AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: JAWABAN KIRANA - AKU MAU, TAPI ADA SYARAT
Sudah 7 hari. Tepat 7 hari sejak Pak Karim dan Mas Arga tawarkan aku nikah karena kasihan di rumah bocor itu.
7 hari aku tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam, jam 2 pagi aku kebangun karena perutku yang sekarang 3 bulan 3 minggu ini kram kalau kedinginan. Atap rumah Mbah Wiryo yang bocor 3 titik itu meskipun sudah ditambal seng bekas pemberian Arga, kalau angin kencang air masih masuk dari sela bambu.
Salsa, anak yang dititipkan Bu Minah ke aku, sekarang sudah benar-benar anggap aku ibunya. Tiap malam dia tidur meluk perutku. "Adik, adik," katanya sambil elus-elus perutku yang mulai buncit.
Pagi ini jam 6, aku masak air di tungku. Kayu bakar pemberian Arga yang tiap sore dia taruh diam-diam di depan pintu itu masih basah, jadi asapnya perih bikin mata merah. Aku batuk-batuk sambil masak.
Bu Minah datang jam 7 bawa rantang. Isinya nasi, sayur lodeh, sama telur dadar satu. Telur dadar itu buat Salsa, katanya.
"Nduk, gimana? Sudah 7 hari. Pak Karim nunggu jawabanmu. Arga juga nunggu. Rendo masih di rumah induk, tapi kelakuannya masih gangguin warga," kata Bu Minah sambil duduk di tikar pandan yang sudah aku lap biar gak berdebu.
Aku mengelus perutku yang 3 bulan 3 minggu. "Bu, aku takut, Bu. Kalau aku nikah sama Mas Arga, nanti warga bilang aku manfaatin Mas Arga. Kan anak ini anak Rendo, Bu. Bukan anak Mas Arga. Nanti Mas Arga malu seumur hidup punya istri yang hamil duluan anak adiknya sendiri."
Bu Minah genggam tanganku erat. Tangannya kasar karena tiap hari di sawah.
"Nduk, dengerin Bu Minah. Di Desa Wonorejo ini, perempuan hamil tanpa suami itu lebih hina daripada perempuan nikah sama kakak mantan pacarnya. Kamu kalau gak nikah, sampai kapanpun kamu akan dipanggil 'perawan hamil haram' sama Bu Tati sama Mbah Sarti. Tapi kalau kamu nikah siri sama Arga, kamu ada status. Ada yang lindungi. Mbah Sarti gak bisa usir kamu lagi dari tanah desa. Pak RT gak bisa usir kamu dari rumah bocor ini."
Aku nangis. Kata-kata Bu Minah benar. Selama 3 bulan diasingkan, aku sudah diusir dari rumah Mbah Sarti, diusir dari gudang Pak Karim, diusir dari warung Bu Lasmi. Tinggal rumah bocor angker ini yang belum ada yang usir, karena tidak ada yang mau tempati.
"Terus syaratku gimana, Bu? Aku masih trauma sama Rendo, Bu. Aku gak mau disentuh laki-laki dulu," bisikku pelan.
Bu Minah angguk-angguk. "Nanti kamu bilang langsung ke Arga. Arga anak baik, Nduk. Beda sama Rendo. Arga dari SMP sudah suka kamu, tapi kamu malah milih Rendo. Arga gak akan maksa."
Jam 10 pagi, Pak Karim dan Mas Arga datang. Bawa Pak Modin, penghulu siri dari desa sebelah, Desa Sumberejo. Kenapa harus dari desa sebelah? Karena kalau pakai penghulu KUA Wonorejo resmi, butuh surat izin Mbah Sarti sebagai wali, dan Mbah Sarti jelas tidak akan mau jadi wali. Malah akan lapor polisi katanya nikah paksa.
Pak Karim pakai baju koko putih bersih, peci hitam. Mas Arga pakai baju koko putih juga yang agak kebesaran, mungkin pinjam punya Pak Karim, dan peci hitam. Tidak pakai topi caping seperti biasanya. Kelihatan ganteng, tapi gugup. Tangannya gemetar.
Aku pakai daster bunga biru yang paling bagus, yang tidak bolong, dan kerudung coklat pemberian Bu Minah. Salsa aku suruh duduk diam di pojok pakai baju baru juga.
"Kirana, Nduk, sudah 7 hari Bapak kasih waktu. Gimana jawabanmu?" tanya Pak Karim pelan, duduk di tikar.
Aku lihat Mas Arga. Mas Arga menunduk, tidak berani lihat mataku, apalagi lihat perutku yang buncit 3 bulan 3 minggu.
Aku tarik napas panjang, dalam. Bau tanah basah dari lantai rumah bocor masuk ke hidung.
"Pak, Mas, aku mau dinikahin... tapi ada 3 syarat, Pak. Kalau Mas Arga gak bisa penuhi, aku gak mau."
Semua kaget. Pak Modin yang dari tadi diam baca buku nikah siri, angkat kepala.
"Syarat apa, Nduk? Katakan," kata Pak Modin.
"Pertama, nikahnya cuma nikah siri dulu, jangan nikah KUA resmi. Kalau KUA resmi, satu desa tahu, Mbah Sarti pasti bakar rumah ini. Aku mau diam-diam dulu, Pak. Biar warga gak heboh."
Pak Karim angguk. "Masuk akal."
"Kedua, Mas Arga gak boleh sentuh aku, gak boleh tidur bareng aku, sampai anak ini lahir. Aku masih trauma sama Rendo, Pak. Rendo yang bawa aku ke gubuk kebun karet itu, terus ninggalin aku. Aku takut disentuh laki-laki. Jadi Mas Arga harus janji, sampai anak lahir, kita tidur pisah. Mas di rumah induk, aku di rumah bocor."
Kali ini Arga yang kaget, lihat aku. Matanya berkaca-kaca.
"Ketiga," lanjutku, suaraku makin pelan, "kalau nanti setelah anak ini lahir, umur 6 bulan, dan aku mau cerai karena aku gak cinta sama Mas Arga, Mas Arga harus izinin aku cerai. Tanpa tuntut apa-apa. Karena aku gak mau jebak Mas Arga seumur hidup sama janda anak satu."
Hening. Suara jangkrik di kebun karet sore itu kedengaran keras.
Pak Karim lihat Arga. Arga lihat aku. Lama.
Lalu Arga ngomong, pertama kalinya ngomong panjang ke aku setelah 3 bulan cuma jadi bayangan yang taruh kayu bakar.
"Kir... aku terima semua syaratmu. Demi Allah aku terima. Aku nikahin kamu bukan karena nafsu, Kir. Aku nikahin kamu karena aku kasihan lihat kamu di rumah bocor ini, hujan-hujanan, bawa Salsa, hamil 3 bulan tanpa suami. Aku janji, sampai anak lahir, aku gak akan sentuh kamu. Aku tidur di rumah induk. Aku tetap taruh kayu bakar tiap sore. Dan kalau setelah anak umur 6 bulan kamu mau cerai, aku izinin. Aku gak akan tahan kamu. Tapi izinin aku jaga kamu selama hamil ini. Izinin aku benerin atap bocor ini. Izinin aku jadi bapak siri buat anakmu, meskipun anakmu anak adikku."
Aku nangis deras. Bu Minah juga nangis. Pak Karim juga usap mata.
Pak Modin mulai ijab kabul. Suaranya pelan karena takut kedengaran warga lewat.
"Aku nikahkan kamu, Kirana binti Sarti, dengan Arga bin Karim, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 100 ribu dibayar tunai," kata Pak Karim yang jadi wali hakim.
" Saya terima nikahnya Kirana binti Sarti dengan mas kawin tersebut tunai," jawab Arga, suaranya gemetar keras, hampir tidak kedengaran.
Sah. Secara siri. Secara agama. Ada saksi Bu Minah dan Pak Modin. Ada Salsa yang tepuk tangan gak ngerti.
Tapi belum sah negara. Belum ada buku nikah KUA hijau. Jadi di mata desa, di mata Mbah Sarti, di mata Pak RT, aku masih perawan hamil duluan yang belum nikah.
Malam itu, setelah akad, Arga pulang ke rumah induk. Tidak tidur di rumah bocorku, sesuai syaratku.
Aku pegang kertas nikah siri tulisan tangan dari Pak Modin, kertas HVS tipis, stempelnya stempel masjid desa sebelah.
Aku masih di rumah bocor. Lantai masih tanah. Atap masih bocor satu titik di pojok dapur.
Tapi sekarang di kertas itu tertulis: Kirana istri Arga.
Belum nikah KUA, tapi sudah ada yang lindungi secara agama.
Apakah ini jalan keluar, atau awal masalah baru yang lebih besar? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, malam ini perut 3 bulan 3 minggu ku terasa lebih berat, tapi hati sedikit lebih ringan.
Karena bayangan hitam di kebun karet itu, sekarang sudah jadi suami siriku.