NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pukul empat pagi, suara raungan mobil Reja memecah kesunyian kompleks elit itu. Reja masuk ke rumah dengan langkah gontai, jaket kulitnya berbau asap rokok dan aspal.

Ia melihat lampu ruang tengah masih menyala redup. Celin tertidur di sofa, tampak kelelahan karena harus menunggu Reja pulang demi memastikan pintu tetap terbuka sesuai perintah.

Reja berjalan mendekat, lalu dengan sengaja menendang kaki sofa hingga Celin tersentak bangun dengan wajah ketakutan.

"Bangun! Ngapain lo tidur di sini? Mau pamer ke Bi Ratna besok pagi kalau lo istri yang setia nungguin suaminya?!" ejek Reja, suaranya serak dan matanya merah padam.

"Gue cuma... gue takut kalau pintu dikunci lo bakal marah," lirih Celin sambil mencoba duduk tegak.

Reja tertawa sinis sambil melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke wajah Celin. "Cuci. Denger ya, mulai besok jangan harap gue bakal ada di rumah ini setiap malam. Selama Papa nggak ada di sini, dunia ini punya gue."

Ia membungkuk, menatap Celin dengan sorot mata yang penuh kemenangan. "Lo liat kan? Papa yang tulus malah ngasih gue tiket kebebasan paling enak. Dia pikir pindah rumah bakal bikin gue tobat? Dia malah kasih gue tempat buat sembunyi dari dia."

Reja lalu melangkah naik ke lantai atas sambil bersiul, menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang buram.

Bekas kemerahan di lehernya mulai memudar menjadi warna keunguan, namun bekas luka di hatinya justru semakin dalam. Pikirannya kini terbelah menjadi dua kutub yang saling menghancurkan.

Di satu sisi, ancaman Reja terus berdengung di telinganya seperti suara lebah yang menyakitkan. Reja bukan hanya seorang remaja pemberontak; dia adalah predator yang tahu persis di mana titik lemah Celin.

Kalau gue melawan, Kirei kehilangan sumber penghidupannya. Kalau gue mengadu, Ayah mungkin akan membusuk di sel yang lebih gelap dari kamar ini, batin Celin pedih.

Rasa takut itu nyata. Reja punya uang, kekuasaan, dan kekejaman yang tidak mengenal batas. Menjadi pelayan yang penurut adalah satu-satunya cara untuk memastikan orang-orang yang ia sayangi tetap bernapas.

Namun di sisi lain, amanah Adrian terasa seperti beban ribuan ton di pundaknya. Celin teringat binar harapan di mata mertuanya itu.

Adrian tulus. Beliau memandangnya bukan sebagai jaminan hutang, melainkan sebagai jangkar yang bisa menghentikan badai di hidup Reja.

'Papa percaya kamu punya kekuatan untuk menghadapi keras kepalanya'. Kata-kata itu menghantui Celin. Bagaimana mungkin ia bisa mengubah seseorang yang bahkan tidak menganggapnya manusia?

Bagaimana ia bisa menunjukkan jalan yang benar pada pria yang justru merasa bangga menjadi monster?

Celin meremas jemarinya. Ia teringat cerita Adrian tentang Reja yang sampai masuk penjara dan balapan motor yang ugal-ugalan.

Ia menyadari bahwa segala kenakalan Reja adalah bentuk perlawanan terhadap aturan Papanya. Reja ingin membuktikan bahwa ia tidak bisa dikendalikan.

"Kalau gue mencoba merubah dia dengan cara lembut, dia bakal injak gue lebih keras," pikir Celin.

"Tapi kalau gue diem aja, gue cuma bakal jadi saksi kehancurannya sendiri... dan itu artinya gue mengkhianati kepercayaan Adrian."

Celin berdiri, berjalan menuju jendela kecilnya yang menghadap ke halaman samping. Ia melihat botol minuman keras yang ditinggalkan Reja di meja taman.

Sebuah pikiran gila melintas di kepalanya. Jika Reja menggunakan rasa takut untuk mengendalikannya, maka Celin harus menggunakan satu-satunya hal yang tidak dimiliki Reja. Ketenangan dan ketulusan yang keras kepala.

Ia memutuskan bahwa ia tidak akan menjadi "malaikat" yang ceramah setiap saat, karena itu hanya akan membuat Reja semakin beringas. Ia akan mulai dari hal-hal kecil yang mengganggu kebiasaan buruk Reja secara halus.

Saat Reja sudah memasuki kamarnya, Celin tidak diam di kamarnya. Ia keluar dari kamarnya, menuju dapur, dan menyiapkan sesuatu yang tidak pernah Reja dapatkan dari siapa pun—perhatian yang tidak menuntut.

Ia menyiapkan sup jahe hangat dan menaruhnya di dalam termos kecil, meletakkannya di atas meja ruang tamu bersama selembar catatan kecil dan obat pereda nyeri untuk kepala Reja yang sering pening karena alkohol.

"Gue tahu lo benci sup ini, tapi kepala lo bakal lebih sakit besok pagi kalau nggak diminum. Gue nggak peduli lo mau buang atau lo mau minum, gue cuma nggak mau Papa tanya kenapa muka lo pucat lagi," tulis Celin di kertas itu.

Ia tidak menyebutkan kata peduli atau cinta, karena ia tahu Reja akan muak. Ia menggunakan Papa sebagai alasan agar Reja merasa ini bukan bentuk perhatian, melainkan bagian dari sandiwara mereka.

Celin kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia tahu, tindakannya ini bisa berujung pada kemarahan Reja yang lebih besar, atau mungkin... ini adalah retakan kecil kedua yang ia buat di dinding pertahanan Reja.

Di tengah ketakutannya, Celin mulai menyusun strategi, ia akan bertahan dari ancaman Reja sambil perlahan-lahan menyusup ke dalam sisi kemanusiaan pria itu yang telah lama mati.

---

Prang!

Suara pecahan kaca yang tajam menghantam lantai porselen ruang tengah, memecah keheningan pagi hari yang dingin. Disusul oleh suara termos logam yang menabrak dinding dengan dentuman keras.

Celin, yang baru saja membuka matanya, langsung terduduk tegak. Jantungnya berpacu cepat.

Ia tidak perlu keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ia sudah tahu sup jahe itu telah tumpah di lantai, dan gelas obat pereda nyeri itu kini menjadi serpihan tak berarti.

"CELIN! KELUAR LO!"

Teriakan Reja terdengar lebih beringas dari biasanya.

Ada nada penghinaan yang mendalam dalam suaranya. Celin menghela napas panjang, mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu membuka pintu kamar bawahnya.

Di ruang tengah, Reja berdiri dengan napas memburu. Rambutnya berantakan, dan matanya merah menyala karena pengaruh alkohol semalam.

Di bawah kakinya, genangan sup jahe yang masih mengepul mengeluarkan aroma rempah yang memenuhi ruangan.

"Apa-apaan ini, hah?!" Reja menunjuk ke arah ceceran sup di lantai dengan jarinya yang gemetar. "Lo pikir lo siapa? Lo pikir dengan bikin ginian lo bisa jadi pahlawan di mata gue?"

Bersambung....

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!