"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 - Panggilan dari Jakarta
Tiga hari setelah luka tembak itu, telepon dari Jakarta datang.
Alya sedang memeriksa balutan Ilham ketika ponselnya bergetar. Nama Mama muncul di layar.
Biasanya Mama mengirim pesan dulu sebelum menelepon. Kalau langsung menelepon di jam kerja, berarti ada sesuatu.
"Sebentar," kata Alya pada Ilham.
Dia keluar ke lorong pos kesehatan.
"Assalamualaikum, Ma."
Suara Mama terdengar pecah.
"Alya... Eyang Wiratama masuk ICU."
Alya berdiri kaku.
"Eyang?"
"Tadi pagi pingsan di rumah. Tante Nadia telepon Mama karena kamu susah dihubungi. Damar sudah tahu?"
Alya menoleh ke arah pos komando yang terlihat dari jendela.
"Belum tahu dari saya."
"Kata Tante Nadia kondisinya berat. Dokter minta keluarga berkumpul."
Dada Alya menegang.
Eyang Wiratama.
Orang yang memaksanya masuk ke pernikahan ini, tapi juga orang yang selalu memperlakukannya lebih baik daripada cucunya sendiri. Setiap kali Alya pulang ke Jakarta, Eyang menanyakan pekerjaannya, bukan kapan dia hamil. Eyang keras, tapi tidak pernah membuatnya merasa bodoh.
"Saya cari Damar dulu."
"Nak..."
"Iya, Ma?"
"Apa pun hubungan kalian, pulanglah baik-baik. Jangan bertengkar di depan orang sakit."
Alya tersenyum pahit.
"Saya usahakan."
Dia memutus telepon, lalu berjalan cepat ke pos komando.
Damar sedang menerima laporan patroli. Begitu melihat wajah Alya, dia menghentikan pembicaraan.
"Ada apa?"
Alya tidak suka betapa cepat dia mengenali wajah daruratnya.
"Eyang masuk ICU."
Wajah Damar berubah seketika.
"Kapan?"
"Tadi pagi. Tante Nadia minta keluarga berkumpul."
Damar mengambil ponsel. Ada beberapa panggilan tak terjawab, mungkin karena radio dan rapat membuatnya tidak melihat.
Dia langsung menelepon ibunya.
Alya berdiri di pintu, tidak masuk, tidak keluar.
Suara Tante Nadia di telepon terdengar samar, tapi cukup untuk membuat rahang Damar mengeras. Setelah panggilan selesai, dia memberi perintah singkat kepada Rendra untuk mengambil alih sementara.
"Kita berangkat ke Kupang satu jam lagi. Pesawat malam."
Alya mengangguk.
"Saya siapkan barang."
Damar menatap lengannya.
"Lukamu?"
"Tidak menghalangi saya naik pesawat."
"Aku tidak tanya itu."
"Tapi itu jawaban saya."
Mereka saling menatap. Tegang lama yang belum selesai sejak malam kalimat tanggung jawab masih ada di antara mereka.
Damar seperti ingin mengatakan sesuatu.
Tidak jadi.
"Satu jam," katanya.
Perjalanan ke Jakarta berlangsung dalam diam yang padat. Dari pos ke Atambua, dari Atambua ke Kupang, lalu pesawat malam ke Jakarta. Damar mengurus semua cepat, efisien, tanpa banyak bicara. Alya mengikuti, sesekali membantu menjawab pesan Tante Nadia.
Di pesawat, kursi mereka berdampingan.
Alya menatap awan gelap di luar jendela.
Damar akhirnya bicara.
"Eyang menyukaimu."
Alya menoleh.
"Saya tahu."
"Dia lebih sering menanyakanmu daripada menanyakan aku."
"Karena Eyang tahu Anda hidup. Saya belum tentu."
Damar diam.
Alya menyesal begitu kalimat itu keluar.
"Maksud saya..."
"Aku mengerti."
Tidak. Dia tidak yakin Damar mengerti.
Beberapa menit kemudian, Damar berkata, "Soal malam itu..."
Alya memejamkan mata sebentar.
"Jangan di pesawat."
"Kamu selalu menghindar."
"Saya belajar dari yang terbaik."
Damar menatapnya.
Alya tidak menatap balik.
"Saya tidak ingin membicarakan perasaan yang mungkin Anda sendiri belum tahu ada atau tidak, saat Eyang sedang di ICU."
Kalimat itu membuat Damar diam.
Pesawat mendarat hampir tengah malam. Mereka langsung menuju rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Di ruang tunggu ICU, Tante Nadia menangis. Om Bima tampak tua dalam semalam. Beberapa keluarga besar berkumpul.
Begitu melihat Damar, Tante Nadia memeluknya.
"Damar..."
Damar memeluk ibunya erat.
Alya berdiri sedikit di belakang.
Tante Nadia melepas Damar, lalu melihat Alya. Tanpa ragu, dia menarik Alya ke pelukan juga.
"Terima kasih sudah pulang, Nak."
Alya tertegun, lalu membalas pelukan itu dengan tangan kanan karena lengan kirinya masih nyeri.
"Bagaimana kondisi Eyang, Tante?"
"Belum sadar. Dokter bilang perdarahan otak kecil. Mereka observasi ketat."
Alya mengangguk, mencoba menahan naluri dokternya agar tidak langsung bertanya terlalu teknis.
Damar berbicara dengan dokter penanggung jawab. Alya mendampingi, sesekali menerjemahkan istilah medis untuk keluarga. Dalam situasi itu, mereka tampak seperti pasangan yang bekerja sama.
Orang-orang melihat.
Alya menyadarinya.
Salah satunya Siska Paramitha.
Perempuan itu datang menjelang pukul satu dini hari bersama ayahnya, seorang pejabat senior yang dekat dengan keluarga Wiratama. Dia memakai blus hitam dan wajah khawatir yang sangat pantas.
"Damar."
Damar menoleh.
Siska langsung mendekat. "Saya baru dengar. Bagaimana Eyang?"
"Belum sadar."
"Saya turut sedih."
Siska menyentuh lengan Damar sebentar.
Gerakan kecil.
Akrab.
Alya melihat, lalu menunduk memeriksa pesan di ponselnya.
Tidak ada pesan baru.
Tapi pura-pura sibuk lebih baik daripada berdiri seperti figuran.
Siska menoleh padanya.
"Dokter Alya, lukanya bagaimana? Saya dengar Anda tertembak."
Beberapa keluarga langsung menatap.
Alya tersenyum sopan.
"Hanya serempetan."
"Ya ampun. Berani sekali. Kalau saya jadi Damar, saya pasti takut sekali."
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah.
Damar menatap Siska.
"Alya terluka saat menolong anggota dan operasi."
"Tentu. Saya hanya kagum."
Siska tersenyum, tapi matanya tidak benar-benar hangat.
Kemudian, salah satu tante keluarga Wiratama berkata, "Alya ini memang hebat. Sudah dokter, sekarang ikut Damar ke perbatasan juga. Eyang pasti senang kalau bangun nanti."
Tante lain menimpali, "Iya. Tapi kasihan juga ya, baru muncul setelah dua tahun menikah. Anak muda zaman sekarang aneh-aneh."
Alya menahan napas.
Damar langsung menoleh.
"Tante."
Suaranya datar, tapi tajam.
Perempuan itu terdiam.
"Alya bertugas di rumah sakit selama ini. Dia tidak perlu menjelaskan rumah tangga kami kepada siapa pun."
Ruang tunggu mendadak sunyi.
Alya menatap Damar.
Damar tidak melihatnya. Wajahnya tetap ke arah keluarga.
"Kalau ingin membicarakan Eyang, silakan. Kalau ingin bergosip, pulang."
Om Bima berdeham, tapi tidak menegur.
Siska menatap Damar dengan ekspresi yang cepat sekali berubah, lalu kembali tersenyum.
"Damar masih sama. Galak kalau menyangkut keluarga."
Keluarga.
Kata itu menggantung.
Alya tidak tahu apakah dirinya termasuk di dalamnya.
Menjelang subuh, dokter mengizinkan satu keluarga masuk bergantian melihat Eyang dari balik pembatas ICU. Damar masuk lebih dulu. Setelah itu Tante Nadia. Lalu, di luar dugaan, Tante Nadia memanggil Alya.
"Eyang sering tanya kamu. Masuklah sebentar."
Alya memakai pelindung sesuai aturan, lalu masuk.
Eyang terbaring dengan alat bantu, wajahnya pucat. Sosok keras yang dulu memukul sandaran kursi roda kini tampak rapuh.
Alya berdiri di samping ranjang.
"Eyang," bisiknya, "Alya pulang."
Tidak ada jawaban.
Matanya panas.
"Eyang harus bangun. Kalau tidak, siapa yang akan memarahi Damar? Saya lelah kalau harus sendirian."
Suara monitor berbunyi teratur.
Alya menunduk, menyentuh ujung selimut.
"Saya belum sempat bilang terima kasih. Eyang dulu menerima saya saat semua orang melihat saya seperti pengganti yang tidak diinginkan."
Dia menarik napas.
"Jadi bangunlah. Saya masih berutang kalimat itu."
Di luar ruang ICU, Damar berdiri di balik kaca.
Dia tidak mendengar semua kata Alya.
Tapi dia melihat bahu perempuan itu bergetar sedikit.
Dan untuk pertama kalinya, Damar menyadari Alya mungkin jauh lebih sendirian di keluarga ini daripada yang pernah dia pikirkan.
Di luar ICU, Siska mendekati Damar lagi setelah Alya keluar.
"Dia terlihat sangat dekat dengan Eyang," katanya.
Damar menatap kaca ruang ICU. "Eyang memang menyayanginya."
"Kamu juga?"
Pertanyaan itu datang pelan, seperti bercanda, tapi mata Siska tidak bercanda.
Dulu, diamnya mungkin akan menjadi harapan bagi Siska.
Malam itu, diamnya hanya karena dia tidak ingin memberi jawaban sembarangan.
"Aku sedang belajar tidak menyakiti dia lebih jauh," katanya akhirnya.
Senyum Siska kaku.
"Itu bukan jawaban."
"Untuk sekarang, itu jawaban paling jujur."
Siska menunduk, lalu tertawa kecil.
"Kamu benar-benar berubah, Damar."
Damar melihat Alya yang berjalan pelan menuju kursi tunggu.
"Mungkin aku terlambat berubah."
Siska tidak menjawab.
Dia melihat ke arah Alya, lalu ke Damar lagi. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak sepenuhnya terkendali.
"Terlambat bukan berarti tidak bisa dikejar," katanya pelan.
Damar tahu kalimat itu bukan dukungan.
Itu peringatan.
Tapi sebelum dia menjawab, Tante Nadia memanggil dari ruang tunggu.
Percakapan itu putus, tapi ketegangan yang ditinggalkan Siska tidak ikut pergi.