NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34 Dia orang kita

Padahal tadi nuansa Reigan pada Hana sudah lumayan hangat, namun karena kedatangan Kakek Arthur membuat nuansa itu lenyap berganti mata tajam Reigan.

Bibir Kakek tersenyum. "Apa pembunuh bayaran tidak berhak masuk ke dalam keluarga Douglas? Kita bukan keluarga yang suci."

"Bukan soal itu," potong Reigan cepat.

"Lalu?" Dengan sabar dan seperti sudah menduga hal apa saja yang akan dikatakan cucunya, kakek Arthur melayani pertanyaan Reigan.

"Jadi kakek tidak terkejut?"

Kakek hanya tersenyum.

Ternyata memang sejak awal dia tahu kalau Hana adalah Vesper. "Lalu apa tujuan, Kakek?"

"Apa harus ada tujuan yang pasti? Hana cucu sahabatku. Itu saja sudah membuat aku ingin kamu menikahinya," kata Kakek Arthur tenang.

"Hanya itu?" Reigan tidak yakin.

"Kalau kau tidak terima, kamu bisa menceraikannya. Hana akan tinggal di rumah ku. Adopsi dia jadi cucuku."

Reigan diam terkejut dengan keputusan kakek. Mata kakek Arthur menangkap kegelisahan itu.

"Kakek mau kopi?" tawar Hana yang ingin tidak ikut campur tentang itu. Ini membuat Reigan melirik cepat.

"Ah iya. Kopi yang pahit bisa menyegarkan pikiran. Buatkan untukku Hana." Kakek penyuka kopi dan teh.

"Iya, Kakek. Apa Tuan Rowand juga mau kopi? Saya akan buatkan sekalian."

"Baik, terima kasih, Nona."

Yang lain bersikap biasa, membuat Reigan naik darah. Seperti kemarahan Reigan bukan apa-apa.

Brengsek!

"Apa kakek bisa menjamin dia tidak akan menghancurkan kita dari dalam?" tanya Reigan serius.

"Klan Douglas atau dirimu?" tegas Kakek Arthur menohok. Reigan terkejut.

Tek. Hana meletakkan kopi di depan Reigan. Ternyata wanita itu menyeduh kopi untuk dirinya juga. Kakek Arthur melirik.

"Aku tidak tahu apa maksud kakek, tentu saja aku bicara soal klan douglas," geram Reigan.

Keheningan kembali menyergap dengan aura menggelap yang kian pekat. Bohong jika Reigan tidak terusik, karena di bawah meja makan, tangannya terkepal kuat menahan detak kalkulasi tak kasatmata yang baru saja dilemparkan sang kakek.

"Klan Douglas tetap aman. Hana tidak mungkin jadi ancaman untuk kita," ujar Kakek sambil tersenyum pada Hana dengan hangat. Seakan bayangan sahabatnya yang sudah tiada muncul kembali.

Tak sengaja Rowand menumpahkan sedikit kopi diatas meja.

"Maaf, Nona."

"Tidak apa-apa, Tuan Rowand. Saya ambilkan serbet," ujar Hana hangat.

"Terima kasih."

Wanita ini beranjak dari kursi dan ke meja pantry.

"Kamu bisa menyingkirkan prasangka mu, Reigan," imbuh Kakek.

Reigan menatap kakeknya tajam.

"Dia murni," lirih Kakek membuat pandangan Reigan berubah.

Mata Reigan melirik Hana. Wanita itu tidak peduli. Yah, itu Hana. Wanita itu memang begitu. Disaat Reigan membahas soal identitas dirinya sebagai pembunuh bayaran, dia tetap tenang.

"Bagaimana soal penyusup yang masuk rumahku?" tanya Kakek Arthur yang belum mendapat kabar.

"Gagal," sahut Reigan kembali ingat Hana menginterogasi penyusup itu.

"Kenapa?"

"Leon sudah memperkirakan kedatanganku ke gudang senjatanya."

"Apa Pelabuhan Lama?" tebak Kakek yang mendengar kabar ada kebakaran di pelabuhan lama.

"Ya. Aku hanya menemukan gudang kosong dan ... berkas Hana." Reigan melempar tatapan tajam pada wanita itu.

Kakek mengangguk paham kenapa Reigan tahu kalau Hana adalah sniper dan pembunuh bayaran.

"Tenang saja. Hana orang kita," ujar Kakek Arthur meyakinkan. "Apa kau mendapat surat undangan dari seseorang dalam pemerintahan?" tanya Kakek yang kini tertuju pada surat undangan berlogo pemerintah di atas meja. Sejak tadi surat itu hampir seluruhnya tertutup piring.

Reigan menoleh pada surat itu. "Ya. Menteri Sosial."

"Menteri Sosial?" Kakek Arthur heran.

Tidak salah jika tadi Reigan juga sempat meremehkan surat undangan itu. Karena kakek Arthur saja terheran-heran.

"Ini tidak biasa," ujar Kakek.

"Ya. Aku juga heran." Reigan setuju.

Hana muncul dan membawa serbet. Mengelap meja dengan telaten.

"Terima kasih, Nona," ujar Rowand.

"Sama-sama." Hana tersenyum hormat.

"Bacakan untukku, Rowand," perintah kakek.

"Baik." Rowand berdiri dan membungkuk sedikit untuk meminta surat undangan pada Reigan. Pria ini menyerahkan surat berwarna putih itu ke Rowand.

Rowand membuka amplop dengan perekat yang sudah terkelupas. Membaca teliti lalu merangkum isi surat dan memberitahu Kakek Arthur.

"Menteri Sosial secara pribadi mengundang Tuan Muda Reigan beserta istri untuk menghadiri perjamuan eksklusif di Grand Aurora nanti malam, Tuan," lapor Rowand dengan nada rendah, namun penuh penekanan.

"Tidak mungkin hanya itu." Kakek tersenyum geli.

"Tentu saja. Pasti ada rencana tersembunyi," timpal Reigan.

"Lalu siapa dia? Aku baru mendengar menteri sosial masuk area dunia bawah." Kakek mengerutkan kening.

"Dia orang baik," ujar Reigan yakin karena Hana sudah bicara tadi.

"Baik? Apa ada orang baik dalam pemerintahan Odelgard?" tanya Kakek Arthur remeh.

"Dia memang orang baik, Kakek." Kini Hana ikut bicara.

"Kamu tahu, Cucuku?" Nada suara Kakek menurun saat mendengar Hana ikut bicara.

"Dia salah satu orang yang masuk dalam daftar buruan Hana, dulu." Reigan membantu menjelaskan.

"Oh, benarkah?" Ada sekelebat cemas yang terlihat dalam raut wajah pria itu itu.

Reigan tertegun. Apa kakek takut pembicaraan ini menyakiti hati Hana? Bukannya kakek sudah tahu dia pembunuh bayaran. Daftar buruan adalah makanan sehari-hari. Reaksi itu tidak normal. Persis ketika dia berpura-pura memperlakukan Hana rapuh padahal dia wanita berbahaya. Namun sorot mata itu jujur. Reigan bicara dalam batin dengan kebingungan yang berlapis.

"Apa kau akan menghadiri undangannya?" tanya Kakek Arthur.

"Tentu. Aku ingin tahu, mau apa menteri sosial yang baik itu ingin bertemu denganku," sahut Reigan.

"Ya. Aku juga penasaran," ujar Kakek Arthur.

"Orang baik selalu punya cara kreatif untuk masuk dalam bahaya, Kakek," ujar Hana.

"Kau benar, Hana. Hahahahaha." Tawa kakek membahana. Rowand tersenyum.

Reigan melirik. Kalimat itu terdengar sinis. Seperti bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya.

"Lalu, kau akan kesana dengan Hana?" tanya Kakek.

"Tentu. Kita suami istri," tegas Reigan yang membuat kakek yang tadinya cemas pada Hana menoleh.

"Itu benar. Kalian adalah suami istri." Kepala kakek manggut-manggut. Beliau juga melirik pada Rowand yang mengangguk tipis. "Apa Hana tidak apa-apa?"

"Tentu saja." Reigan melihat ke arah Hana. Menunjukkan bahwa mereka memenuhi undangan menteri sosial adalah keputusan bersama. "Aku sudah bicara pada Hana, dan dia setuju."

"Kamu tidak apa-apa, cucuku?" tanya Kakek Arthur cemas.

"Ya. Aku tidak apa-apa, Kakek." Hana tersenyum tipis.

Lihatlah. Dia tersenyum. Huh. Reigan mendengus. Lalu mengalihkan perhatian pada piring-piring berisi makanan di depannya.

"Baiklah kalau begitu. Aku bisa titipkan Reigan yang keras kepala padamu," ujar Kakek.

Keras kepala? Aku? Reigan tidak setuju.

"Kita sama-sama keras kepala, Kakek." Hana meralat kalimat kakek Arthur.

Reigan menaikkan alisnya sebentar mendengar itu. Kalimat itu seperti berkata, watak Reigan bukanlah satu-satunya yang buruk disini. Pria ini tampak senang.

Senang? Kenapa aku jadi senang? Brengsek!

"Benarkah? Kalau begitu kalian sama. Hahaha." Suara tawa kakek terdengar berat dan berwibawa.

Hana tersenyum. Rowand ikut tersenyum tipis.

1
Normawati
😘
Inah Ilham
terhura....eh terharu nya aku 😭😭😭
E F
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
Inah Ilham
kita yg baca berasa ikut diterperangkap dikegelapan
E F
lanjutt thor💪😍😄
Inah Ilham
sepertinya kok ada bau" gosong ya 🤣🤣🤣
Latifa Latifa
selalu suka karya othor...bahasa simple..alur jelas ..sukaa pokoknya
Inah Ilham
sabar Mas Bro
Inah Ilham
aku tau apa yang ada dikepalamu Reigan 🤣🤣🤣
Inah Ilham
mereka pikir Hana adalah mangsa padahal dialah predatornya
Inah Ilham
kaget ngga tuh si Abang Reigan
Dik Yude
karya2mu sll luar viasa thor..😍
Latifah Latifah
lanjut up thor💪💪😍
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!