Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
POV: Nara
“Arghh...” Rintihan kecil keluar dari bibirku saat akhirnya tersadar dari tidur yang terasa terlalu singkat. Kepalaku berdenyut, seolah ada sekelompok manusia kecil sedang mengadakan konser rock di dalam sana. Sial, pasti efek minum semalam. Dengan malas, kupaksakan diri untuk bangun dari ranjang. Seluruh tubuhku terasa aneh, sedikit lemas, sedikit melayang. Saat kakiku baru saja menapak lantai dan mencoba berdiri dunia tiba-tiba berputar.
“Eh—” Pandanganku mengabur sesaat. Tubuhku terhuyung pelan, membuatku refleks meraih apa pun yang bisa dijadikan pegangan. Tanganku akhirnya mencengkeram sudut meja di kamar. Napasku memburu kecil, astaga jadi ini rasanya mabuk semalaman? Aku menekan pelipis pelan sambil memejamkan mata beberapa detik, berharap kepalaku mau bekerja sama pagi ini.
Rasa haus terasa seperti sedang mencekik tenggorokanku. Bahkan menelan ludah saja terasa menyiksa. Dengan langkah yang masih sedikit terhuyung, aku memaksakan diri keluar kamar. Kepalaku masih berat, dunia juga masih terasa sedikit goyang, seolah lantai rumah ini mendadak berubah jadi kapal laut. Aku benar-benar terlalu banyak minum semalam.
Aku berjalan menuju dapur sambil sesekali memegang dinding agar tidak tiba-tiba mencium lantai di pagi hari. Setelah sampai, aku langsung membuka kulkas dua pintu yang besarnya hampir menyerupai lemari manusia kaya itu. Udara dingin langsung menerpa wajahku. Mataku menyapu cepat isi di dalamnya sebelum berhenti pada target utama penyelamat hidupku pagi ini—Susu cokelat. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil kotaknya lalu menuangkannya ke dalam gelas besar.
Gluk... gluk... gluk.
Suara cairan itu terdengar seperti musik penyelamat jiwa. Aku langsung meneguknya beberapa kali dengan rakus. Ahh, setidaknya sekarang aku merasa sedikit lebih hidup. Walaupun kepalaku masih terasa seperti habis dipakai debat sama setan semalaman.
Tanganku menarik kursi dari kolong meja keramik, lalu duduk perlahan. Gelas susu dingin masih berada di genggamanku, kuteguk sedikit demi sedikit sambil mencoba mengembalikan kesadaran yang terasa masih setengah hilang. Kepalaku masih berat. Tapi perlahan, ingatanku mulai kembali. Tentang semalam—
Ah benar. Semalam aku bersama Leon. Jemariku refleks berhenti di tengah gerakan. Sedikit demi sedikit, memoriku mulai tersusun kembali. Percakapan kami, hujan deras di luar, bau alkohol. Dan bagaimana aku bertingkah terlalu bebas seolah akal sehatku sedang cuti mendadak. Seketika aku menggeleng cepat, merasa ngeri sendiri.
“Astaga...” gumamku pelan.
Aku bahkan sampai bergidik geli membayangkan semuanya. Kenapa aku bisa melakukan hal memalukan seperti itu? Apa sebenarnya yang merasuki tubuhku semalam? Apa karena alkohol? Atau karena aku terlalu nyaman sampai lupa cara menjaga jarak?
Aku menutup wajah dengan satu tangan, malu. Bahkan rasanya aku ingin pura-pura hilang dari muka bumi selama tiga hari dulu sebelum bertemu Leon lagi. Arghh, kalau dipikir-pikir, kenapa hidupku selalu berhasil berubah jadi drama aneh setiap kali melibatkan dua pria itu?
Rasa malu langsung menjalar sampai ke wajahku. Aku mengusap muka kasar, masih sulit percaya dengan semua yang terjadi semalam. Sial, bahkan mengingatnya saja sudah cukup membuatku ingin membenturkan kepala ke meja. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, hal terburuk dari semua ini sebenarnya bukan tentang hujan, alkohol, atau bagaimana aku bertingkah terlalu bebas semalam. Bukan juga tentang momen memalukan yang sekarang membuatku ingin pura-pura kehilangan ingatan permanen. Yang paling mengerikan justru satu hal lain. Rahasia, rahasia yang harus tetap terkubur rapat. Karena kalau sampai Dev tahu—
Aku melirik kosong ke depan, tubuhku langsung bergidik sendiri. Tidak! Bahkan membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri. Devandra bukan tipe manusia yang akan marah lalu selesai dalam satu pertengkaran biasa. Pria itu lebih mirip badai yang datang sambil membawa kerusakan emosional. Kalau dia sampai tahu, mungkin aku harus mulai menggali lubang kuburanku sendiri.
Aku terdiam beberapa detik, lalu menggeleng cepat. Oh bukan! Lubang kuburan kami berdua. Aku dan Leon.
Karena jujur saja, kemungkinan besar Dev bakal memastikan kami tidak sempat menjelaskan apa pun sebelum dikirim ke alam lain.
Samar-samar, aku mendengar suara langkah kaki dari arah samping dapur yang menghadap langsung ke taman belakang. Awalnya aku tidak terlalu peduli. Sampai langkah itu terdengar terlalu cepat. Keningku langsung mengernyit. Aku menoleh ke arah pintu besar di samping. Dan seketika susu cokelat di mulutku hampir tersembur.
Di luar sana, seorang pria berjalan cepat melewati taman. Kaos oblong hitam yang dipakainya menempel tipis di tubuh, memperjelas otot lengannya yang terlihat menegang. Rambutnya sedikit berantakan, langkahnya panjang, wajahnya terlihat kesal? Frustrasi? Atau mungkin sedang kehilangan kewarasan pagi-pagi. Tapi itu bukan bagian paling mengkhawatirkan. Di tangannya ada golok, golok besar. Jantungku langsung turun ke perut.
Aku berkali-kali menyipitkan mata, mencoba memastikan bahwa penglihatanku masih normal. Itu siapa? Jangan bilang Bima? Ah, tidak mungkin. Anak kecil itu mana mungkin tiba-tiba punya otot se-seksi itu. Kecuali semalam dia diam-diam berubah profesi jadi atlet gym. Atau Pak Bram, tukang kebun? Tapi sejak kapan wajahnya berubah jadi setampan aktor Korea Kim Young Dae? Tunggu, aku menyipitkan mata lagi.
"Naraaa..." Suara pria yang berjalan ke arahku menggelegar memanggil namaku.
Refleks aku berdiri dari dudukku. Astaga itu Devandra? Tapi kenapa wajahnya kelihatan seperti orang yang baru saja kehilangan kesabaran, kewarasan, dan mungkin sedikit iman? Dan kenapa dia membawa golok?
Apa dia tahu sesuatu? Apa semalam Leon ngomong aneh-aneh? Apa dia akhirnya sadar?
Otakku langsung bergerak terlalu cepat ke arah yang sangat buruk. Astaga, jangan bilang hari ini adalah hari eksekusi kami?
Aku refleks berdiri terlalu cepat sampai kursi sedikit bergeser. “Ya Tuhan...” gumamku panik. "Apa aku harus kabur sekarang?" Karena jujur saja, melihat Devandra membawa golok sambil jalan cepat di pagi hari bukan pertanda kehidupan rumah tangga yang sehat.
Mati aku!!!
Pria itu berjalan cepat ke arahku. Langkahnya panjang dan tergesa, membuat suasana pagi yang damai tiba-tiba terasa seperti adegan eksekusi di film kriminal. Setelah sampai di depanku, ia langsung meletakkan golok itu di atas meja dengan bunyi keras. Tak! Seketika tubuhku refleks menegang. Matanya menatapku tajam tanpa berkedip. Aku benar-benar menelan ludah kali ini. Astaga, apa aku harus pura-pura pingsan sekarang?
Nafasnya terengah, "kenapa?" Dia berhenti sebentar. "Ada ayam di hutanku?"
Haisss sial, aku kira apa. Jantungku sudah bersiap ingin melompat.
"Hehe." Aku meringis.
"Itu bukan jawaban," katanya kesal.
"Emangnya hutan itu ada aturannya, dilarang ada ayam, gitu?"
Dev menghela nafas sebelum melanjutkan, "kamu yang membawa ayam-ayam itu?" Nadanya kali ini terdengar lembut, berusaha untuk tetap sabar.
"Iya, kan aku udah bilang mau beli sesuatu."
"Dan itu ayam?"
"Iya, lagian kan kamu yang nyuruh aku buat menggunakan uangku." Aku meneguk susu di gelas.
"Iya tapi... arghh..." Dia mengusap wajahnya frustasi.
Aku hanya memperhatikannya dengan tenang, sebenarnya pria ini terlihat seksi saat sedang kesal. Ah apa ini masih efek dari anggur merah semalam?
"Nara," dia memanggilku dengan nada lembut, tangannya mengelus pipiku. "Kamu suka ayam?"
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab, "suka, mereka lucu, dan kamu juga bisa tangkap ayamnya kalau mau masak menu ayam, hebat kan ideku." Kuberikan senyuman termanis padanya.
Dia tertawa kecil, "jadi kamu mau ternak ayam?"
"Nggak juga sih, aku cuma bingung mau cari hewan apa. Soalnya kemarin itu kan mendung banget, jadi aku buru-buru, lihatnya ayam yaudah belinya ayam."
"Emang tadinya mau beli apa?"
"Apa aja yang penting lucu, bisa buat temen aku main di hutan."
Dev menghela nafasnya lagi.
"Yaudah terserah kamu aja kalau gitu, yang penting kamu seneng." Dia mengacak rambutku.
Aku menahan tangannya saat dia hendak pergi, "Dev, nanti kita main ke hutan ya. Kamu pasti belum kenalan kan sama mereka."
Dev menatapku dengan tatapan yang sulit dijelaskan, "terserah... terserah Anda saja."
Dia pergi ke lantai atas, namun tiba-tiba suara kembali terdengar, kali ini sedikit berteriak dari atas.
"Aku punya kejutan buat kamu, ada di hutan. Sorean kita ke sana."
Aku mengerutkan keningku, kejutan apa? Aku jadi penasaran.