Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungai yang tak pernah kering
"Ugh, besok sudah harus sekolah lagi. Kenapa liburnya cuma sebentar? Padahal aku belum diajak liburan sama ayah. Nggak enak juga punya ayah polisi." Gerutu Tya sambil memasukan buku-buku yang akan dibawa ke sekolah besok.
Adit dan Arumni berdiri mendengarkan keluhan anaknya di ambang pintu. Keduanya tersenyum mendekati anak mereka.
"Memangnya kamu mau liburan ke mana, sayang?" Tanya Adit.
"Seperti teman-temanku, ayah. Ada yang ke pantai, ada yang ke rumah nenek, dan masih banyak lagi yang lainnya."
Arumni tersenyum, "Tya, oma kan ada di sini, jadi kita tidak perlu berkunjung ke sana, kan? Semangat sekolah ya, sayang... Hari minggu yang akan datang kita ke desa ibu, gimana?"
"Benar, bu? Ibu janji?" Tya ingin memastikan.
"Bu, ayah nggak libur lo..." Saut Adit yang membuat wajah cerah Tya berubah menjadi mendung.
"Benar kan, bu? Kapan ayah punya banyak waktu buat kita bersenang-senang?" Ucap Tya dengan tangan yang digulung dan bibir yang mengerucut, "huft, bikin tensi ku naik saja." Katanya.
Adit dan Arumni pun menahan kikik dibuatnya, anaknya itu selalu ada aja yang diomongin.
"Sayang, liburan memang menyenangkan, tapi kamu harus kembali ke sekolah untuk belajar dan bertemu teman-teman mu lagi, ya." Arumni mengalihkan perhatian sambil membantu memasukkan peralatan sekolah ke dalam tas Tya.
Adit duduk di sampingnya, "ayah janji, kita akan liburan saat semester depan, oke?" Katanya sambil mengaitkan kelingking Tya dan kelingkingnya.
"Ayah sudah berjanji, lo." Ucap Tya dengan senyum lebar, "jangan lupa lo, yah!"
"Iya, ayah janji." Adit meyakinkan, "kalau ayah lupa, besok ayah janji lagi ya?" Goda Adit yang membuat Arumni dan Tya membulatkan matanya.
"Ayah...!" Seru mereka sambil membalas dengan menggelitik perut Adit.
Awalnya Adit menahan tenang, namun jari-jari mereka terus menggelitik perutnya tanpa henti, Adit pun tidak bisa menahan tawa. "Ha ha ha, berhenti! Ayah menyerah...Ayah menyerah...." Teriaknya sambil terus tertawa.
Mereka pun berhenti lalu memeluk Adit penuh rasa sayang. Candaan hangat diantara mereka seperti sungai yang tak pernah kering, dan mereka sangat bersyukur atas hal itu.
* *
Rama semakin mantap pada niatnya yang ingin menjadi seorang guru seperti kakeknya, ia begitu bersemangat menyiapkan mata pelajaran untuk besok.
"Yah," ucap Rama saat menyadari ayahnya berdiri mengamati dirinya, yang sedang mengemasi peralatan sekolah dan memasukannya ke dalam tas sekolahnya. "Ayah belum tidur?"
"Belum," Galih memeluk anak tersayangnya itu. "Ayah kangen sama kamu, Rama. Lain kali kalau nginap di rumah ibu jangan lama-lama, ya?"
"Cuma tiga malam, ayah..." Rama mengingatkan. "Masih lamaan sama ayah, kan?"
"Iya, tetap saja ayah kangen."
"Kalau aku boleh jujur, aku lebih suka di rumah ibu." Ucap Rama yang membuat Galih merasa cemburu.
"Apa iya? Memangnya di rumah ibu dikasih apa?" Galih penasaran, dia merasa sudah berjuang sekuat tenaga untuk menyenangkan hati Rama.
"Dikasih keluarga yang utuh, hangat, dan kebahagiaan seperti sungai yang tak pernah kering."
Galih terdiam sejenak. "Seperti apa, Rama?" Tanya Galih santai.
"Yah. Ayah nggak ingin cari pengganti ibu, seperti ibu yang sudah mendapat pengganti ayah?"
Galih mengulas senyum, "nggak semudah itu, Rama. Ayah harus benar-benar teliti dalam memilih."
"Sesakit itu dikhianati ibu ya, yah?" Tanggapan Rama.
"Bukan ayah yang sakit, Rama. Tapi—"
"Tapi kenyataannya ibu sudah lebih dulu bahagia dengan yang lain," pangkas Rama. "Dan ayah. Ayah masih sendiri, setiap hari hanya kerjaan dan aku saja, ayah nggak ingin kebahagiaan ayah yang lain?"
Bu Susi yang mendengar ucapan Rama pun turut memberikan komentar, "iya Galih... Ibu setuju sama Rama." Ucap bu Susi sambil masuk ke dalam kamar Rama lalu duduk diantara Galih dan Rama.
Galih meraup wajahnya, "nanti aku pikirkan ya, bu?"
"Sampai kapan Galih? Sebenarnya apa yang sedang kamu tunggu?"
"Iya, ayah." Saut Rama.
"Aku tidak tahu ibu... Rama.. Ayah tidak tahu. Memangnya ada wanita yang mau sama laki-laki payah seperti aku, bu?"
"Kamu bukan laki-laki payah, Galih. Kamu mengurus Rama dan ibu dengan baik, kamu juga punya pekerjaan, dan kamu pantas untuk berbahagia." Ucap bu Susi yang turut dibenarkan oleh Rama.
Galih kembali menyapu wajahnya, "akan aku pikirkan ya, bu?" Ucapnya sambil memeluk bu Susi.
Bu Susi mengusap punggung Galih saat dalam pelukannya.
"Mbah ibu, sepertinya kita yang harus mencarikan pendamping buat ayah, soalnya ayah nggak bisa cari sendiri." Gurauan Rama yang menjadi serius jika Galih mau.
Bu Susi jadi tertawa dibuatnya, "kamu benar, Rama. Mbah ibu sangat setuju."
Galih berdiri dari duduknya, "baiklah ibu ku dan juga anak ku tersayang..." Galih menatap jam dinding. "Berhubung sudah malam jadi aku mohon undur diri, pamit dari tempat ini." Ucap Galih saat ingin pergi meninggalkan mereka.
"Jangan melarikan diri, ayah. Diskusi kita belum selesai," Kata Rama yang hanya dijawab lambaian tangan dari ayahnya.
Bu Susi tersenyum menatap, "mbah ibu pamit juga ya, Rama. Besuk kita desak ayah mu lagi, setiap ada kesempatan."
"Oke, mbah ibu."
Galih mulai berpikir, "mungkin memang sebaiknya aku membuka hati untuk yang lain, cinta pertama bukan berarti cinta terakhir." Ia menjeda ucapannya, "tapi hatiku masih saja mengharapkan Arumni."
Kegelisahan selalu menemani malamnya, saat ibu dan anaknya berkata itu. Menyesal tiada guna, namun sulit diabaikan. Untuk kenangan yang masih tergenggam di hati, Galih tidak ingin sampai menyakiti wanita lain lagi. Dia merasa, menduda seumur hidup adalah yang terbaik.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/