NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: SABUN YANG LICIN

Uap hangat yang menguar dari sisa air di wastafel marmer membuat atmosfer di dalam kamar mandi tamu itu terasa makin menjebak. Jarak di antara Bima dan Anaya kini tersisa kurang dari setengah meter. Tatapan elang Bima yang mengunci sepasang mata hazel milik sekretarisnya seolah sengaja menguliti rasa gugup yang mati-matian coba Anaya sembunyikan.

"Gak usah sok tahu ya, Pak!" kilah Anaya cepat, menepis jarak dengan melangkah mundur satu tapak hingga punggungnya membentur pintu kayu yang kokoh. "Saya merah begini karena udaranya pengap! Uap airnya bikin gerah, bukan karena kepikiran kejadian kemarin!"

Bima tidak langsung menjawab. Pria itu justru mengulum senyum tipis, tipe senyuman asimetris yang selalu sukses membuat Anaya merasa terintimidasi sekaligus kesal setengah mati. Bima menumpu satu tangannya di daun pintu tepat di samping kepala Anaya, mengurung pergerakan wanita itu dalam jarak yang begitu intim.

"Oh, karena gerah ya? Saya pikir kamu belum bisa move on dari empuknya karpet beludru ruangan saya," goda Bima, suaranya merendah menjadi bariton yang sangat santai, namun sarat akan provokasi.

"Pak Bima, tolong, jaga jarak profesional Bapak. Gini-gini saya masih punya harga diri. Dan ingat, di luar ada orang tua Bapak!" Anaya menempelkan kedua telapak tangannya di dada bidang Bima, mencoba mendorong tubuh tegap bosnya agar menjauh.

Bukannya menjauh, Bima justru terkekeh rendah. "Orang tua saya yang mengunci kita di sini, Anaya. Jadi teknisnya, kita sedang menjalankan perintah dari otoritas tertinggi di rumah ini."

Anaya memutar bola matanya malas. Dia tahu betul berdebat dengan Bima dalam kondisi seperti ini hanya akan membuang energinya secara percuma. Untuk mengalihkan perhatian dari debaran jantungnya yang makin tidak karuan, Anaya memutuskan untuk berjalan menuju area wastafel besar di tengah ruangan.

"Daripada Bapak sibuk tebar pesona narsis begitu, mending kita cuci tangan atau cuci muka dulu biar otaknya agak beneran dikit," ujar Anaya ketus sambil menyalakan keran wastafel. "Tangan saya agak lengket nih gara-gara megang gagang pintu berdebu tadi."

Anaya menekan botol dispenser sabun cair di pinggir wastafel. Namun sialnya, dispenser sabun keramik berbentuk estetik itu ternyata sudah kosong melompong. Hanya ada bunyi pess-pess udara kosong yang keluar saat Anaya menekannya berkali-kali.

"Yah, habis lagi sabunnya," keluh Anaya sambil cemberut.

Bima yang berjalan mengekor di belakang Anaya langsung melongok ke arah area shower di kubikel ujung. "Di dalam kubikel shower biasanya ada botol sabun cair cadangan yang ukurannya besar. Sini, saya ambilkan."

Bima melangkah masuk ke dalam area shower yang dibatasi oleh dinding kaca buram setengah badan. Di atas rak dinding marmer, memang terdapat satu botol besar sabun cair beraroma sandalwood mewah. Pria itu mengambilnya, lalu kembali ke arah wastafel tempat Anaya menunggu.

"Sini, biar saya tuangkan ke tangan kamu," kata Bima santai.

Anaya menjulurkan kedua telapak tangannya, menadah di bawah mulut botol. Bima menekan tutup botol dan mulai menuangkan cairan sabun yang cukup kental ke telapak tangan Anaya. Namun, karena uap hangat di ruangan itu membuat permukaan botol plastik tersebut menjadi sangat lembap dan berembun, ditambah beberapa tetes sabun yang sempat meluber ke dinding botol, pegangan tangan Bima mendadak kehilangan cengkeraman.

SLIP!

"Eh, copot!" seru Bima spontan saat botol besar itu tergelincir dari tangannya.

Refleks refleks tubuh seorang pria mapan yang rutin berolahraga langsung mengambil alih. Bima mencoba menangkap kembali botol yang meluncur bebas itu di udara. Di saat yang sama, Anaya yang panik juga ikut bergerak maju untuk menangkap botol tersebut agar tidak pecah menghantam lantai marmer.

Gerakan mereka yang terlalu mendadak dan tidak berkoordinasi justru menjadi bumerang. Tangan Bima yang licin karena lumuran sabun tidak sengaja mencengkeram pergelangan tangan Anaya dengan sangat kuat, sementara kaki mereka saling menjegal satu sama lain di atas lantai marmer yang mulai basah oleh uap air.

"Pak Bima, awas—"

BRUK!

Tubuh mereka berdua terdorong mundur dengan cepat, masuk ke dalam area kubikel shower. Dalam kepanikan untuk mencari keseimbangan, punggung tegap Bima membentur dinding marmer dalam kubikel, sementara tangan kirinya secara refleks menyambar tuas besi yang menempel di dinding untuk dijadikan pegangan.

Sialnya, benda yang disambar Bima bukanlah pegangan tangan statis, melainkan tuas pengatur aliran air shower otomatis.

KLIK!

SYURRRRRRRR!

Pancuran air shower bertekanan tinggi yang terpasang di langit-langit kubikel langsung menyembur dengan brutal, menumpahkan air dingin yang melimpah tepat di atas kepala dan tubuh mereka berdua yang masih saling mendekap erat.

"AAAAAAA! DINGIN!" jerit Anaya histeris, langsung menyurukkan wajahnya ke dada Bima untuk menghindari hantaman air yang langsung menusuk kulit kepalanya.

Bima bener-bener syok. Air dingin yang mengguyur deras langsung menghapus seluruh sisa rasa pening akibat wiski hari Sabtu kemarin. Pria itu berusaha mematikan tuasnya kembali, namun tangannya yang sudah dipenuhi busa sabun cair justru membuat tuas besi itu makin licin dan sulit digerakkan.

Setelah beberapa detik drama memutar tuas yang gagal, Bima akhirnya berhasil menyentak tuas tersebut ke posisi off. Semburan air langsung berhenti seketika, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari ujung pancuran ke atas lantai marmer.

Tik. Tik. Tik.

Suasana di dalam kubikel shower itu mendadak hening total, hanya menyisakan deru napas mereka yang terengah-engah karena terkejut. Pakaian mereka berdua sudah basah kuyup, menempel ketat di kulit tanpa ampun. Kemeja abu-abu milik Bima menggelap total, menempel pada lekuk dada dan perutnya yang kotak-kotak.

Namun, kondisi Anaya jauh lebih kritis.

Anaya perlahan mengangkat wajahnya dari dada Bima, menyeka sisa air di matanya dengan tangan yang gemetar. Kemeja kerja putih berbahan sifon tipis yang dikenakannya sore ini kini telah berubah menjadi transparan sempurna akibat guyuran air dingin tadi.

Bima menundukkan kepalanya, berniat memastikan keadaan sekretarisnya. Namun, begitu pandangan mata elangnya turun, napas Bima seketika tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdentum hebat, jauh lebih keras daripada saat dia menghadapi krisis saham terbesar di perusahaannya.

Di balik kain kemeja putih yang kini menempel ketat seperti kulit kedua itu, siluet bra hitam berenda milik Anaya terlihat dengan sangat jelas, kontras, dan tegas membingkai lekuk dada indah sekretarisnya yang selama lima tahun ini selalu disembunyikan di balik draf pakaian kerja yang longgar. Tak hanya itu, kulit putih bersih Anaya yang terekspos samar di balik kain basah itu benar-benar menguji batas pertahanan iman seorang Bimantara.

Anaya yang menyadari tatapan mata Bima mendadak berubah menjadi sangat dalam, gelap, dan tidak berkedip, langsung mengikuti arah pandang bosnya. Begitu melihat kondisi dadanya sendiri, mata Anaya membelalak sempurna dengan tingkat kepanikan yang mencapai level maksimal.

"PAK BIMA! JANGAN LIHAT!" pekik Anaya dengan suara melengking, langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi siluet intim yang terpampang nyata tersebut. Wajahnya dalam sekejap berubah menjadi sangat merah, bahkan menjalar hingga ke leher dan telinganya.

Bima buru-buru memalingkan wajahnya ke arah dinding marmer, berdeham keras-keras untuk mengusir pikiran-pikiran liar yang mendadak menginvasi otak jeniusnya. "Saya... saya gak sengaja, Anaya. Lagian salah kamu sendiri kenapa malam ini pakai baju transparan begitu ke rumah saya," sahut Bima, mencoba mengembalikan nada angkuh dan narsisnya, meskipun suaranya terdengar sangat parau dan gugup.

"Ini kemeja standar kantor, Pak! Bapaknya saja yang mesum!" semprot Anaya sambil menggigit bibir bawahnya menahan malu yang luar biasa. Dia bener-bener ingin menghilang dari muka bumi detik ini juga.

Melihat Anaya yang menggigil kedinginan sekaligus gemetaran karena malu, sisi protektif Bima yang tersembunyi jauh di dalam hatinya mendadak mendominasi. Tanpa memedulikan gengsi atau jarak profesional lagi, Bima langsung melepas kemeja abu-abunya yang basah bagian luar namun masih agak hangat di bagian dalam, menyisakan kaos dalam singlet hitam yang membungkus ketat tubuh atletisnya.

Bima melangkah mendekat, lalu menyelimutkan kemeja abu-abunya yang lebar itu ke atas bahu mungil Anaya, membungkus tubuh sekretarisnya agar terhindar dari pandangan matanya sendiri.

"Pakai ini," perintah Bima dengan suara berat yang terdengar sangat lembut di telinga Anaya. "Jangan dibuka sampai pintu luarnya dibukain sama Mama."

Anaya tertegun, menatap kemeja abu-abu Bima yang kini membungkus tubuhnya, menghantarkan kehangatan dan aroma maskulin khas Bima yang begitu menenangkan. Proses slow burn yang mereka rasakan selama bertahun-tahun kini rasanya mulai membakar batasan di antara mereka secara nyata, meninggalkan debaran aneh yang makin sulit untuk diredam di dalam ruang kamar mandi yang terkunci itu.

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!