NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 22 : Teman Baru?

Ngungg! Zzzzzz!

Theo dapat mendengar dengan jelas suara yang sangat ia kenal.

"Lebah?" Theo mendongakkan kepalanya, menemukan seekor lebah yang besarnya bak anak kambing.

"Apa?"

Tidak lama, lebah itu mulai menyerang Theo.

Swush

Lebah itu terbang dengan sangat cepat dan lincah, membuat Theo agak kesulitan menghindari serangannya.

Swush, syut

Lebah itu mengarahkan sengatnya ke kepala Theo, beruntung Theo bisa menghindarinya.

"Bagaimana bisa ada lebah di sini? Apalagi ukurannya itu loh kaya anak kambing."

Whuuush

Lebah itu mulai mengepakkan sayapnya, muncul banyak jarum kecil di sekitar sayap lebah itu.

"Shiii!"

Lebah itu mengayunkan sayapnya, menerbangkan jarum kecil itu. Theo segera menghindarinya.

"Ugh... Sialan, bagaimana aku menenangkan lebah itu?"

Ketika sedang berpikir, pandangan Theo melewati tumpukan daging buah madu.

"Ini!" Theo mengambil daging buah madu dan melemparnya.

Puk

Lebah itu segera menangkap buah itu dan memakannya.

"Terima kasih."

"Hah? Dimana kamu? Oiya, sebelumnya sama-sama."

Lebah itu mulai terbang mendekati Theo, lalu ia hinggap di pundak Theo.

"Wah, dia sangat lembut," ucap Theo melihat rambut halus mengelilingi tubuh lebah itu.

"Ssshh, kakak ada benda berbahaya apa di pundak kakak? Aduh... Hihihi geli."

"Hei, siapa yang tadi mengucapkan terima kasih?" Theo menatap sekitarnya, mencari orang di sekitarnya. Kosong, hanya ada dirinya dan kedua hewan di pundak dan lehernya.

"Itu aku." Suara seorang nona muda yang lembut kembali terdengar.

"Hah? Dimana kamu?" Theo yang masih bingung segera mencari siapapun di sekitarnya.

"Bukan, aku nggak ada di sampingmu. Aku di pundakmu."

Barulah Theo dapat menyadari bahwa suara nona muda itu berasal dari lebah imut di bahunya.

"Waaah, kamu bisa ngomong? Boleh nggak aku mengelus bulumu?"

"Ya," ucap lebah itu menjawab pertanyaan dari Theo.

Theo mengelus bulu lebah itu, dilanjut lebah itu mengeluskan tubuhnya ke Theo dan White.

"Hahahaha, Geli." Mereka bertiga tertawa bersama, menikmati waktu santai yang ada.

"Hei, kok kamu bisa ke sini sih?" tanya Theo penasaran.

"Buah manis."

"Ooh, kamu mau makan buah ini?"

Lebah itu tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk.

"Ok, makanlah. Namun, aku punya satu permintaan."

"Apa?" suara lebah itu bergetar, ia takut tidak diperbolehkan memakan buah madu yang sangat menggoda.

"Kamu harus membantu aku membuat semua bunga ini tumbuh menjadi buah."

"Hore! Akan ku penuhi," ujar lebah itu kegirangan sambil terbang berputar-putar.

'Sepertinya, aku harus segera mengatur waktu di sana.'

"Hei, nona lebah. Ayo kita membuat kontrak," panggil Theo kepada lebah yang sudah naik ke atas pohon.

"Kontrak?" Lebah itu mengintip ke bawah penasaran dengan kontrak.

"Begini, kamu harus meminum darahku. Ok? Kita akan menjadi sahabat. Jadi, nanti ketika aku membuat waktu di sekitar sini menjadi cepat, kamu bisa tetap tumbuh sesuai waktu yang asli."

Zzzz...

Lebah itu segera terbang ke bawah, lalu mengemut ujung jari Theo yang sudah dilukai.

"Ok, sekarang kamu sahabatku."

Theo segera mengatur waktu di tempat itu, tidak lupa ia menanam biji pohon buah madu.

"Akhirnya... Waktunya aku keluar, oiya aku mau atur rasio ruang waktunya. Satu hari di sini, akan menjadi satu menit di dunia nyata."

Ketika Theo hendak keluar, White turun dari leher Theo.

"Kakak, White mau main bareng lebah lagi."

"Ok, silahkan."

Theo segera keluar dari ruang jiwa, meninggalkan White dan lebah besar di dalamnya.

"Hoaahm, waktunya tidur."

Dari jauh, Theo dapat merasakan aura membunuh yang sangat kuat.

"Hei, gimana kalo..."

Theo segera pergi ke kamar Silas.

Tok tok tok

"Silas, bisa kita berbicara sebentar?"

"Ugh... Ada apa Theo?"

Theo menatap sekitarnya, seakan ada bahaya di sekitar Theo.

"Ayo ke kamarku," bisik Theo pelan.

Meskipun tidak tau sesuatu, Silas segera pergi ke kamar Theo.

"Ooh, ok. Sebentar Theo, aku akan mengatasinya."

Silas menunjuk ke arah luar di jendela, dia mengayunkan telunjuknya.

"Sudah, sekarang dia tidak akan mengganggu."

"Kamu yakin? Cuma gitu doang loh."

Silas menganggukan kepalanya dengan mantap.

"Ada aturan tak tertulis bagi para pembunuh. Mereka harus membunuh tanpa ketahuan, kalau ketahuan maka mereka tidak boleh mendekati orang itu lagi. Jadi dengan menunjuk mereka, lalu mengayunkannya begini, maka kamu udah ngasih tau kalo kamu tau lokasi mereka."

Karena Theo masih sedikit takut, Theo akhirnya meminta Silas tidur di kamarnya. Theo segera duduk di kursi, lalu tertidur.

Keesokan paginya, Theo keluar dari tavern dan melangkahkan kakinya ke kuil.

"Hei, Theo! Kamu belum berangkat?" Robertus melambaikan tangannya.

"Belum, oiya ngomong-ngomong, alkemis yang kerja di rubanah ada berapa?"

Robertus melirik ke atas, berusaha mengingat jumlah orang di rubanah.

"Hmm... Kayanya sekitar 64 orang. Eh... 63 orang maaf aku salah. Memang kenapa?"

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memberikan hadiah perpisahan, takutnya ketika aku pergi mereka pergi ke tempat yang aku nggak tau."

"Ooh, ok dah mau masuk dulu?" Robertus yang ingin mengajak Theo masuk segera dicegah Theo.

"Maaf, aku mau pergi langsung."

"Oh ok, sampai jumpa." Robertus melambaikan tangannya lagi.

Theo melangkahkan kakinya, menuju toko tong kayu yang ia buat pesanan.

"Hei anak muda, khekhe. Kau sudah datang, aku baru membuat tiga tong besar."

"Hahaha, tidak apa-apa kek. Yang penting, aku sudah mendapatkan tong ini." Theo segera mengangkat tong bir yang ia pesan ke tempat yang tersembunyi dan memasukkannya kedalam ruang jiwa satu persatu.

Setelah selesai memasukkan tong, Theo pergi mendatangi bengkel besi tempat ia memesan alat peras.

"Paman, apakah pesananku sudah jadi?"

"Pas sekali bos, aku membuatnya lebih cepat dari perkiraan ku." Pria kekar di bengkel segera mengambil sebuah alat, mirip gilingan daging di etalase kayu.

"Ini, nanti di sebelah sini kamu masukkan kain dan kamu putar tuas di sini. Setelah itu, kamu bisa memeras dan menghancurkan buah apapun.

Theo akhirnya pergi lagi, dia berjalan ke arah tavern. Namun, di tengah jalan Theo pergi ke sebuah toko.

"Toko Kain Lanchester."

"Selamat datang Tuan, mau beli kain apa?"

Theo melihat-lihat kain yang dipajang. Ada kain satin berwarna putih, ada kain katun, dan berbagai kain sutra. Adapun di sana berjejer kain dengan aneka motif dan warna.

"Aku mau cari kain putih, tapi harus yang rapatdan tidak menimbulkan aroma."

"Wah pas sekali, kain linen putih ini tidak akan menimbulkan bau apapun. Bahkan, para Vigneron kerajaan juga menggunakan kain linen putih toko ini."

Theo membeli secarik kain untuk menyaring buahnya, lalu ia kembali melangkah menuju tavern.

"Hei, hei, hei. Ku dengar kau mau pergi? Baiklah, akan aku berikan bonus. Emilie, bawa whiskey ke sini."

"Paman? Sudahlah, aku akan ke sini lagi. Oiya, besok aku akan memberikan paman tiga tong besar wine buah madu. Silahkan paman yang tentukan harganya."

"Benarkah? Baiklah, akan kuterima dengan senang hati, hehehehe." Paul duduk dan menuangkan whiskey yang sudah diantar Emilie.

Setelah selesai minum bersama Paul, Theo kembali ke kamarnya.

Ketika ia masuk ke ruang jiwanya...

...****************...

,End Ch. 22 : Teman Baru?

Makasih semuanya, jangan lupa like, comment dan favorit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!