NovelToon NovelToon
Realita Menikah

Realita Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cattygril

Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.

Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.

Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.

Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 (Keputusan yang Bulat)

...HAPPY READING...

...🧸💕...

Langkah kaki Elvara terdengar konstan saat melewati koridor sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota Jakarta. Setelah menempuh perjalanan yang menguras emosi dari pantai, tujuannya kini sudah bulat. Ia tidak akan kembali ke rumah Arsen, melainkan ke tempat di mana ia bisa mengakhiri penderitaannya secara hukum.

Elvara berhenti di depan sebuah pintu kaca bertuliskan Bramantyo & Partners Law Firm. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, ia mendorong pintu tersebut dan melangkah masuk.

Tak butuh waktu lama bagi Elvara untuk langsung diarahkan ke sebuah ruang rapat privat. Di sana, seorang pria matang berkacamata dengan setelan jas rapi sudah menunggunya.

"Selamat siang, Nona Elvara. Saya Baskara, pengacara utama yang akan menangani kasus Anda," sapa pria itu ramah sembari mengulurkan tangan, yang langsung disambut hangat oleh Elvara. "Silakan duduk." Setelah menaruh tasnya, Elvara duduk dengan punggung tegak. Tidak ada lagi keraguan atau air mata yang tersisa di wajahnya, hanya ada ketegasan yang dingin.

"Terima kasih, Pak Baskara," ujar Elvara, suaranya terdengar tenang namun sarat akan penekanan. "Saya rasa asisten saya sudah menjadwalkan pertemuan ini dan memberikan gambaran singkat. Jadi, saya ingin langsung pada intinya."

Baskara membuka sebuah map dokumen kosong dan memegang penanya, siap mencatat. "Tentu. Silakan katakan apa yang menjadi tuntutan utama Anda dalam kasus ini."

Elvara menatap lurus ke arah sang pengacara. "Saya ingin Anda mengurus perceraian saya dengan suami saya, Arsen Mahardhika, secepat mungkin. Saya ingin gugatan ini dilayangkan ke pengadilan minggu ini juga."

Baskara sempat menghentikan gerakan penanya sejenak, sedikit terkejut mendengar nama besar yang disebut oleh kliennya. "Arsen Rafael Mahardika dari Mahardika Group? Kasus ini tentu akan memicu sorotan media yang besar, Nona Elvara. Apakah Anda sudah menyiapkan bukti-bukti yang kuat untuk mendukung gugatan cerai ini?"

"Saya memiliki semua bukti yang dibutuhkan. Mulai dari ketidakpeduliannya, pisah ranjang, hingga bukti kedekatannya dengan wanita lain yang melanggar komitmen pernikahan," jawab Elvara tanpa berkedip. Kenangan tentang bagaimana Arsen selalu memprioritaskan Vivian alih-alih dirinya membuat hati Elvara mengeras. "Saya tidak menuntut harta gono-gini atau aset apa pun dari Mahardika Group. Saya hanya ingin satu hal: kebebasan saya kembali secepatnya."

Baskara mengangguk-angguk paham, jemarinya dengan cepat mencatat poin-poin penting tersebut. "Jika Anda melepaskan semua tuntutan harta dan hanya fokus pada perceraian mutlak, prosesnya bisa kita percepat. Saya akan segera menyusun draf gugatannya sore ini."

"Bagus," ucap Elvara, seulas senyum tipis yang penuh kelegaan akhirnya terukir di bibirnya. "Tolong pastikan Arsen menerima surat gugatan itu langsung di tangannya. Saya ingin dia tahu bahwa kali ini, saya tidak sedang bermain-main."

​Pak Baskara meletakkan penanya, lalu menyatukan kedua jemarinya di atas meja. Tatapannya berubah menjadi jauh lebih serius dan analitis sebagai seorang profesional hukum.

​"Baik, Nona Elvara. Karena Anda ingin proses ini berjalan cepat tanpa drama yang berlarut-larut di Pengadilan Agama, kita harus menyusun strategi yang matang. Hakim membutuhkan alasan dan bukti yang kuat—atau dalam istilah hukumnya syqaq—yaitu perselisihan yang tajam dan terus-menerus yang membuat rumah tangga tidak bisa dipertahankan lagi," jelas Pak Baskara runut.

​Elvara mendengarkan dengan saksama. "Lalu, apa saja yang harus kita siapkan agar hakim langsung mengabulkan gugatan saya?"

​"Pertama, kita butuh bukti komunikasi," ujar Pak Baskara sembari mengetuk draf catatannya. "Saya minta Anda mengumpulkan semua tangkapan layar percakapan, baik pesan teks maupun rekaman suara, yang menunjukkan sikap tidak peduli atau penolakan dari suami Anda. Terutama yang berkaitan dengan keberadaan pihak ketiga, yaitu wanita bernama Vivian itu."

​Elvara mengangguk pelan. "Saya punya beberapa pesan teks di mana Arsen lebih memilih menemui Vivian dan meninggalkan saya, bahkan saat saya sedang membutuhkannya."

​"Bagus, itu poin krusial," sahut Pak Baskara. "Kedua, bukti pisah rumah atau minimal pisah ranjang. Jika ada saksi dari orang terdekat—seperti asisten rumah tangga atau keluarga—yang tahu bahwa Anda berdua sudah tidak lagi menjalankan kewajiban sebagai suami istri, itu akan sangat membantu memperkuat argumen kita di hadapan hakim."

​Mendengar kata saksi, Elvara terdiam sejenak, mengingat kembali betapa sepinya perjuangannya selama ini di rumah besar itu. Namun, ia tahu ada beberapa pekerja rumah tangga yang melihat langsung bagaimana Arsen memperlakukannya seperti pajangan.

​"Saya bisa mengusahakan satu atau dua saksi yang tahu kondisi rumah kami yang sebenarnya, Pak," jawab Elvara mantap.

​"Sempurna," Pak Baskara tersenyum optimis. "Jika semua bukti dokumen, digital, dan saksi sudah lengkap dan sinkron, hakim tidak akan punya alasan untuk menunda-nunda putusan. Kita bisa memotong prosedur mediasi yang berbelit jika kita bisa membuktikan bahwa pernikahan ini sudah benar-benar mati secara fungsional."

​Baskara kemudian menyodorkan selembar dokumen surat kuasa ke hadapan Elvara. "Sekarang, silakan tanda tangani surat kuasa ini. Begitu Anda tanda tangan, tim saya akan langsung bergerak mengamankan dan melegalisir semua bukti yang Anda miliki. Kita akan buat pihak Arsen Mahardhika tidak berkutik dan terpaksa melepaskan Anda."

​Elvara meraih pulpen di atas meja. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menorehkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Dengan coretan tinta itu, Elvara tahu, langkahnya untuk keluar dari lingkaran penderitaan Arsen sudah resmi dimulai.

… 

​Sementara di belahan kota lain Elvara sedang berjuang merebut kebebasannya, di dalam ruang kerja sebuah penthouse mewah, Julian Vance Sterling berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Pria bule berkebangsaan Australia itu menyesap kopi hitamnya perlahan, menikmati keheningan sampai suara ketukan di pintu membuyarkan fokusnya.

​Orang kepercayaannya melangkah masuk dengan raut wajah serius, membawa tablet digital di tangannya.

​"Lapor, Sir. Informan kita baru saja memberikan kabar terbaru. Nona Elvara saat ini sedang berada di kantor hukum Bramantyo & Partners. Sepertinya, dia baru saja menyewa pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Arsen Mahardika."

​Julian menurunkan cangkir kopinya ke atas meja. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum licik yang penuh kepuasan. "Hm, bagus. Sepertinya aku harus membantunya," ucap Julian dengan nada suara yang bergetar rendah.

​Tentu saja ia tidak akan tinggal diam. Julian tahu betul seberapa besar pengaruh Mahardika Group di negara ini. Jika Arsen mempersulit proses cerai itu karena ego, maka Julian yang akan turun tangan langsung untuk meruntuhkan dinding pertahanan Arsen. Julian ingin jalan Elvara menuju kebebasan bersih tanpa hambatan.

​Julian berbalik, menatap tajam ke arah anak buahnya dengan kilat posesif yang tak lagi disembunyikan.

​"Cari bukti tambahan untuk mempercepat perceraian wanita ku. Cari semua borok Arsen Mahardika, foto-foto kedekatannya dengan cinta pertamanya, atau apa pun yang bisa membuat hakim langsung mengetuk palu. Aku mau proses ini berjalan lancar dan secepat kilat."

​"Baik, Sir. Segera saya laksanakan," jawab orang kepercayaan Julian dengan patuh, lalu membungkuk hormat sebelum berjalan mundur keluar dari ruangan.

​Begitu pintu tertutup, Julian kembali menatap keluar jendela. Sebuah seringai dingin terukir jelas di wajah tampannya. Dalam hati, Julian berbisik, Selesaikan urusanmu dengan cepat, El. Setelah kamu lepas dari pria bodoh itu, aku sendiri yang akan mengikatmu denganku—kali ini dengan status yang sah.

Julian melangkah kembali ke meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal. Ia menghempaskan tubuh tegapnya ke kursi kebesaran, lalu membuka laptop pribadinya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, membuka beberapa dokumen rahasia dan surel masuk yang dikirim oleh jajaran direksi perusahaannya di Sydney.

Mata hazel Julian menyipit tajam saat membaca sebuah berkas agenda bisnis yang telah dijadwalkan oleh sekretarisnya.

Senin depan. Ada agenda pertemuan penting berskala internasional. Dan nama perusahaan yang tercantum di sana seketika membuat seringai licik Julian kembali terbit.

Vance Sterling Industries & Mahardhika Group: Pendanaan Proyek Joint Venture Pembangunan Resor Ekologis Terpadu di Labuan Bajo.

Julian bersandar pada kursinya, mengetuk-ngetuk dagunya dengan ekspresi puas. Dunia ternyata sempit sekali. Mahardika Group milik Arsen rupanya sedang berada di ujung tanduk karena krisis likuiditas modal untuk proyek mega-resor bernilai triliunan rupiah tersebut. Dan satu-satunya investor asing yang bisa menyelamatkan proyek itu agar tidak mangkrak adalah perusahaan milik Julian.

Pertemuan Senin depan itu adalah momen krusial bagi Arsen untuk memohon suntikan dana segar dari Julian. Arsen tidak pernah tahu bahwa pria bule calon investornya adalah pria yang sama yang telah merebut malam pertama istrinya.

Julian menatap logo Mahardika Group di layar laptopnya dengan pandangan meremehkan."Kau menyia-nyiakan Elvara, dan sekarang kau datang mengemis modal padaku, Arsen?" gumam Julian dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar, disusul tawa renyah yang terdengar dingin.

Di kepala Julian, sebuah rencana busuk yang cerdas langsung tersusun rapi. Kerja sama ini tidak akan ia batalkan begitu saja. Justru, ia akan menggunakan proyek triliunan ini sebagai pion utama untuk memeras Arsen. Julian akan memberikan syarat mutlak: Jika Arsen ingin tanda tangan kontrak kerja sama dan dana cair, Arsen harus menandatangani surat perceraiannya dengan Elvara tanpa drama dan tanpa penundaan.

Julian menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. Pertemuan Senin depan pasti akan menjadi hari yang sangat menarik.

Bersambung….. 

1
Aquarius1276 Nonamolek
tidak bertele²...bahasa yg mudah dimengerti
Aquarius1276 Nonamolek
kapan thor season 2 nya ...plus judul nya donk😍
Cattygril
okee
mba mawar34
oh noo gw pikir bakalan sama kael
Cattygril: haha, tidak kk
total 1 replies
mba mawar34
Next💪😍
mba mawar34
ceritanya bgus, dan oke di baca
Cattygril: terimakasih☺
total 1 replies
mba mawar34
semangat thir💪😍
Cattygril: iya dongg👌☺
total 1 replies
cynth
Everyone biggest nightmare.
Cattygril: heee☺
total 1 replies
Amelia
Next😍
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
Cattygril: terimakasih yaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!