NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firasat

Malam hari, tepatnya setelah Maghrib. Maya berbaring miring di atas ranjang, menghadap lurus ke tembok kamar. Tubuhnya terasa begitu layu. Perut bagian bawahnya memulas Mual yang aneh, beradu dengan denyut di kepalanya yang belum juga mereda.

Di dekat pintu, Arya yang sudah bersiap turun untuk makan malam menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh ke arah ranjang.

"Maya, kamu tidak makan?" tanya Arya.

Maya mendengar suara itu dengan sangat jelas. Namun, ia sengaja memilih bungkam, mengatupkan matanya rapat-rapt dan berpura-pura sudah lelap tertidur.

Melihat tidak ada respons, Arya melangkah mendekat ke tepi ranjang. Ia menunduk menatap punggung istrinya. "Kamu ngambek karena tidak dibelikan ponsel?" tanya Arya menebak-nebak.

Maya tetap tak bergeming sedikit pun. Padahal ia sama sekali tidak merajuk soal ponsel, mood-nya hanya sedang hancur parah dan rasa mual di perutnya kian menyiksa.

Arya menghela napas, menganggap diamnya sang istri sebagai bentuk aksi mogok bicara. "Nanti deh, kalau bulan depan gaji Mas lagi bagus, Mas belikan yang paling murah. Mas ke bawah dulu ya," ucap Arya mencoba menenangkan sebelum berbalik dan menutup pintu kamar.

Saat hening kembali menguasai ruangan, Maya perlahan membuka matanya. Pandangannya menatap kosong pada permukaan tembok kamar yang dingin.

"Bahkan sampai akhir... kamu tetap pelit ya, Mas," gumam Maya sangat lirih, hampir berupa bisikan tipis yang hilang diserap kegelapan.

Di lantai bawah, anggota keluarga sudah duduk di kursi masing-masing.

"Mana si Maya?" tanya Bu Rika langsung saat melihat anak sulungnya itu datang sendirian dan menarik kursi.

"Maya lagi tidak enak badan, Bu. Jadi dia istirahat di kamar," sahut Arya seraya meraih piring.

Bu Rika mendecik keras. "Halah! Sudah seharian di kamar, sekarang masih saja di kamar! jadi ibu kan yang repot menyiapkan makan!" omel Bu Rika dengan wajah bersungut-sungut sambil meletakkan wadah piring dan nasi ke atas meja.

Melihat kesempatan untuk bersinar, Santi yang duduk anggun langsung mengambil sikap. "Sini, Bu... Biar Santi saja yang bantu," ucap Santi manis, sengaja cari muka di depan mertuanya.

"Eh, tidak usah, Santi! Kamu kan tamu di rumah ini, biar Rara saja yang bantu Ibu. Rara, cepat bantu Ibu!" cegah Bu Rika dengan raut wajah memanjakan, lalu mengalihkan perintahnya pada anak perempuannya.

Rara yang sedang asyik bermain ponsel mendecakkan lidahnya kesal. Dengan wajah malas, ia terpaksa berdiri menuruti perintah ibunya menuju dapur.

"Makanya yang tegas dong, Bu, sama Mbak Maya. Kalau mau istirahat itu minimal siapkan dulu lah makanan di meja," cetus Rara dari arah dapur, memompa kompor emosi ibunya.

"Besok Ibu kasih dia pelajaran! Enak saja numpang hidup di sini mau malas-malasan!" balas Bu Rika tak mau kalah.

Pak Hendra yang dari tadi diam menyimak, akhirnya membuka suara menatap Mansur. "Kalian liburan di sini sampai kapan?"

"Mungkin sebulan, Pak," jawab Mansur sopan. "Santi jenuh di kota besar, makanya dia mau agak lama di sini. Kalau Mansur, besok harus balik dulu ngurus perusahaan selama tiga hari."

"Iya, Pak, Bu... Tidak apa-apa kan Santi di sini agak lama? Soalnya di kota besar agak sumpek," timpal Santi dengan nada sedikit manja, memasang raut wajah memelas yang menggemaskan.

"Gak apa-apa dong! Ibu malah senang kamu tinggal lama di sini," sahut Bu Rika berbinar. "Rara kan jarang di rumah karena harus kuliah seharian, Ibu juga bosan tidak ada teman ngobrol."

Santi tersenyum puas. Sebenarnya, alasan utama Santi ingin bertahan lebih lama di rumah ini bukanlah karena bosan dengan atmosfer kota besar, melainkan karena ia sangat menikmati momen dimanja oleh mertua dan dipuji-puji tinggi sembari menyaksikan Maya dibanding-bandingkan dan dihinakan setiap hari.

"Mas Mansur... Rara minta uang dong buat biaya tugas," seloroh Rara yang baru kembali dari dapur membawa mangkuk sayur, langsung menodong kakak iparnya.

"Iya, besok pagi sebelum berangkat Mas kasih ya, Ra," sahut Mansur pemurah.

Santi yang mendengar interaksi itu menyunggingkan senyuman manis di luar, namun hatinya berdesir sengit. Cih, dasar anak manja. Minta uang terus ke Mas Mansur, batin Santi sinis.

Suasana meja makan malam itu ramai oleh gelak tawa dan obrolan keluarga yang merasa paling sempurna. Hanya Arya yang tampak agak pasif. Pria itu sibuk menghabiskan isi piringnya, mengunyah perlahan tanpa banyak bicara.

Entah mengapa, di tengah riuhnya canda tawa ibu dan adiknya, ada perasaan tidak enak yang mendadak mengganjal di dalam dadanya, sebuah firasat samar yang tak mampu ia jelaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!