Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Penyergapan di Bukit Pinus
Bab 28 — Penyergapan di Bukit Pinus
Pagi itu, Feng Yao berjalan sendirian menyusuri jalan setapak di sekitar bukit pinus. Ia membawa keranjang kecil untuk mengumpulkan bunga liar. Udara terasa sejuk, dan kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan.
Setelah berjalan cukup jauh dari pondok, Feng Yao berhenti di dekat sebuah pohon pinus tua. Di bawahnya tumbuh beberapa bunga putih kecil.
"Yang ini cocok untuk teh."
Ia berjongkok dan mulai memetik bunga.
Tanpa disadarinya, beberapa puluh langkah di belakang, dua siluman Klan Ular sedang menancapkan benda-benda kecil ke dalam tanah. Bentuknya seperti duri hitam, hampir tidak terlihat di antara akar dan rerumputan.
Salah satu siluman mengangkat kepala. "Sudah selesai?"
"Jalur timur sudah ditutup."
"Bagaimana dengan sungai?"
"Orang kita sudah menunggu di sana."
Siluman itu mengangguk. "Jangan aktifkan sebelum dia masuk ke tengah bukit."
Mereka kembali menghilang di antara pepohonan.
***
Feng Yao berdiri setelah memasukkan bunga terakhir ke dalam keranjang. Ia melangkah menuju jalan yang menurun ke arah sungai. Baru beberapa langkah, ia mendengar suara gemericik air.
Feng Yao tersenyum. "Kalau begitu, aku bisa sekalian mengambil air."
Ia mempercepat langkah. Namun semakin dekat ke sungai, udara di sekelilingnya terasa semakin dingin. Bukan dingin alami.
Feng Yao berhenti di tepi jalan. Di depan, sungai kecil mengalir tenang. Airnya jernih, tetapi tidak ada satu pun ikan yang terlihat. Ia berjongkok dan menyentuh permukaan air. Jari-jarinya baru menyentuh air ketika cahaya kehijauan muncul sesaat di bawah permukaan.
Feng Yao segera menarik tangannya. Matanya menyipit.
"Segel?"
Di antara batu-batu sungai, terdapat garis-garis tipis berwarna hitam. Polanya hampir tertutup lumut, tetapi aliran qi di dalamnya masih terasa. Seseorang telah memasang segel. Bukan untuk menyerang. Untuk membatasi pergerakan.
Feng Yao berdiri perlahan. Ia menoleh ke belakang. Jalan yang tadi dilewatinya masih terlihat kosong. Terlalu kosong.
"Sepertinya aku salah jalan."
Ia berbalik dan memilih jalur lain. Namun ketika baru melewati dua pohon pinus, suara dengungan rendah terdengar dari dalam tanah.
**Wummm...**
Cahaya gelap menyala di antara akar. Feng Yao melompat mundur. Garis-garis hitam menjalar di tanah, membentuk lingkaran besar yang mengelilingi jalan setapak. Dari balik pepohonan, tiga sosok berjubah gelap muncul.
Feng Yao tidak langsung menyerang. Ia menatap lingkaran itu, kemudian melihat ketiga siluman di depannya.
"Jadi, kalian sengaja mengarahkanku ke sini."
Salah satu siluman tersenyum. "Nona Feng cukup cepat menyadarinya."
"Kalau begitu, kalian tidak keberatan kalau aku pulang?"
"Tentu saja keberatan."
Siluman itu mengangkat tangan. Dari belakang Feng Yao, dua bayangan muncul. Jalur yang baru saja dilewatinya juga telah ditutup.
Feng Yao menghela napas. "Lima orang."
Ia melirik ke arah pepohonan di sebelah kiri. "Enam."
Tidak ada jawaban. Namun sesaat kemudian, sebuah suara terdengar dari atas.
"Pengamatanmu bagus."
Seorang siluman lain turun dari dahan pohon. Tujuh orang.
Feng Yao mengamati posisi mereka. Tidak ada yang berdiri terlalu dekat. Mereka menjaga jarak dan menutup setiap jalur keluar. Ini bukan kelompok yang datang untuk bertarung secara sembarangan. Mereka sudah berlatih. Mereka sudah mengetahui kemungkinan gerakannya.
Feng Yao menggenggam pegangan keranjang. "Se Chang menyuruh kalian?"
"Ikutlah dengan kami, dan kau tidak perlu terluka."
"Jawabanmu tidak menjawab pertanyaanku."
Siluman itu tidak lagi tersenyum. "Kalau begitu, anggap saja ini perintah."
Feng Yao mengangkat tangan. Angin langsung berputar di sekeliling tubuhnya. Daun-daun pinus terangkat dari tanah.
Tujuh siluman itu segera mengambil posisi. Salah satu dari mereka melemparkan tiga benda hitam. Benda-benda itu jatuh di tanah.
**Ting! Ting! Ting!**
Dalam sekejap, cahaya gelap membentuk dinding tipis di sekeliling Feng Yao. Angin yang berputar di sekitarnya terputus.
Feng Yao menatap dinding itu. "Segel penahan qi."
Salah satu siluman mengangguk. "Benar."
Feng Yao menyentuh permukaan segel dengan ujung jarinya. Cahaya putih muncul. Segel itu bergetar. Namun tidak pecah.
Feng Yao menarik tangannya. Keningnya sedikit berkerut. Segel itu tidak cukup kuat untuk menahannya dalam waktu lama. Tetapi cukup untuk menghambat kekuatannya. Dan itulah yang mereka inginkan.
Salah satu siluman melangkah maju. "Jangan buang tenaga. Kami tidak ingin melukaimu."
Feng Yao menatapnya. "Kalian sudah memasang perangkap di seluruh bukit, menutup jalur sungai, dan membatasi qi-ku."
Ia tersenyum tipis. "Menurut kalian, itu terlihat seperti ajakan minum teh?"
Siluman itu memberi isyarat. Dua orang langsung menyerang.
Feng Yao menghindar ke samping. Sebuah bilah pendek melintas di depan wajahnya. Ia meraih pergelangan tangan penyerang dan memutar tubuhnya.
**Buk!**
Siluman itu terlempar ke tanah.
Namun sebelum Feng Yao sempat bergerak lebih jauh, sesuatu melesat dari balik pohon. Serbuk kelabu.
Feng Yao segera mengangkat lengan untuk melindungi wajahnya, lalu menciptakan pusaran angin kecil. Sebagian serbuk tertiup menjauh. Sebagian lainnya menyentuh ujung lengan bajunya. Rasa kebas langsung menjalar dari pergelangan tangannya.
Feng Yao mundur. "Penekan qi..."
Ia menatap lengan bajunya. Mereka bukan hanya menyiapkan segel. Mereka juga membawa racun penahan gerak.
Feng Yao menekan titik di pergelangan tangannya untuk memperlambat penyebaran racun. Di sekelilingnya, para siluman kembali bergerak. Satu dari depan. Dua dari samping. Satu lagi melompat dari atas.
Feng Yao berputar dan menghantam tanah dengan telapak tangannya. Akar-akar pinus menyembul dari tanah. Dua siluman terpaksa melompat mundur. Tetapi akar-akar itu segera menghitam ketika menyentuh garis segel. Kekuatan Feng Yao terpotong.
Ia menoleh ke sekeliling. Bunga-bunga liar di tanah mulai layu. Segel itu menyerap qi dari lingkungan sekitar.
Feng Yao menggertakkan gigi. "Licik."
Dari balik pepohonan, terdengar tawa pelan. Bukan tawa salah satu anak buahnya. Suara itu lebih tua. Lebih berat. Dan jauh lebih tenang.
"Licik?"
Para siluman langsung berhenti. Mereka mundur dan membuka jalan.
Se Chang keluar dari balik kabut. Jubah abu-abunya bergerak perlahan, sementara matanya mengamati Feng Yao yang berdiri di tengah lingkaran segel. Ia tidak terlihat terburu-buru. Seolah-olah semua yang terjadi sudah sesuai dengan rencananya.
Feng Yao menatapnya tajam. "Kau sudah berada di sini sejak tadi?"
"Sejak sebelum kau tiba di bukit."
"Dan kau membiarkan anak buahmu menyerangku?"
"Aku ingin melihat seberapa jauh kemampuanmu ketika kekuatanmu dibatasi."
Feng Yao tertawa pendek. "Kalau ingin melihat, kau bisa bertanya."
"Apakah kau akan menjawab?"
"Tidak."
Se Chang tersenyum. "Karena itu aku memilih cara ini."
Feng Yao menatap segel di sekelilingnya. Sekarang ia memahami seluruh perangkap itu. Mereka tidak bermaksud menang dengan kekuatan. Mereka mengarahkan dirinya ke sungai yang sudah disegel, menutup jalur keluar, mengaktifkan pembatas qi, lalu menyerang dengan serbuk penekan. Semuanya dilakukan agar ia tidak bisa menggunakan kekuatan penuhnya.
Se Chang melangkah mendekat. "Ikutlah denganku, Beifeng Yao."
"Kalau aku menolak?"
"Anak buahku akan terus menyerang sampai kau tidak mampu melawan."
Feng Yao mengangkat wajah. Di balik rasa kebas yang mulai menjalar ke lengannya, matanya masih tenang.
"Kau salah."
Se Chang berhenti. "Di bagian mana?"
Feng Yao perlahan menggenggam tangannya. Cahaya putih tipis mulai muncul dari sela-sela jarinya.
"Pada bagian ketika kau mengira aku hanya punya satu cara untuk melawan."
Se Chang menyipitkan mata. Tanah di bawah mereka bergetar. Bukan karena kekuatan Feng Yao yang mengalir keluar. Melainkan karena seluruh bunga liar di sekitar bukit mulai bergerak serempak. Satu demi satu, kelopak bunga yang layu kembali terbuka. Segel hitam di tanah bergetar.
Se Chang akhirnya kehilangan senyum tipisnya. "Jangan biarkan dia'
**BOOM!**
Ledakan qi mengguncang bukit. Dinding segel retak. Para siluman Klan Ular terlempar mundur.
Feng Yao berdiri di tengah kabut putih, rambutnya bergerak tertiup angin. Namun sebelum ia sempat melangkah keluar dari lingkaran, suara auman keras mengguncang pepohonan.
**GRAAAH!**
Dari arah jalan utama, beberapa pohon pinus patah. Burung-burung beterbangan dari dahan.
Se Chang menoleh. Di antara kabut, sesosok pria berjalan mendekat dengan pedang terhunus.
Xiong Yan.
Tatapannya jatuh pada Feng Yao, kemudian pada segel yang mengelilinginya. Aura seekor pemimpin Klan Beruang Hitam memenuhi bukit.
"Jauhkan tangan kalian darinya."
Se Chang tersenyum lagi. Kali ini, senyumnya tidak mengandung keramahan sedikit pun.
"Sepertinya hari ini menjadi lebih menarik."