Monster itu menginginkan darah, aku berlari menjauh darinya. Dia selalu menemukan keberadaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ins, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedihan
"Kenapa kamu di sini?" Tanya Rian melihat Fredian menjaganya.
Fredian enggan menjawab pertanyaannya, beranjak berdiri kemudian menyentuh kening pria yang terbaring di atas tempat tidur.
"Sudah mendingan, makanlah buburmu aku harus kembali." Keluar dari kamar Rian, melangkah menuju mobilnya.
"Apa kabar gadis itu?" Fredian terkejut melihat berita.
"Pasangan serasi, seorang desainer dan seorang arsitektur. Sedang melakukan aksi modeling bersama."
(Beberapa foto dilampirkan)
Fredian segera melarikan mobilnya menuju ke rumah Irna.
"Apa sebenarnya yang dilakukan gadis itu, selama aku pergi!" Menginjak pedal gas mempercepat laju kendaraan.
Sesampainya di rumah Irna, Fredian agak terkejut melihat pintu rumahnya tidak terkunci. Pria itu berlari menerjang masuk.
Di dalam gelap dia melihat bayang-bayang hitam mengerumuni Irna, mencabik-cabik tubuh gadis itu.
Fredian berlari menerjang mahluk bertaring dan berkuku panjang tersebut. Dia sudah tidak peduli dengan tubuhnya sendiri menjadi ikut tercabik.
Fredian mengangkat tubuh Irna yang lemah. Sayup-sayup mata Irna terbuka, dilihatnya dia berada di dalam gendongan pria yang dikenalnya.
"Kenapa kamu kemari?" Tanyanya perlahan.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Kamu sudah membuangku tapi aku menjadi sangat menyedihkan!" Ujar Pria itu tanpa melepaskan gendongannya.
"Kamu membawaku kemana?" Tanya Irna kemudian.
"Rumahku" Ucap Fredian membawa gadis itu ke sebuah kamar besar. Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sebelum kemari aku melihat darah masih mengalir dari bagian bawah tubuhmu! siapa yang berani melakukannya?!" Teriaknya pada Irna tidak sabar.
"Seseorang memberikan obat pada minumannya, dan saat itu tanpa sengaja kami sedang bersama."
"Apakah dia?!" Fredian menunjukkan jepretan hasil fotonya bersama Reynaldi hari itu melalui layar ponselnya.
Irna melihatnya sekilas, bibirnya enggan menjawab.
"Jika kamu terdiam, artinya benar!" Ujar Fredian memalingkan wajahnya ke arah lain.
Waktu sudah menunjukkan jam dua pagi, Irna terlelap di bawah selimutnya. Fredian masih melihat wajah sayu gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali padaku??" Tanya pria itu pada dirinya sendiri.
"Pelayan!" Teriaknya pada pelayan di luar pintu.
"Iya tuan, ada yang bisa kami bantu?"
"Kalau Nona sudah bangun, siapkan sepasang baju dan perlengkapan lainnya. Juga jangan lupa siapkan makanan untuknya. Layani dia dengan baik."
"Jangan biarkan dia pergi ke kantor sendiri, minta sopir dan dua orang pengawal untuk menjaganya!" Perintah Fredian pada petugas yang berada di dalam rumahnya.
"Baik tuan.."
Pagi itu Fredian bergegas menemui Reynaldi. Awalnya dia ingin membuat perhitungan dengan pria itu.
Pelayan rumahnya bilang kalau tuan mereka masih berada di rumah sakit.
Fredian segera menuju ke rumah sakit untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu.
Fredian masuk ke kamar rawat, di mana Reynaldi berada.
"Kamu sudah datang.." Ujarnya melihat Fredian masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada gadis itu!!! kamu pria yang sangat kejam!! bagaimana kamu membuatnya mengeluarkan begitu banyak darah!!" Teriak Fredian mencengkeram krah baju Reynaldi.
Reynaldi mengambil biodata salah satu artis model menyerahkan pada Fredian.
"Dia yang menyebabkan hal ini terjadi."
"Sebelumnya Irna pergi ke studioku untuk melakukan pekerjaan, sebagai foto model gaun rancangan terbaruku. Wanita ini memasukkan obat ke dalam gelas minumanku."
"Irna tanpa sengaja melihat kami bersama pada malam itu, lalu aku pergi ke kantornya untuk meminta maaf. Kami minum kopi bersama, tiba-tiba kesadaranku menghilang. Dan aku menyakitinya."
"Di mana wanita ini sekarang?" Tanya Fredian kembali, menunjukkan biodata wanita tadi.
"Di dalam penjara, aku langsung melaporkannya ketika sadar semalam."
"Bolehkah aku tahu keadaan Irna? aku sangat menyesal dan aku tidak menyangka jika aku akan sangat melukainya!" Wajah Reynaldi menunduk, air matanya menetes.
"Aku bahkan tidak berani menunjukkan diriku di hadapan gadis itu lagi." Tambahannya lagi.
Fredian keluar dari kamar Reynaldi melangkah gontai kembali pulang ke rumahnya.
Dia mendapati Irna sedang duduk di atas ayunan di samping rumah besar miliknya. Banyak kupu-kupu berwarna warni melintas di antara bunga yang sedang bermekaran pagi itu.
Rambut panjangnya terurai, wajahnya masih terlihat pucat.
"Apakah aku harus merasa lega melihat wajah gadis itu tidak depresi?!" Ujar pria itu dari lubuk hatinya yang terdalam, terasa kepedihan mengiris hatinya.
Irna melihat Fredian mengawasinya, gadis itu tersenyum menatap kedatangannya.
"Terima kasih.." Kata itu yang meluncur pertama kali dari bibir Irna ketika pria itu melangkah mendekat, duduk berjongkok di bawah kakinya.
Fredian tersenyum, meletakkan seikat bunga mawar berwarna ungu muda di atas pangkuannya.
Irna meraih bunga di atas pangkuannya, menghirup harum aroma dari bunga tersebut.
Fredian tersenyum dengan lembut mengecup keningnya.
"Kamu gadis yang sangat kuat! kamu gadis yang sangat hebat!" Fredian mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Irna.
Irna pura-pura mencium bunganya kembali, menjadikan bunga mawar di antara bibir Fredian dan bibirnya sendiri.
"Ha ha ha"
Gadis itu tergelak menatap Fredian dengan wajah canggungnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Pria itu tersenyum menatap Irna, wajah gadis di depannya kembali cerah.
"Ah, kamu mau membawaku kemana?" Tanya Irna ketika Fredian kembali menggendongnya.
"Sarapan" Jawab Fredian pendek.
Rasa yang begitu akrab, entah itu rasa hangat seorang sahabat. Ataukah rasa nyaman karena pernah menjadi bagian dari hidupnya di masa lalu.
Fredian menurunkan tubuhnya di atas tempat duduk di meja makan.
"Apa yang ingin kamu makan? aku akan mengambilkannya untukmu" Ujar pria itu dengan tersenyum lembut.
"Aku akan mengambilnya sendiri" Ujar Irna menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Apakah kamu akan ke kantor hari ini?" Tanya Fredian sambil melahap makanan.
"Kamu sendiri, apakah akan pergi ke Reshort hari ini?" Bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya.
Fredian tersenyum mendengar pertanyaan balik mantan istrinya itu. Kebiasaannya tidak berubah, selalu ingin tahu terlebih dahulu.
"Ya, ada beberapa berkas yang menunggu tanda tanganku. Dan nanti siang ada rapat penting dengan klien dari Filipina" Jelasnya seraya tersenyum melihat wajah Irna.
Fredian mengambil selembar kertas tissue, beranjak berdiri mengusap ujung bibir Irna yang belepotan makanan.
Irna menahan tangannya,
"Aku juga akan pergi ke kantor." Gadis itu meringis mencoba tersenyum.
"Apakah kamu sudah merasa baikan?" Tanya Fredian mengamati wajah Irna dari dekat.
Gadis itu hanya mengangguk kecil.
"Aku akan mandi dulu." Ujarnya pada Fredian melangkah masuk ke dalam kamar, melepaskan seluruh pakaiannya. Melangkah ke dalam kamar mandi.
Luka goresan semalam sudah menghilang dari tubuhnya. Hanya bekas-bekas merah di lehernya yang masih tertinggal, bayangan kejadian semalam kembali menerobos ingatan gadis itu.
Dengan sangat kasar Reynaldi mencabik-cabik gaun yang menutupi tubuhnya, memangsa dirinya dengan buas seperti menemukan makanan.
"Jika obat perangsang kenapa dia lebih mirip seperti monster buas, seberapa berat kandungan obat yang diberikan oleh wanita itu padanya?? apakah mungkin wanita itu tahu jika Reynaldi akan menemuiku? maka dia memasukkan obat bukan digunakan untuk dirinya sendiri. Tapi sengaja untuk melukaiku!!!" Ujar Irna dengan penuh keyakinan.
Setelah selesai membasuh tubuhnya Irna membalut tubuhnya dengan selembar handuk, kemudian keluar dari dalam kamar mandi.
"Astaga!" Dia terkejut melihat Fredian telanjang dada menunggunya di luar pintu kamar mandi.
"Kamu sedang apa berdiri di luar pintu kamar mandiku?" Tanya Irna dengan salah tingkah.
"Tentu saja aku akan mandi, kran di kamarku rusak, dan saluran pembuangan air di lantai tersumbat" Ujarnya mencari alasan, menghalangi pintu dengan lengan kanannya.
"Oh jadi kran di kamarmu rusak, ya sudah masuklah dan mandi" Ujar Irna mencoba lewat di bawah lengan Fredian, pria itu menahannya.
"Ah punggungku sakit sekali! kenapa tiba-tiba begini, aduh!" Pura-pura kesakitan.
"Kamu tidak cocok berakting begitu, konyol sekali, ha ha ha!" Irna tertawa melihat Fredian berpura-pura kesakitan.
"Sudah masuk sana, bersihkan dirimu!" Mendorong punggung Fredian masuk ke dalam kamar mandi.
Irna memakai baju yang diberikan Fredian, "Gaun ini lumayan bagus, bagaimana dia tahu sekali seleraku.." Irna hanya memoles wajahnya sedikit.
Ada beberapa perhiasan di atas meja rias kamar itu. Dia tahu itu diberikan oleh Fredian untuk dirinya agar dia mau memakainya.
Irna tersenyum lalu menutup kembali kotak tersebut tanpa ingin memakainya. Sepatu gadis itu berdenting menyentuh lantai menggema di seluruh ruangan.
Langkah-langkahnya pasti, menuju ke luar dari rumah Fredian.
"Silahkan masuk nona, kami akan mengantarkan anda. Harap anda jangan menolak." Ujar salah seorang pelayan menunggu Irna di halaman rumah Fredian.
Fredian menatap Irna dari jendela kamarnya, secarik kertas berada di dalam genggamannya.
"Fred, aku akan kembali ke kantor. Terima kasih telah membawaku kembali kemari, tapi hatiku masih terasa beku. Aku sudah memaafkanmu untuk masa yang telah lalu."
"Aku harap kamu tidak kecewa, aku merasa diriku tidak cukup pantas untukmu.. aku masih berharap kamu menemukan gadis impianmu. Bukan gadis bekas dari banyak lelaki sepertiku... Irna Damayanti..."
Kertas dalam genggamannya basah, Fredian tahu gadis itu menangis ketika menulisnya..
Irna melihat ke jendela kamarnya, dia melihat Fredian menatap ke arahnya. Irna tersenyum melambaikan tangannya ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Sampai jumpa mantan suamiku.." Begitulah isyarat dari tatapan mata bening miliknya ketika melihat ke arahnya.
Fredian bergegas berlari menuju Irna di depan rumah miliknya.
Gadis itu berbalik melihat mantan suaminya itu, air mata gadis itu menitik perlahan ketika pria itu menghambur memeluknya.
Fredian kembali merengkuhnya, seolah enggan melepaskan kepergiannya.
"Fred.." Panggilnya mencoba melepaskan diri dari pelukannya.
Irna mengusap air mata di kedua pipi Fredian.
"Kenapa kamu menangis? aku tidak pergi ke lubang maut. Hentikan air matamu."
"Kamu adalah pilihanku dari awal hingga akhir, aku mohon jangan menyuruhku pergi lagi! walaupun kamu tidak mencintaiku lagi, biarkan aku memberikan cintaku hanya untukmu, hanya padamu seorang." Pria itu jatuh terduduk bersimpuh di bawah kaki Irna.
Para pelayan yang berdiri di sana ikut menitikkan air matanya melihat keadaan tuan besarnya begitu menyedihkan, kemudian mereka pergi memberikan waktu untuk mereka berdua.
bersambung....
Like + favorit + tinggalkan komentar + Vote 👉👉 baca juga judul lainnya di profilku, kisah yang tak kalah serunya. 😘😘😘😚😚😚😍😍😍 i love you Readers 😘😄😄 I Love you so Much!!!😘😚😙😗😍🤔🤔🤗🤗😍😍😍
aku jg mau🤭🤭