusat kota.
Atmosfer Rumah Sakit Cahaya Medika terasa begitu tenang namun menegangkan bagi Kiana. Bau karbol yang khas bercampur aroma antiseptik sempat membuat ulu hatinya bergejolak, namun Saskia dengan sigap memberikan minyak aroma terapi untuk meredam rasa mual sahabatnya.
Setelah mengantre selama hampir satu jam di koridor poli kandungan yang didominasi warna pastel, nama Kiana akhirnya dipanggil melalui pelantang suara.
"Nona Kiana Mahira, silakan masuk ke Ruang Obgyn Kamar Tiga."
Jantung Kiana bertalu keras saat dia melangkah masuk, didampingi oleh Saskia yang menggenggam tangannya erat. Di dalam ruangan, seorang dokter wanita paruh baya bernama dr. Sarah menyambut mereka dengan senyuman hangat yang menenangkan.
"Selamat sore, Nona Kiana. Ada keluhan apa yang dirasakan?" tanya dr. Sarah ramah sembari mempersiapkan berkas dokumen medis.
Kiana menelan ludahnya dengan susah payah. "Sore, Dok. Saya... saya belum menstruasi sudah terlambat lebih dari 2 minggu, dan hasil tes mandiri di rumah menunjukkan garis dua. Belakangan ini saya juga mengalami mual muntah yang cukup parah di pagi hari."
Dokter Sarah mengangguk maklum. "Baik, kalau begitu kita lakukan pemeriksaan Ultrasonografi terlebih dahulu ya, untuk melihat kondisi di dalam rahim secara langsung. Silakan berbaring di ranjang periksa."
Dengan tubuh yang kaku, Kiana menuruti perintah tersebut. Dia berbaring telentang, membiarkan dr. Sarah menyingkap sedikit kaosnya hingga batas perut bawah. Cairan gel dingin dioleskan di atas kulit perutnya yang masih rata, membuat Kiana sedikit meremang.
Dokter Sarah mulai menggerakkan alat pemindai transduser di atas perut Kiana, sementara sepasang mata Kiana dan Saskia langsung terpaku pada layar monitor hitam putih yang ada di samping ranjang.
Awalnya, layar itu hanya menampilkan bentukan gumpalan hitam kabur. Namun, saat dokter Sarah menggeser alatnya sedikit ke arah kiri dan memperbesar resolusi gambar, dahi sang dokter tampak berkerut sebelum akhirnya senyum lebar terukir di wajahnya.
"Wah, luar biasa. Coba lihat ke layar, Nona Kiana," ujar dr. Sarah menunjuk ke arah dua bulatan kantong kehamilan kecil yang terletak berdampingan di dalam rahim Kiana. "Bisa lihat ini? Ada dua kantong kehamilan yang berkembang dengan sangat baik. Nona Kiana, Anda sedang mengandung anak kembar."
"Apa?!" Pekikan syok itu bukan keluar dari mulut Kiana, melainkan dari Saskia yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melotot tidak percaya.
Dokter Sarah terkekeh melihat reaksi Saskia, lalu kembali fokus pada layar. "Iya, ini benar-benar anak kembar. Usia kandungannya kini sudah memasuki minggu ke-6. Dan jika kita dengarkan lebih detail..." Dokter Sarah menekan sebuah tombol di mesin USG, dan seketika suara detak jantung yang sangat cepat namun berirama terdengar menggema di dalam ruangan sunyi itu.
Dut-dut-dut-dut-dut...
"Itu adalah suara detak jantung kedua janin kecilmu. Mereka berdua sangat sehat, meski ibunya kekurangan nutrisi karena berat badannya turun. Nanti saya akan resepkan vitamin penguat dan obat pereda mual yang aman," jelas dr. Sarah panjang lebar.
Kiana terpaku di atas ranjang periksa. Suara detak jantung yang menggema itu seolah menghantam relung jiwanya yang paling dalam. Air matanya meleleh di sudut mata, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena sebuah perasaan asing yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Rasa cinta seorang ibu yang mendadak bangkit untuk melindungi dua nyawa kecil di rahimnya.
Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan administrasi dan menebus obat, Kiana dan Saskia berjalan keluar dari ruang poli kandungan menuju koridor utama rumah sakit.
Keluar dari ruang obgyn, Kiana tidak menangis lagi. Wajahnya yang tadinya pucat kini tampak lebih tegar, memancarkan aura keibuan yang samar. Dia berjalan pelan sembari mengusap perut ratanya dengan penuh kasih sayang, mencoba berkomunikasi dengan dua malaikat kecil di dalam sana.
Sementara di sampingnya, Saskia terus berjalan dengan mata yang tidak bisa lepas dari selembar kertas foto hasil USG hitam putih milik Kiana. Dia memandangi dua titik kecil di dalam foto itu dengan binar mata yang luar biasa takjub.
"Wah... dua, Kia! Kamu benar-benar hamil dua anak sekaligus!" bisik Saskia heboh dengan suara yang ditahan agar tidak memancing perhatian pasien lain. "Aku masih tidak percaya... Pak CEO itu ternyata memiliki bibit yang luar biasa subur! Sekali seumur hidup langsung jadi dua!"
Kiana tersenyum tipis, sebuah senyuman getir namun penuh tekad. "Iya, Sas... dua anak. Dan itu artinya, aku harus mencari uang dan bekerja jauh lebih banyak lagi setelah ini untuk menghidupi mereka berdua."
"Tenang, ada aku. Aku bakal bantu kamu sebisa mungkin," dukung Saskia mantap, menepuk dada sendiri. Saking gemasnya, Saskia mengangkat tangan kanannya ke atas, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk angka dua tepat di depan wajah Kiana. "Dua bayi lucu! Kita pasti bisa membesarkan mereka!"
Kiana terkekeh pelan melihat tingkah ajaib sahabatnya itu.
Namun, tanpa pernah mereka sadari, di seberang koridor tepatnya di depan poli jantung yang hanya berjarak beberapa meter, berdiri sesosok pria bertubuh tegap yang mengenakan setelan kemeja kerja. Pria itu adalah Bimo.
Bimo berada di Rumah Sakit Cahaya Medika sore itu karena diutus oleh Paman Arya untuk mengambil paket obat herbal khusus untuk kakek Wirya yang diberikan langsung oleh dokter spesialis jantung di sana. Langkah kaki Bimo mendadak terhenti saat matanya tidak sengaja menangkap siluet dua wanita yang sangat dia kenali.
"Itu... Kiana dan temannya, kan?" batin Bimo heran.
Meski jarak yang agak jauh dan ramainya koridor membuat Bimo tidak bisa mendengar isi obrolan mereka, Bimo jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kedua gadis itu baru saja keluar dari pintu ruangan bertuliskan 'Poli Kandungan & Kebidanan (Obgyn)'.
Dan hal yang paling membuat dahi Bimo berkerut bingung adalah ketika dia melihat gerakan tangan Saskia yang mengeataskan jarinya dengan heboh, memberikan kode angka dua kepada Kiana yang sedang mengusap perutnya dengan penuh haru seolah mengisyaratkan kehamilan 2 bayi.
Bimo memicingkan matanya, mengamati punggung Kiana yang mulai berjalan menjauh menuju pintu keluar rumah sakit. Otaknya yang sangat cerdas dan terbiasa memproses data dengan cepat seketika menghubungkan semua titik keanehan yang terjadi belakangan ini.
Kenapa Kiana pergi ke dokter kandungan? Dan kenapa penampilannya di butik tadi tampak begitu lemas dan kurus seperti orang yang sedang... mengidam atau mabuk hamil?
Sebuah pemikiran liar mendadak melintas di kepala Bimo, membuat asisten pribadi Ardan itu berdiri mematung di tengah koridor dengan jantung yang berdegup kencang karena syok atas analisisnya sendiri.