Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Sisa Kehangatan yang Membeku
Jemari Kayla Anindita bergetar pelan saat meletakkan mangkuk sup ayam di atas meja makan panjang berbahan marmer impor.
Uap tipis mengepul dari permukaannya, membawa aroma kaldu hangat yang biasanya mampu menenangkan mual selama kehamilannya.
Namun malam ini, aroma itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Kayla mengembuskan napas perlahan. Sebelah tangannya refleks menopang pinggang yang nyeri. Di usia dua puluh empat tahun, tubuh mungilnya terlihat semakin rapuh dengan kandungan tujuh bulan yang membesar.
Daster batik merah bata yang dikenakannya tampak pudar di beberapa bagian—sangat kontras dengan kemewahan mansion keluarga Wijaya yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal.
“Lama banget sih, Kayla?”
Suara ketus itu memecah keheningan.
Ibu Sandra berjalan memasuki ruang makan dengan daster sutra mahal yang menjuntai anggun. Wajahnya yang dipenuhi riasan mahal langsung mengerut tidak puas saat melihat hidangan di meja.
Di belakangnya, Tiara mengekor sambil sibuk memainkan ponsel terbaru di tangannya.
“Maaf, Bu,” ucap Kayla pelan. “Tadi sayurnya Kayla potong lebih lembut supaya Ibu gampang mengunyah.”
Bukannya tersentuh, Ibu Sandra malah mendecakkan lidah.
“Kamu itu alasan terus. Dasarnya memang malas.”
Wanita paruh baya itu menarik kursi dengan kasar lalu duduk sambil mengetuk kuku panjangnya di atas meja.
“Saya juga heran, Adrian dulu lihat apa dari perempuan kayak kamu. Modal muka lugu doang, tapi kerja rumah berantakan. Itu lantai dekat dapur masih ada debunya, kan? Nanti habis makan dipel lagi.”
Kayla menunduk.
Padahal sejak subuh dia sudah membersihkan seluruh lantai bawah sebelum semua penghuni rumah bangun. Tapi membela diri hanya akan memperpanjang hinaan.
“Baik, Bu.”
“Jangan pasang muka sedih begitu, deh,” sahut Tiara sambil tertawa kecil tanpa mengangkat kepala dari layar ponselnya. “Kalau gak betah tinggal pergi. Sadar diri aja, Kak. Kalau bukan karena Mas Adrian, mungkin sekarang Kak Kayla masih hidup numpang sana-sini.”
Ucapan itu menghantam tepat ke dada Kayla.
Kedua orang tuanya telah meninggal sejak ia masih kuliah. Sejak saat itu, Adrian adalah satu-satunya tempat pulang yang dia miliki.
Dulu pria itu pernah berlutut di depan makam orang tua Kayla dan berjanji akan menjadi rumah untuknya.
Dan Kayla mempercayainya sepenuh hati.
Demi Adrian, Kayla rela melepaskan impiannya bekerja di firma keuangan besar.
Diam-diam, dia membantu membereskan pembukuan perusahaan Adrian yang kacau, menyusun strategi pajak, bahkan menyelamatkan beberapa investasi yang nyaris gagal.
Namun semua pengorbanan itu tak pernah diketahui siapa pun.
Yang dunia lihat hanyalah Adrian Wijaya—CEO muda sukses dengan masa depan gemilang.
Sedangkan Kayla?
Hanya istri rumahan yang dianggap beban.
Brak.
Suara pintu depan terbuka membuat tubuh Kayla menegang.
Adrian pulang.
Entah sejak kapan, suara langkah kaki pria itu tak lagi membawa rasa tenang. Yang tersisa kini hanyalah kecemasan.
“Adrian, kamu sudah pulang?” suara Ibu Sandra mendadak berubah lembut penuh kasih.
Pria itu memasuki ruang makan dengan jas abu-abu mahal tersampir di lengannya. Dasi hitamnya sedikit longgar.
Wajah tampannya terlihat lelah, tetapi tatapannya dingin dan jauh.
“Iya, Bu.”
Kayla segera mendekat dengan senyum kecil yang dipaksakan.
“Mas… mau aku siapkan air hangat? Atau makan dulu? Supnya masih panas.”
Namun sebelum jemarinya menyentuh tangan Adrian, pria itu sudah menarik diri.
Gerakannya cepat. Seolah sentuhan Kayla adalah sesuatu yang ingin dia hindari.
“Aku capek, Kay.”
Dingin.
Singkat.
Tanpa menatap wajah istrinya sedikit pun.
Tubuh Kayla membeku di tempat.
Lalu, samar-samar, indra penciumannya menangkap aroma asing.
Bukan parfum maskulin yang biasa dipakai Adrian.
Ini aroma parfum wanita.
Vanila manis bercampur mawar elegan. Wangi mahal yang terlalu melekat untuk disebut kebetulan.
Tatapan Kayla perlahan turun ke kerah kemeja putih suaminya.
Ada noda merah samar di dekat kancing kedua.
Lipstik.
Napas Kayla tercekat.
Adrian langsung membetulkan posisi jasnya, menutupi bagian dada dengan gerakan cepat. Untuk sepersekian detik, ada kepanikan melintas di matanya sebelum kembali berubah dingin.
“Apa?” tanyanya tajam. “Jangan mulai menatapku seperti itu.”
“Aku gak bilang apa-apa, Mas…”
Kalimat Kayla terputus ketika perutnya mendadak menegang. Bayi di dalam kandungannya bergerak kuat, seolah ikut merasakan kegelisahan ibunya.
Kayla meringis pelan sambil memegangi perutnya.
Namun Adrian hanya mengembuskan napas kasar.
“Aku mau istirahat,” katanya datar. “Dan tolong… jangan bikin keributan malam ini.”
Setelah itu, pria itu berjalan melewati Kayla tanpa menyentuhnya sedikit pun.
Saat Adrian menaiki tangga, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Layar yang menyala sekilas terlihat jelas di mata Kayla.
Sebuah pesan masuk muncul dengan nama kontak beremoji hati merah.
“Hubby, makasih ya buat makan malam romantisnya tadi. Aku udah kangen lagi. Besok jangan lupa temani aku fitting gaun, ya ❤️”
Dalam sekejap, dunia Kayla runtuh.
Dadanya terasa kosong.
Napasnya tercekat.
Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh membasahi pipi pucatnya.
Sementara di dalam rahimnya, bayi kecil itu terus bergerak gelisah.
Kayla menggenggam dadanya yang sesak.
Apakah selama ini… semua pengorbanannya hanya sebuah fatamorgana?