NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: CETAK BIRU KIAMAT

07:46:00

Vero mendarat di lantai logam kontainer dengan bunyi buk yang berat. Rasa sakit dari bahu kirinya meledak, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh sistem sarafnya. Dia mengerang, menggigit bibir hingga berdarah untuk menahan teriakan.

Di dalam sini gelap, tapi tidak gulita.

Ratusan lampu LED kecil berwarna merah dan hijau berkedip dalam pola yang menghipnotis, menerangi ruangan itu seperti bagian dalam komputer raksasa.

Bau di dalam sini tajam. Campuran antara aroma bahan kimia amonia, pelumas mesin, dan ozon listrik statis.

Vero memaksa dirinya berdiri, memegangi bahunya yang basah oleh darah. Dia menyalakan senter ponselnya—baterai tinggal 15%, layar retak seribu—dan menyapukan cahaya ke sekeliling.

Apa yang dilihatnya membuat darahnya membeku lebih dingin daripada kematian itu sendiri.

Ini bukan sekadar bom. Ini adalah mahakarya kehancuran.

Sepanjang dinding kontainer, berjejer rak-rak besi yang dibaut ke lantai. Di rak-rak itu, tersusun rapi blok-blok C-4 seukuran batu bata, dihubungkan dengan jalinan kabel yang rapi seperti sistem saraf.

Di bagian tengah, terdapat empat drum besar berwarna biru dengan simbol Biohazard dan tengkorak.

"Bahan kimia..." bisik Vero. "Mereka bukan cuma mau meledakkan stasiun. Mereka mau meracuni kota."

Ledakan C-4 akan menghancurkan struktur fisik stasiun dan kereta di sekitarnya. Ledakan itu juga akan memecahkan drum-drum ini, menyebarkan isinya—gas saraf? virus?—ke udara, yang kemudian akan ditiupkan oleh sistem ventilasi stasiun bawah tanah ke seluruh Jakarta Pusat.

"Gila..." Vero menggelengkan kepala. "Ini perang."

Dia berjalan tertatih-tatih menuju pusat ruangan. Di sana, ada sebuah meja konsol logam dengan layar monitor yang menyala biru.

Ini pasti otaknya.

Vero mendekat. Layar itu menampilkan peta GPS bergerak. Sebuah titik merah (kereta ini) sedang bergerak mendekati titik kuning (Stasiun Pusat).

Di bawah peta, ada hitungan mundur digital yang besar.

T-MINUS: 00:13:45

Vero menyentuh konsol itu. Ada keyboard membran yang tertanam di meja.

Dia mencoba mengetik perintah pembatalan.

Access Denied. Enter Passcode.

"Tentu saja ada password," umpat Vero.

Dia melihat ke bawah meja. Kabel-kabel setebal lengan manusia menjuntai, masuk ke lantai palsu kontainer.

Tidak ada kabel merah, biru, kuning, atau hitam yang sederhana di sini. Ada ribuan serat optik dan kabel tembaga yang terbungkus pelindung baja.

Memotong satu kabel sembarangan di sini sama saja dengan mencoba membedah otak manusia dengan kapak. Sistem ini pasti punya fail-safe berlapis. Jika satu sirkuit putus tanpa otorisasi, drum-drum itu mungkin akan meledak duluan.

Vero sadar, di loop ini, dia tidak bisa menang.

Dia tidak bisa menjinakkan monster ini dalam 13 menit dengan satu tangan dan tanpa kode akses.

"Pikir, Vero. Pikir!" dia memukul kepalanya sendiri. "Apa yang bisa kubawa ke loop berikutnya?"

Dia butuh jalan pintas.

Dia butuh kode akses itu. Atau dia butuh tahu siapa yang membuat benda ini.

Vero mengarahkan senter ponselnya ke sudut-sudut komponen elektronik. Dia mencari nomor seri, logo pabrikan, stiker inspeksi—apapun.

Matanya menangkap sesuatu di sisi tabung detonator utama. Sebuah pelat logam kecil yang diukir laser.

PROJECT: OMEGA

UNIT: 02-ALPHA

MFG: TRIAD INDUSTRIES

"Triad Industries..." Vero mengulang nama itu, merekamnya ke dalam memori jangka panjangnya. "Unit 02... berarti ada Unit 01?"

Vero memotret pelat logam itu. Lalu dia memotret susunan kabel di panel utama. Dia memotret drum kimia itu.

Bukan untuk dikirim ke Sarah sekarang—sinyal di dalam kontainer baja ini nol bar.

Tapi untuk dipelajari. Dia menatap foto-foto itu, memaksa otaknya menghafal pola kabel, letak komponen, dan merek-merek yang tertera.

Tiba-tiba, suara derit keras terdengar dari pintu palka di atas.

Vero mendongak.

Seseorang turun.

Bukan penjaga yang tadi dia tembak.

Orang ini mengenakan seragam taktis lengkap dengan helm full-face dan rompi anti-peluru tebal. Di tangannya ada submachine gun MP5.

Pasukan khusus? Atau tentara bayaran elit?

Orang itu mendarat dengan mulus. Dia melihat Vero yang berdarah-darah di dekat konsol.

"Penyusup di Ruang Kontrol," suara orang itu terdengar robotik melalui pengeras suara di helmnya.

Vero mengangkat Glock 19-nya dengan tangan kanan yang gemetar.

"Jangan mendekat!"

Prajurit itu tidak gentar. Dia bahkan tidak mengangkat senjatanya. Dia berjalan mendekat dengan langkah berat yang mengintimidasi.

"Kau sudah mengaktifkan protokol keamanan biometrik dengan kehadiranmu," kata prajurit itu datar. "Detak jantungmu yang tidak terdaftar sedang mempercepat timer."

Vero melirik layar.

Angka hitungan mundur berubah warna dari oranye menjadi merah darah.

Detik-detik itu melompat turun dengan cepat.

00:10:00... 00:05:00... 00:01:00...

"Apa..." Vero ternganga.

"Sensor gerak dan panas tubuh," jelas prajurit itu santai. "Ruangan ini didesain steril. Kehadiranmu dianggap kontaminasi. Sistem sedang melakukan self-destruct untuk melindungi rahasia perusahaan."

"Bangsat!" Vero menembak.

DOR! DOR!

Peluru 9mm menghantam dada prajurit itu, tapi hanya memantul pada pelat keramik rompi anti-pelurunya. Prajurit itu hanya mundur selangkah, lalu mengangkat MP5-nya.

"Usaha yang bagus, Tikus Kecil."

Prajurit itu menembak. Bukan ke arah Vero. Tapi ke arah drum kimia di belakang Vero.

Trak!

Salah satu drum bocor.

Gas berwarna hijau kekuningan mulai mendesis keluar dengan tekanan tinggi.

Vero membekap mulut dan hidungnya dengan lengan bajunya yang penuh darah.

"Kau gila! Kau juga akan mati!"

"Kami dibayar untuk mati," jawab prajurit itu dingin. Dia berdiri tegak, memberi hormat kaku ke arah konsol bom, seolah menghormati tuhannya.

Gas itu menyebar dengan cepat di ruangan sempit itu. Mata Vero terasa perih seperti disiram air cabai. Paru-parunya terasa terbakar. Kulitnya melepuh.

Vero jatuh berlutut. Pandangannya kabur.

Dia melihat layar monitor untuk terakhir kalinya.

T-MINUS: 00:00:05

"Triad... Industries..." gumam Vero di balik bekapan tangannya. "Project... Omega..."

Dia harus mengingat nama itu.

Nama itu adalah kunci. Nama itu adalah target berikutnya.

00:00:00

Layar berkedip putih.

Seluruh kontainer itu berubah menjadi matahari kecil.

Tidak ada rasa sakit kali ini. Saraf Vero sudah mati duluan karena gas saraf sebelum ledakan menguapkan tubuhnya menjadi atom.

Sentakan kasar.

Vero tersentak bangun. Tubuhnya kejang, tangannya mencakar lehernya sendiri, mencoba mencari udara segar, mencoba membuang gas beracun yang tidak ada di sana.

"Hah! Hah! Hah!"

Napasnya memburu liar. Matanya merah dan berair. Sensasi kulit melepuh itu masih terasa nyata.

"Mas! Mas kenapa? Astaga, mukanya merah banget!" Wanita tua di sebelahnya panik, mengipasi wajah Vero dengan tangannya.

Vero butuh sepuluh detik penuh untuk menyadari dia ada di kereta komuter lagi.

AC dingin. Bau parfum murah. Tidak ada gas saraf. Tidak ada prajurit berbaju besi.

Dia melihat jam tangannya.

07:13:05.

Satu menit hilang lagi.

Tapi dia membawa pulang harta karun.

Vero menyeka air mata (atau sisa iritasi gas hantu) dari matanya. Dia tersenyum. Senyum yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Senyum seorang pria yang baru saja melihat wajah iblis dan mencatat nomor plat kendaraannya.

"Triad Industries," bisik Vero. "Aku tahu siapa kalian."

Dia menoleh ke arah Sarah.

Kali ini, strateginya berubah total.

Dia tidak akan mencoba menjinakkan bom itu sendiri. Dia tidak akan mencoba melompat ke kereta kargo lagi—itu misi bunuh diri.

Dia harus memotong kepala ularnya.

Dan untuk itu, dia butuh Sarah untuk meretas sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar manifes pelabuhan.

Vero bangkit.

Game on.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Sarah
Satunya bikin heran... ini nihh. Kadang Pembom terlihat seperti rela mati demi misi... (kayak di loop 2) pas karena provokasi jadi bomnya diledakkan lebih cepat. Tapi kadang juga pengen hidup. Yang bener yang mana sih? Tokohnya kurang konsisten.
Sarah
Ceritanya bagus, menarik, keren dan lorenya dalem. Ceritanya kompleks banget. Aksinya juga keren. 🤩

Untuk karakter... aku gak banyak komen.
Aku suka banget MC-nya sih...
Si Vero tuh... jenius banget, jeli mengamati sekitar dan cepet hafal. Dia keren banget. Aku udah terpukau sejak bab 5 sama dia.
Cuma...kekurangan di karakternya ada yang terasa nyaris mustahil buat seorang akuntan biasa: lompat pindah kereta (dan selamat), berdiri di motor yang jalan, dan lari sambil ditembak tapi gak kena padahal dia juga gak bawa senjata. Tapi ketiga aksi tadi terasa gak wajar, terlalu...
“Beruntung”.
Kalau dia agen, mata-mata, detektif atau polisi, baru masuk akal. 🧐

Ceritanya kompleks dan dalem, tapi terlalu padat dibungkus cuma 27 bab. Kalau bagiku pribadi sih, Lebih enak kalau stop di lawan Adrian saja. Adrian final boss. Novel online 27 bab itu termasuk pendek, jadi rasanya agak terlalu penuh. Meskipun ini menurutku sih.

Satu hal belum terjawab: kenapa harus Vero yang jadi looper? Ini masih jadi celah besar, padahal yang lain sudah terjawab karena lorenya dalam. 🤨

Intinya tetap bagus, kekurangannya sedikit banget kok, itu aja. Worth it banget dibaca.

Rekomendasi: Cocok buat yang suka aksi, alur cepat, cerita kompleks, plot twist, konflik berat, ketegangan tinggi, dan bikin pusing bacanya. Terima kasih untuk karyanya yang luar biasa, Author. 🙂👍❤
Sarah
Bagus, author pantas dapat (gift) kopi dariku~☕
Sarah
Pokoknya aku bakal rate cerita ini sih, tapi tidak sekarang.... karena aku masih capek banget dengan kerumitan ceritanya. 😂
Sarah
Gila sih ceritanya, thor. Aku baca dari jam setengah tiga sore kawat dikit kemarin, sampai jam setengah tujuh langsung tamat 27 bab ini. 😂
Sarah
Oke, dia punya poin paling besar untuk membenci hari Senin. Karena dia membenci hari senin bukan karena sekadar rasa malas. 😂
Sarah
BANGG!





LU AKUNTAN APA AKUNTAN SIH?!! 😭
Sarah
Unit 01 yang tadinya antagonis ngeri sekarang jadi NPC yang bikin aku ketawa tiap kali Vero kembali datang dan “Meminjam Pistol”. 😂
Sarah
Lho? Dia tahu namanya Adrian...


dari mana??
Sarah
“Berdoa pada Tuhan yang dia ingat” Jadi Tuhanmu siapa? Di Indonesia gak ada atheis lho. 😂
Sarah
WOY LAH APA-APAAN INI?! BOM BISA DIHENTIKAN DENGAN USAHA MESKI SULIT, TAPI GEMPA? WOYY ITU KEHENDAK ALAM! GAK BISA DIKONTROL!! 😭
Sarah
Santai karena terbiasa. 😭🙂
Sarah
Tapi Si Vero fisiknya kok kuat banget yah? Emangnya akuntan... ada hubungannya sama fisik? Bukannya angka?
Sarah
Aku sudah menebaknya karena dia “Menang” di bab baru 16 dari 27 bab. 😭✋
Sarah
Emang Sarah bakal ingat?
Sarah
Fix, Sarah ini... pasti heroine novel ini sih. 😂
Sarah
Ughh, akun sudah merasakannya sejak bab 5... MC satu ini kerenn bangett. ✋😐✋
Sarah
Busettt. 💀
Sarah
Aku temani kok, mas. Tapi kalau aku temani ceritamu doang soalnya Sarah yang satu ini cuma pembaca. ✋😂
Sarah
😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!