NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Pintu yang Jebol, Peluru di Dinding, dan Hitung Nyawa

Aira berputar. Seorang pria sudah hampir di belakangnya. Pisau dia ayunkan ke paha, lalu siku ke tulang rusuk lawan. Pria itu tersungkur. Aira meraih senjata dari tangannya yang longgar dan melemparkannya ke Raka tanpa melihat.

Raka menangkap satu tangan. “Bagus!”

Tembakan bertubi dari depan. Dinding ruang tamu bolong di beberapa tempat. Debu dan serpihan kayu beterbangan. Aira merunduk lebih rendah, napas pendek. Nyeri rusuknya kembali, tapi adrenalin menekan lebih kuat.

“Mundur ke kamar!” perintah Reza. “Koridor lebih sempit. Mudah dijaga.”

Mereka bergerak. Raka di depan Aira, Keenan di belakang, Reza menutup. Begitu masuk koridor, Reza melempar granat asap ke ruang tamu. Asap putih segera memenuhi.

Aira mendengar radio lawan berbunyi samar di luar asap. “Target di koridor. Jangan bunuh. Bos mau hidup.”

Dia berbisik ke Raka, “Mereka masih disuruh ambil hidup-hidup.”

“Berarti kita punya waktu,” balas Raka. “Sedikit,” jawab Aira.

Pria lain masuk dari jendela kamar mandi. Kaca pecah. Keenan yang paling dekat langsung menembak ke lutut. Pria itu jatuh, tapi masih mencoba mengangkat senjata. Aira melompat melewati Raka, menginjak pergelangan tangan lawan, lalu menendang kepala sampai pingsan.

“Aira, rusukmu!” teriak Keenan.

“Nanti.”

Mereka masuk ke kamar tidur utama. Reza menutup pintu dan mendorong lemari di depannya. Raka langsung ke jendela, memeriksa. Gelap. Tapi bayangan bergerak di halaman.

“Minimal sembilan masih aktif,” kata Reza sambil menghitung peluru. “Ditambah yang di luar.”

Aira duduk di tepi kasur, menekan sisi tubuhnya. Jari basah. Darah lagi. “Peluru saya habis. Tinggal pisau.”

Raka melepas magasin cadangan dari ikat pinggang dan melemparkannya. “Pakai ini.”

Aira memasang dengan cepat. “Kalau kita bertahan di sini, mereka akan bakar rumah.”

“Saya tahu,” kata Reza. “Tapi backup masih delapan menit.”

“Delapan menit terlalu lama.”

Keenan merobek bagian bawah kaosnya dan menghampiri Aira. “Buka tangan. Kamu berdarah.”

“Nanti.”

“Sekarang.” Suaranya tidak memberi pilihan. Dia menekan kain di luka Aira dengan kuat. Aira meringis. “Dalam. Tapi tidak sampai organ. Kamu beruntung.”

“Saya tidak merasa beruntung.”

Raka berdiri di samping jendela, menembak dua kali ke luar. Satu bayangan jatuh. “Mereka mulai pakai peluru pelacak. Hati-hati.”

Tiba-tiba radio Reza berbunyi—bukan dari lawan. Dari anak buahnya yang berhasil lolos. “Pak! Dari utara. Empat orang. Bawa alat pemotong.”

Reza mengutuk. “Mereka akan buka dinding belakang.”

Aira berdiri, menepis tangan Keenan. “Kalau dinding jebol, koridor tidak ada artinya. Kita harus keluar.”

“Keluar ke mana?” tanya Raka. “Halaman sudah dikepung.”

“Atap.” Aira menunjuk langit-langit. “Rumah ini tua. Ada loteng kecil. Saya lihat penutupnya tadi.”

Reza menatapnya. “Kamu bisa panjat dengan rusuk retak?”

“Bisa. Atau kita mati di sini. Pilih.”

Mereka tidak berdebat lama. Raka mendorong meja di bawah penutup loteng. Aira naik pertama—karena tubuhnya paling ringan. Nyeri membuat penglihatannya berkunang sejenak, tapi dia gigit bibir sampai berdarah dan terus naik. Raka menyusul, lalu Keenan, terakhir Reza yang masih menembak ke arah pintu.

Loteng sempit. Bau debu dan kayu lapuk. Mereka merunduk. Di bawah, bunyi gergaji listrik sudah terdengar. Dinding belakang mulai retak.

Aira berbisik, “Setelah keluar atap, pecah arah. Jangan cluster.”

Raka mengangguk. “Kamu ikut saya.”

“Tidak. Saya ikut siapa yang paling dekat ke jalan utama. Lebih cepat dapat kendaraan.”

Reza menatapnya di gelap. “Aira. Kali ini jangan bandel.”

“Saya tidak bandel. Saya praktis.”

Dinding di bawah jebol. Suara sepatu boot masuk ke dalam rumah. Tembakan ke arah kamar kosong. Aira mendorong penutup atap. Angin malam langsung masuk. Dia keluar lebih dulu, merayap di genteng yang licin. Raka tepat di belakangnya. Keenan dan Reza menyusul.

Dari atap, mereka bisa melihat keseluruhan kepungan. Lebih dari dua belas orang. Beberapa di mobil, beberapa sudah di halaman.

“Barat,” kata Reza pelan. “Ada celah di pagar.”

Mereka bergerak. Aira melompat ke atap rumah tetangga lebih dulu. Landingan membuat rusuknya berteriak. Dia tahan. Raka mendarat di sampingnya, langsung memegang pinggangnya supaya tidak goyah.

“Saya baik,” desis Aira.

“Bohong terus.”

Tembakan dari bawah. Genteng pecah di dekat kaki mereka. Mereka berlari. Loncat ke atap berikutnya. Keenan hampir tergelincir, Reza menariknya.

Di atap ketiga, Aira berhenti sejenak. “Reza. Kakekmu tahu soal saya. Kalau saya tertangkap hidup-hidup, dia akan pakai itu untuk tekan kamu.”

Reza menatapnya sambil tetap mengarahkan senjata ke bawah. “Saya tidak akan biarkan tertangkap.”

“Kalau terpaksa… tembak kaki saya. Jangan biarkan mereka bawa.”

Raka memotong kasar. “Tidak ada yang menembak siapa-siapa. Kita keluar sekarang.”

Mereka turun lewat talang air di sisi rumah yang gelap. Kaki Aira menyentuh tanah lebih dulu. Langsung ada orang menyambut. Aira tidak kasih waktu. Pisau masuk ke bahu lawan, lalu lutut. Raka menembak yang kedua. Keenan yang ketiga.

Reza menunjuk gang sempit. “Lari!”

Mereka berlari. Napas Aira sudah pendek. Darah di sisi tubuhnya makin basah. Raka memegang tangannya erat, hampir menyeret.

Di ujung gang, mobil gelap menunggu—anak buah Reza yang berhasil lolos. Mereka naik tergesa. Raka menutup pintu saat tembakan mengenai body mobil.

Mobil melaju. Reza di kursi depan, memberi arah. Keenan langsung ke arah Aira di belakang, membuka kaos yang sudah basah darah.

“Dalam,” katanya tegang. “Kamu kehilangan banyak darah.”

Aira menatap langit-langit mobil yang bergoyang. “Berapa… kira-kira biaya transfusi?”

Raka yang duduk di sisi lain memegang wajahnya dengan kedua tangan. “Aira, demi Tuhan, diam soal biaya sekarang.”

“Saya hanya… ingin tahu.”

Keenan menekan luka dengan kuat. “Diam. Hemat napas.”

Reza menoleh dari depan. “Kita ke rumah sakit militer.”

Aira mengangguk pelan. Matanya mulai berat. “Reza.”

“Ya.”

“Kalau kakekmu telepon lagi… bilang saja saya sudah mati. Biar dia tenang. Biar kamu bisa ke acara perjodohan.”

Reza tidak menjawab. Tangannya di setir mengeras sampai putih. Raka menarik Aira ke dadanya, membiarkan kepala perempuan itu bersandar. “Tidak ada yang mati. Dengar?”

Aira tidak menjawab. Mata sudah tertutup.

Keenan memeriksa nadi dengan wajah tegang. “Masih ada. Tapi cepat.”

Mobil terus melaju di jalanan malam yang hampir kosong. Di belakang, jauh di safe house yang sudah hancur, pria bertato leher berdiri di tengah puing. Dia menekan earpiece.

“Target lolos lagi. Arah rumah sakit militer. Ada yang terluka parah.”

Suara bos di seberang hanya diam sejenak. Lalu bilang dingin, “Biarkan. Biar mereka merasa aman dulu. Saya akan datang sendiri lain kali.”

Mobil berhenti mendadak di area loading belakang rumah sakit militer. Reza sudah berteriak perintah sebelum pintu terbuka. Dua perawat dan satu dokter jaga datang berlari mendorong brankar. Raka yang pertama keluar, mengangkat Aira dengan hati-hati meski tangannya gemetar. Darah sudah merembes sampai ke jok.

“Perempuan, 25 tahun, trauma tembus di sisi kiri, kehilangan darah signifikan, riwayat fraktur iga,” kata Keenan cepat sambil ikut mendorong brankar. “Saya dokter sipil yang menangani sebelumnya. Saya ikut masuk.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!