NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Setelah bertahun-tahun bercerai, dan memiliki jalan hidup masing-masing, api cinta yang pernah membara diantara mereka masih saja terasa.
Dan meskipun telah tertutup oleh debu waktu, akankah takdir dapat membawa mereka kembali bersatu?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sungai yang tak pernah kering

 "Ugh, besok sudah harus sekolah lagi. Kenapa liburnya cuma sebentar? Padahal aku belum diajak liburan sama ayah. Nggak enak juga punya ayah polisi." Gerutu Tya sambil memasukan buku-buku yang akan dibawa ke sekolah besok.

 Adit dan Arumni berdiri mendengarkan keluhan anaknya di ambang pintu. Keduanya tersenyum mendekati anak mereka.

 "Memangnya kamu mau liburan ke mana, sayang?" Tanya Adit.

 "Seperti teman-temanku, ayah. Ada yang ke pantai, ada yang ke rumah nenek, dan masih banyak lagi yang lainnya."

 Arumni tersenyum, "Tya, oma kan ada di sini, jadi kita tidak perlu berkunjung ke sana, kan? Semangat sekolah ya, sayang... Hari minggu yang akan datang kita ke desa ibu, gimana?"

 "Benar, bu? Ibu janji?" Tya ingin memastikan.

 "Bu, ayah nggak libur lo..." Saut Adit yang membuat wajah cerah Tya berubah menjadi mendung.

 "Benar kan, bu? Kapan ayah punya banyak waktu buat kita bersenang-senang?" Ucap Tya dengan tangan yang digulung dan bibir yang mengerucut, "huft, bikin tensi ku naik saja." Katanya.

 Adit dan Arumni pun menahan kikik dibuatnya, anaknya itu selalu ada aja yang diomongin.

  "Sayang, liburan memang menyenangkan, tapi kamu harus kembali ke sekolah untuk belajar dan bertemu teman-teman mu lagi, ya." Arumni mengalihkan perhatian sambil membantu memasukkan peralatan sekolah ke dalam tas Tya.

  Adit duduk di sampingnya, "ayah janji, kita akan liburan saat semester depan, oke?" Katanya sambil mengaitkan kelingking Tya dan kelingkingnya.

 "Ayah sudah berjanji, lo." Ucap Tya dengan senyum lebar, "jangan lupa lo, yah!"

 "Iya, ayah janji." Adit meyakinkan, "kalau ayah lupa, besok ayah janji lagi ya?" Goda Adit yang membuat Arumni dan Tya membulatkan matanya.

 "Ayah...!" Seru mereka sambil membalas dengan menggelitik perut Adit.

  Awalnya Adit menahan tenang, namun jari-jari mereka terus menggelitik perutnya tanpa henti, Adit pun tidak bisa menahan tawa. "Ha ha ha, berhenti! Ayah menyerah...Ayah menyerah...." Teriaknya sambil terus tertawa.

   Mereka pun berhenti lalu memeluk Adit penuh rasa sayang. Candaan hangat diantara mereka seperti sungai yang tak pernah kering, dan mereka sangat bersyukur atas hal itu.

* *

  Rama semakin mantap pada niatnya yang ingin menjadi seorang guru seperti kakeknya, ia begitu bersemangat menyiapkan mata pelajaran untuk besok.

 "Yah," ucap Rama saat menyadari ayahnya berdiri mengamati dirinya, yang sedang mengemasi peralatan sekolah dan memasukannya ke dalam tas sekolahnya. "Ayah belum tidur?"

 "Belum," Galih memeluk anak tersayangnya itu. "Ayah kangen sama kamu, Rama. Lain kali kalau nginap di rumah ibu jangan lama-lama, ya?"

 "Cuma tiga malam, ayah..." Rama mengingatkan. "Masih lamaan sama ayah, kan?"

  "Iya, tetap saja ayah kangen."

 "Kalau aku boleh jujur, aku lebih suka di rumah ibu." Ucap Rama yang membuat Galih merasa cemburu.

 "Apa iya? Memangnya di rumah ibu dikasih apa?" Galih penasaran, dia merasa sudah berjuang sekuat tenaga untuk menyenangkan hati Rama.

 "Dikasih keluarga yang utuh, hangat, dan kebahagiaan seperti sungai yang tak pernah kering."

 Galih terdiam sejenak. "Seperti apa, Rama?" Tanya Galih santai.

 "Yah. Ayah nggak ingin cari pengganti ibu, seperti ibu yang sudah mendapat pengganti ayah?"

 Galih mengulas senyum, "nggak semudah itu, Rama. Ayah harus benar-benar teliti dalam memilih."

 "Sesakit itu dikhianati ibu ya, yah?" Tanggapan Rama.

 "Bukan ayah yang sakit, Rama. Tapi—"

 "Tapi kenyataannya ibu sudah lebih dulu bahagia dengan yang lain," pangkas Rama. "Dan ayah. Ayah masih sendiri, setiap hari hanya kerjaan dan aku saja, ayah nggak ingin kebahagiaan ayah yang lain?"

 Bu Susi yang mendengar ucapan Rama pun turut memberikan komentar, "iya Galih... Ibu setuju sama Rama." Ucap bu Susi sambil masuk ke dalam kamar Rama lalu duduk diantara Galih dan Rama.

 Galih meraup wajahnya, "nanti aku pikirkan ya, bu?"

 "Sampai kapan Galih? Sebenarnya apa yang sedang kamu tunggu?"

   "Iya, ayah." Saut Rama.

 "Aku tidak tahu ibu... Rama.. Ayah tidak tahu. Memangnya ada wanita yang mau sama laki-laki payah seperti aku, bu?"

  "Kamu bukan laki-laki payah, Galih. Kamu mengurus Rama dan ibu dengan baik, kamu juga punya pekerjaan, dan kamu pantas untuk berbahagia." Ucap bu Susi yang turut dibenarkan oleh Rama.

 Galih kembali menyapu wajahnya, "akan aku pikirkan ya, bu?" Ucapnya sambil memeluk bu Susi.

 Bu Susi mengusap punggung Galih saat dalam pelukannya.

 "Mbah ibu, sepertinya kita yang harus mencarikan pendamping buat ayah, soalnya ayah nggak bisa cari sendiri." Gurauan Rama yang menjadi serius jika Galih mau.

 Bu Susi jadi tertawa dibuatnya, "kamu benar, Rama. Mbah ibu sangat setuju."

 Galih berdiri dari duduknya, "baiklah ibu ku dan juga anak ku tersayang..." Galih menatap jam dinding. "Berhubung sudah malam jadi aku mohon undur diri, pamit dari tempat ini." Ucap Galih saat ingin pergi meninggalkan mereka.

  "Jangan melarikan diri, ayah. Diskusi kita belum selesai," Kata Rama yang hanya dijawab lambaian tangan dari ayahnya.

  Bu Susi tersenyum menatap, "mbah ibu pamit juga ya, Rama. Besuk kita desak ayah mu lagi, setiap ada kesempatan."

 "Oke, mbah ibu."

  Galih mulai berpikir, "mungkin memang sebaiknya aku membuka hati untuk yang lain, cinta pertama bukan berarti cinta terakhir." Ia menjeda ucapannya, "tapi hatiku masih saja mengharapkan Arumni."

  Kegelisahan selalu menemani malamnya, saat ibu dan anaknya berkata itu. Menyesal tiada guna, namun sulit diabaikan. Untuk kenangan yang masih tergenggam di hati, Galih tidak ingin sampai menyakiti wanita lain lagi. Dia merasa, menduda seumur hidup adalah yang terbaik.

...****************...

1
Fatra Ay-yusuf
seharusnya Rama sudah waktunya tau, kasihan arumni jadi nampak seperti penghianat, padahal itu kesalahan galih kenapa arumni yang harus menanggungnya
Fatra Ay-yusuf
bisa aja galih 😅
Fatra Ay-yusuf
sakit tapi tak berdarah
Fatra Ay-yusuf
ada -ada aja nih adit😅
Fatra Ay-yusuf
apakah bu winda jodohnya galih
Fatra Ay-yusuf
lama gk baca tetiba ingat ma zaki, kira - kira dah nikah pa belum ya 🤔
Fatra Ay-yusuf
waduh
Fatra Ay-yusuf
mampir lagi ah, udah mulai bosen nih nonton dracin 🤭
Siti Musyarofah
tambah thor 2 lagi
Restu Langit 2: Sesuai permintaan, ditunggu ya~
total 1 replies
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!