Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: CETAK BIRU KIAMAT
07:46:00
Vero mendarat di lantai logam kontainer dengan bunyi buk yang berat. Rasa sakit dari bahu kirinya meledak, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh sistem sarafnya. Dia mengerang, menggigit bibir hingga berdarah untuk menahan teriakan.
Di dalam sini gelap, tapi tidak gulita.
Ratusan lampu LED kecil berwarna merah dan hijau berkedip dalam pola yang menghipnotis, menerangi ruangan itu seperti bagian dalam komputer raksasa.
Bau di dalam sini tajam. Campuran antara aroma bahan kimia amonia, pelumas mesin, dan ozon listrik statis.
Vero memaksa dirinya berdiri, memegangi bahunya yang basah oleh darah. Dia menyalakan senter ponselnya—baterai tinggal 15%, layar retak seribu—dan menyapukan cahaya ke sekeliling.
Apa yang dilihatnya membuat darahnya membeku lebih dingin daripada kematian itu sendiri.
Ini bukan sekadar bom. Ini adalah mahakarya kehancuran.
Sepanjang dinding kontainer, berjejer rak-rak besi yang dibaut ke lantai. Di rak-rak itu, tersusun rapi blok-blok C-4 seukuran batu bata, dihubungkan dengan jalinan kabel yang rapi seperti sistem saraf.
Di bagian tengah, terdapat empat drum besar berwarna biru dengan simbol Biohazard dan tengkorak.
"Bahan kimia..." bisik Vero. "Mereka bukan cuma mau meledakkan stasiun. Mereka mau meracuni kota."
Ledakan C-4 akan menghancurkan struktur fisik stasiun dan kereta di sekitarnya. Ledakan itu juga akan memecahkan drum-drum ini, menyebarkan isinya—gas saraf? virus?—ke udara, yang kemudian akan ditiupkan oleh sistem ventilasi stasiun bawah tanah ke seluruh Jakarta Pusat.
"Gila..." Vero menggelengkan kepala. "Ini perang."
Dia berjalan tertatih-tatih menuju pusat ruangan. Di sana, ada sebuah meja konsol logam dengan layar monitor yang menyala biru.
Ini pasti otaknya.
Vero mendekat. Layar itu menampilkan peta GPS bergerak. Sebuah titik merah (kereta ini) sedang bergerak mendekati titik kuning (Stasiun Pusat).
Di bawah peta, ada hitungan mundur digital yang besar.
T-MINUS: 00:13:45
Vero menyentuh konsol itu. Ada keyboard membran yang tertanam di meja.
Dia mencoba mengetik perintah pembatalan.
Access Denied. Enter Passcode.
"Tentu saja ada password," umpat Vero.
Dia melihat ke bawah meja. Kabel-kabel setebal lengan manusia menjuntai, masuk ke lantai palsu kontainer.
Tidak ada kabel merah, biru, kuning, atau hitam yang sederhana di sini. Ada ribuan serat optik dan kabel tembaga yang terbungkus pelindung baja.
Memotong satu kabel sembarangan di sini sama saja dengan mencoba membedah otak manusia dengan kapak. Sistem ini pasti punya fail-safe berlapis. Jika satu sirkuit putus tanpa otorisasi, drum-drum itu mungkin akan meledak duluan.
Vero sadar, di loop ini, dia tidak bisa menang.
Dia tidak bisa menjinakkan monster ini dalam 13 menit dengan satu tangan dan tanpa kode akses.
"Pikir, Vero. Pikir!" dia memukul kepalanya sendiri. "Apa yang bisa kubawa ke loop berikutnya?"
Dia butuh jalan pintas.
Dia butuh kode akses itu. Atau dia butuh tahu siapa yang membuat benda ini.
Vero mengarahkan senter ponselnya ke sudut-sudut komponen elektronik. Dia mencari nomor seri, logo pabrikan, stiker inspeksi—apapun.
Matanya menangkap sesuatu di sisi tabung detonator utama. Sebuah pelat logam kecil yang diukir laser.
PROJECT: OMEGA
UNIT: 02-ALPHA
MFG: TRIAD INDUSTRIES
"Triad Industries..." Vero mengulang nama itu, merekamnya ke dalam memori jangka panjangnya. "Unit 02... berarti ada Unit 01?"
Vero memotret pelat logam itu. Lalu dia memotret susunan kabel di panel utama. Dia memotret drum kimia itu.
Bukan untuk dikirim ke Sarah sekarang—sinyal di dalam kontainer baja ini nol bar.
Tapi untuk dipelajari. Dia menatap foto-foto itu, memaksa otaknya menghafal pola kabel, letak komponen, dan merek-merek yang tertera.
Tiba-tiba, suara derit keras terdengar dari pintu palka di atas.
Vero mendongak.
Seseorang turun.
Bukan penjaga yang tadi dia tembak.
Orang ini mengenakan seragam taktis lengkap dengan helm full-face dan rompi anti-peluru tebal. Di tangannya ada submachine gun MP5.
Pasukan khusus? Atau tentara bayaran elit?
Orang itu mendarat dengan mulus. Dia melihat Vero yang berdarah-darah di dekat konsol.
"Penyusup di Ruang Kontrol," suara orang itu terdengar robotik melalui pengeras suara di helmnya.
Vero mengangkat Glock 19-nya dengan tangan kanan yang gemetar.
"Jangan mendekat!"
Prajurit itu tidak gentar. Dia bahkan tidak mengangkat senjatanya. Dia berjalan mendekat dengan langkah berat yang mengintimidasi.
"Kau sudah mengaktifkan protokol keamanan biometrik dengan kehadiranmu," kata prajurit itu datar. "Detak jantungmu yang tidak terdaftar sedang mempercepat timer."
Vero melirik layar.
Angka hitungan mundur berubah warna dari oranye menjadi merah darah.
Detik-detik itu melompat turun dengan cepat.
00:10:00... 00:05:00... 00:01:00...
"Apa..." Vero ternganga.
"Sensor gerak dan panas tubuh," jelas prajurit itu santai. "Ruangan ini didesain steril. Kehadiranmu dianggap kontaminasi. Sistem sedang melakukan self-destruct untuk melindungi rahasia perusahaan."
"Bangsat!" Vero menembak.
DOR! DOR!
Peluru 9mm menghantam dada prajurit itu, tapi hanya memantul pada pelat keramik rompi anti-pelurunya. Prajurit itu hanya mundur selangkah, lalu mengangkat MP5-nya.
"Usaha yang bagus, Tikus Kecil."
Prajurit itu menembak. Bukan ke arah Vero. Tapi ke arah drum kimia di belakang Vero.
Trak!
Salah satu drum bocor.
Gas berwarna hijau kekuningan mulai mendesis keluar dengan tekanan tinggi.
Vero membekap mulut dan hidungnya dengan lengan bajunya yang penuh darah.
"Kau gila! Kau juga akan mati!"
"Kami dibayar untuk mati," jawab prajurit itu dingin. Dia berdiri tegak, memberi hormat kaku ke arah konsol bom, seolah menghormati tuhannya.
Gas itu menyebar dengan cepat di ruangan sempit itu. Mata Vero terasa perih seperti disiram air cabai. Paru-parunya terasa terbakar. Kulitnya melepuh.
Vero jatuh berlutut. Pandangannya kabur.
Dia melihat layar monitor untuk terakhir kalinya.
T-MINUS: 00:00:05
"Triad... Industries..." gumam Vero di balik bekapan tangannya. "Project... Omega..."
Dia harus mengingat nama itu.
Nama itu adalah kunci. Nama itu adalah target berikutnya.
00:00:00
Layar berkedip putih.
Seluruh kontainer itu berubah menjadi matahari kecil.
Tidak ada rasa sakit kali ini. Saraf Vero sudah mati duluan karena gas saraf sebelum ledakan menguapkan tubuhnya menjadi atom.
Sentakan kasar.
Vero tersentak bangun. Tubuhnya kejang, tangannya mencakar lehernya sendiri, mencoba mencari udara segar, mencoba membuang gas beracun yang tidak ada di sana.
"Hah! Hah! Hah!"
Napasnya memburu liar. Matanya merah dan berair. Sensasi kulit melepuh itu masih terasa nyata.
"Mas! Mas kenapa? Astaga, mukanya merah banget!" Wanita tua di sebelahnya panik, mengipasi wajah Vero dengan tangannya.
Vero butuh sepuluh detik penuh untuk menyadari dia ada di kereta komuter lagi.
AC dingin. Bau parfum murah. Tidak ada gas saraf. Tidak ada prajurit berbaju besi.
Dia melihat jam tangannya.
07:13:05.
Satu menit hilang lagi.
Tapi dia membawa pulang harta karun.
Vero menyeka air mata (atau sisa iritasi gas hantu) dari matanya. Dia tersenyum. Senyum yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Senyum seorang pria yang baru saja melihat wajah iblis dan mencatat nomor plat kendaraannya.
"Triad Industries," bisik Vero. "Aku tahu siapa kalian."
Dia menoleh ke arah Sarah.
Kali ini, strateginya berubah total.
Dia tidak akan mencoba menjinakkan bom itu sendiri. Dia tidak akan mencoba melompat ke kereta kargo lagi—itu misi bunuh diri.
Dia harus memotong kepala ularnya.
Dan untuk itu, dia butuh Sarah untuk meretas sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar manifes pelabuhan.
Vero bangkit.
Game on.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔