"Tidak akan, aku menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
'Karena aku mirip ibu? Tuan, apakah kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu.'
Akhirnya aku bertemu orang yang sering disebut-sebut namanya di setiap pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Karunia , 19 tahun.
*
Dewi pelangi, 28 tahun.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tengah menonton televisi. Dewi bersandar di dada Johan, dagu Johan di pucuk kepala istrinya.
"Mas, bagaimana kalau kita cari seorang perempuan yang mau dihamili." suara Dewi tiba-tiba mendongak pada Johan.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Johan merasa aneh dengan perkataan istrinya, Dewi.
*
Kedua perempuan diatas adalah isteri Johan Alamsyah 37 tahun, Pria matang itu berniat poligami agar terhindar dari masksiat.
Apakah niatnya akan tercapai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Sudah pukul 01.00wib dini hari, penghuni rumah Johan belum ada yang tidur. Apalagi Johan dan Devan lagi semangat bantu ngabisin mie instan masakan Niah.
"Arkkhh, enaknya." Johan menyedot kuah mienya, hatinya benar benar bahagia seolah kembali remaja.
"Niah kamu masak nya enak, terima kasih ya." ucap Devan juga ikutan mengangkat mangkoknya ke mulut ingin menyedot kuah juga.
"Biasa aja kali, cuma mie instan ini." jawab Niah, memajukan mulutnya.
"Gak pernah makan, apa?" tanya Niah.
"Kamu jangan sering makan makanan instan Niah, tidak baik untuk kesehatan." Johan suara lembut pada Karunia.
Karunia mencibir, "itu kenapa ikut makan." ketus nya.
"Makanya jangan lagi, ngerti!" sergah Johan akhirnya dikasi tau ngelawan.
Hm, "Tadi katanya enak sekarang gak boleh lagi." gumam Niah pelan tapi masih bisa didengar Johan dan Devan.
Karunia menatap sinis Johan yang tersenyum devil memandang nya. Pandangan yang menurut Niah, lebih kepada mesum daripada sayang seorang ayah pada anaknya.
Sebodo! Suka suka aku lah, yang penting besok get out dari sini.
Batin Karunia buang muka, terpandang Bibinya yang tersenyum tawar. Karunia menarik ujung bibirnya kilas sambil berdiri membawa bekas mangkok kotor ke wastafel.
Melihat Johan makan duduk di bawah beralas karpet, sesuatu yang belum pernah dilakukan Tuannya itu sepenglihatan si mbok selama bekerja dengan keluarga Johan.
Benarkah Niah anak Tuan Johan?
Apa karena dulu si Kurni (panggilan ibu Niah dulu) hamil makanya diusir?
Sudah ketahuan gini, akankah Nyonya besar menerima Niah sebagai cucunya?
Kalau dilihat lihat apanya dari Niah yang mirip Tuan, mata coklatnya. Wajahnya benar benar si Kurni, sepertinya mirip juga sama si Sukri (nama ayah Niah).
Lalu kenapa hasil test jadi anak Tuan Johan?
Berbagai pertanyaan timbul di pikiran mbok Senah. Kejadian ini juga sangat mengejutkan baginya.
Hah! Si mbok menghela nafas ikutan sesak. Apalagi tadi saat ia bantuin packing baju Dewi, gak tega melihat air matanya.
"Kamu istirahatlah, besok jadwalkan pagi ke pulau reklamasi lebih dulu, Devan." Johan memerintah Devan.
"Baiklah, pergilah sana!" jawab Devan gerah, cis dengus Johan merasa diusir.
"Kalian dua, jangan banyak ngobrol. Niah, cepat tidur!" Johan suara keras agar kedengaran Niah yang lagi nyuci piring di wastafel, hatinya gak tenang meninggalkan Niah bersama Devan.
"Bibi, awasi Niah. Jangan kemana mana, besok pagi. Ngerti Bi."
"Iya, Tuan." jawab mbok Senah lemah, sebenarnya ia sudah ngantuk. Namun masih nalar, saat mendengar Johan manggil nya bibi.
Johan bangun dari duduknya, badannya berat gak biasa duduk bersila di bawah, kaki rasanya keram.
"Sudah tua, maklum." sindir Devan melihat Johan memukul mukul kakinya yang kebas.
"Dasar kau, coba aku mau lihat kamu berdiri." ujar Johan nada kesal.
"Sudahlah sana, aku mau duduk sebentar. Bibi sudah ngantuk itu, kalau kamu gak pergi pergi kapan dia mau tidur." sergah Devan meluruskan kakinya.
"Pergilah tidur, Bi."
Ujar Johan pada mbok Senah, sambil tersenyum sinis pada Devan yang juga jelas jelas menahan kebas.
"Devan, mulai minggu ini atur jadwal kita nge-gym." titah nya.
"Baik, Bos!" jawab Devan sedikit ketus, kesal dari tadi si Johan gak pergi pergi.
~
Dewi di bathtub sedang berpikir, mau lanjut atau tidak program hamil.
Cklekk.
Kedengaran pintu kamar dibuka lalu handle pintu kamar mandinya ada yang memutar mutar, gak lama terdengar lagi pintu kamar ditutup.
Hm, mas Johan. Biasanya gedor gedor khawatir, sekarang...hah!
Desah Dewi menyudahi berendam nya.
~
Johan keluar dari kamar membawa baju tidur.
Gimana mau tidur kalau gak mandi, aku mandi di kamar Niah saja.
Siapa suruh lama lama di kamar mandi, jadi jangan salahkan aku mandi di kamar Niah, heh!
Seringai Johan turun ke lantai bawah, berpapasan dengan Devan di tangga yang hendak naik ke kamarnya di lantai dua.
"Dewi mengunci diri di kamar mandi, jadi aku mau mandi di kamar bawah." Johan alasan padahal Devan gak nanya.
Ck ck ck ck, Devan hanya berdecak.
Di atas kamar mandi banyak, mesti kali ke bawah.
~
Selesai nyuci piring, Niah di kamarnya baring terlentang di kasur, mengusap perutnya yang kekenyangan.
Besok pagi kabur ah, bahaya kalau lama lama di sini.
Cklekk. Pintu kamar nya di buka.
"Eh, copot!" Niah terlonjak kaget Johan masuk kamarnya, menutup pintunya.
"Tuan ngapain masuk kamar saya?!" sergah Karunia gelisah.
Aih, cari mampus namanya ini.
"Mau numpang mandi. Berikan handuk kamu, aku cuma bawa baju ganti." jawab Johan santai tanpa beban.
"Tuan, di rumah ini banyak kamar mandi, ngapain mesti di sini!" bentak Karunia.
"Shutt, jangan berisik. Kamu mau Dewi dengar."
"Makanya Tuan keluar, apa di kamar Tuan gak ada kamar mandinya?"
"Dewi di dalam, tau ngapain. Di kamar lain gak ada sabun, ayo cepat sini handuk kalau kamu mau aku cepat keluar." Johan alasan.
Hais, "Walaupun kita ayah dan anak, gak pantes kalau begini."
Karunia mengomel sambil mengambil handuk lalu memberikan nya pada Johan.
"Gak pake lama!" sergah nya.
"Makasih sayang." ucap Johan, tangannya cepat menekan tengkuk Niah seketika bibirnya menyambar, uumph!
"Arghh." pekik Niah, mendorong Johan.
Johan terkekeh segera masuk ke kamar mandi. Terpaksa Niah keluar dari kamarnya sambil mengumpat kesal.
Sialan!
Papi?
Hah!
Alesan!
Gerutu Niah, menutup pintu kamarnya berjalan menuju dapur.
"Kenapa Niah?"
"Eh, ada setan!" Niah terlonjak kaget memegang dadanya.
Ternyata Dewi di tangga pakai jubah mandi dan tutup kepala serba putih, wajahnya pucat.
***♥️ Jumpa lagi.
Trima kasih yang sudah like, vote dan juga hadiah ya guys, 👍
kemana sofinya Thor