NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Satu-satunya Cara Melindungi Diri

Ekaterina

Aku bahkan hampir memercayai kata-kata Viktor.

Kekhawatirannya.

Cara dia merawatku sejak aku sadar.

Pelukannya.

Sentuhan lembutnya.

Cara dia berkata tak akan meninggalkanku sendirian.

Selama beberapa menit... aku benar-benar mengira mungkin semua itu nyata.

Bahwa mungkin Viktor tulus ketika bilang ingin tinggal.

Tapi kemudian telepon itu datang.

Dan rasanya seperti disadarkan paksa dari mimpi.

Karena Viktor bukan pria yang setia pada satu perempuan.

Tak pernah.

Aku bodoh sudah melupakan itu.

Bodoh sudah membiarkan diriku goyah sekali lagi.

Bayangan panggilan video itu masih tersangkut di kepalaku, seperti pengingat kejam tentang siapa dia sebenarnya.

Banyak perempuan mengejar Viktor.

Banyak perempuan menginginkan Viktor.

Dan pria seperti dia tak pernah berubah.

Ada nyeri di dadaku yang enggan kuakui.

Karena bagian terburuknya adalah menyadari bahwa aku sudah mulai percaya mungkin...

Mungkin dia jatuh cinta padaku.

Kugigit sisi dalam pipiku kuat-kuat, berusaha menahan air mata.

Tidak.

Aku tak akan menangis untuknya.

Sudah terlalu banyak aku menangisi laki-laki sepanjang hidupku.

Ayahku butuh bertahun-tahun untuk menghancurkan setiap bagian diriku yang masih percaya pada cinta.

Dan Viktor...

Viktor hanya menegaskan bahwa aku memang benar untuk takut.

Kupejamkan mataku rapat-rapat.

Kupura-pura dia tak ada di sana.

Meski aku merasakan kehadirannya memenuhi seluruh kamar.

Meski aku menyadari keheningan berat yang datang dari kursi di samping ranjang.

Aku meringkuk sedikit lebih dalam ke bantal.

Menciptakan jarak.

Karena lebih mudah percaya bahwa dia tak pernah merasakan apa pun...

daripada mengakui bahwa aku putus asa berharap semua itu nyata.

Karena terlalu lama berpura-pura Viktor tak ada di sana... aku pun akhirnya tertidur.

Ketika aku terbangun lagi, kamar itu sudah berbeda.

Lebih terang.

Lorong rumah sakit sudah mulai ramai, dan cahaya lembut menembus jendela.

Matahari sedang terbit.

Beberapa detik aku hanya diam, masih mengantuk, mencoba memahami di mana aku berada.

Lalu aku menoleh.

Dan melihat Viktor.

Tertidur dengan posisi tak nyaman di kursi di samping ranjangku.

Kedua lengannya bersedekap.

Kepalanya sedikit terkulai ke samping.

Bahkan dalam tidur, dia tampak lelah.

Seolah dia juga sama sekali tak beristirahat.

Ada sesuatu di dadaku yang berdesir, mengkhianatiku.

Karena dia benar-benar tinggal.

Sepanjang malam.

Cepat-cepat kualihkan pandangan sebelum kepalaku mulai membangun harapan lagi.

Dengan hati-hati, aku bangkit dari ranjang untuk ke kamar mandi.

Tubuhku masih lemah, tapi lebih baik daripada kemarin.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, Viktor sudah bangun.

Matanya langsung menemukan mataku, waspada.

Dia langsung berdiri dan menghampiriku.

"Pelan-pelan."

Tangannya memegang lenganku dengan hati-hati sambil membantuku kembali ke ranjang.

Aku berbaring tanpa mengeluh.

Juga tanpa berterima kasih.

Viktor membenahi bantal di belakangku dan tetap di sana beberapa saat.

Menunggu.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka.

Aku menoleh penasaran.

Alina.

Dia masuk perlahan, anggun seperti biasa, tapi tatapan cemasnya tertuju padaku.

"Maaf kalau aku membangunkanmu, sayang."

"Aku memang sudah bangun."

Dia menghela napas pelan, jelas lega melihatku lebih baik.

"Semua baik-baik saja di sini?"

Bahkan sebelum aku sempat menjawab, Viktor bicara duluan.

"Ya, dia tidur semalaman..."

"Syukurlah. Aku sudah bertemu Dokter Alda. Sebentar lagi dia akan mengurus surat pulang untuk Ekaterina."

Diam-diam aku bersyukur dalam hati.

Karena berada di rumah sakit itu, terkurung di kamar yang sama dengan Viktor setelah kejadian kemarin... benar-benar menggerogotiku.

Alina tersenyum lembut.

"Bagus."

Dia mendekati ranjang sambil membawa sebuah tas besar di tangannya.

"Kubawakan barang-barangmu."

Tas itu diletakkan di atas ranjang dengan hati-hati.

Ada yang menghangat sekaligus mencekat di dadaku melihat perhatiannya.

Aku masih tak mengerti bagaimana keluarga itu bisa begitu baik padaku setelah semuanya.

"Terima kasih, Alina."

Dia menyentuh tanganku sekilas.

"Tak perlu berterima kasih untuk itu."

Kulihat Viktor diam di dekat jendela, mengamati semuanya tanpa bicara.

Dan aku kembali menghindar menatapnya langsung.

Karena kehadirannya masih mengusik hatiku lebih dari yang seharusnya.

Alina merasakan suasana canggung di antara kami.

Tentu saja dia merasakannya.

Matanya beralih cepat dari aku ke Viktor sebelum sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Lisbela panik sekali kemarin."

Hatiku langsung mencelos.

"Dia ketakutan?"

"Sangat. Tapi dia tidur denganku setelah kujelaskan bahwa kau akan baik-baik saja."

Kupejamkan mata sesaat, merasakan rasa bersalah menghantam dadaku.

Alina menggenggam tanganku lembut.

"Dia cuma ingin kau sehat, sayang."

Aku mengangguk pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku sadar...

aku memberanikan diri menatap Viktor sekali lagi.

Hanya saja dia sudah lebih dulu menatapku.

Mungkin menunggu aku mengatakan sesuatu.

Tapi aku tak sanggup.

Maka aku kembali mengabaikannya.

Kupandangi jendela.

Lalu lorong.

Ke mana pun, asal bukan dia.

Karena hanya inilah cara melindungi diriku.

Kalau aku menatap Viktor dengan cara seperti itu lagi...

aku tahu aku akan berakhir memercayainya.

Pintu kamar terbuka lagi tak lama kemudian.

Kali ini Dokter Alda.

Dia masuk dengan senyum profesional sambil membaca catatan medisku.

"Selamat pagi, Ekaterina. Bagaimana kondisimu?"

"Lebih baik."

Suaraku masih keluar lemah, tapi setidaknya jujur kali ini.

Dia mengangguk puas.

"Bagus. Tekanan darahmu sudah stabil dan hasil pemeriksaanmu baik. Masalah utamanya cuma dehidrasi dan kelelahan."

Aku langsung merasa malu.

Karena jauh di dalam hati, aku tahu aku terlalu banyak mengabaikan tanda-tandanya.

Dokter menutup papan catatannya sebelum melanjutkan.

"Kau perlu lebih banyak istirahat. Dan yang terpenting, makan yang teratur, meski sedang tak berselera."

Lalu dia menyerahkan resep kepada Alina.

"Obat-obat ini akan membantu meredakan mualnya."

Alina langsung mengambil kertas-kertas itu, menyimak semuanya dengan saksama.

"Dan jaga asupan cairannya di rumah. Perbanyak minum. Kalau dia muntah seperti ini lagi atau merasa pusing hebat, saya minta dia segera dibawa kembali ke rumah sakit."

Alina mengangguk serius.

"Tenang saja."

Dokter kembali menatapku.

"Jaga dirimu, dan jaga bayi kecil ini."

Pandanganku otomatis turun.

"Baik."

Dia tersenyum tipis.

"Kalau begitu, kau sudah boleh pulang. Tapi istirahat total beberapa hari ke depan."

Begitu dia keluar dari kamar, aku mengembuskan napas perlahan.

Boleh pulang.

Akhirnya.

Tapi bahkan sebelum aku sempat berpikir untuk bangkit, Viktor sudah otomatis mendekati ranjang.

Seolah merawatku memang sudah menjadi hal yang wajar sekarang.

Dan itu justru membuat semuanya semakin sulit bagiku...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!