Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Besi tua sepanjang setengah meter yang digenggamnya erat-erat di tangan kanannya, gemeretak pelan karena cengkeraman jari-jemari keriputnya yang kuat. Matanya yang sudah mulai kabur dimakan usia, kini menatap tajam, berapi-api, dan penuh tantangan ke arah pintu depan yang sudah dobrak terbuka. Debu-debu gips dan serpihan kayu beterbangan di udara, menerangi siluet-siluet hitam besar yang mulai berjalan masuk, melangkah dengan angkuh di antara reruntuhan barang-barang antik yang hancur lebur.
Bimo masuk paling depan.
Pria itu berdiri tegak di ambang pintu, tubuhnya besar, kekar, dan padat berisi, terbalut jaket kulit hitam yang mahal namun kusam. Wajahnya yang keras, berkulit kasar, penuh bekas luka, kini menyeringai mengerikan, memperlihatkan gigi kuningnya yang tak beraturan. Matanya yang kecil, tajam, dan gelap, berputar liar memindai setiap sudut ruangan, seperti seekor serigala tua yang sedang mengendus jejak mangsanya. Di belakangnya, empat orang pria bertubuh raksasa, berpakaian serba gelap, mengikutinya bagai bayangan—anak buah kepercayaannya, pembunuh bayaran profesional yang tidak punya hati nurani.
Bimo melangkah maju pelan, sepatu kulitnya yang berat menginjak pecahan kaca dan potongan kayu dengan suara krek-krek yang mengerikan. Ia berhenti tepat di hadapan Pak Hadi, jarak mereka hanya sekitar satu meter. Bimo menunduk sedikit, menatap kakek tua itu dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan, jijik, dan penuh ejekan.
"Dasar kakek pikun," desis Bimo pelan, suaranya parau, serak, dan dingin, persis seperti suara iblis yang baru bangun tidur. Ia menatap Pak Hadi dengan tatapan yang seolah sedang melihat serangga kotor. "Kau pikir kau siapa, hah? Pahlawan? Penyelamat dunia? Sudah tua, tulangmu tinggal segelintir, nyawamu tinggal hitungan hari, masih saja berani main-main sama aku."
Bimo mengangkat tangan kanannya perlahan, memutar-mutar senapan laras pendek berwarna hitam kusam di jari-jarinya. Ujung moncong senjata dingin itu diarahkan tepat ke tengah dada Pak Hadi, tepat di atas jantung yang sudah berdetak lambat dan lemah.
"Di mana mereka?" tanya Bimo, nada bicaranya masih rendah, tenang, tapi ancaman mautnya terasa begitu pekat sampai ke sumsum tulang. "Di mana si anak haram Arya, dan di mana si cewek bodoh, Naya? Dan yang paling penting... di mana kaset itu? Serahkan semuanya sekarang, dan aku janji... aku akan tembak kepalamu sekali saja. Cepat. Tidak sakit. Kalau tidak... aku akan buatmu minta mati sampai kau bosan, Kakek."
Pak Hadi tidak mundur selangkahpun. Ia tidak gemetar. Ia tidak menunduk. Sebaliknya, ia justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap balik mata jahat Bimo dengan tatapan yang sama tajamnya, bahkan lebih tajam dari jarum. Di mata tua itu, tidak ada rasa takut. Yang ada hanyalah rasa muak, kebencian yang mendalam, dan rasa damai yang aneh—rasa damai karena akhirnya, setelah dua puluh delapan tahun bersembunyi dan diam, ia bisa berbicara, bisa melawan, dan bisa mati untuk sesuatu yang benar.
"Kau mau tahu di mana mereka, Anak Iblis?" ucap Pak Hadi perlahan, suaranya bergetar namun tegas, ia tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Mereka sudah pergi. Mereka sudah jauh. Dan kau tahu apa yang mereka bawa? Mereka membawa kebenaran. Mereka membawa bukti bahwa tuanmu, Hendrawan Wijaya, adalah pembunuh, penipu, dan monster terbesar yang pernah lahir di bumi ini. Dan kau... kau cuma anjing pemburu yang patuh, yang rela menjilat ludah tuannya demi uang kotor. Kau pikir kau hebat? Kau pikir kau kuat? Kau cuma sampah, Bimo. Kau dan tuannmu... kalian cuma sampah yang suatu hari nanti akan disapu bersih oleh keadilan."
Wajah Bimo berubah merah padam mendengar hinaan itu. Urat-urat tebal di leher dan pelipisnya menonjol keras. Senyum sinisnya lenyap seketika, digantikan ekspresi membunuh yang murni dan dingin. Ia benci dihina. Ia benci dipermalukan. Terutama oleh orang tua, orang lemah, orang yang ia anggap tidak berharga.
"Brengsek!!!" raung Bimo, amarahnya meledak seketika.
Ia mengayunkan gagang senjatanya sekuat tenaga, menghantamkan keras ke arah wajah Pak Hadi.
BRAKK!!
Suara benturan tulang dan logam terdengar basah dan menyakitkan.
Darah segar langsung memuncrat keluar dari hidung dan bibir Pak Hadi. Tubuh kurus tua itu terlempar mundur beberapa langkah, jatuh terhuyung ke belakang, punggungnya menghantam rak kayu tua hingga barang-barang di atasnya runtuh menimpa tubuhnya. Kacamata tebalnya terlempar jauh, pecah berkeping-keping di lantai kotor. Mulutnya penuh darah, giginya goyang, mata kirinya langsung membengkak hitam biru.
Namun, meski kesakitan luar biasa, meski rasanya kepalanya mau pecah dan otaknya berputar hebat, Pak Hadi tetap menggenggam besi tuannya. Ia merangkak bangkit kembali, meski kakinya gemetar hebat, meski darah mengalir menutupi separuh wajahnya, ia tetap mencoba berdiri tegak. Ia tidak akan jatuh di hadapan binatang ini. Ia tidak akan memberi kepuasan pada Bimo melihatnya merendah atau menangis minta ampun.
"Kurang... kurang ajar..." geram Pak Hadi, darah menetes dari mulutnya setiap kali ia bicara. Ia meludahkan gumpalan darah dan air liur tepat ke arah sepatu mengkilap Bimo. "Bunuh aku. Bunuh aku sekarang. Tapi ingat... darahku... darah Andi... darah Sari... darah semua orang yang kalian bunuh... itu semua akan menuntut balas. Api pembalasan sudah dinyalakan, Bimo. Dan kau... kau akan jadi orang pertama yang terbakar di dalamnya."
Bimo tertawa. Tawa panjang, keras, gila, dan kejam yang bergema memenuhi ruangan sempit itu. Ia tertawa sampai perutnya sakit, sampai matanya berair, seolah mendengar lelucon paling lucu di dunia.
"Kau benar-benar pikun, Kakek tua," bisik Bimo, ia berjongkok perlahan di depan Pak Hadi yang terkapar lemah di lantai. Ia mengangkat dagu kakek itu dengan ujung moncong senjatanya yang dingin dan kasar, memaksa wajah penuh darah itu menatap matanya. "Kau bicara soal pembalasan? Soal keadilan? Kau pikir hal-hal seperti itu ada di dunia nyata? Dengar baik-baik, Kakek bodoh... Dunia ini milik orang kuat. Milik orang yang punya uang, punya senjata, dan punya nyali untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalan. Tuan gue, Hendrawan Wijaya... dia punya segalanya. Dia punya polisi, dia punya hakim, dia punya wartawan, dia punya pemerintah. Siapa yang berani melawan dia? Siapa yang percaya omongan dua anak kecil dan seorang kakek gila seperti kau? Tidak ada! Mereka akan mati, kaset itu akan hancur, dan kisah ini akan terkubur selamanya, sama persis seperti dua puluh delapan tahun lalu. Sejarah tidak akan berubah."
Bimo berdiri tegak kembali, napasnya panjang, wajahnya kembali tenang dan dingin. Ia sudah bosan bermain-main. Ia sudah lelah mendengar omong kosong. Ia menatap salah satu anak buahnya yang berdiri di dekat pintu.
"Cari ruangan belakang. Bongkar semuanya. Jangan tinggalkan satu inci pun yang tidak diperiksa. Cari kasetnya, cari ponselnya, cari jejak apapun. Kalau perlu bakar toko sialan ini sampai jadi abu," perintah Bimo dengan nada datar, tanpa emosi. "Dan kalau kalian temukan anak-anak itu... tembak saja. Tidak perlu bawa hidup. Masalah selesai."
"Siap, Bos!" jawab anak buah itu serentak.
Dua dari empat orang itu segera bergerak cepat, menerobos masuk ke ruangan belakang yang sempit dan gelap—tempat Arya dan Naya baru saja berdiri beberapa menit yang lalu. Mereka membongkar laci-laci, menjungkirbalikkan tumpukan barang, merobek karpet, memeriksa di bawah kasur, di balik lemari, di setiap sudut gelap.
Pak Hadi yang melihat itu, hatinya mencelos, tapi bibirnya tetap tersenyum tipis. Cari saja, bodoh... kalian tidak akan menemukan apa-apa selain debu dan kekecewaan, batinnya. Ia tahu, pintu darurat itu tersembunyi sangat rapi di balik tumpukan kardus tua dan rak kosong. Dan Arya serta Naya sudah berlari cukup jauh masuk ke semak belukar liar di pinggir rel—tempat yang rumputnya tinggi, durinya tajam, dan jalannya tak terduga. Tempat yang orang kota seperti anak buah Bimo enggan masuk.
"Bos!" teriak salah satu anak buah dari ruang belakang, suaranya terdengar frustrasi dan marah. "Kosong! Tidak ada siapa-siapa! Ada pintu belakang terbuka! Mereka kabur lewat sini!"
Wajah Bimo seketika berubah hitam legam. Amarahnya yang baru sedikit mereda, kini meledak berkali-kali lipat. Ia merasa dipermainkan. Ia merasa diremehkan. Oleh kakek tua. Oleh dua anak ingusan.
"SIALAN!!!" raung Bimo, ia memutar tubuhnya cepat, lalu tanpa ampun, ia mengangkat kaki besarnya yang berat, lalu menendang perut Pak Hadi sekuat tenaga.
DUAK!!
Tendangan itu keras, brutal, dan mematikan. Pak Hadi yang sudah tua, kurus, dan lemah, tubuhnya terangkat melayang di udara karena kekuatan tendangan itu, lalu jatuh menghantam tumpukan kardus tua dengan suara bunyi tulang patah yang mengerikan. Darah segar menyembur keluar dari mulutnya, tubuhnya mengejang kaku, napasnya terhenti sejenak karena rasa sakit luar biasa di ulu hati. Tulang rusuknya patah, mungkin ada yang menusuk paru-parunya.
Bimo berjalan mendekat, napasnya memburu, matanya merah menyala penuh pembunuhan. Ia menatap tubuh tua yang terbaring sekarat itu dengan kebencian murni.
"Kau... kau yang bantu mereka kabur, kan?!" desis Bimo, ia berjongkok lagi, mencengkeram kerah baju lusuh Pak Hadi, mengangkat tubuh beratnya yang hampir tak bernyawa itu hingga separuh badan terangkat. "Kau pikir kau pintar, hah?! Kau pikir kau pahlawan?! Kau pikir kau akan mati dengan tenang setelah menghianati gue dan Tuan gue?!"
Pak Hadi, meski kesadarannya mulai kabur, meski rasa sakit di seluruh tubuhnya tak terlukiskan, meski darah memenuhi tenggorokannya hingga ia sulit bernapas, ia masih punya sisa kekuatan untuk tersenyum. Senyum yang paling lebar, paling cerah, dan paling penuh kemenangan yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.
Darah mengalir dari sudut bibirnya, membasahi janggut putihnya yang kusut. Matanya yang rabun namun tajam, menatap tepat ke dalam manik mata hitam Bimo.
"Kau... kau kalah, Bimo..." bisik Pak Hadi parau, suaranya hampir tak terdengar, tapi kata-katanya menusuk tepat ke jantung musuhnya. "Mereka... mereka punya bukti. Mereka tahu semuanya. Hendrawan... iblis itu... dia sudah selesai. Dan kau... kau akan mati sendirian... anjing tua yang dibuang tuannya... kotor... dan tak berguna."
DORRR!!!!
Suara dentuman keras mengguncang seluruh ruangan kecil itu. Asap putih mengepul keluar dari moncong senjata Bimo yang kini menempel tepat di dada kiri Pak Hadi.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan.
Darah merah segar menyebar cepat di dada baju kakek itu, melebar, dan membasahi tangan Bimo yang masih mencengkeram kerahnya. Tubuh Pak Hadi menggetar sekali, dua kali, lalu perlahan kekuatannya hilang sepenuhnya. Senyum kemenangan itu masih terukir jelas di wajah kaku dan dinginnya saat matanya terpejam selamanya.
Pak Hadi meninggal dunia.
Bimo melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membiarkan tubuh tua itu jatuh terhempas kembali ke lantai kotor dengan suara BRAK. Ia bangkit berdiri, napasnya masih berat dan kasar, dadanya naik turun karena amarah yang belum tuntas. Ia menyeka darah hangat di tangannya ke celana panjangnya, wajahnya masih penuh kekesalan. Ia membunuh kakek itu, tapi rasanya bukan kemenangan. Rasanya seperti kekalahan. Karena mangsa utamanya lolos. Karena bukti mutlak masih ada di luar sana.
"Brengsek..." geram Bimo pelan, ia menggebrak dinding kayu di sampingnya hingga kayu itu pecah. "Mereka tidak akan pergi jauh. Mereka tidak punya kendaraan, mereka tidak punya uang, mereka tidak punya tempat tujuan. Mereka cuma anak-anak panik. Dan mereka sedang lari di tanah gue. Di kota gue. Di wilayah gue."
Bimo berbalik menatap anak buahnya yang berdiri diam, takut-takut, tidak berani bersuara. Matanya yang merah itu memancarkan tekad membunuh yang baru, tekad yang jauh lebih besar dan obsesif dari sebelumnya.
"Keluar! Sebar diri! Blokir semua jalan keluar! Cek setiap rumah kosong, setiap semak belukar, setiap jembatan, setiap selokan! Gunakan anjing pelacak kalau perlu! Cari sampai ketemu, hidup atau mati! Dan ingat... siapa pun yang melihat mereka, siapa pun yang berani membantu mereka... MATI. Paham?! Aku tidak peduli siapa itu, tua, muda, bayi, wanita, anjing, kucing... siapa saja yang terhubung sama mereka... musnahkan!"
"Siap, Bos!!!" jawab anak buahnya serentak, lalu mereka berlarian keluar dari toko barang antik itu, menyebar ke segala arah seperti semut yang marah.
Bimo berdiri sendirian sejenak di tengah ruangan yang berantakan, berdarah, dan berbau mesiu itu. Ia menatap mayat Pak Hadi yang terbaring diam di sudut ruangan dengan tatapan dingin dan jijik.
"Selamat jalan, Pahlawan," bisik Bimo sinis. "Tunggu saja di neraka. Karena sebentar lagi, teman-temanmu akan menyusul."
Ia pun berbalik, berjalan keluar dari toko reyot itu, meninggalkan pintu terbuka lebar, membiarkan angin sore bertiup masuk, menerbangkan debu dan daun kering, menyelimuti tubuh kaku pahlawan tua itu dalam kesunyian abadi.
Sementara itu, sekitar lima ratus meter di belakang toko, di dalam rimbunan semak belukar setinggi orang dewasa yang tumbuh liar di sisi rel kereta api tua...
Arya dan Naya terus berlari.
Mereka tidak berani berhenti. Tidak berani menoleh ke belakang. Tidak berani mengeluarkan suara selain napas berat dan tercekik.
Suara dentuman senjata yang terdengar samar-samar dari kejauhan, suara teriakan Bimo, suara kaca pecah... semua itu seperti pisau tajam yang berputar-putar menusuk jantung mereka berulang kali. Setiap kali terdengar suara itu, kaki Naya terasa lemas, rasanya ia ingin berbalik arah, ingin kembali, ingin menyelamatkan kakek yang sudah berbuat baik pada mereka itu. Tapi tangan besar Arya mencengkeram lengannya begitu kuat, menariknya maju, memaksanya terus bergerak, terus lari.
"Lebih cepat, Naya! Tolong... lebih cepat!" bisik Arya parau, suaranya pecah karena tangis yang ia tahan mati-matian. Ia tahu. Arya tahu persis apa arti suara tembakan itu. Ia tahu nasib Pak Hadi. Dan rasa sakit itu, rasa bersalah itu, rasa kehilangan itu, membakar dada pemuda itu dari dalam sampai terasa seperti arang. Tapi ia harus kuat. Ia harus jadi tiang bagi Naya. Kalau dia runtuh sekarang, mereka berdua mati. Dan pengorbanan Pak Hadi akan sia-sia.
Angin sore bertiup kencang, menusuk sampai ke tulang sumsum, membawa serta aroma tanah basah, rumput liar, dan satu bau yang tajam, amis, dan membuat perut mual—bau besi berkarat yang bercampur dengan bau darah segar.
Rambut panjang Naya terurai kusut, tertiup angin kencang, menutupi separuh wajahnya yang pucat pasi. Gaun panjang yang kemarin masih elegan dan mahal, kini penuh noda tanah, sobekan ranting duri, dan noda-noda gelap yang entah tanah atau darah. Kakinya yang halus, yang seumur hidupnya dilindungi sepatu kulit empuk, kini penuh luka goresan, memar, dan perih karena tertusuk duri-duri kecil. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
Napas Naya tersengal-sengal, keluar masuk lewat mulutnya yang kering dan pecah-pecah. Dadanya terasa terbakar hebat, paru-parunya rasanya mau meledak, seolah diisi asap panas. Ia merasa sekuat tenaganya sudah habis. Ia merasa kakinya tidak lagi punya tulang. Rasanya ia ingin jatuh saja di tanah, ingin menyerah, ingin mati saja, karena beban yang dipikulnya terasa terlalu berat untuk bahu manusia biasa.
Kakek Hadi... maafkan aku... Maafkan aku... jerit hati Naya dalam diam, air mata mengalir deras tanpa henti, membasahi pipinya yang kotor debu.
Mereka berlari menyusuri sisi rel kereta yang ditumbuhi rumput liar tinggi setinggi pinggang. Rumput-rumput itu bergoyang liar tertiup angin, menyembunyikan tubuh mereka dari kejauhan, tapi sekaligus menghalangi pandangan mereka sendiri. Di sebelah kanan mereka, sungai besar berarus deras mengalir bergemuruh jauh di bawah tebing curam, airnya keruh kecokelatan menyeret sampah, ranting pohon, dan misteri-misteri lama yang tak pernah terungkap. Di sebelah kiri, bukit batu terjal menjulang, penuh duri dan akar pepohonan yang menjulur ke permukaan tanah seperti ular raksasa yang sedang tidur.
Matahari mulai condong ke barat, bersembunyi di balik awan kelabu tebal, membuat cahaya di antara semak belukar itu menjadi remang dan suram. Bayangan pohon-pohon tua yang menjulang tinggi tampak seperti tangan-tangan raksasa yang keriput, mencengkeram langit seolah hendak menelan mereka hidup-hidup.
"N-nafas..." cicit Naya di sela-sela napasnya yang pendek dan terputus-putus, kakinya melorot berat, gravitasi seolah menariknya ke bawah dengan kekuatan dua kali lipat. "Arya... aku... aku tidak kuat... aku tidak kuat lagi..."
Arya sadar. Jika mereka terus berlari tanpa henti, Naya akan pingsan. Dan di tempat berbahaya ini, di mana Bimo dan pasukannya sedang menyisir setiap inci tanah, pingsan sama artinya dengan mati. Ia mengerahkan sisa kekuatannya, menoleh ke kanan dan ke kiri dengan mata yang tajam dan waspada, memindai setiap sudut kegelapan mencari tempat persembunyian.
Di sana.
Di sebelah kiri, di bawah akar pohon beringin raksasa yang akarnya menjulur keluar dari tebing, ada sebuah gua alami kecil yang tersembunyi. Celahnya gelap, lembab, tertutup rapat oleh rimbunan tanaman menjalar dan daun-daun kering. Sangat sulit dilihat dari atas maupun dari kejauhan, seolah tempat itu memang diciptakan alam untuk menyembunyikan orang-orang yang sedang diburu.
"Ke sana! Cepat!" desis Arya, mengubah arah lari mereka secara tiba-tiba, menyeret Naya masuk ke dalam celah akar pohon itu.
Begitu tubuh mereka meluncur masuk ke dalam kegelapan yang sejuk dan berbau tanah itu, Arya segera menarik dedaunan besar dan ranting-ranting kering di sekitar mulut gua untuk menutupi jejak mereka, menyamarkan lubang masuk itu agar terlihat sama persis dengan dinding tebing lainnya. Hanya menyisakan celah kecil selebar jari telunjuk, cukup untuk mengintip keluar sekaligus menghirup udara segar.
Begitu rasa aman samar-samar menyentuh hati mereka, lutut Naya akhirnya menyerah sepenuhnya. Tubuhnya yang kurus itu ambruk ke tanah berlumut yang dingin dan lembap. Ia terguling ke samping, punggungnya bersandar pada akar pohon kasar yang bergaris-garis keras. Wajahnya tertanam di rumput basah, rambut hitam panjangnya terurai menyebar seperti jaring laba-laba di tanah, dan tangis yang sedari tadi ia tahan mati-matian di kerongkongannya, akhirnya meledak keluar.
Bukan tangis anak kecil yang takut gelap. Bukan tangis manja seorang putri kaya yang kehilangan mainannya. Ini adalah tangis seorang manusia yang baru saja hancur dunianya berkeping-keping. Ini adalah tangis kehilangan, tangis trauma, dan yang paling menyakitkan: tangis rasa bersalah yang membakar jiwa.
"Kakek Hadiii... Hiks... Hiks... Hiks..." isak Naya, bahunya berguncang hebat, tubuhnya meringkuk menjadi bola kecil seolah ingin menghilang dari dunia ini. Tangannya yang gemetar dan kotor memukul-mukul tanah basah dengan frustrasi yang tak terperi. Ia mencakar tanah, menarik rambutnya sendiri, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. "A-aku bunuh dia... A-aku yang bawa nasib buruk ke dia... Andai kita tidak datang... andai kita tidak minta tolong... dia pasti masih aman... dia masih bisa minum kopi panasnya, dia masih bisa merapikan radio-radio tuanya... Dia sudah tua, Arya! Dia sudah tua dan sendirian! Dan kita datang... dan kita bawa maut ke depan pintunya... Semua salahku! Semua salahkuuu!!!"
Suara jeritannya tertahan di tenggorokan, berubah menjadi rintihan tertahan yang menyayat hati. Rasa bersalah itu merayap, menjalar, dan menyebar cepat seperti racun di darahnya. Di tengah badai masalah yang melanda hidupnya—penemuan masa lalu kelam orang tua, kenyataan pahit bahwa ayah kandungnya adalah pembunuh ibunya sendiri, penipuan hidup selama dua puluh satu tahun, ancaman pembunuhan setiap detik—kini ditambah lagi beban terberat: nyawa orang baik melayang karena ulah mereka.
Naya merasa dirinya adalah pembawa sial. Ia merasa keberadaannya di dunia ini hanyalah malapetaka bagi siapa saja yang berani mendekat. Ibunya mati karena melahirkan dan membelanya. Ayah Arya mati karena membela ibunya. Pak Hadi mati karena menolong mereka. Siapa lagi yang akan mati selanjutnya? Arya?
Pikiran itu membuatnya semakin histeris. Ia ingin mati. Ia ingin lenyap saja dari muka bumi ini agar tidak ada lagi orang yang terluka karena dirinya.
Di sisi lain gua sempit itu, Arya duduk diam di atas tanah dingin, bersandar pada akar pohon besar. Ia tidak mencoba menyela, tidak mencoba membungkam tangisan gadis itu dengan kata-kata manis kosong. Ia tahu, Naya butuh meluapkan segalanya. Ia butuh merasakan sakit ini sampai ke tulang sumsumnya, karena hanya dengan begitu, ia akan mengerti betapa mahalnya harga kebenaran yang sedang mereka perjuangkan. Arya sendiri pun merasakan pedih yang sama. Pak Hadi adalah teman lama ayahnya, orang yang selama sepuluh tahun terakhir menjadi figur kakek pengganti baginya, satu-satunya orang yang selalu percaya pada cerita ayahnya meski semua orang menganggapnya gila.
Namun, Arya juga tahu satu hal yang Naya belum sadari: Pak Hadi tidak mati karena kecerobohan mereka. Pak Hadi mati karena pilihan.
Dan di dalam gua gelap itu, di tengah keputusasaan, ketakutan, dan duka mendalam, benih-benih pembalasan dendam mulai tumbuh, perlahan namun pasti, mengubah dua jiwa muda yang polos menjadi dua jiwa pejuang yang keras dan tak kenal ampun.