Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga adalah Satu
Saat Elgar memutuskan pulang ke rumah hanya sekedar menyiapkan diri sebelum memulai pekerjaannya. Langkahnya terhenti dikala mendengar dering ponsel di ruang tamu.
Pagi itu membuat langkahnya terasa terburu-buru karena setelah dari rumah sakit harus bersiap untuk kembali bekerja.
Dirogohnya isi tas yang tak lain adalah milik adiknya, ponselnya adiknya masih berdering dengan nama yang tidak asing dilayar. Elgar enggan mengangkatnya dan masih tertegun hingga ponsel itu kembali hening.
Dilayar menunjukkan beberapa kali panggilan tak terjawab dari nama yang sama. Elgar membawa ponsel itu ke kamarnya, dia harus segera bersiap-siap.
Dengan penampilan yang rapi, Elgar berjalan keluar rumah dengan tas laptop dalam genggamannya. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena kondisi jalan yang lenggang.
Fokusnya menyetir terusik dikala ponselnya berdering lalu mengangkatnya. Panggilan itu akhirnya terhubung setelah sejak kemarin dia berusaha menelepon namun tak kunjung mendapat respon.
"Dimana Clarissa?" Suaranya tampak tenang namun menutut jawaban yang penuh kepastian.
Sayangnya jawaban yang keluar dari adik iparnya cukup membuat paginya terganggu. Tidak menyangka Ethan akan menjawab demikian.
Elgar berencana akan ke rumah sakit saat jam makan siang nanti. Dia sudah merencanakan agar menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.
Rasa lega mengisi sanubarinya dikala pesan masuk yang dikirim oleh Papanya, mengabarkan adiknya sudah sadar dan tengah menikmati sarapannya. Ingin rasanya Elgar cepat berlari ke ruangan yang ditempati keluarganya. Sekedar memeluk adik bungsunya tanpa banyak mencecar penjelasan seperti kemarin malam.
Waktu berjalan cepat, di luar dugaan Elgar ternyata pekerjaan cukup menyita waktu karena beberapa masalah. Elgar tetap memantau dan bekerja sama dengan karyawannya.
Kembali bertukar pesan dengan Papa dan Morgan, jam makan siang masih harus berada disana dengan beberapa tumpukan masalah yang harus segera diatasi. Papanya memaklumi dan memberi jeda bagi putranya agar mengingat istirahat.
Sementara Morgan dan istrinya memiliki waktu luang sehingga di sore hari mereka muncul dan menyapa penghuni ruangan itu.
Clarissa yang sepanjang hari hanya berbaring ran sesekali bersandar, merasakan kembali kehangatan keluarganya. Mendengar cerita Mamanya, atau melihat respon Papanya yang hanya tertawa. Membuatnya ikut tertawa dan terlepas dari rasa yang berkecamuk.
Ditambah lagi kakak sulungnya Morgan yang hadir di sore itu, memberikan sedikit tawa dengan candaannya. Mereka adalah keluarga yang harmonis dengan dua anak laki-laki yang humoris dan sedikit jahil.
Clarissa dekat dengan keduanya, terlebih dengan Elgar yang jarak usia mereka hanya tiga tahun. Clarissa dan Elgar sering bertengkar namun tidak terpisahkan.
Kini ruangan itu lebih hidup setelah kehadiran Morgan dan istrinya. Ada rasa tidak siap yang timbul dihati Clarissa, tidak siap dengan pertanyaan yang kembali terdengar seperti kemarin malam. Rasa tidak siap jika Elgar muncul dari balik pintu dan menanyakan semuanya.
Meski dihati Clarissa sedikit canggung karena tidak ada satupun yang bertanya bagaimana dia bisa sampai di kota ini dan bagaimana dia bisa mendapat luka sebanyak itu. Clarissa dapat meraba suasana yang disembunyikan dengan halus.
Masih mencari sesuatu yang belum lengkap, mencari sosok yang tidak pernah lepas dari hidupnya sejak dua tahun lalu. Ada kerinduan yang hadir ditengah rasa panik yang terasa timbul tenggelam. Mencari benda pipih yang sejak tadi tidak dia temukan. Bahkan ingatannya sangat kabut hingga tak tahu dimana terakhir kali tas selempang dan ponselnya berada.
Pertanyaan itu akhirnya keluar, ingin menyentuh ponselnya dan memeriksa isi pesan dengan segala harapan dihatinya. Mungkinkah Ethan sedang mencarinya, berusaha meneleponnya beberapa kali. Harapan itu yang membuat Clarissa semakin penasaran.
Namun sayangnya tidak aea satupun yang mengetahui dimana ponsel Clarissa, sejak awal berada di ruangan itu mereka tidak melihatnya.
"Mungkin tertinggal di rumah Ca, nanti setelah pulang ke rumah akan dibawa" Ucap Papanya menenangkan putri, mereka memang berniat untuk ke rumah sebentar untuk mengganti pakaian lalu ke kembali ke rumah sakit.
Hingga waktu berubah malam, Clarissa masih di suapi Mamanya dengan sabar. Sosok yang dihindari sejak tadi akhirnya muncul dari balik pintu yang dibuka dan ditutup perlahan.
Elgar muncul tapi bukan dengan pakaian kerja, dia menyempatkan diri untuk pulang ke rumah dan membersihkan diri lalu mampir membeli makanan disalah satu tempat makan saat diperjalanan menuju rumah sakit.
Dia memesan cukup banyak, untuk kedua orang tuanya dan untuk Morgan juga kakak iparnya.
Pembicaraan hangat memenuhi isi ruangan itu. Sepintas membahas pekerjaan dengan Morgan dan Papanya. Sementara ketiga wanita yang ada disana hanya menyimak.
Elgar mendekat ke arah Clarissa berbaring dan menatap lekat membuat Clarissa salah tingkah.
"Makanan rumah sakit enak?" Tanya Elgar sekedar basa-basi sembari melihat isi nampan yang hampir habis.
"Enak...." sahutan singkat dari Clarissa yang masih kikuk karena merasa diperhatian setiap jengkal tubuhnya.
Clarissa selesai dengan makan malamnya dan sudah meminum obat. Menolak tawaran Mamanya untuk kembali berbaring, bersandar seperti seperti itu sudah membuatnya nyaman.
Kini memperhatikan keluarganya yang sedang menikmati makanan yang tadi dibawa Elgar. Diselingi obrolan ringan dan tawa mampu mengalihkan isi pikirannya yang mulai berisik.
Makan malam selesai dan Elgar menyarankan agar kedua orangtuanya kembali ke rumah. Mereka tentunya sudah lelah menunggu sepanjang hari. Sedikit menolak karena wanita paruh baya itu ingin ikut menginap lagi dan memantau putrinya.
Bahkan Morgan juga berinisiatif untuk menjaga Clarissa. Cukup Morgan dan Elgar yang kali ini menjaga, begitu saran mereka.
"Tidak perlu, Morgan pulang saja. Biar nanti Mama dan Papa kembali ke sini" Saran Mamanya karena paham esok hari kedua putranya sudah kembali sibuk.
Morgan akhirnya mengalah namun Elgar tetap ingin menginap seperti kemarin. Mereka berempat akhirnya keluar dari ruangan itu.
Berjalan menyusuri lorong menuju parkiran, hingga mereka berpisah di sana. Morgan menaiki mobilnya bersama istrinya dan kedua orangtuanya menggunakan mobil yang dibawa Elgar tadi.
Sementara di dalam ruangan yang hanya diisi kakak beradik itu mendadak hening. Clarissa menerka ucapan apa yang akan keluar dari mulut kakaknya.
Elgar terdiam sejenak menatap ke arah jendela yang tertutup rapat, sesekali berdehem mengusir kecanggungan.
"Kamu mau berbaring?" suara yang tertahan beberapa menit lalu akhirnya keluar.
Clarissa menggeleng pelan disertai kata tidak. Kakaknya kembali menawarkan minum dan Clarissa menolak kembali.
Dering ponsel Elgar sedikit melonggarkan kekakuan keduanya, Elgar mengangkat teleponnya dan berbicara di sisi Clarissa.
Clarissa dapat menangkap pembicaraan itu mengenai pekerjaan. Elgar tampak bangkit dari duduknya dan bergerak menuju jendela. Disingkapnya tirai untuk melihat pemandangan luar sembari berbicara dengan ponsel yanh masih melekat di telinganya.
Clarissa perlahan bergerak dan membaringkan diri, memejamkan mata karena pengaruh obat mulai bekerja. Rasa kantuk yang membuatnya menguap beberapa kali.
Elgar selesai dengan pembicaraannya lalu menoleh ke arah adiknya. Didapatinya Clarissa telah tidur, langkahnya mendekat lalu menarik selimut Clarissa sampai menutupi lengannya.
Setengah jam berlalu, Elgar duduk di sana dengan lamunannya hingga keduanya orangtuanya kembali dengan langkah pelan setelah mengintip dari balik pintu dan mendapati Clarissa sudah tertidur.
Mereka ikut beristirahat disana, tempat yang cukup untuk mereka bertiga. Sesekali terdengar obrolan dengan suara tipis agar tidak menggangu Clarissa.