Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Di Balik Festival
Tepuk tangan masih terdengar di berbagai sudut aula ketika Arcelia dan Putra Mahkota Elias menyelesaikan tarian mereka.
Beberapa bangsawan terlihat tersenyum sopan. Sebagian lainnya mulai berbisik. Dan sisanya sedang berusaha menyembunyikan keterkejutan mereka.
Karena apa yang baru saja terjadi jauh lebih menarik daripada sebagian besar rumor yang beredar selama beberapa minggu terakhir.
Putra Mahkota tidak hanya mengajak Arcelia berdansa. Ia juga terlihat menikmati percakapan mereka. Hal yang sangat jarang terjadi.
Arcelia bisa merasakan tatapan yang mengarah kepadanya semakin banyak dibandingkan sebelumnya.
Dan itu membuatnya sedikit lelah. "Aku ingin pulang." gumamnya dalam hati.
Auriel langsung menyahut.b"Kita baru saja mulai."
"Itulah masalahnya."
"Kau benar-benar tidak cocok menjadi bangsawan."
"Aku tidak pernah meminta posisi ini."
"Itu juga benar."
"Lady Arcelia." Suara Putra Mahkota Elias kembali terdengar membuat Arcelia menoleh.
Tarian memang telah selesai. Namun Putra Mahkota masih berdiri di sampingnya. "Terima kasih atas tariannya." kata Putra Mahkota Elias.
"Saya juga berterima kasih, Yang Mulia."
Mereka saling membungkuk ringan, Etika yang sempurna. Namun sebelum Arcelia sempat kembali ke Serena dan Noah, Putra Mahkota Elias kembali berbicara. "Saya berharap kita dapat berbincang lagi di lain kesempatan."
Kalimat sederhana tetapi cukup membuat beberapa bangsawan yang mendengarnya membeku.
Karena itu jelas bukan basa-basi kosong, Arcelia sendiri sedikit terkejut namun ekspresinya tetap tenang. "Saya akan merasa terhormat."
Senyum tipis kembali muncul di wajah Putra Mahkota Elias. Lalu ia berpamitan dan berjalan pergi meninggalkan aula yang langsung dipenuhi bisikan lebih ramai dari sebelumnya.
Begitu Putra Mahkota Elias menjauh, Serena muncul seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. "ARCELIA!"
Beberapa bangsawan langsung menoleh karena suara teriakannya bahkan Noah menutup wajahnya dengan satu tangan karena malu.
"Aku tidak mengenalnya." kata pemuda itu.
"Kau mengenalnya." jawab Arcelia.
"Itulah tragedinya."
Serena berhenti tepat di depan mereka. Wajahnya merah karena terlalu bersemangat.b"Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak banyak."
"Itu bohong."
"Tidak."
"Kalau begitu ceritakan semuanya."
Yyu
Arcelia mulai memahami mengapa banyak orang menyerah saat berdebat dengan Serena.
Gadis itu memiliki kemampuan luar biasa untuk terus menyerang sampai mendapatkan jawaban.
"Dia mengajakku berdansa."
"Itu aku lihat."
"Kami berbicara."
"Itu juga aku lihat."
"Lalu?"
Serena menatapnya tidak percaya. "Kau benar-benar tidak memahami betapa pentingnya ini?"
Noah akhirnya ikut berbicara. "Serena."
"Apa?"
"Kau membuatnya terdengar seperti lamaran pernikahan."
"Itu bukan maksudku."
Meski begitu, ekspresinya menunjukkan bahwa ia juga tidak sepenuhnya bercanda. Arcelia memijat pelipisnya Festival baru berjalan satu malam dan ia sudah mulai pusing.
Tak jauh dari mereka di balkon lantai dua Pangeran Kael Astrael masih berdiri sambil memperhatikan aula.
Seorang pria berpakaian hitam muncul di belakangnya.
Hampir tanpa suara. "Yang Mulia."
Pangeran Kael tidak menoleh."Ada apa?"
"Kami telah memeriksa informasi mengenai Lady Arcelia Vareinne."
Akhirnya Pangeran Kael mengalihkan pandangan. "Dan?"
"Perubahannya terjadi sekitar beberapa bulan lalu."
"Itu sudah diketahui."
"Ada sesuatu yang aneh."
Pangeran Kael memberi isyarat agar pria itu melanjutkan.
"Beberapa pelayan mengatakan kepribadiannya berubah drastis setelah sakit parah."
Keheningan singkat muncul mata Kael sedikit menyipit. "Berubah bagaimana?"
"Lebih cerdas. Lebih tenan dan jauh berbeda dari sebelumnya." Pria itu berhenti sejenak. "Kami belum menemukan penyebabnya."
Pangeran Kael kembali menatap ke arah aula. Tatapannya jatuh pada Arcelia yang sedang berbicara dengan Serena. Lalu entah mengapa rasa asing yang aneh kembali muncul dalam dirinya. ⁷Seolah ada sesuatu yang sedang memanggil dari kejauhan.
Sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu.
Dan sesuatu itu membuat bagian terdalam jiwanya terasa tidak nyaman.
"Terus awasi dia." perintah Pangeran Kael pelan.
"Baik, Yang Mulia."
Sementara itu... Di sisi lain aula. Seorang wanita muda berdiri bersama kelompok bangsawan. Tatapannya tertuju pada Arcelia dan penuh kebencian.
Namanya Clarissa Montclair. Putri seorang Count yang cukup berpengaruh. Sebelum kedatangan Arcelia, Clarissa adalah salah satu gadis yang paling sering dibicarakan menjelang festival. Cantik. Berbakat. Dan berasal dari keluarga yang memiliki hubungan baik dengan istana. Ia bahkan sempat berharap mendapat perhatian Putra Mahkota malam ini.
Namun kenyataannya?
Putra Mahkota Elias bahkan tidak melirik ke arahnya. Sebaliknya, ia memilih Arcelia. Seseorang yang beberapa bulan lalu bahkan nyaris tidak pernah muncul dalam pertemuan sosial.
Clarissa menggenggam kipasnya erat membuat temannya ikut merasakan tekanan emosi miliknya. "Lady Clarissa?" tanya temannya hati-hati.
"Aku baik-baik saja." jawabnya.
Namun nada suaranya terdengar dingin, sangat dingin dan biasanya itu bukan pertanda baik.
Malam semakin larut musik terus dimainkan. Para tamu mulai berpindah-pindah kelompok. Suasana semakin santai, namun Arcelia mulai merasa lelah. Ia baru saja memutuskan untuk keluar mencari udara segar ketika Auriel tiba-tiba membeku.
Gerakan rubah kecil itu langsung berhenti, ekornya menegang mata birunya menyipit.
Arcelia langsung menyadarinya. "Auriel."
Tidak ada jawaban.
"Ada apa?" tanya sekali lagi
Auriel menoleh perlahan dan untuk pertama kalinya malam itu wajahnya terlihat sangat serius. Bukan serius karena makanan, bukan serius karena lelucon. Melainkan serius yang sebenarnya.
"Ada sesuatu." katanya pelan
Arcelia ikut waspada. "Sesuatu apa?"
Auriel memejamkan mata beberapa detik, seolah sedang merasakan sesuatu yang tidak terlihat. Ketika kembali membuka mata ekspresinya berubah semakin buruk. "Energi gelap."
Bisikan kecil itu membuat jantung Arcelia berdegup sedikit lebih cepat. Karena selama ini, insting Auriel hampir tidak pernah salah.
"Energi dari mana?" tanya Arcelia.
Auriel menoleh ke arah koridor yang menuju bagian dalam istana. "Aku tidak yakin.Tapi..." Rubah kecil itu menatap Arcelia dan suaranya menjadi jauh lebih pelan. "Rasanya mirip."
"Mirip apa?" tanya Arcelia yang semakin penasaran meskipun ada rasa takut meskipun hanya sedikit.
Auriel terdiam beberapa saat lalu akhirnya menjawab. "Mirip dengan energi yang pernah kurasakan di dekat racun yang membunuhmu."
Keheningan menyelimuti mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di festival Arcelia merasakan bahaya yang sesungguhnya.
***
Sementara di suatu tempat dalam istana... Seseorang sedang membuka sebuah kotak kecil berlapis kain hitam.
Di dalamnya terdapat sebuah simbol ular berwarna gelap. Simbol yang sangat dikenal oleh Auriel. Simbol organisasi yang selama ini bersembunyi dalam bayangan.
Black Serpent.
Dan tanpa disadari siapa pun langkah pertama musuh mereka di ibu kota baru saja dimulai.