Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Citra?
Darah Puann terasa mendidih seketika. Ia tidak menyangka suaminya akan seceroboh itu memberikan uang pas-pasan kepada orang lain, padahal kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka sendiri belum terjamin.
"Kamu bercanda ya? Kamu sadar nggak sih kita juga butuh uang itu? Kita ini juga susah, Mas! Kamu mau kita makan apa besok? Angin?" bentak Puann, suaranya meninggi karena tidak tahan lagi.
"Nanti aku cari kerjaan lain, cari tambahan. Santai aja, rezeki pasti ada jalannya kalau kita mau berbagi," jawab Bahlil mencoba menenangkan lalu melangkah mendekat.
"Jangan deketin aku dulu! Aku udah malu dihina keluarga, aku udah sabar hidup di rumah sempit, tapi kalau kamu sendiri yang bikin keadaan makin parah, aku nggak terima!" potong Puann sambil mengibaskan tangan menjauh.
"Ini bukan soal mau berbagi atau nggak. Masalahnya kamu itu nggak pernah mikir panjang! Kamu denger kan tadi Ibu bilang kamu numpang hidup? Sekarang lihat kelakuanmu, bener kan kata Ibu? Kamu beneran nggak punya tanggung jawab!" tuduh Puann, air mata mulai menetes di pipinya.
Bahlil terdiam mendengar tuduhan itu. Senyumnya hilang diganti raut wajah sedih. Ia tidak terlihat marah mendengar kata-kata kasar itu, namun ia tetap menatap Puann dengan pandangan yang sulit dimengerti.
"Aku lakuin itu karena aku mau berbuat baik, Puann. Kamu jangan sejahat itu sama aku," ucap Bahlil pelan.
"Berbuat baik tapi malah bikin istri sendiri kelaparan? Itu namanya bodoh, bukan baik!" balas Puann tajam.
Pertengkaran itu berlangsung cukup lama. Puann meluapkan segala unek-unek yang selama ini dipendamnya diam-diam, sedangkan Bahlil hanya menjawab seperlunya dan lebih banyak berdiam diri. Rasa lelah dan kekecewaan bercampur menjadi satu di hati Puann.
Saat suasana mulai agak tenang dan Puann berbalik badan hendak mengambil gelas minum, ponsel tua milik Bahlil yang tergeletak di meja bergetar sebentar lalu mati lagi. Karena rasa penasaran dan emosi yang masih membara, Puann mendekat dan mengambil benda itu.
Tangan Puann gemetar saat membuka layar ponsel tersebut. Terdapat satu pesan masuk yang belum sempat dibaca oleh Bahlil. Saat matanya menangkap nama pengirim pesan itu, napasnya terasa terhenti. Di layar tertulis jelas nama pengirim: Citra.
Isinya singkat, tapi cukup membuat darah Puann dingin seketika.
"Mas Bahlil, makasih ya atas bantuannya tadi. Kamu emang paling bisa diandalkan, Sayang."
Puann menatap nama itu berulang kali. Hatinya yang sudah rapuh kini retak semakin dalam. Siapa perempuan bernama Citra itu?
Dan berani-beraninya dia memanggil suaminya dengan sebutan Sayang?
Puann menggenggam ponselnya dengan erat. Ia menatap nama pengirim dan isi pesan dari Citra berulang kali, sementara dadanya terasa sesak.
“Siapa perempuan ini, Mas? Berani banget panggil kamu sayang, ada-ada aja,” sergah Puann sambil mengarahkan layar ponsel ke wajah Bahlil.
Bahlil terkejut sejenak. Ia menggaruk kepalanya, lalu berusaha mengambil kembali ponsel itu dengan wajah tenang dan tanpa beban.
“Itu cuma kenalan doang, Puann. Dia emang gitu ngomongnya, kebiasaan aja kok, nggak ada apa-apa,” jawab Bahlil santai.
Puann menepis tangan suaminya. Ia tidak mempercayai penjelasan yang seadanya itu karena panggilan sayang tidak mungkin diucapkan sembarangan kepada orang yang bukan siapa-siapa.
“Kebiasaan? Kamu kira aku anak TK yang gampang dibohongin? Nggak ada cewek panggil cowok lain sayang kalau nggak ada apa-apa. Jujur deh, siapa dia sebenernya?” desak Puann, suaranya bergetar menahan amarah.
“Aku udah bilang, dia cuma teman. Kamu jangan kebanyakan mikir deh,” jawab Bahlil ketus, lalu berjalan keluar rumah seolah urusan telah selesai.
Perlakuan dingin itu membuat kecurigaan Puann semakin besar. Ia yakin suaminya menyembunyikan hal yang besar, dan nama Citra terus terbayang di pikirannya sepanjang hari.
Saat sedang membereskan tas kerja Bahlil pada sore itu, selembar bukti transfer jatuh ke lantai. Ia memungut kertas itu dan terbelalak melihat nama penerima tertulis jelas: Citra. Jumlah uang yang tercantum pun besar, jauh lebih banyak dibandingkan uang yang kemarin diberikan kepada tetangga.
Darah Puann mendidih seketika. Ia gemetar membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi di belakangnya.
“Jadi uang itu bukan cuma buat Bu Siti, tapi juga buat dia? Kita hidup pas-pasan, eh kamu malah ngasih uang ke cewek lain?” batin Puann pedih.
Malam itu, Bahlil pulang lebih larut dari biasanya. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam saat ia masuk ke kontrakan dengan penampilan rapi, serta wangi sabun yang tercium samar dari tubuhnya.
“Kamu dari mana aja? Jam segini baru nongol?” tanya Puann dingin, sudah menunggu di dekat pintu.
“Ada urusan sama teman, tadi kelarnya lama dikit,” jawab Bahlil sambil meletakkan tas, lalu langsung melangkah ke kamar mandi.
“Teman? Teman yang mana lagi? Jangan bilang itu teman biasa ya. Tadi aku nemu bukti transfer ke Citra. Coba jelasin ini maksudnya apa?” sergah Puann mengikuti langkahnya, berusaha menahan diri agar tidak meledak emosinya.
Bahlil berhenti sejenak, tetapi tidak berbalik menatap. Ia diam beberapa saat, lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan rapat.
“Mas Bahlil! Aku tanya nih! Jangan diem aja gitu dong! Aku berhak tahu yang sebenernya!” seru Puann sambil mengetuk pintu berkali-kali.
Hanya suara air yang terdengar dari dalam kamar mandi. Bahlil sama sekali tidak memberikan respons, dan sikap dingin ini membuat rasa curiga Puann semakin kuat. Ia merasa suaminya lebih menjaga perasaan Citra dibandingkan dirinya sendiri.
Keadaan menjadi semakin buruk selama beberapa hari berikutnya. Bahlil makin sering pulang malam, bahkan kadang baru muncul hingga tengah malam, dengan alasan yang selalu sama: ada urusan, ada pekerjaan, atau ada teman yang butuh bantuan. Semua alasan itu hanya terdengar sebagai ungkapan kosong di telinga Puann.
...***...
Pagi itu Puann melihat Bahlil berpakaian sangat rapi. Ia mengenakan kemeja bersih dan celana panjang yang disetrika licin, dengan wajah tampak bersemangat. Penampilan ini sangat berbeda jauh dari raut lelah yang biasa ditunjukkannya saat hendak mencari pekerjaan serabutan.
“Mau ke mana sih? Rapi banget gayanya,” tanya Puann hati-hati, mencoba membaca gerak-gerik suaminya.
“Ada urusan dikit, mungkin pulangnya sore atau malem. Kamu jangan nyari-nyari aku ya,” jawab Bahlil cepat, lalu bergegas keluar pintu.
Puann berdiri terpaku di depan pintu. Perasaannya tidak enak dan firasat buruk membuat pikirannya kacau. Ia teringat kembali pesan singkat, kiriman uang, dan panggilan sayang dari Citra, di mana semua petunjuk itu mengarah pada satu kesimpulan yang menyakitkan.
“Kalau aku diam aja, aku nggak bakal tahu apa-apa. Aku harus lihat sendiri kamu pergi ke mana sama sama siapa,” tekad Puann dalam hati.
Tanpa ragu lagi, Puann mengunci pintu kontrakan. Ia berjalan menjauh, lalu mengikuti langkah Bahlil dari jarak aman agar tidak diketahui. Ia wajib mengetahui ke mana tujuannya dan siapa sebenarnya perempuan yang berani memanggil suaminya dengan sebutan sayang itu.
Jantungnya berdebar kencang sebagai campuran rasa takut dan cemas menanti hal apa yang akan ia saksikan.
Bahlil berjalan cukup jauh hingga sampai ke pinggiran kota. Ia berhenti tepat di depan bangunan besar yang tampak mewah dan megah, sangat jauh beda dengan kontrakan sempit tempat mereka tinggal.
Puann bersembunyi di balik tiang listrik yang berada tidak jauh dari lokasi itu. Ia tidak percaya melihat Bahlil melangkah masuk ke area lobi hotel tersebut dengan sikap yang santai dan akrab.
“Ngapain dia ke tempat semewah ini? Ada urusan apa sih di sini?” batin Puann makin gelisah.
Pikirannya langsung tertuju pada hal-hal buruk. Ia mengingat kembali pesan singkat, kiriman uang, dan panggilan sayang dari Citra, di mana semua hal itu semakin mendukung dugaan terburuknya.