Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
POV: Nara
Mobil akhirnya berhenti di garasi, cepat-cepat aku membuka pintu dan berjalan tergesa ke dalam rumah. Yang kupikirkan hanya satu, kamar, mengunci pintu, menjauh sebisa mungkin malam ini. Namun lenganku tertahan ketika aku hendak membuka pintu kamarku.
"Naik," perintah Dev.
Rasa takutku semakin menjadi, aku menggeleng tidak mau.
"Aku kan sudah bilang, aku punya sesuatu buat kamu. Barangnya ada di atas."
Sebagian diriku ingin menolak, ingin mengunci diri di kamar dan pura-pura dunia berhenti malam ini. Tapi sebagian lain mulai mencari-cari alasan untuk tenang. Mungkin kali ini dia benar-benar hanya ingin menunjukkan sesuatu. Mungkin semuanya tidak akan seburuk yang kubayangkan. Dengan perasaan ragu yang mengganjal di dada, akhirnya aku menurut. Aku berjalan lebih dulu menuju lantai atas.
Sementara di belakangku, langkah Devandra mengikuti perlahan.
Langkahku berhenti begitu sampai di lantai atas. Mataku langsung tertuju pada pintu kamar Devandra. Dadaku terasa semakin tidak nyaman. Jemariku bahkan terasa dingin hanya untuk sekadar menyentuh gagang pintunya, aku menoleh ke belakang. Devandra berdiri beberapa langkah dariku, menatap tanpa banyak ekspresi. Ia hanya menggerakkan kepalanya kecil ke arah pintu. Isyarat sederhana yang entah kenapa terasa seperti perintah.
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan jantungku yang sejak tadi tidak berhenti berisik. Dengan ragu, kuputar gagang pintu itu perlahan. Kamar gelap itu menyambutku seperti biasa. Aku melangkah masuk. Dan beberapa detik kemudian, klik.
Pintu di belakangku tertutup. Devandra masuk setelahnya, seketika perutku terasa semakin mual.
"Dev, aku minta maaf." Aku sadar aku telah melakukan kesalahan, bagimana pun juga aku harus meminta maaf padanya.
Dev tidak menjawab apapun, sudut bibirnya terangkat dan ia malah tersenyum padaku. "Apa yang kurang dariku, Nara?"
"Nggak... nggak ada yang kurang," jawabku dengan cepat.
"Trus kenapa?"
Aku menunduk merasa bersalah. "Kamu... hanya, tidak memiliki apa yang Leon miliki."
"Apa yang dia miliki?"
"Kenyamanan," suaraku begitu lirih.
Sontak Dev langsung mencengkeram leherku, memaksaku mendongak menatapnya.
"Selama ini kamu nggak nyaman, bersamaku?" Wajahnya terlihat menegang.
"Aku terlalu banyak merasakan ketakutan, daripada rasa nyaman saat denganmu," suaraku kini terasa serak.
"Terus aku harus bagaimana?"
"Tinggalkan aku!"
Kalimat itu bahkan tidak pernah kupikirkan sebelumnya, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa mengatakan itu. Seolah aku tertantang dengan pertanyaannya barusan.
Dev tertawa sesaat, tangannya turun tidak lagi berada di leherku. Aku hanya memperhatikannya dengan perasaan yang tidak tenang.
Tangannya terangkat kembali, kali ini menyentuh pipiku, jempolnya mengusap bibirku. "Sayangnya, aku gak bisa, Nara. Kamu... terlalu berharga untuk dilepaskan."
"Mungkin di matamu, aku ini jahat. Tapi bagaimana jika di mataku kamu yang jahat?" lanjutnya lagi. "Aku selalu berusaha memberimu yang terbaik, rumah mewah, uang melimpah, semua kenyamanan yang ada sekarang. Aku bekerja keras cuma untuk kamu, agar kamu menjalani kehidupan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Tapi apa? Begitu balasannya?"
"Bahkan aku menikahimu, agar kamu tidak bisa disentuh oleh siapapun lagi. Agar kamu menjadi milikku satu-satunya. Tapi ternyata aku salah, pernikahan bahkan tidak menjamin apa-apa." Dia tertawa kecil.
Hening mengudara di antara kami. Aku bahkan tidak tahu lagi harus berkata apa.
"It's oke... hiduplah sesukamu!"
Mendengar itu kepalaku terangkat menatapnya. Hah? Apa dia menyerah?
"Tapi setiap hal yang kamu lakukan, jika itu menyakiti perasaanku, kamu tetap akan mendapatkan hukuman dariku."
Sial. Kukira dia akan mengatakan sesuatu yang normal.
"Oh iya... kamu pasti sudah menunggu hadiah dariku kan?" tanyanya, ia berjalan ke arah meja di ujung ranjang, menarik laci itu, dan mengambil sesuatu dari sana.
"Taraaaa..." Dia mengangkat sebuah benda berwarna hitam, mirip seperti—kelamin pria.
Untuk beberapa detik otakku gagal memproses apa yang kulihat. Sampai akhirnya bentuk itu terasa terlalu familiar untuk disalahartikan. Dadaku langsung terasa jatuh. Tidak! Jangan bilang—
Kepalaku seketika dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang membuat napasku terasa semakin pendek.
"Gimana? Kamu suka bentuknya?" Dia mendekatkan benda itu padaku. "Wah, bahkan ini terlihat lebih besar dari milikku," dia tertawa.
"Panggil dia Miko," bisiknya di telingaku.
Rasanya seperti ingin menghilang saja saat itu juga. Dadaku sesak, kepalaku penuh, dan satu-satunya hal yang ingin kulakukan hanyalah pergi sejauh mungkin dari ruangan ini. Aku tidak mau berlama-lama di sini.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung berbalik menuju pintu. Jemariku buru-buru memutar gagang, lalu berlari keluar secepat mungkin.
Langkahku nyaris tersandung saat menuruni anak tangga. Napasku mulai tidak beraturan.
Tapi belum sempat aku mencapai bawah, suara langkah cepat terdengar dari belakang.
“Nara!” Seketika lenganku ditarik keras.
“Ahh!” Tubuhku kehilangan keseimbangan sebelum seseorang menarikku kembali dari belakang.
“Dev... lepasin!” Aku memberontak, mencoba melepaskan diri sekuat tenaga, tapi cengkeramannya terlalu kuat.
Tubuhku di jatuhkan kasar di atas ranjang. Dev langsung melepaskan pakaianku dengan kasar, aku memberontak namun tamparan keras melayang lagi di pipiku, membuatku tersungkur di ranjang. Aku menangis karena rasa sakitnya.
Saat dia melepaskan celana bokser yang kukenakan, aku tidak lagi memiliki tenaga untuk menghentikannya. Karena pakaian dalamku basah jadi aku tidak memakainya, dan itu membuatku benar-benar tidak mengenakkan apapun lagi.
Dev mengangkat tanganku ke atas kepalaku, dia meraih tali, mengikat kedua tanganku di sela ranjang.
"Dev, kamu mau apa?" tanyaku panik.
"Aku hanya ingin kamu berkenalan dengan Miko."
Dia meraih cairan bening di atas meja, menuangkannya di telapak tangannya dan mengoleskannya pada benda yang ia sebut Miko itu.
"Rileks aja... rasanya sama kok." Benda itu dia dorong perlahan masuk ke tubuhku.
Aku merintih sakit, nafasku tidak beraturan. Benda itu semakin masuk. Tubuhku ngos-ngosan, rasa aneh itu masih sulit ku terima. Aku melihat Dev sedang menatap sebuah remot kecil di tangannya, lalu tiba-tiba benda yang ada di tubuhku mulai bergetar kecil, sontak aku kaget. Aku berteriak lagi, kakiku ingin menendang apapun.
"Gimana? Kamu suka?" Tanyanya dengan senyuman.
"Kamu gila!" suaraku memekik.
Dia tertawa. "Aku gila karna kamu."
"Dev, cukup!"
"Oh, masih kurang ya?" matanya kembali menatap remot di tangannya.
Tiba-tiba getaran yang tadi masih terasa kecil, kini berubah menjadi lebih kencang. Reflek aku menjerit, rasanya benar-benar tidak nyaman, membuatku menangis sejadi-jadinya.
Dev hanya duduk melihatku, wajahnya terlihat senang, tidak ada penyesalan ataupun rasa sedih melihatku seperti ini.
Kenapa? Kenapa dia setega ini? Kenapa dia bisa melihatku menangis dan kesakitan? Apanya yang disebut cinta?
Ini lebih seperti penyiksaan yang dibungkus dengan nama paling indah di dunia, cinta.
...***...
POV: Devanda
Tubuhnya menggeliat, wajahnya memerah, dia menangis dan berteriak. Kadang dia mengucapkan kata maaf di sela tangisnya, dia memohon agar aku menghentikannya.
Tapi apakah rasa sakit yang ia rasakan sekarang benar-benar sepadan dengan apa yang kurasakan beberapa waktu lalu?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku tanpa henti. Karena sampai sekarang, aku masih tidak benar-benar mengerti. Bagaimana bisa seseorang mencium pria lain saat ia masih memiliki pasangan?Bagaimana bisa itu terasa semudah itu baginya?
Saat bibirnya bertemu dengan pria lain, apa dia benar-benar tidak mengingatku sedikit pun? Tidak ingat siapa yang selama ini selalu ada Tidak ingat bahwa ada seseorang yang bisa hancur hanya karena melihat itu?
Atau memang selama ini, aku tidak pernah cukup berarti untuk ditakuti kehilangannya?
"Dev, please."
Aku kasihan padanya, itu jujur. Tapi setiap kali aku mengingatnya, kewarasanku hilang, seolah pikiranku ingin terus melihatnya menangis seperti ini. Aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri saat sedang marah, aku masih kesulitan.
Jessica pernah mengatakan sesuatu padaku.
Trauma masa lalu membuatku menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang bisa melukai perasaanku. Katanya, ada bagian dalam diriku yang terlalu mudah merasa terancam. Terlalu cepat bereaksi, seolah semua hal buruk akan terulang lagi. Itu sebabnya emosiku sering kali terasa sulit dikendalikan. Naik terlalu cepat, meledak sebelum sempat kupahami.
Jessica bahkan meresepkan obat agar pikiranku bisa lebih tenang. Agar aku tidak terlalu mudah tenggelam dalam amarah dan ketakutan yang berisik di kepala. Seharusnya sampai sekarang aku masih meminumnya. Tapi aku berhenti, bodohnya aku tahu itu salah.
Aku hanya ingin perempuan yang kucintai bisa menghargaiku, hanya itu. Tapi kenapa perempuan ini sulit sekali dibentuk?
Keringatnya mulai membanjiri seluruh tubuhnya, teriakannya mulai melemah, kaki yang sedari tadi memberontak—kini terlihat diam. Dia mulai terlihat lemas.
Aku mencoba mendekatinya, matanya tertutup, tapi dia masih sadar. Ku telapak pipinya untuk memastikan. "Nara..."
Dia tidak merespon, napasnya masih terengah-engah.
"Aku mau kamu janji satu hal, jangan bertemu dengan dia lagi. Dan katakan padanya kalau kamu tidak pernah mencintainya."
Dia hanya mengangguk.
Aku menekan tombol pada remote control, Miko pun berhenti bergetar, ku ambil benda itu dari dalam. Ku lepaskan ikatan di tangannya, wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata ku elap dengan tisu. Tubuhnya yang masih bertelanjang ku tutup dengan selimut.
Setelah memastikan Nara lebih baik, aku mendekati wajahnya lagi, ku kecup keningnya dan berbisik sebelum aku pergi meninggalkannya.
"Jika kamu menyukai Miko, tetaplah jadi istri yang buruk! Selamat malam, Nara."