Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pewaris Arkanel
Kalimat yang baru saja diucapkan Marcus Vale terasa jauh lebih berat dibanding ancaman biasa.
Dan keheningan langsung menyelimuti ruangan Putra Mahkota.
“Serahkan pewaris Arkanel… atau malam ini istana akan dipenuhi darah.”
Tatapan Arcelia Vareinne perlahan berubah tajam, Jadi akhirnya mereka berhenti bersembunyi.
Di atas meja, Auriel menundukkan telinga pelan. Bulunya sedikit mengembang karena gelisah.
“Ini lebih cepat dari dugaan.” gumam Auriel.
Sementara Putra Mahkota Elias Astrael berdiri diam dengan aura dingin yang menyesakkan.
“Gerbang utara diserang hanya untuk mengirim ancaman?” tanya Putra Mahkota suaranya terdengar penuh tekanan.
Marcus mengangguk. “Mereka mundur setelah meninggalkan pesan.”
“Namun beberapa kesatria kerajaan terluka.” kata Marcus menundukkan kepalanya.
Putra Mahkota Elias memejamkan mata sesaat.
Lalu ketika membukanya kembali tatapan emasnya terlihat jauh lebih tajam. “Kael.”
Suara rendah itu dipenuhi kemarahan dingin.
Arcelia memperhatikan Putra Mahkota diam-diam.
Meski mengetahui adiknya kemungkinan berada di balik semua ini Putra Mahkota Elias masih terlihat menahan sesuatu.
Rasa kecewa. Atau mungkin… penyesalan.
“Tuan Rumah." Auriel melompat ke bahu Arcelia. “Kita harus pergi dari istana.” kata Auriel memberi peringatan kepada Arcelia.
Marcus langsung mengangguk setuju. “Benar. Kalau mereka sudah bergerak terbuka… Nona Arcelia menjadi target utama sekarang.” kata Marcus
Namun Putra Mahkota Elias justru berkata datar “Tidak.”
Deg...!
Marcus terlihat terkejut. “Yang Mulia?”
Tatapan Elias perlahan jatuh pada Arcelia. “Kalau dia pergi sekarang…” tangannya mengepal sangat keras.
“Black Serpent akan mengejarnya sampai ujung kerajaan.” Ujar Putra Mahkota.
Arcelia menyipit tipis dan ucapannya sangat masuk akal.
Dan kemungkinan besar mereka memang sudah mengepung istana.
“Kita justru lebih aman di pusat permainan mereka,” lanjut Putra Mahkota Elias.
Auriel menggeram kecil. “Aku benci kalau dia benar.” kata Auriel kesal dengan Putra Mahkota.
Sedikit senyum samar muncul di sudut bibir Putra Mahkota Elias.
“Aku mulai menyukai makhluk itu.” katanya sambil tersenyum.
“Aku sama sekali tidak menyukaimu.” kata Auriel kesal.
Marcus tampak berusaha keras menahan ekspresinya. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat Putra Mahkota berbicara santai di tengah situasi genting.
Namun suasana ringan itu tidak bertahan lama.
Karena tiba-tiba sistem milik Arcelia menyala,
[BIB...!]
[Peringatan Bahaya Tinggi.]
[Niat membunuh terdeteksi.]
[Jumlah target: 13.]
Mata Arcelia langsung menyipit tajam. “Auriel.”
Rubah kecil itu langsung berdiri tegak. “Mereka di atas.”
DETIK BERIKUTNYA—
BRAK!
Langit-langit ruangan meledak. Pecahan marmer berjatuhan ke segala arah.
Beberapa sosok berpakaian hitam langsung melompat turun sambil membawa pedang dan belati beracun.
"Black Serpent." bola mata Arcelia terbelalak.
Marcus langsung mencabut pedangnya. “Lindungi Yang Mulia!” teriaknya.
Para pembunuh bergerak cepat.
Namun lebih cepat lagi—
CLANG!
Putra Mahkota Elias menahan satu pedang dengan tangan kosong.
Aura emas langsung meledak dari tubuhnya.
Mata Arcelia sedikit melebar. "Kekuatan sihir dann levelnya tinggi." batin Arcelia.
Pembunuh di depan Putra Mahkota Elias langsung terpental menghantam dinding.
Darah memenuhi lantai marmer putih.
Sementara Marcus bertarung melawan dua orang sekaligus di sisi lain ruangan.
“Auriel!” teriak Arcelia.
“Aku tahu!” katanya.
Tubuh kecil rubah putih itu langsung bercahaya terang.
Untuk pertama kalinya ekor-ekornya terbelah menjadi tiga cahaya panjang.
Aura lembut putih dan merah muda memenuhi ruangan.
Dan para pembunuh langsung membeku sesaat.
“Jangan sentuh Tuan Rumahku.” Suara Auriel terdengar berbeda terdengar lebih berat dan lebih berbahaya.
Arcelia langsung merasakan energi hangat mengalir di tubuhnya.
[Sinkronisasi penjaga suci aktif.]
[Seluruh kemampuan meningkat sementara.]
Mata merah anggurnya berubah semakin tajam.
Dan tanpa sadar gerakannya menjadi jauh lebih cepat.
Seorang pembunuh menyerang dari belakang.
Namun Arcelia dengan mudah menghindar lalu menusukkan belati tepat ke bahu pria itu.
Jeritan memenuhi ruangan.
Putra Mahkota Elias yang melihat itu sedikit menyipit. “…Menarik.” batinnya.
Karena gerakan Arcelia tadi jelas bukan gerakan seorang bangsawan biasa.
Di sisi lain salah satu pembunuh tiba-tiba berteriak, “Bunuh pewaris Arkanel!”
Detik berikutnya semua mata langsung tertuju pada Arcelia.
Dan untuk pertama kalinya identitasnya disebut terang-terangan di dalam istana kerajaan.